Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPatologi Sosial DigitalKamis, 16 Juli 2026

Kultum — "Tidak Ada yang Kaya dari Judi"

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِمْ خَبَائِثَ الْمَكَاسِبِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lalui, ada satu kalimat yang beredar begitu ringan seolah tanpa bahaya: "kaya dari judi." Malam ini, izinkan saya mengajak kita semua berhenti sejenak pada kalimat itu — karena boleh jadi, tanpa kita sadari, ia sudah singgah di pikiran seseorang yang kita cintai.

Mari kita mulai dari firman Allah dalam Al-Qur'an:

يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

Dalam surah Al-Baqarah ayat 276, Allah berfirman: "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah." Perhatikan pilihan katanya baik-baik, saudara-saudara. Allah tidak berkata "mengurangi" riba, tetapi "memusnahkan" — dalam bahasa aslinya yamhaqu, yaitu mencabut sampai ke akar-akarnya, menghapus berkahnya sampai bersih. Ini gambaran yang luar biasa. Harta riba, harta judi, dan harta hasil tipuan itu boleh jadi terlihat bertambah di rekening, angkanya naik, saldonya bertambah. Tapi di balik layar, Allah sedang mencabut berkahnya diam-diam. Uangnya ada, tapi tidak pernah cukup. Rezekinya banyak, tapi hatinya gelisah. Rumahnya besar, tapi tidak ada ketenangan di dalamnya. Sebaliknya, sedekah yang secara hitungan matematika seolah mengurangi harta kita, justru itulah yang Allah suburkan, Allah lipat gandakan, Allah beri keberkahan. Inilah matematika langit yang sering bertolak belakang dengan matematika kita.

Saudara-saudara sekalian, mari kita jujur pada satu kenyataan sederhana. Adakah di antara kita yang pernah benar-benar mengenal, dengan mata kepala sendiri, orang yang kaya raya, tenang, dan bahagia dari judi? Bukan yang di layar, bukan yang di iklan, tapi yang benar-benar ada di sekitar kita. Saya berani mengatakan: hampir tidak ada. Yang ada hanyalah cerita menang sekali di awal — cukup untuk membuat penasaran — lalu kalah berkali-kali sesudahnya, lalu menggadaikan barang, lalu meminjam untuk berjudi lagi, lalu berjudi untuk membayar pinjaman. Itulah lingkaran setan yang pekan ini membuat begitu banyak orang terhuyung. Dan pinjaman online serta paylater masuk persis di titik terlemah kita — di akhir bulan, saat dompet menipis dan kebutuhan menumpuk. Sekali klik, uang cair; tapi sesudahnya, bunga yang mengejar tak henti. Kabar yang sampai kepada kita pekan ini bahkan lebih pedih lagi: seorang ayah menjadi korban penipuan oleh orang yang mengaku teman lamanya, hartanya lenyap karena kepercayaannya disalahgunakan. Betapa kejamnya zaman ketika kebaikan hati justru dijadikan celah untuk merampas.

Semua peristiwa yang berbeda-beda ini, saudaraku, sesungguhnya bermuara pada satu penyakit yang sama: keinginan mendapatkan harta tanpa menempuh jalan yang halal. Dan penyakit ini bukan penyakit ringan. Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan kita tentang tujuh perkara yang membinasakan — dalam bahasa hadits, as-sab'ul mubiqat. Dalam riwayat Imam Muslim, ketika para sahabat bertanya apa saja tujuh perkara itu, Rasulullah ﷺ menyebutkan "memakan riba" berdampingan dengan dosa-dosa terberat seperti syirik dan membunuh jiwa tanpa hak. Bayangkan, saudara-saudara — riba disejajarkan dengan dosa-dosa yang paling besar. Ini bukan urusan sepele yang bisa kita tepis dengan dalih "ah, semua orang juga begitu." Justru karena semua orang menganggapnya biasa, ia menjadi lebih berbahaya, karena hati kita perlahan mati rasa terhadapnya.

Lalu, pertanyaan yang paling penting: apa yang bisa kita lakukan setelah pulang dari sini malam ini? Pertama, mari kita ukur diri sendiri lebih dulu. Mungkin kita merasa aman karena bukan penjudi. Tapi coba periksa — apakah ada bunga dalam harta kita, ada cicilan berbunga yang selama ini kita anggap wajar? Jujur pada diri sendiri adalah langkah pertama tobat. Kedua, jika ada saudara, tetangga, atau anggota keluarga kita yang sedang terjerat, tolong jangan kita permalukan dia. Orang yang sedang tenggelam butuh tangan yang menarik ke atas, bukan jari yang menunjuk sambil berkata "tuh kan, salah sendiri." Ketiga, hidupkanlah sedekah harian, meski hanya seribu atau dua ribu rupiah setiap hari, karena itulah penawar yang Allah sendiri janjikan dalam ayat tadi.

Yang paling ingin saya tanamkan di hati kita malam ini, saudara-saudara, adalah harapan. Karena sering kali yang membuat orang terus terjerat bukanlah cinta pada dosanya, melainkan rasa bahwa "sudah terlanjur, sudah tidak ada jalan pulang." Padahal itu bisikan yang keliru. Sebesar apa pun jeratan harta haram yang membelit seseorang, pintu Allah tidak pernah tertutup, tidak pernah, walau sesaat. Orang yang hari ini memutuskan berhenti dari judi, berhenti dari riba, dan kembali kepada Allah — dia bukanlah pecundang yang kalah dalam hidup. Dia justru pemenang sejati. Karena kemenangan yang sesungguhnya bukanlah pada saldo rekening yang bertambah, melainkan pada hati yang kembali tenang, tidur yang kembali nyenyak, dan wajah yang berani menatap keluarga tanpa menyembunyikan rahasia.

Mari kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ أَغْنِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَنَجِّنَا مِنْ كُلِّ كَسْبٍ حَرَامٍ وَدَيْنٍ يُثْقِلُ ظُهُوْرَنَا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan