أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, ada satu kabar yang barangkali membuat sebagian kita geleng-geleng kepala — pertanyaan yang beredar luas: apa jadinya kalau orang yang paling dipercaya memberantas korupsi justru terseret dalam kasus korupsi? Malam ini saya tidak ingin mengajak kita menghakimi siapa pun. Saya ingin mengajak kita menoleh ke dalam, ke pos-pos amanah kecil yang kita pegang, yang sering kita anggap sepele.
Ada satu hadits yang selalu membuat saya merinding setiap kali membacanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam Riyad as-Salihin 215:
مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ، فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ، كَانَ غُلُوْلًا يَأْتِيْ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Siapa pun di antara kalian yang kami angkat pada suatu kedudukan, lalu ia menyembunyikan dari kami sekecil jarum atau kurang dari itu, maka itu adalah pengkhianatan dan ia akan membawanya pada Hari Kiamat." Coba kita renungkan, saudara-saudara. Sebuah jarum. Bukan miliaran rupiah, bukan gedung, bukan mobil mewah. Jarum. Sesuatu yang harganya bahkan tidak sampai seribu rupiah. Namun jika itu diambil dari amanah yang bukan haknya, ia akan dipikul di hadapan seluruh makhluk di hari kiamat. Betapa halusnya standar kejujuran yang diajarkan Nabi kita.
Mengapa jarum? Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ingin menutup semua celah pembenaran. Kita ini pandai sekali membuat alasan. "Ah, cuma sedikit." "Ah, kan buat operasional." "Ah, orang lain juga begitu." "Ah, gaji saya kan kecil, wajar dong ambil sedikit." Nah, hadits ini memotong semua alasan itu dari akarnya. Kalau jarum saja dihitung, apalagi yang lebih besar. Tidak ada kata "sedikit" dalam kamus amanah.
Pekan ini kita mendengar beberapa kabar yang, kalau kita jujur, membuat kepercayaan kita sedikit terkikis. Ada perbincangan tentang belanja anggaran yang angkanya terasa janggal untuk barang yang sederhana. Ada kabar tentang program pemberian gizi — program yang niatnya sungguh mulia, memberi makan anak-anak — yang tersandung dugaan penyimpangan. Dan setiap kali kabar seperti ini muncul, ada sesuatu di dalam dada kita yang berkata, "Kok bisa ya, uang yang untuk anak lapar malah dimakan sendiri?" Rasa marah itu wajar. Tapi malam ini saya ingin kita mengubah arah kemarahan itu — dari menuding keluar, menjadi memeriksa ke dalam.
Sebab, saudara-saudara, korupsi besar itu tidak lahir tiba-tiba. Ia dimulai dari jarum. Ia dimulai dari kebiasaan kecil yang dibiarkan. Orang yang berani mengambil miliaran hari ini, dulunya adalah orang yang berani mengambil seribu dan merasa tidak apa-apa. Maka pertanyaan yang lebih penting bukan "kenapa mereka korupsi", tetapi "apakah aku sedang menumbuhkan bibit yang sama di dalam diriku?" Uang kembalian belanja titipan yang tidak dikembalikan. Waktu kerja yang dipakai untuk urusan pribadi tanpa izin. Fasilitas kantor yang dipakai untuk keperluan keluarga. Itu semua jarum-jarum kita.
Saya teringat sebuah teladan indah dari sahabat Nabi. Ada seorang petugas yang diberi tugas mengurus harta, lalu ketika kembali ia membawa sebagian dan berkata, "Yang ini untuk negara, dan yang ini hadiah untuk saya." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menegurnya dengan pertanyaan yang menusuk: "Mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah dan ibunya, lalu ia lihat, apakah ada yang memberinya hadiah atau tidak?" Maksudnya jelas — hadiah yang datang karena jabatan itu bukan hadiah pribadi; ia datang bukan karena kita, tetapi karena kursi yang kita duduki. Betapa sering kita keliru di titik ini. Kita merasa "ah, ini kan pemberian, saya tidak minta". Padahal pemberian yang lahir dari posisi kita adalah beban amanah, bukan rezeki tambahan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan tentang orang-orang yang beriman dengan sifat yang indah. Dalam QS. Al-Muminoon: 8:
وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ
"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnya dan janjinya." Perhatikan bahwa ayat ini menempatkan penjagaan amanah sebagai salah satu ciri orang beriman yang akan mewarisi surga — sederet dengan khusyuk dalam shalat dan menjaga kemaluan. Artinya, dalam pandangan Allah, menjaga amanah bukan urusan sepele administratif; ia adalah bagian dari inti keimanan. Orang yang khianat pada titipan, sedang mencederai imannya sendiri.
Mari kita renungkan lebih dalam, saudara-saudara. Apa sebenarnya yang membuat seseorang berani berkhianat? Bukankah karena ia lupa bahwa ada yang melihat? Ketika kita yakin tidak ada yang tahu, di situlah iman kita diuji. Orang yang imannya hidup akan tetap jujur meski sendirian di ruangan gelap, karena ia tahu Allah tidak pernah tidur. Sebaliknya, orang yang imannya lemah akan jujur hanya saat ada yang mengawasi. Maka ukuran amanah kita sebenarnya adalah: bagaimana kita berperilaku saat tidak ada siapa-siapa.
Lalu apa yang bisa kita lakukan setelah pulang dari sini malam ini? Pertama, dalam dua puluh empat jam ke depan, coba kita periksa satu pos amanah kecil kita — mungkin uang kembalian yang belum dikembalikan, mungkin janji yang belum ditepati, mungkin barang pinjaman yang lupa dikembalikan. Tunaikan malam ini juga. Kedua, kalau kita memegang kas apa pun — kas arisan, kas RT, kas pengajian — mulailah kebiasaan mencatat dengan rapi dan terbuka. Ketiga, ajari anak-anak kita satu hal kecil: mengembalikan yang bukan haknya. Karena bendahara jujur di masa depan sedang kita didik hari ini.
Saudara-saudara, kepercayaan yang runtuh di ruang publik itu berat untuk diperbaiki dari atas. Tapi ia bisa dibangun kembali dari bawah — dari kita, dari jarum-jarum yang kita jaga hari ini. Jangan pernah remehkan kejujuran kecil, karena di hari kiamat, tidak ada yang kecil.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْأُمَنَاءِ الصَّادِقِيْنَ، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ وَالطَّمَعِ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَرْزَاقِنَا الْحَلَالِ، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
