Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumKonflik & GeopolitikKamis, 16 Juli 2026

Kultum — "Adil Meski pada yang Kita Benci"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْقِسْطِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, kabar tentang ketegangan besar di Selat Hormuz dan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina memenuhi layar kita dari pagi sampai malam. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini — pesan yang sederhana, tetapi berat untuk dijalani.

Coba kita jujur pada diri sendiri. Ketika kita membaca berita tentang sebuah bangsa yang kita benci, apa yang lebih dulu muncul di hati kita: keinginan untuk adil, atau keinginan untuk melihatnya kalah? Saya kira kita semua pernah merasakan getaran itu — rasa puas ketika pihak yang kita tidak sukai menderita. Perasaan itu manusiawi. Tetapi di sinilah iman kita diuji. Allah Ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

"Hai orang-orang yang beriman, jadilah penegak kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Maaida: 8)

Saudara-saudara sekalian, perhatikan betapa halus dan dalamnya ayat ini. Allah tidak berkata "jangan benci." Allah tahu bahwa kebencian pada kezaliman itu wajar, bahkan kadang perlu. Yang Allah larang adalah kebencian yang membuat kita tidak adil. Dua hal ini berbeda. Kita boleh membenci penindasan, tetapi kita tidak boleh membiarkan kebencian itu membutakan mata kita dari kebenaran.

Pekan ini kita menyaksikan bagaimana kabar perang datang bertubi-tubi. Dan di media sosial, banyak dari kita — termasuk saya — tergoda untuk cepat menyebarkan, cepat menghakimi, cepat memberi label. Kabar yang sampai kepada kita bahkan menyebutkan seorang anak disiksa oleh tentara yang justru bertugas dalam misi perdamaian internasional. Kita marah, dan kemarahan itu benar. Tetapi mari kita tanya: apakah kemarahan kita membuat kita lebih adil, atau justru membuat kita ikut menyebar tuduhan yang belum kita pastikan kebenarannya?

Ada pola yang menarik pekan ini. Di tengah gelombang solidaritas Palestina, muncul suara-suara yang mengajak umat untuk berpengetahuan — jangan menjadi penyangkal kekejaman hanya karena beda politik, tetapi juga jangan menyebarkan sesuatu tanpa ilmu. Ini pelajaran yang mahal: solidaritas yang benar adalah solidaritas yang berbasis ilmu, bukan sekadar luapan emosi yang cepat padam dan kadang salah sasaran.

Saudara-saudara, coba kita bayangkan sebuah timbangan di pasar. Kalau penjualnya jujur, ia menaruh barang di satu sisi dan batu timbangan di sisi lain, lalu membiarkan neraca menemukan keseimbangannya sendiri. Tetapi kalau ia curang, ia menekan salah satu sisi dengan jarinya. Nah, kebencian bekerja persis seperti jari yang menekan timbangan. Fakta yang sama, ketika datang dari pihak yang kita benci, terasa lebih berat kesalahannya; ketika datang dari pihak yang kita cintai, terasa lebih ringan. Padahal timbangan Allah tidak mengenal jari yang menekan. Tugas kita sebagai mukmin adalah menarik jari kita dari timbangan itu — membiarkan kebenaran ditimbang apa adanya, bukan sesuai selera hati kita.

Dan inilah yang membuat perintah adil dalam ayat tadi begitu berat: Allah menyandingkannya dengan takwa. I'dilū huwa aqrabu lit-taqwā — berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Artinya, setiap kali kita memaksa diri untuk jujur menilai, bahkan ketika penilaian itu tidak menyenangkan hati kita, kita sedang mendekatkan diri kepada Allah. Keadilan, saudara-saudara, ternyata adalah ibadah yang bisa kita lakukan sambil memegang handphone di ruang tamu, di sela-sela membaca berita malam ini.

Rasulullah ﷺ memberi kita peringatan yang tajam tentang bahaya kebencian yang tak terkendali. Beliau bersabda:

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan-kegelapan di Hari Kiamat." (Sahih Muslim 2578)

Saudara-saudara, renungkanlah. Kezaliman tidak selalu berupa senjata dan darah. Kezaliman bisa berupa satu kalimat fitnah yang kita bagikan, satu tuduhan yang belum terbukti yang kita sebarkan, satu label buruk yang kita tempelkan pada sekelompok orang. Di zaman ini, kita bisa berbuat zalim hanya dengan jempol. Dan setiap kegelapan yang kita sebar hari ini akan kembali menjadi kegelapan di wajah kita nanti.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Pertama, mari kita menahan diri sebelum menyebar. Sebelum meneruskan kabar tentang konflik apa pun, tanyakan tiga hal: apakah ini benar, apakah ini adil, apakah ini bermanfaat. Kalau salah satu jawabannya ragu, tahan dulu. Kedua, mari kita alihkan energi kemarahan menjadi kebaikan yang nyata — doakan yang tertindas dengan sungguh-sungguh, sisihkan sedikit harta untuk korban, dan pelajari isu dengan benar sebelum bersuara. Ketiga, jangan lupa yang dekat. Di tengah kita mengkhawatirkan perang jauh, ada anak yang butuh dilindungi, ada korban kekerasan di sekitar kita yang butuh ditemani. Solidaritas dimulai dari halaman sendiri.

Dan ada satu hal lagi, saudara-saudara, yang sering kita lupakan. Ketika hati kita gelisah oleh kabar dunia, obatnya bukan menambah tontonan berita, melainkan kembali kepada Allah. Semakin banyak kita menonton kegelapan tanpa jeda, semakin keras hati kita, dan hati yang keras adalah lahan subur bagi kebencian. Maka sisihkan waktu untuk dzikir, untuk shalat malam walau dua rakaat, untuk mendoakan saudara-saudara kita yang tertindas dengan nama-nama yang kita sebut satu per satu. Percayalah, doa seorang mukmin yang tulus di keheningan malam lebih berbobot di sisi Allah daripada seribu komentar marah yang kita tulis di siang hari.

Saudara-saudara yang saya cintai, izinkan saya menutup dengan ini: keadilan adalah cahaya, dan kebencian yang liar adalah kegelapan. Setiap hari kita memilih di antara keduanya — dalam kata yang kita ucapkan, dalam kabar yang kita sebarkan, dalam penilaian yang kita jatuhkan. Mari kita pilih menjadi orang yang adil, karena adil itu, kata Allah, paling dekat dengan takwa. Dunia boleh gelap, tetapi hati seorang mukmin harus tetap terang.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ بِالْعَدْلِ، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الضَّغِيْنَةِ وَالظُّلْمِ، وَانْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan