Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumLingkungan & BencanaKamis, 16 Juli 2026

Kultum — "Sabar yang Lentur, Bukan yang Patah"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لَنَا أَمَانَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, banyak kabar musibah yang sampai ke telinga kita — kecelakaan di jalan yang merenggut satu keluarga, kekeringan yang menyusutkan ladang, dan suara-suara lelah dari orang-orang yang menanggung beban hidup sendirian. Malam ini saya ingin berbagi satu pesan sederhana tentang bagaimana kita menyikapi semua itu, agar kita tidak salah memaknai kata "sabar".

Saudara-saudara sekalian, ada satu perumpamaan dari Rasulullah ﷺ yang menurut saya paling menyembuhkan ketika kita sedang tertimpa musibah.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْخَامَةِ مِنَ الزَّرْعِ تُفَيِّئُهَا الرِّيَاحُ

Dalam riwayat Sahih al-Bukhari 5644, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa perumpamaan seorang mukmin adalah seperti tanaman muda yang segar; dari arah mana pun angin datang, ia membengkokkannya, tetapi ketika angin mereda, ia tegak kembali. Coba kita bayangkan bersama. Kalau kita berdiri di sawah saat angin kencang, kita akan melihat padi yang muda itu meliuk-liuk, hampir menyentuh tanah. Tapi ia tidak patah. Begitu angin lewat, ia berdiri lagi. Sementara pohon besar yang kaku, sekali diterjang badai, justru tumbang dengan akarnya.

Inilah pesan yang ingin saya bagikan malam ini. Sabar yang diajarkan Islam bukan sabar yang kaku dan pura-pura kuat. Sabar itu boleh meliuk. Orang beriman boleh menangis, boleh terguncang, boleh merasa hatinya remuk saat kehilangan. Yang penting akarnya tetap menancap di tanah keimanan. Kadang kita salah mengira bahwa orang sabar itu harus selalu tersenyum dan tidak boleh sedih. Padahal Nabi ﷺ sendiri menangis saat putranya wafat, lalu bersabda bahwa mata boleh menangis dan hati boleh bersedih, asal lisan tidak mengucapkan yang membuat Allah murka.

Pekan ini, jamaah, kita mendengar kabar tentang seorang anak sepuluh tahun yang dalam satu kecelakaan kehilangan kakinya sekaligus kehilangan ayah, ibu, dan adiknya. Kita yang membacanya saja menahan napas. Bayangkan beratnya bagi anak itu. Dalam situasi seperti ini, kalau kita datang lalu berkata "yang sabar ya, ini sudah takdir," kalimat itu bisa terasa dingin dan menyakitkan. Bukan berarti takdir itu salah — tentu tidak. Tapi cara kita menyampaikannya sering salah. Kita melempar kata "sabar" seperti melempar bola, lalu pergi. Padahal sabar yang sejati butuh ditemani, bukan sekadar dikatakan.

Kabar lain yang sampai ke kita pekan ini adalah kekeringan di banyak daerah. Sumur menyusut, panen terancam, keluarga tani cemas. Dan ada satu kalimat yang viral, kira-kira berbunyi: ketika manusia terus berlari mengejar dunia tanpa jeda, alamlah yang akhirnya menanggung harganya. Kalimat itu, meski pahit, mengandung teguran yang benar. Kita kadang lupa bahwa bumi ini titipan. Kita boros air, kita buang sampah sembarangan, kita tebang tanpa menanam kembali — lalu kita heran ketika bumi seperti "marah".

Allah sudah menggambarkan pola ujian ini jauh-jauh hari.

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Dalam QS. Al-Baqara: 155 Allah berfirman: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." Perhatikan, jamaah, betapa persisnya ayat ini dengan keadaan kita. Ketakutan di jalan, kelaparan karena kemarau, kekurangan harta, hilangnya jiwa, menyusutnya buah-buahan — semua disebut Allah sebagai ujian. Dan yang mengagumkan, ayat ini ditutup dengan kabar gembira, bukan ancaman. Seolah Allah berkata: Aku tahu ini berat, tapi bagi yang sabar, ada hadiah yang tidak kalian bayangkan.

Sekarang izinkan saya membawa kita lebih dalam. Kalau musibah adalah ujian, apa sebenarnya yang sedang Allah uji dari kita? Yang diuji bukan kekuatan fisik kita, melainkan ke mana hati kita berlari saat susah. Ada orang yang saat ditimpa musibah langsung berlari ke keluh-kesah, ke menyalahkan orang lain, bahkan ke menyalahkan takdir. Ada yang berlari ke hal-hal yang menenangkan sesaat tapi merusak jangka panjang. Dan ada yang, dengan hati yang meliuk seperti padi muda tadi, berlari kepada Allah. Ketiganya sama-sama merasakan sakit yang sama; yang membedakan hanya arah larinya.

Dan inilah rahasianya, jamaah. Orang yang berlari kepada Allah tidak menjadi pasif. Justru sebaliknya. Nabi ﷺ mengajarkan kita menjadi mukmin yang kuat — yang bersungguh-sungguh mengejar apa yang bermanfaat, meminta pertolongan Allah, dan tidak berputus asa. Jadi menerima kekeringan tidak berarti kita berhenti menghemat air dan menggali sumur bersama. Menerima bahaya jalan tidak berarti kita berhenti berhati-hati dan menuntut perbaikan. Sabar dan usaha itu satu paket. Yang dilarang adalah dua hal: berputus asa di satu sisi, dan mengeluh sambil menyalahkan Allah di sisi lain.

Maka, saudara-saudara, apa yang bisa kita lakukan setelah pulang dari sini malam ini? Saya usulkan tiga hal yang bisa kita mulai dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, kalau ada tetangga atau saudara yang sedang tertimpa musibah, jangan cukup kirim pesan "sabar ya". Datangi rumahnya, duduk, dengarkan keluhannya sampai habis sebelum kita bicara. Kadang yang mereka butuhkan bukan nasihat, tapi telinga. Kedua, malam ini juga, mari kita periksa cara kita memperlakukan air dan lingkungan di rumah kita sendiri — matikan keran yang bocor, jangan boroskan air wudhu, pisahkan sampah. Anggap itu bagian dari ibadah, bukan sekadar kebersihan. Ketiga, biasakan lisan kita dan anak-anak kita mengucapkan "innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" setiap kali mendengar kabar buruk, sekecil apa pun — supaya hati kita terlatih mengembalikan segalanya kepada pemiliknya.

Jamaah yang saya hormati, mari kita ingat: hidup ini memang ladang ujian, dan tidak ada seorang pun yang lolos dari angin. Yang membedakan kita bukan seberapa kencang angin yang menerpa, melainkan apakah akar kita menancap kuat sehingga kita bisa tegak kembali setelah badai lewat. Jadilah padi muda yang lentur, bukan pohon kaku yang tumbang. Menangislah bila perlu, tapi jangan tercabut. Dan setelah angin reda, berdirilah lagi — lebih kuat, lebih dekat kepada Allah.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا وَأَهْلِيْنَا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِيْنَ الرَّاضِيْنَ بِقَضَائِكَ، وَارْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْقَحْطَ، وَاسْقِنَا الْغَيْثَ، وَاجْبُرْ قُلُوْبَ الْمُصَابِيْنَ مِنَّا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan