Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatLingkungan & BencanaKamis, 16 Juli 2026

Khutbah Jumat — "Ketika Bumi dan Jalan Menagih Amanah"

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الْأَرْضَ لَنَا أَمَانَةً وَمُسْتَقَرًّا، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلٰى نِعَمِهِ الَّتِيْ لَا تُحْصٰى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Mari kita buka khutbah pekan ini dengan sebuah ayat yang menyapa langsung keresahan yang kita rasakan hari-hari ini, ketika kabar musibah datang silih berganti ke telinga kita.

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ

Allah berfirman dalam QS. At-Taghaabun: 11: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini turun bukan untuk membuat kita pasrah tanpa daya, melainkan untuk menata hati kita ketika musibah datang. Perhatikanlah susunannya. Allah tidak berhenti pada kalimat "tidak ada musibah kecuali dengan izin-Nya"; Dia melanjutkan: "barangsiapa beriman, Allah beri petunjuk pada hatinya." Artinya, ujian itu bukan akhir dari cerita, melainkan pintu bagi hati untuk menemukan pijakan yang lebih kokoh. Iman tidak menghapus rasa sakit, tetapi ia memberi arah pada rasa sakit itu.

Para ulama menjelaskan bahwa kalimat "yahdi qalbahu" — memberi petunjuk pada hati — adalah kunci ayat ini. Ada dua orang yang ditimpa musibah yang persis sama beratnya. Yang satu hancur, marah, menyalahkan Allah dan sesama, lalu tenggelam. Yang lain, meski sama-sama menangis, hatinya justru diberi ketenangan untuk berkata: ini dari Allah, dan Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang bersandar kepada-Nya. Apa yang membedakan keduanya? Bukan besarnya musibah, melainkan iman yang mengarahkan hati. Maka doa pertama kita di hadapan musibah bukanlah "hilangkan ujian ini", melainkan "berilah hatiku petunjuk untuk menerimanya dengan benar".

Dan kita membutuhkan arah itu pekan ini. Dari berita yang sampai kepada kita, ada sebuah tragedi di jalan raya di Jawa Tengah: sebuah truk menghantam motor dan sebuah warung, dan dalam hitungan detik seorang anak berusia sepuluh tahun kehilangan kakinya, sekaligus kehilangan ayahnya, ibunya, dan adiknya. Bayangkanlah, hadirin. Satu keluarga yang mungkin pagi itu masih sarapan bersama, siangnya sudah tercerai-berai oleh sebuah kecelakaan. Kita yang mendengar saja bergetar; bagaimana anak kecil yang menanggungnya. Kabar ini menampar kesadaran kita bahwa hidup yang kita anggap biasa sesungguhnya hanya sejarak satu detik dari perubahan total.

Belum reda kabar itu, sampai pula kepada kita berita tentang kekeringan dan kemarau yang merambat di banyak daerah. Sumur-sumur menyusut, ladang mengering, dan keluarga-keluarga tani mengencangkan ikat pinggang menunggu hujan yang belum juga turun. Ada pula suara viral pekan ini yang berbunyi tajam: ketika manusia berlari mengejar pembangunan tanpa jeda, alamlah yang akhirnya membayar harganya. Kalimat itu, meski lahir dari kegusaran, menyimpan kebenaran syar'i yang tua: bumi ini bukan milik kita untuk dihabiskan sesuka hati, melainkan titipan yang akan dimintai pertanggungjawabannya.

Dan di sela semua itu, hadirin, ada kegusaran publik tentang bagaimana harta bersama dikelola. Pekan ini ramai dipertanyakan sebuah alokasi anggaran bernilai triliunan yang, di mata banyak orang, tidak sebanding dengan kebutuhan yang jauh lebih mendesak — jalan yang menelan korban, sumur yang mengering, dan sarana dasar yang belum terpenuhi. Kita tidak sedang berdiri di mimbar untuk menuduh siapa pun; kita sedang mengingatkan diri kita sendiri, karena setiap kita — dari kepala keluarga sampai pemegang jabatan besar — memegang satu bentuk amanah yang akan ditimbang.

Hadirin yang dimuliakan Allah, bagaimana Islam mengajarkan kita menyikapi musibah seperti ini? Jawaban pertamanya bukan pada penjelasan sebab, melainkan pada penataan lisan dan hati. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Dalam QS. Al-Baqara: 155 Allah berfirman: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." Renungkanlah, hadirin, betapa persis ayat ini dengan pekan yang kita lalui. Ketakutan di jalan, kelaparan karena kemarau, kekurangan harta, hilangnya jiwa, dan menyusutnya buah-buahan panen — semuanya disebut Allah dalam satu ayat sebagai bentuk-bentuk ujian. Dan penutupnya bukan ancaman, melainkan kabar gembira: bagi mereka yang sabar. Sabar di sini bukan berarti diam membisu; ia adalah menahan hati agar tetap berbaik sangka kepada Allah sambil terus berikhtiar.

Lalu Allah mengajarkan kita apa yang harus diucapkan lisan kita saat musibah menghantam:

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

Dalam QS. Al-Baqara: 156 Allah menyebutkan sifat orang-orang yang sabar itu: "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun' — sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali." Kalimat istirja' ini, hadirin, adalah pengakuan dua arah sekaligus. Ke satu arah, ia mengakui bahwa segala yang kita miliki — nyawa, keluarga, harta, panen — sesungguhnya bukan milik kita, melainkan titipan Allah. Ke arah lain, ia mengingatkan bahwa kita sendiri akan kembali kepada-Nya. Anak yang kehilangan keluarganya di jalan itu, dalam timbangan iman, tidak kehilangan mereka; ia mendahulukan mereka pulang ke pemilik sejati. Ini bukan menghibur dengan kata-kata kosong; ini menaruh kehilangan pada bingkai yang benar.

Dan sabar seperti apa yang Allah inginkan? Bukan sabar yang membuat kita rapuh dan kaku sehingga patah. Rasulullah ﷺ memberi kita perumpamaan yang indah:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْخَامَةِ مِنَ الزَّرْعِ تُفَيِّئُهَا الرِّيَاحُ، تَصْرَعُهَا مَرَّةً وَتَعْدِلُهَا أُخْرٰى حَتّٰى تَهِيْجَ

Dalam riwayat Sahih al-Bukhari 5644, Rasulullah ﷺ bersabda: "Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti tanaman muda yang segar; dari arah mana pun angin datang, ia akan membengkokkannya, tetapi ketika angin mereda, ia akan tegak kembali. Demikian pula, seorang mukmin ditimpa musibah tetapi ia tetap sabar sampai Allah menghilangkan kesulitannya." Perhatikanlah, hadirin, mukmin di sini tidak digambarkan sebagai batu karang yang tak bergerak. Ia adalah tanaman muda yang lentur: angin musibah boleh menekuknya sampai hampir rebah, tetapi akarnya tetap di tanah, dan begitu angin mereda ia kembali tegak. Inilah sabar yang sehat. Orang beriman boleh menangis, boleh terguncang, boleh terdiam sesaat — asal akar imannya tidak tercabut. Yang ditegur Nabi ﷺ adalah kesombongan yang kaku, yang justru dipatahkan sekali angin datang.

Dan Rasulullah ﷺ mengajarkan kita bahwa sabar dalam musibah bukan sekadar bertahan, melainkan aktif menjaga diri agar tetap kuat. Beliau bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ، اِحْرِصْ عَلٰى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

Dalam riwayat Sahih Muslim 2664, Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah atas apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah berputus asa." Hadirin, inilah keseimbangan yang diajarkan Islam. Menerima takdir tidak berarti berhenti berikhtiar. Menerima kekeringan tidak berarti membiarkan sumur kering tanpa usaha menggali lebih dalam atau menghemat air. Menerima bahaya jalan tidak berarti berhenti menuntut jalan yang aman. Sabar dan ikhtiar berjalan berdampingan; keduanya sama-sama ibadah.

Maka, hadirin yang dimuliakan Allah, apa yang bisa kita lakukan pekan ini sebagai buah dari khutbah ini? Izinkan saya menyebut beberapa langkah nyata. Pertama, ketika mendengar tetangga atau saudara ditimpa musibah — kecelakaan, sakit, atau kehilangan panen — jangan cukup dengan mengetik "sabar ya" di layar. Datangi, duduki, dengarkan dulu keluhannya sebelum menasihatinya. Kedua, bagi kita yang tinggal di daerah yang dilanda kekeringan, mulailah dari rumah kita sendiri: hemat air wudhu tanpa mengurangi kesempurnaannya, jangan biarkan keran mengalir sia-sia, dan hidupkan gotong-royong menggali atau merawat sumur bersama. Ketiga, latih lisan kita dan anak-anak kita mengucapkan istirja' bukan hanya saat ada kematian, tetapi setiap kali ada kabar buruk — agar hati terbiasa mengembalikan segala sesuatu kepada Allah. Keempat, jika kita memegang amanah sekecil apa pun — kas RT, dana masjid, jabatan di kantor — periksalah apakah ia kita jaga sebagaimana bumi ini dititipkan kepada kita untuk dijaga. Kelima, mari kita mulai memandang menjaga lingkungan — tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, merawat saluran air — sebagai bagian dari iman, bukan sekadar himbauan sekuler. Keenam, sisihkan sebagian rezeki pekan ini untuk keluarga korban musibah yang nyata di sekitar kita, walau kecil, agar sabar kita bersambut dengan amal.

Semua ini, hadirin, adalah cara kita menerjemahkan iman kepada takdir menjadi gerak yang nyata. Kita menerima ketetapan Allah dengan hati, dan kita menyambutnya dengan tangan yang bekerja.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan saya memperdalam satu sisi dari apa yang kita bicarakan tadi. Musibah, sebagaimana Nabi ﷺ ajarkan, bukan hanya beban — ia juga pembersih. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa seorang mukmin, laki-laki maupun perempuan, terus-menerus diuji pada jiwa, harta, dan keturunannya, hingga ia bertemu Allah dalam keadaan tanpa dosa. Maka anak yang kehilangan keluarganya di jalan itu, keluarga tani yang panennya mengering, saudara kita yang menanggung sakit — jika mereka sabar, luka mereka sedang diubah Allah menjadi tabungan yang tidak terlihat oleh mata dunia.

Sisi kedua yang perlu kita gali adalah tentang amanah bumi. Kita sering mengira menjaga lingkungan adalah urusan aktivis atau pemerintah saja. Padahal syariat telah menetapkannya sebagai tanggung jawab bersama sejak empat belas abad lalu. Bumi diserahkan kepada manusia untuk dimakmurkan, bukan dirusak. Setiap sampah yang kita buang ke sungai, setiap pohon yang ditebang tanpa perhitungan, setiap air yang diboroskan, adalah bentuk pengkhianatan kecil atas amanah besar. Menjaga bumi adalah fardhu kifayah kita bersama — kewajiban yang gugur dari kita hanya jika cukup banyak orang menanganinya, dan menjadi dosa bersama bila terbengkalai.

Sisi ketiga, hadirin, adalah tentang jiwa yang lelah. Di balik kabar-kabar besar pekan ini, ada suara-suara lirih orang yang merasa masalahnya selalu diremehkan, sampai memilih diam dan menyimpan sendiri. Tugas kita bukan menghakimi mereka lemah iman, melainkan menjadi telinga yang mendengar dan bahu yang menopang. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita menjadi mukmin yang kuat — dan salah satu bentuk kekuatan itu adalah menguatkan yang sedang lemah di sekitar kita.

Maka marilah kita tutup khutbah ini dengan menundukkan hati, memohon kepada Allah agar meneguhkan kita dalam menghadapi ujian, dan menjadikan kita penjaga amanah yang jujur.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوْءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ.

اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْقَحْطَ وَالْجَدْبَ، وَاسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَنْ فَقَدَ أَهْلَهُ فِيْ حَوَادِثِ الطُّرُقَاتِ، وَاجْبُرْ قُلُوْبَ الْيَتَامٰى وَالْأَرَامِلِ، وَعَافِ مَرْضَانَا وَاشْفِ صُدُوْرَ الْمَكْرُوْبِيْنَ وَالْمَهْمُوْمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ حَافِظِيْنَ لِلْأَمَانَةِ رَاعِيْنَ لِمَصَالِحِ الْأُمَّةِ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan