أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan kita yang baru saja diramaikan oleh kabar dugaan penyimpangan dana program gizi dan pendidikan anak, ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini — pesan tentang betapa kecilnya awal sebuah pengkhianatan, dan betapa besar akibatnya.
Pernahkah kita berpikir, seberapa kecil sesuatu yang bisa membuat seseorang celaka di akhirat? Kita sering membayangkan dosa besar itu berupa hal-hal yang megah — mencuri miliaran, merampas kekuasaan. Padahal Rasulullah ﷺ memberi kita ukuran yang jauh lebih menakutkan. Mari kita dengar sabda beliau:
Sahih Muslim 1833a
مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُوْلًا يَأْتِيْ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapa saja di antara kalian yang kami angkat untuk memegang suatu jabatan, lalu ia menyembunyikan dari kami jarum atau sesuatu yang lebih kecil darinya, maka itu adalah ghulul dan ia akan membawanya pada Hari Kiamat." Perhatikan, saudara-saudara — beliau tidak menyebut emas, tidak menyebut harta karun. Beliau menyebut jarum. Sesuatu yang begitu kecil sampai kita malu menganggapnya berharga.
Kenapa Rasulullah ﷺ memilih perumpamaan jarum? Karena beliau tahu, kejahatan besar selalu berawal dari yang kecil yang dianggap remeh. Tidak ada koruptor yang di hari pertama langsung menggelapkan miliaran. Ia mulai dari yang kecil — sebuah nota yang digelembungkan sedikit, sebuah daftar hadir yang dipalsukan, sebuah dana kas yang "dipinjam dulu". Jarum-jarum itu menumpuk, dan pada suatu titik hatinya sudah terbiasa. Yang tersisa kemudian hanya bekas hitam, seperti yang Nabi ﷺ gambarkan tentang amanah yang tercabut dari hati.
Pekan ini kita mendengar kabar dugaan penyelewengan dalam program yang seharusnya memberi makan dan mendidik anak-anak. Kita juga mendengar seruan agar badan-badan negara dibenahi menyeluruh karena dinilai rawan menjadi sumber kebocoran. Saya tidak ingin kita berhenti pada kemarahan terhadap "mereka" di sana. Saya ingin kita bercermin. Karena hadits jarum tadi tidak ditujukan hanya kepada pejabat besar — ia ditujukan kepada siapa saja yang dititipi amanah, sekecil apa pun.
Mari kita ukur diri sendiri. Siapa di antara kita malam ini yang memegang kas RT, uang kas pengajian, dana arisan, atau bahkan sekadar dititipi uang belanja oleh pasangan? Semua itu adalah amanah. Dan hadits jarum berlaku sama untuk semuanya. Kejujuran yang kita rindukan dari pejabat negara harus dimulai dari kejujuran kita atas seribu rupiah yang bukan hak kita.
Ada satu hal lagi yang membuat pengkhianatan atas dana pendidikan dan gizi anak begitu berat: korbannya adalah yang paling lemah. Dalam surah Al-Israa ayat 34, Allah berfirman: "Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik sampai ia dewasa, dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya." Allah secara khusus melindungi harta anak yatim — harta milik yang paling tak berdaya. Ketika dana untuk balita dan siswa disentuh dengan niat buruk, di situ ada anak-anak lemah yang piring nasinya berkurang. Pertanggungjawabannya kelak sangat berat.
Saudara-saudara, apa yang mau kita renungkan dari sini? Bahwa amanah bukan urusan orang besar saja. Amanah adalah cara kita menjaga kepercayaan Allah dan manusia atas hal terkecil sekalipun. Ketika kita jujur pada jarum, insya Allah kita akan jujur pada emas. Ketika kita curang pada jarum, jangan heran kalau suatu hari kita tega pada yang besar.
Maka izinkan saya menutup dengan tiga hal yang bisa kita lakukan mulai malam ini. Pertama, periksa satu amanah kecil yang sedang kita pegang — dana kas, titipan, atau tanggung jawab pekerjaan — dan tunaikan dengan jujur. Kedua, ajarkan pada anak kita satu kalimat sederhana sebelum tidur: "Nak, yang bukan milik kita, jangan kita sentuh." Ketiga, kalau di lingkungan kita ada program bantuan atau kegiatan yang dananya kita ikut awasi, kawal dengan cara yang baik — bukan mencurigai, tetapi memastikan amanah tertunaikan.
Marilah kita tutup malam ini dengan satu kesadaran: bahwa timbangan Allah menimbang jarum sama telitinya dengan menimbang gunung. Yang menjaga amanah pada yang kecil sedang membangun benteng bagi jiwanya pada yang besar. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memelihara amanah dan menepati janji.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْحَافِظِيْنَ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعُهُوْدِهِمْ، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ وَالطَّمَعِ، وَاحْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمُ الصِّدْقَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
