Pekan ini publik ramai bertanya tentang para pemimpin yang tersandung kabar dan tuduhan. Ada satu kisah lama tentang bagaimana seorang khalifah dibela dari tiga tuduhan berat, bukan dengan amarah, melainkan dengan penjelasan yang jernih. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — فيما ورد من فضائله وحده menghimpun riwayat yang dicatat Imam al-Bukhari, tentang seorang lelaki dari Mesir yang datang membawa tiga pertanyaan tajam tentang Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu.
Musim haji. Mekah sesak oleh jamaah dari berbagai penjuru. Debu beterbangan di antara ribuan langkah kaki.
Seorang lelaki dari Mesir baru saja menunaikan haji di Baitullah. Ia melihat sekelompok orang duduk bercakap. Ia menghampiri. "Siapa kaum ini?" tanyanya. "Mereka orang-orang Quraisy," jawab seseorang. "Siapa yang paling tua di antara mereka?" "Abdullah bin Umar."
Lelaki Mesir itu mendekat. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya — tiga hal yang selama ini ia dengar tentang Utsman, khalifah yang dituduh macam-macam. Ia ingin menuntaskannya.
"Wahai Ibnu Umar, aku ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu, maka ceritakanlah kepadaku," katanya. "Tahukah engkau bahwa Utsman melarikan diri pada perang Uhud?"
Ibnu Umar menjawab tenang, "Ya."
"Tahukah engkau bahwa ia tidak hadir di perang Badar?"
"Ya."
"Tahukah engkau bahwa ia tidak ikut Bai'at Ridwan?"
"Ya."
Lelaki itu seolah merasa menang. Ketiganya dibenarkan. "Allahu Akbar!" serunya, seakan tiga tuduhan itu cukup untuk menjatuhkan nama seorang khalifah.
Tapi Ibnu Umar tidak terbawa. Ia berkata dengan sabar:
تَعَالَ أُبَيِّنْ لَكَ
"Kemarilah, akan kujelaskan kepadamu."
Lalu Ibnu Umar membongkar satu per satu. "Adapun larinya ia pada perang Uhud, aku bersaksi bahwa Allah telah memaafkannya dan mengampuninya. Adapun ketidakhadirannya di Badar — ketahuilah, saat itu istrinya adalah putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan ia sedang sakit keras. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya:
إِنَّ لَكَ أَجْرَ رَجُلٍ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا وَسَهْمَهُ
'Sesungguhnya engkau mendapat pahala seorang yang ikut Badar dan bagian rampasannya.' Utsman tidak absen karena takut. Ia absen karena merawat istri yang sekarat — putri Nabi sendiri. Dan Nabi tetap mencatatkan pahalanya seakan ia hadir di medan perang.
Adapun ketidakhadirannya di Bai'at Ridwan — Ibnu Umar melanjutkan — saat itu Utsman sedang diutus ke Mekah sebagai duta, karena tak ada orang Quraisy di Mekah yang lebih terhormat dan lebih terlindungi daripada dirinya untuk menyampaikan pesan. Justru karena kepercayaan Nabi kepadanya, ia dikirim. Dan ketika berlangsung Bai'at Ridwan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menepukkan tangan kanannya sebagai tangan Utsman, berbai'at atas nama Utsman yang sedang bertugas. Tangan Nabi yang mulia menggantikan tangan Utsman.
Ibnu Umar menutup, "Sekarang, pergilah dengan penjelasan ini." Tiga tuduhan yang tampak menghancurkan, ternyata satu per satu memiliki penjelasan yang justru mengangkat kemuliaan Utsman.
Utsman radhiyallahu 'anhu memang dikenal sebagai lelaki yang sangat pemalu, berwajah teduh, dermawan tak terkira. Ia lebih mementingkan kerabat dan keluarganya dengan harta dunia yang fana, agar hati mereka lembut menerima kebenaran. Ia mengurus rakyat hingga di zamannya orang-orang berkata: harta pemberian mengalir, rezeki melimpah, keamanan terjaga. Namun kelak, orang-orang yang tamak kekuasaan mengincar kursinya, memburu-buru kematiannya, sampai terjadi fitnah besar yang mengguncang umat.
Pelajaran
Kisah ini mengajarkan satu hal yang sangat kita butuhkan pekan ini: sebelum menuduh, dengarkan dulu penjelasannya. Lelaki Mesir itu datang dengan tiga fakta yang benar — Utsman memang tidak hadir di Badar, memang tidak ikut Bai'at Ridwan, memang mundur di Uhud. Faktanya betul. Tapi kesimpulannya salah, karena ia tidak tahu konteksnya. Betapa sering kita melakukan hal yang sama: kita pegang satu potongan fakta, lalu kita bangun tuduhan besar di atasnya, tanpa mau tahu ceritanya utuh. Ibnu Umar mengajari kita cara membela yang benar — bukan dengan marah, bukan dengan menghina si penuduh, tetapi dengan menjelaskan satu per satu dengan sabar dan ilmu. Di zaman ketika satu tangkapan layar bisa menghancurkan nama seseorang, adab Ibnu Umar ini menjadi obat: tabayyun sebelum menghukum, penjelasan sebelum penghakiman.
Sumber Asli
Al-Bidayah wan-Nihayah — فيما ورد من فضائله وحده
قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، ثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، ثَنَا عُثْمَانُ بْنُ مَوْهَبٍ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ مِصْرَ حَجَّ الْبَيْتَ، فَرَأَى قَوْمًا جُلُوسًا فَقَالَ: مَنْ هَؤُلَاءِ الْقَوْمُ؟ قَالُوا: هَؤُلَاءِ قُرَيْشٌ. قَالَ: فَمَنِ الشَّيْخُ فِيهِمْ؟ قَالُوا: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ. قَالَ: يَا ابْنَ عُمَرَ إِنِّي سَائِلُكَ عَنْ شَيْءٍ فَحَدِّثْنِي؛ هَلْ تَعْلَمُ أَنَّ عُثْمَانَ فَرَّ يَوْمَ أُحُدٍ؟ قَالَ: نَعَمْ. فَقَالَ: تَعْلَمُ أَنَّهُ تَغَيَّبَ عَنْ بَدْرٍ وَلَمْ يَشْهَدْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: تَعْلَمُ أَنَّهُ تَغَيَّبَ عَنْ بَيْعَةِ الرِّضْوَانِ فَلَمْ يَشْهَدْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ.
قَالَ ابْنُ عُمَرَ: تَعَالَ أُبَيِّنْ لَكَ؛ أَمَّا فِرَارُهُ يَوْمَ أُحُدٍ فَأَشْهَدُ أَنَّ اللَّهَ عَفَا عَنْهُ وَغَفَرَ لَهُ، وَأَمَّا تَغَيُّبُهُ عَنْ بَدْرٍ فَإِنَّهُ كَانَتْ تَحْتَهُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ مَرِيضَةً، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ لَكَ أَجْرَ رَجُلٍ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا وَسَهْمَهُ»
