Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsPatologi Sosial DigitalKamis, 16 Juli 2026

Kisah Pendek — "Sungai yang Airnya dari Aib"

Pekan ini, di tengah kabar tentang judol yang dipoles seolah jalan kaya dan pinjol yang menjerat begitu banyak keluarga, ada baiknya kita menengok bagaimana para pendahulu membayangkan akhir dari harta dan kesenangan yang dikejar lewat jalan yang salah. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah menghimpun riwayat-riwayat tentang neraka, dan salah satunya menggambarkan sebuah sungai yang mengalir dari sesuatu yang paling kotor — sebuah peringatan yang keras, tapi lahir dari kasih sayang.

Bayangkan sebuah lembah yang gelap. Di sanalah, kata para perawi, mengalir sungai yang paling menjijikkan. Bukan sungai air. Ia adalah kumpulan dari segala kotoran, segala kebusukan, segala yang paling hina.

Ibn Katsir membuka pasal itu dengan sebuah doa, seolah kata-kata itu sendiri terlalu berat untuk ditulis tanpa perlindungan:

أَعَاذَنَا اللَّهُ تَعَالَى مِنْهُ بِمَنِّهِ وَكَرَمِهِ

"Semoga Allah Ta'ala melindungi kita darinya dengan karunia dan kemurahan-Nya."

Lalu beliau menyebutkan sebuah hadits dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu. Rasulullah ﷺ bersabda tentang tiga golongan yang tidak masuk surga: pecandu khamar, pemutus tali silaturahmi, dan orang yang membenarkan sihir. Dan siapa pun yang mati dalam keadaan kecanduan khamar, Allah akan memberinya minum dari sungai itu.

ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ خَمْرٍ، وَقَاطِعُ رَحِمٍ، وَمُصَدِّقٌ بِالسِّحْرِ

"Tiga golongan tidak masuk surga: pecandu khamar, pemutus silaturahmi, dan orang yang membenarkan sihir."

Ada yang bertanya: apa itu sungai al-Ghuthah? Rasulullah ﷺ menjawab bahwa ia adalah sungai yang mengalir dari aib para pelaku maksiat, yang baunya saja menyakiti penghuni neraka.

Renungkanlah gambaran itu sejenak. Sebuah kecanduan yang di dunia terasa manis — segelas demi segelas, taruhan demi taruhan, klik demi klik — di akhirat berbalik menjadi minuman dari sungai yang paling menjijikkan. Yang di dunia dipoles indah, di sana dibuka topengnya.

Di pasal-pasal berikutnya, Ibn Katsir melanjutkan dengan gambaran lembah bernama Habhab, tempat yang disediakan bagi setiap orang yang sombong dan zalim. Rasulullah ﷺ pernah memperingatkan seorang bernama Bilal:

فَإِيَّاكَ يَا بِلَالُ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَسْكُنُهُ

"Maka berhati-hatilah, wahai Bilal, jangan sampai engkau termasuk penghuninya."

Peringatan itu terasa dekat. Betapa banyak kesombongan lahir dari harta haram — orang yang merasa hebat karena "menang judi", orang yang menindas karena punya kuasa atas utang orang lain.

Tetapi Ibn Katsir tidak menutup pasalnya dengan keputusasaan. Di bagian akhir kumpulan riwayat ini, beliau membawakan kabar tentang syafaat. Bahwa akan datang perintah Allah kepada Jibril: keluarkanlah dari neraka orang-orang dari umat Muhammad ﷺ. Mereka pun dikeluarkan dalam keadaan hangus, lalu dilemparkan ke sebuah sungai di pintu surga yang disebut nahrul hayah — sungai kehidupan. Di sana mereka tumbuh kembali, segar seperti semula.

Dua sungai. Yang satu mengalir dari aib, yang lain mengalir dari rahmat. Dan setiap kita, hari ini, sedang memilih akan berenang di sungai yang mana.

Pelajaran

Kisah ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membangunkan. Ibn Katsir sengaja menutup deretan gambaran neraka yang mengerikan itu dengan kabar tentang nahrul hayah, sungai kehidupan — seolah berkata: sepekat apa pun dosa seseorang, selama tauhidnya masih ada, rahmat Allah lebih luas. Inilah yang paling relevan bagi kita pekan ini, saat begitu banyak saudara terjerat judol dan pinjol lalu merasa sudah tak ada jalan pulang. Kabar dari Ibn Katsir jelas: ada sungai yang airnya dari aib, tapi ada juga sungai yang airnya dari ampunan. Yang manis di layar bisa berbalik menjadi minuman paling pahit; tapi yang pahit karena tobat hari ini bisa berbalik menjadi kesegaran abadi. Maka bagi yang sudah terjebak, jangan berhenti pada rasa hina — bergeraklah menuju sungai yang kedua.

Sumber Asli

Al-Bidayah wan-Nihayah — ذكر نهر فيها هو منها بمنزلة نهر القلوط من أنهار الدنيا

[ذِكْرُ نَهَرٍ فِيهَا هُوَ مِنْهَا بِمَنْزِلَةِ نَهَرِ الْقَلُوطِ مِنْ أَنْهَارِ الدُّنْيَا] وَهُوَ مُجْتَمَعُ الْأَوْسَاخِ، وَالْأَقْذَارِ، وَالنَّتَنِ، أَعَاذَنَا اللَّهُ تَعَالَى مِنْهُ بِمَنِّهِ وَكَرَمِهِ. قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى الْفُضَيْلِ بْنِ مَيْسَرَةَ، عَنْ حَدِيثِ أَبِي حَرِيزٍ، أَنَّ أَبَا بُرْدَةَ حَدَّثَهُ، عَنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " «ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ خَمْرٍ، وَقَاطِعُ رَحِمٍ، وَمُصَدِّقٌ بِالسِّحْرِ، وَمَنْ مَاتَ مُدْمِنًا لِلْخَمْرِ سَقَاهُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ نَهَرِ الْغُوطَةِ ". قِيلَ: وَمَا نَهَرُ الْغُوطَةِ؟ قَالَ: " نَهَرٌ يَجْرِي مِنْ فُرُوجِ الْمُومِسَاتِ، يُؤْذِي أَهْلَ النَّارِ رِيحُ فُرُوجِهِنَّ» ".

Al-Bidayah wan-Nihayah — ذكر واد أو بئر فيها يقال له هبهب / ذكر ويل وصعود

[ذِكْرُ وَادٍ أَوْ بِئْرٍ فِيهَا يُقَالُ لَهُ هَبْهَبٌ] قَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي الدُّنْيَا: حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، حَدَّثَنَا الْأَزْهَرُ بْنُ سِنَانٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ وَاسِعٍ، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى بِلَالِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، فَقُلْتُ لَهُ: يَا بِلَالُ، إِنَّ أَبَاكَ حَدَّثَنِي، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " «إِنَّ فِي جَهَنَّمَ وَادِيًا يُقَالُ لَهُ: هَبْهَبٌ. حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُسْكِنَهُ كُلَّ جَبَّارٍ، فَإِيَّاكَ يَا بِلَالُ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَسْكُنُهُ» ".

Al-Bidayah wan-Nihayah — ذكر الأحاديث الواردة في شفاعة رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم القيامة

فَيُخْرِجُهُمْ ضَبَائِرَ، قَدِ امْتَحَشُوا، فَيُلْقِيهِمْ فِي نَهَرٍ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ، يُقَالُ لَهُ: نَهَرُ الْحَيَاةِ. فَيَمْكُثُونَ حَتَّى يَعُودُوا أَنْضَرَ مَا كَانُوا، ثُمَّ يَأْمُرُ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، بِإِدْخَالِهِمُ الْجَنَّةَ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan