Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsLingkungan & BencanaKamis, 16 Juli 2026

Kisah Pendek — "Umar dan Rahasia Pagi Hari"

Di tengah pekan yang dipenuhi kabar musibah — jalan yang merenggut nyawa, ladang yang mengering — ada satu pertanyaan tua yang kembali menyeruak: bagaimana orang beriman menerima ketetapan yang tak ia inginkan. Syaikh Yusuf al-Kandahlawi rahimahullah dalam «Hayat as-Sahabah» — Bab al-Hijrah, pasal ar-Ridha bil-Qadha' menghimpun ucapan-ucapan para sahabat tentang ridha terhadap takdir. Dari kumpulan itu, ada satu kalimat pendek Umar bin al-Khaththab yang, sekali didengar, sulit dilupakan.

Madinah, di sebuah pagi yang biasa. Angin gurun masih dingin. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, sang Amirul Mukminin, terbangun. Wajahnya tenang. Tidak ada raut cemas menanti kabar apa yang akan datang hari itu.

Seseorang, seperti kebiasaan orang bertanya kabar, ingin tahu bagaimana perasaan sang khalifah pagi itu. Dalam keadaan yang ia sukai, atau dalam keadaan yang ia benci? Umar menjawab dengan kalimat yang menjadi cahaya bagi siapa pun yang mendengarnya sesudahnya:

مَا أُبَالِي عَلَى أَيِّ حَالٍ أَصْبَحْتُ: عَلَى مَا أُحِبُّ، أَوْ عَلَى مَا أَكْرَهُ، لِأَنِّي لَا أَدْرِي الْخَيْرُ فِيمَا أُحِبُّ أَوْ فِيمَا أَكْرَهُ

"Aku tidak peduli dalam keadaan bagaimana aku memasuki pagi — dalam keadaan yang aku sukai atau yang aku benci — karena aku tidak tahu di mana kebaikan itu berada: pada apa yang aku sukai, atau pada apa yang aku benci."

Kalimat itu, sederhana namun dalam. Umar tidak berkata bahwa ia menyukai kesulitan. Ia juga tidak berlagak bahwa penderitaan itu ringan. Ia hanya mengaku satu hal: ia tidak tahu di mana kebaikan sejati bersembunyi. Bisa jadi ia ada dalam kesenangan; bisa jadi justru dalam hal yang ia benci. Karena tidak tahu, ia berhenti gelisah memilih. Ia serahkan pilihan itu kepada Yang Maha Tahu.

Di masa yang sama, sampai sebuah kabar tentang Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu 'anhu. Abu Dzar, sahabat yang zuhud itu, pernah berkata bahwa ia lebih menyukai kefakiran daripada kekayaan, dan lebih menyukai sakit daripada sehat.

Ketika ucapan Abu Dzar itu disampaikan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, Ali tersenyum dan berkata dengan penuh hormat kepada saudaranya itu:

رَحِمَ اللهُ أَبَا ذَرٍّ، أَمَّا أَنَا فَأَقُوْلُ: مَنِ اتَّكَلَ عَلٰى حُسْنِ اخْتِيَارِ اللهِ لَهُ لَمْ يَتَمَنَّ أَنَّهُ فِيْ غَيْرِ الْحَالَةِ الَّتِي اخْتَارَهَا اللهُ لَهُ

"Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Adapun aku, aku berkata: barangsiapa bersandar pada baiknya pilihan Allah untuknya, ia tidak akan berangan-angan berada dalam keadaan selain yang telah Allah pilihkan untuknya."

Lihatlah bedanya yang halus. Abu Dzar memilih satu keadaan — fakir, sakit — dan mencintainya. Tetapi Ali menaikkan tangga itu satu anak lagi. Ia berkata: orang yang benar-benar bersandar kepada Allah tidak lagi memilih fakir atau kaya, sakit atau sehat. Ia hanya ridha berada di keadaan mana pun yang Allah pilihkan. Sebab memilih satu keadaan, meski keadaan yang berat, masih menyisakan keinginan diri. Sedangkan ridha yang sempurna adalah melepaskan keinginan itu sama sekali, dan berkata: cukuplah pilihan Allah untukku.

Ali menegaskan bahwa inilah batas berdirinya seseorang di atas ridha terhadap apa yang digerakkan oleh takdir. Bukan menyukai penderitaan, bukan pula lari darinya, melainkan tenang di mana pun tangan takdir meletakkannya.

Dan dari kejauhan zaman, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu menambahkan sebuah timbangan yang menggetarkan: pada Hari Kiamat, tidak ada seorang pun kecuali ia berangan-angan seandainya dulu di dunia ia hidup hanya dengan makanan secukupnya. Sebab apa pun yang dunia berikan atau tahan dari kita, ia tidak membahayakan selama hati tidak menyimpan ganjalan terhadap ketetapan Allah.

Pelajaran

Kisah ini tidak mengajarkan kita mencintai musibah. Umar tidak mencintai kesulitan, dan Ali tidak menyuruh kita mengejar sakit. Yang mereka ajarkan lebih halus dan lebih kuat: berhenti bertengkar dengan takdir yang sudah terjadi. Ketika sebuah kecelakaan telah merenggut, ketika kemarau telah mengeringkan, ketika yang hilang sudah hilang — di titik itu, keinginan "seandainya ini tidak terjadi" hanya menambah luka tanpa mengubah kenyataan. Umar melepaskan kegelisahan dengan mengaku ia tak tahu di mana kebaikan bersembunyi. Ali melepaskannya dengan bersandar penuh pada pilihan Allah. Bagi kita pekan ini, yang membaca kabar demi kabar yang berat, pelajaran ini bukan ajakan untuk pasrah tanpa usaha — melainkan ajakan untuk menaruh apa yang sudah lewat di tangan Allah, dan mengarahkan tenaga kita ke apa yang masih bisa kita perbaiki. Itulah ketenangan yang membuat Umar bisa bangun pagi tanpa cemas: bukan karena ia tahu hari itu akan baik, tetapi karena ia percaya Pemilik hari itu Maha Baik.

Sumber Asli

«Hayat as-Sahabah» — الباب الرابع باب الهجرة / الرضا بالقضاء

أخرج ابن المبارك وابن أبي الدنيا في الفرج والعسكري في المواعظ عن عمر رضي الله عنه قال: ما أبالي على أيِّ حال أصبحت: على ما أحب، أو على ما أكره، لأني لا أدري الخير في ما أحب أو في ما أكره.

وأخرج ابن عساكر عن الحسن عن علي رضي الله عنهما أنه قيل له: إن أبا ذر رضي الله عنه يقول: الفقر أحب إليّ من الغنى، والسَّقم أحب إليّ من الصحة فقال: رحم الله أبا ذر، أما أنا فأقول: من اتَّكل على حسن اختيار الله له يتمنَّ أنه في غير الحالة التي اختار الله له، وهذا حدُّ الوقوف على الرضا بما تصرّف به القضاء.

وأخرج أبو نُعَيم في الحلية عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: ما أحد من الناس يوم القيامة إلا يتمنى أنه كان يأكل في الدنيا قوتاً، وما يضرُّ أحدكم على ما أصبح وأمسى من الدنيا إلا أن تكون في النفس حزازة، ولأن يعض أحدكم على جمرة حتى تُطفأ خير من أن يقول لأمر قضاه الله: ليت هذا لم يكن.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan