اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَحَلَّ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا، وَجَعَلَ الْمَالَ الْحَلَالَ زِيْنَةً لِعِبَادِهِ الْأَتْقِيَاءِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, marilah pada Jumat yang mulia ini kita hadirkan hati untuk satu perkara yang, boleh jadi, telah masuk ke rumah-rumah kita tanpa kita sadari. Allah Ta'ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:
ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْبَيْعُ مِثْلُ ٱلرِّبَوٰا۟ ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟
Dalam surah Al-Baqarah ayat 275, Allah menggambarkan pemakan riba dengan gambaran yang mengerikan: mereka berdiri terhuyung-huyung seperti orang yang kerasukan setan, sebab mereka menyamakan jual beli dengan riba — padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Hadirin yang dimuliakan Allah, perhatikanlah betapa tajamnya perumpamaan yang dipilih Al-Qur'an ini. Allah tidak menggambarkan pemakan riba sebagai orang yang tenang menghitung keuntungan di atas meja, dengan pena dan kalkulator di tangan. Sebaliknya, Allah melukiskannya sebagai orang yang limbung, kehilangan keseimbangan, berdiri terhuyung-huyung seperti orang yang kerasukan setan. Ini adalah gambaran tentang kekacauan batin, tentang jiwa yang tidak lagi tegak, tentang manusia yang secara lahir mungkin masih berjalan tetapi secara batin sudah roboh. Dan bukankah itulah persis wajah zaman kita, jamaah? Coba kita tengok sekeliling. Dari kabar yang sampai kepada kita pekan ini, betapa banyak saudara kita yang terhuyung-huyung karena jeratan pinjaman online dan paylater. Mereka memulai dengan pinjaman kecil di awal bulan — sekadar menutup kebutuhan mendesak, katanya. Lalu bunga bergulir, denda menumpuk, dan mereka meminjam lagi di aplikasi lain untuk menutup yang pertama. Lalu meminjam lagi untuk menutup yang kedua. Sampai akhirnya mereka limbung, tidak tahu lagi berapa total utangnya, tidak tahu lagi bagaimana harus keluar — persis seperti orang yang berdiri terhuyung dalam ayat tadi. Al-Qur'an sudah menggambarkan nasib ini empat belas abad yang lalu, dan hari ini kita menyaksikannya di layar-layar ponsel kita.
Lebih memilukan lagi, hadirin, ramai diperbincangkan pekan ini sebuah kalimat yang beredar seolah menjadi resep kehidupan: "kaya dari judi." Judi online kini tidak lagi bersembunyi malu-malu di sudut gelap; ia justru dipamerkan dengan bangga sebagai jalan pintas menuju kekayaan, dilengkapi foto tumpukan uang dan gaya hidup mewah. Padahal, saudaraku, mari kita jujur bertanya pada diri sendiri: pernahkah kita benar-benar mengenal satu orang yang menjadi kaya raya, tenang, dan bahagia dari judi? Yang benar-benar kita kenal, yang ada di sekitar kita, adalah cerita yang sebaliknya — menang sekali di awal, lalu kalah berkali-kali sesudahnya, lalu menggadaikan barang, lalu berutang, lalu kehilangan segalanya. Yang dipamerkan di layar hanyalah yang menang sesaat; yang tidak pernah muncul adalah jutaan yang hancur dalam diam. Judi dan riba, hadirin, sesungguhnya adalah dua saudara kembar. Keduanya menjanjikan tambahan harta tanpa kerja yang halal, keduanya membuat pelakunya kecanduan pada ilusi, dan keduanya berakhir pada kehampaan — dompet yang kosong, keluarga yang retak, dan yang paling berat, hati yang perlahan menjauh dari Allah.
Kita juga mendengar pekan ini kabar yang menyentuh sisi lain dari penyakit harta ini. Seorang ayah menjadi korban penipuan oleh seseorang yang mengaku teman masa sekolahnya, yang datang membawa tawaran kerja sama bisnis yang manis, lalu ternyata semua itu jebakan yang menguras hartanya. Betapa mengiris, jamaah: kepercayaan yang seharusnya menjadi perekat masyarakat justru dijadikan alat untuk merampas. Dan di ranah yang jauh lebih tinggi, publik dikejutkan oleh diskursus tentang pengelolaan harta negara yang menyentuh angka triliunan — sebuah pertanyaan getir tentang apa jadinya bila mereka yang seharusnya menjaga justru diduga ikut mengambil. Renungkanlah jarak yang membentang di antara dua peristiwa ini, hadirin. Di satu ujung, seorang ayah kehilangan tabungan yang mungkin hanya ratusan ribu atau beberapa juta. Di ujung lain, diskursus kerugian yang menyebut angka begitu besar sampai sulit kita bayangkan. Betapa jauh jaraknya secara nominal — namun betapa dekatnya secara hakikat, karena akarnya satu dan sama: harta yang berpindah lewat jalan yang batil, tanpa hak, tanpa rasa takut kepada Allah. Inilah yang wajib kita renungkan bersama di mimbar ini.
Dan ketika penyakit yang sama menyerang dari lapisan paling bawah sampai lapisan paling atas masyarakat, hadirin, itu bukan lagi sekadar kasus per kasus. Itu adalah tanda bahwa ada sesuatu yang lebih dalam sedang goyah — yaitu hubungan kita, sebagai manusia, dengan harta itu sendiri. Kita mulai memandang harta bukan lagi sebagai amanah yang dititipkan Allah untuk diputar di jalan yang benar, melainkan sebagai tujuan yang harus diraih dengan cara apa pun. Dan begitu pandangan itu bergeser, maka halal dan haram tidak lagi menjadi pertimbangan; yang tersisa hanyalah pertanyaan "bagaimana caranya cepat kaya." Di sinilah letak bahaya sesungguhnya, dan di sinilah dakwah harus hadir.
Allah Ta'ala telah memberi peringatan keras tentang orang-orang yang memakan harta manusia dengan jalan batil. Firman-Nya:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلْأَحْبَارِ وَٱلرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ
Dalam surah At-Taubah ayat 34, Allah mencela mereka yang memakan harta orang dengan jalan batil dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Perhatikanlah rangkaian kata ini dengan saksama, hadirin: memakan harta dengan batil selalu Allah pasangkan dengan "menghalangi dari jalan Allah." Kedua hal ini disebut dalam satu tarikan napas. Mengapa demikian? Karena ketika hati sudah dikuasai kerakusan pada harta haram, ia tidak berhenti pada satu dosa saja. Ia akan menutup mata dari nasihat, menutup telinga dari peringatan, dan pada akhirnya menutup pintu hatinya sendiri dari cahaya hidayah. Orang yang kecanduan judol tidak lagi mendengar seruan sholat; orang yang terjerat riba tidak lagi tenang membaca Al-Qur'an; harta haram itu menjadi tabir tebal antara hamba dan Tuhannya. Inilah bahaya terbesar dari judol dan riba, jamaah: kerugiannya bukan hanya pada rekening yang terkuras, tetapi pada hati yang perlahan mengeras dan menjauh. Dan hati yang keras adalah kerugian yang jauh lebih mahal daripada harta yang hilang berapa pun jumlahnya.
Marilah kita ambil pelajaran dari generasi terbaik, hadirin. Ketika ayat-ayat pengharaman riba turun, para sahabat Rasulullah ﷺ tidak menawar dan tidak mencari celah pembenaran. Sebagian dari mereka memiliki piutang riba yang belum tertagih dalam jumlah besar — harta yang menurut hukum saat itu adalah hak mereka. Namun begitu larangan Allah datang, mereka melepaskannya seketika, rela kehilangan harta demi taat kepada Allah. Mereka memahami satu prinsip yang sering kita lupakan hari ini: bahwa ketaatan pada Allah lebih berharga daripada tumpukan harta, dan bahwa rezeki yang sedikit tetapi halal jauh lebih menenangkan daripada kekayaan yang banyak tetapi haram. Inilah keteladanan yang kita butuhkan di zaman ketika setiap iklan berteriak "pinjam sekarang, bayar nanti" dan setiap layar menggoda dengan "menang besar hari ini."
Maka, hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita dengarkan sabda Rasulullah ﷺ yang menutup semua pintu pembenaran. Beliau bersabda:
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ
Dalam riwayat Muslim nomor 1598, dari Jabir radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, pencatatnya, dan dua saksinya, seraya bersabda: "Mereka semua sama." Renungkanlah keluasan hadits ini dengan hati yang jujur, saudaraku. Rasulullah ﷺ tidak hanya menyebut yang menikmati riba, tetapi juga yang memberi, yang mencatat, dan bahkan yang sekadar menyaksikan. Empat peran, satu laknat, dan beliau menegaskan: "mereka semua sama." Ini adalah peringatan yang menutup rapat semua pintu pembenaran. Sebab betapa sering kita berkata dalam hati, "aku kan tidak berjudi, aku hanya membantu," atau "aku kan tidak makan ribanya, aku hanya perantara." Hadits ini membongkar tipu daya itu. Mari kita bawa ke dunia kita hari ini, jamaah: di zaman aplikasi, siapakah "pencatat" dan "saksi" yang dimaksud? Boleh jadi itu kita sendiri — orang yang merekomendasikan pinjol di grup keluarga karena kasihan pada kerabat, orang yang menandatangani sebagai penjamin utang berbunga tanpa berpikir panjang, orang yang membagikan tautan judol di grup dengan dalih "sekadar iseng" atau "biar rame." Semua peran itu, sekecil apa pun kelihatannya, oleh Rasulullah ﷺ ditempatkan dalam timbangan yang sama. Maka pelajaran pertama dari mimbar ini jelas: dalam urusan kezaliman harta, tidak ada yang namanya peran kecil, tidak ada yang namanya "cuma bantu." Setiap tangan yang ikut memutar roda riba, ikut memikul bebannya.
Karena itu, hadirin, di antara nikmat Allah yang paling besar adalah bahwa Dia tidak sekadar melarang, tetapi juga menunjukkan jalan keluar yang berkah. Allah berfirman:
وَمَآ ءَاتَيْتُم مِّن رِّبًۭا لِّيَرْبُوَا۟ فِىٓ أَمْوَٰلِ ٱلنَّاسِ فَلَا يَرْبُوا۟ عِندَ ٱللَّهِ ۖ وَمَآ ءَاتَيْتُم مِّن زَكَوٰةٍۢ تُرِيدُونَ وَجْهَ ٱللَّهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُضْعِفُونَ
Dalam surah Ar-Rum ayat 39, Allah menegaskan bahwa riba yang diberikan agar bertambah pada harta manusia justru tidak bertambah di sisi Allah; sebaliknya, zakat dan sedekah yang mengharap wajah Allah itulah yang dilipatgandakan. Inilah kabar gembira di tengah kabar muram pekan ini: harta yang kita bersihkan dengan sedekah dan kita cari dengan halal, meskipun terasa lambat, sesungguhnya sedang tumbuh di sisi Allah. Ini bukan teori; ini janji dari Yang Maha Benar.
Menjaga harta dari yang haram termasuk salah satu tujuan agung syariat — dalam istilah para ulama disebut hifz al-mal, menjaga harta umat. Perlu kita pahami dengan benar, hadirin, bahwa menjaga harta dalam Islam bukan berarti menumpuknya sebanyak-banyaknya lalu menjaganya dengan kikir. Menjaga harta berarti memastikan ia datang dari jalan yang halal, diputar dalam usaha yang bersih, dan dikeluarkan di jalan yang benar. Islam memandang harta bukan sebagai milik mutlak kita, melainkan sebagai amanah yang dititipkan Allah untuk sementara. Dan setiap amanah, cepat atau lambat, akan diminta pertanggungjawabannya. Kelak di hari perhitungan, kita akan ditanya bukan hanya berapa banyak harta yang kita kumpulkan, tetapi dari mana kita memperolehnya dan ke mana kita membelanjakannya. Maka pertanyaan yang harus menggetarkan hati kita bukanlah "bagaimana caraku cepat kaya," melainkan "apakah hartaku bersih ketika kelak aku menghadap Allah."
Dan tugas menjaga harta umat ini, hadirin, bukanlah tugas segelintir orang saja. Ketika satu keluarga berhasil terbebas dari jerat pinjol, ketika satu pemuda memutuskan berhenti berjudi, ketika satu komunitas berhasil menyediakan pinjaman kebaikan tanpa bunga bagi tetangganya yang terhimpit — di situ syariat Allah sedang hidup dan bernapas di tengah-tengah kita. Ini adalah apa yang para ulama sebut fardh kifayah: kewajiban kolektif yang bila cukup banyak orang menanganinya, gugurlah kewajiban itu dari yang lain; tetapi bila semua orang membiarkannya terbengkalai, maka kita semua ikut menanggung dosa kelalaian itu bersama-sama. Kita tidak bisa berkata "itu bukan urusanku" ketika tetangga sebelah rumah kita tenggelam dalam utang riba, sementara kita punya kelapangan untuk menolongnya.
Maka, hadirin yang dimuliakan Allah, sebuah khutbah tidak lengkap bila hanya berhenti pada peringatan tanpa jalan keluar. Izinkan saya menawarkan beberapa langkah konkret untuk kita ambil bersama pekan ini. Pertama, mari kita periksa ponsel kita sendiri malam ini, sebelum kita tidur. Adakah aplikasi judol yang tersimpan diam-diam? Adakah paylater yang cicilannya sudah menumpuk melebihi kemampuan? Adakah utang berbunga yang selama ini kita anggap wajar hanya karena semua orang melakukannya? Perubahan besar selalu dimulai dari kejujuran kecil pada diri sendiri. Mulailah dari diri kita, sebelum lisan kita menasihati orang lain. Kedua, jika di antara kita ada yang sudah terjerat — dan mungkin ada, sebab penyakit ini tidak memandang siapa — janganlah malu untuk berhenti dan meminta bantuan. Malu itu semestinya kita rasakan sebelum terjerat, bukan saat hendak keluar. Berhenti dari kesalahan bukanlah aib; ia adalah keberanian yang Allah cintai. Ketiga, mari kita rintis di lingkungan terdekat kita — di RT, di masjid, di komunitas pengajian — sebuah kas kebaikan atau qardh hasan yang bisa dipinjam tanpa bunga oleh tetangga yang terhimpit di akhir bulan. Bayangkan, jamaah, bila setiap masjid punya dana kecil semacam ini; berapa banyak keluarga yang bisa kita selamatkan dari cengkeraman pinjol ilegal. Keempat, mari kita jadikan rumah kita benteng pertama. Bicarakanlah bahaya judol dan pinjol dengan anak-anak dan remaja kita dengan hati terbuka, sebelum mereka mendengarnya lebih dulu dari layar dan teman. Anak yang dekat dengan orang tuanya lebih terlindungi daripada anak yang dibiarkan sendirian dengan ponselnya. Kelima, mari kita hidupkan kembali kebiasaan sedekah harian, sekecil apa pun nilainya. Sebab sedekah, sebagaimana janji Allah, adalah penawar yang menyuburkan harta yang mulai terkontaminasi. Sisihkanlah meski hanya seribu rupiah setiap hari; itu adalah pernyataan bahwa kita masih percaya rezeki datang dari Allah, bukan dari taruhan.
Semoga Allah menjadikan harta kita bersih, rezeki kita halal, dan hati kita tenang. Semoga Dia menyelamatkan saudara-saudara kita yang sedang terhuyung karena jeratan harta haram, dan menuntun mereka semua kembali ke jalan yang lurus.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, di khutbah kedua ini izinkan saya memperdalam beberapa sisi yang mudah kita lupakan. Yang pertama: bahwa penyakit harta ini menyerang dari dalam, bukan dari luar. Ia tidak masuk lewat pintu depan yang kita jaga rapat-rapat, tetapi menyelinap lewat celah rasa "sedikit tidak apa-apa" — sedikit judol untuk sekadar hiburan melepas penat, sedikit pinjol untuk menjaga gengsi dan gaya hidup, sedikit bunga yang kita anggap wajar karena semua orang juga begitu. Dari celah-celah kecil inilah setan masuk perlahan, sampai kita tersadar sudah terhuyung. Karena itu, penjagaan sejati bukanlah pada saat masalah sudah besar, melainkan pada saat godaan masih terasa sepele.
Yang kedua, saudaraku: kita perlu menyadari bahwa yang paling membutuhkan rangkulan kita justru mereka yang sudah terjerat. Suasana percakapan di ruang publik pekan ini begitu gelap dan muram — dan banyak di antaranya adalah suara para korban yang terjebak di antara rasa bersalah dan keputusasaan. Mereka tahu mereka salah, tetapi tidak tahu jalan keluarnya, dan sering kali malu untuk meminta tolong. Nah, di sinilah peran kita ditentukan. Tugas kita bukanlah menambah cambukan pada punggung yang sudah luka dengan hujatan dan cibiran. Tugas kita adalah mengulurkan tangan, menunjukkan jalan pulang, dan meyakinkan mereka bahwa pintu tobat masih terbuka lebar. Ingatlah, hadirin: pintu ampunan Allah selalu jauh lebih luas daripada dosa hamba-Nya. Dan bagi setiap orang yang berhenti dari riba hari ini karena takut kepada Allah, Dia menjanjikan baginya modal pokoknya kembali tanpa dosa — sebuah keadilan dan kasih sayang yang tidak ada tandingannya.
Yang ketiga, dan yang terakhir: janganlah kita menganggap bahwa persoalan ini terlalu besar untuk kita ubah, lalu kita menyerah sebelum bergerak. Memang benar, jerat judol dan pinjol tampak seperti raksasa yang mustahil dilawan seorang diri. Tetapi perubahan besar tidak pernah lahir dari satu tindakan raksasa; ia selalu terangkai dari keputusan-keputusan kecil yang jujur di rumah masing-masing. Satu keluarga yang malam ini menutup aplikasi judol. Satu tetangga yang dipinjami tanpa bunga sehingga tidak jadi ke pinjol. Satu anak muda yang diselamatkan dengan percakapan hangat sebelum ia terjerat. Kumpulkan ribuan keputusan kecil semacam itu, dan raksasa itu pun runtuh. Di sinilah letak kekuatan sejati komunitas Muslim, jamaah — bukan pada kehebatan individu, melainkan pada kesetiaan kita untuk saling menjaga, saling menopang, dan saling menuntun kembali ke jalan yang diridhai Allah.
Maka marilah kita tutup khutbah ini dengan menengadahkan tangan dan hati kepada Allah.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ، وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ كَسْبٍ حَرَامٍ يُذْهِبُ بَرَكَةَ أَمْوَالِنَا.
اَللّٰهُمَّ أَغْنِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ فُكَّ أَسْرَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَتَقَبَّلْ شُهَدَاءَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الَّذِيْنَ وَقَعُوْا فِيْ حَبَائِلِ الْقِمَارِ وَالرِّبَا، وَرُدَّهُمْ إِلَيْكَ رَدًّا جَمِيْلًا، وَبَدِّلْ هَمَّهُمْ فَرَجًا وَدَيْنَهُمْ سَدَادًا.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ أُمَنَاءَ عَلٰى أَمْوَالِ الْأُمَّةِ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
