Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ لَنَا مِنْ أَنْفُسِنَا أَزْوَاجًا وَجَعَلَ بَيْنَنَا مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلٰى نِعَمِهِ الَّتِيْ لَا تُحْصٰى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ مَنْ أَحْسَنَ إِلٰى أَهْلِهِ وَرَحِمَ الضُّعَفَاءَ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah pada khutbah yang singkat ini kita bertakwa kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya — takwa yang tidak hanya hidup di masjid, tetapi ikut pulang bersama kita ke dalam rumah, ke ruang tamu, ke kamar anak-anak, dan ke pintu-pintu tetangga kita.
Allah Ta'ala berfirman dalam Kitab-Nya, mengingatkan setiap kepala keluarga akan sebuah tanggung jawab yang tidak bisa dititipkan kepada orang lain:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌۭ شِدَادٌۭ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini, hadirin, tidak berbunyi "peliharalah dirimu" saja, lalu berhenti. Ia menyambungnya dengan tegas: "dan keluargamu." Seolah Allah hendak berkata kepada kita bahwa keselamatan seorang mukmin tidak sempurna selama ia lolos sendirian sementara orang-orang yang berada di bawah atapnya tertinggal. Menjaga keluarga dari api bukan sekadar melarang mereka berbuat dosa; ia mencakup menjaga tubuh mereka dari luka, hati mereka dari ketakutan, dan jiwa mereka dari keputusasaan. Rumah yang benar adalah rumah yang menjaga, bukan rumah yang melukai.
Namun kabar yang sampai kepada kita pekan ini justru memperlihatkan sisi paling gelap dari kegagalan menjaga ini. Kita mendengar tentang seorang perempuan penyandang disabilitas yang menjadi korban kekerasan seksual di sebuah kawasan di Jakarta Selatan — seorang yang justru paling membutuhkan perlindungan, malah dilukai. Kita juga mendengar kabar yang lebih memilukan tentang seorang remaja putri di sebuah kabupaten di Jawa Timur yang diduga menjadi korban kekerasan oleh sekian banyak pelaku dalam rentang waktu yang panjang. Ketika berita seperti ini datang, kita tidak boleh hanya mengelus dada lalu berlalu. Kita harus bertanya pada diri sendiri: di mana perlindungan yang seharusnya menyelimuti mereka? Di mana mata para tetangga, para pengurus, para orang dewasa yang seharusnya menjadi benteng?
Dan bukan hanya dua kabar itu, hadirin. Pekan ini pun ramai diperbincangkan kabar tentang seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Sumatera yang diduga melakukan pelecehan terhadap sejumlah korban. Bila kita renungkan ketiga kabar ini bersama-sama, kita menemukan satu pola yang menyayat: kejahatan itu terjadi di ruang-ruang yang justru dianggap paling aman — di dekat rumah, di lingkungan pengajian, di kampus tempat orang menuntut ilmu. Ruang privat, yang selama ini kita bayangkan sebagai benteng, ternyata bisa berubah menjadi titik paling rapuh. Inilah yang seharusnya menggugah kita untuk berhenti sejenak dan bertanya, bukan tentang siapa pelakunya saja, melainkan tentang mengapa jaring perlindungan kita robek justru di lingkaran terdekat.
Kita harus jujur, hadirin. Sebagian besar kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak terjadi di jalanan gelap oleh orang asing. Ia terjadi di dalam rumah, oleh orang yang dikenal, oleh tangan yang seharusnya melindungi. Dan justru karena kedekatan itulah kejahatan ini paling sulit terungkap — tertutup oleh rasa malu, oleh anggapan "ini urusan keluarga", oleh ketakutan korban yang tak berani bicara. Ketika korban akhirnya bersuara, sering kali sudah bertahun-tahun ia menanggung sendirian. Betapa banyak luka yang bisa dicegah seandainya ada satu orang dewasa yang peka, satu tetangga yang berani bertanya, satu pintu yang terbuka untuk mendengar.
Ketahuilah, hadirin, bahwa dalam pandangan syariat, menjaga jiwa dan keturunan (hifz an-nafs dan hifz an-nasl) bukanlah urusan pribadi masing-masing korban. Ia adalah fardh kifayah — kewajiban kolektif yang menjadi dosa bersama bila terbengkalai. Sebuah masyarakat yang membiarkan yang lemah dilukai tanpa pembelaan bukanlah masyarakat yang bersih di mata Allah, betapapun ramai masjidnya dan panjang barisan shafnya. Syariat kita telah menegakkan perlindungan atas jiwa dan kehormatan manusia empat belas abad yang lalu, jauh sebelum dunia ramai membicarakan hak-hak perempuan dan anak. Maka menjaga yang lemah bukanlah kita meniru tren dari luar; ia adalah amanah yang telah dibebankan Allah kepada umat ini sejak awal.
Rasulullah ﷺ memberi kita ukuran yang mengguncang tentang kesehatan sebuah umat. Beliau bersabda dalam sebuah riwayat:
وَعَنْ جَابِرٍ رضى الله عنه سَمِعْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: كَيْفَ تُقَدَّسُ أُمَّةٌ لَا يُؤْخَذُ مِنْ شَدِيدِهِمْ لِضَعِيفِهِمْ
"Bagaimana suatu umat dapat disucikan (dari dosa-dosanya) di mana hak orang-orang lemahnya tidak diambil dari orang-orang kuatnya." (Bulugh al-Maram 1587)
Perhatikanlah kata "disucikan" di sini, hadirin. Rasulullah ﷺ tidak mengatakan "bagaimana suatu umat bisa maju" atau "bisa kaya" — beliau menyebut kesucian, yaitu status ruhani di hadapan Allah. Umat yang membiarkan yang kuat menindas yang lemah, membiarkan hak si lemah tidak ditegakkan, tidak akan pernah mencapai kesucian itu. Ini pukulan telak bagi kita yang kadang mengira bahwa kesalehan cukup diukur dari ibadah ritual. Rasulullah ﷺ menautkan kesucian umat langsung dengan bagaimana kita memperlakukan anggota kita yang paling tidak berdaya — perempuan yang sendirian, anak yang lemah, penyandang disabilitas yang bergantung pada belas orang lain.
Kita bisa belajar dari cara Rasulullah ﷺ sendiri memperlakukan yang lemah. Beliau, yang kepada seorang budak pun berpesan agar diperlakukan dengan baik — "istaushi bihi ma'rufan," perlakukanlah ia dengan baik — mustahil membiarkan seorang perempuan atau anak dilukai di tengah masyarakatnya tanpa bertindak. Sirah beliau penuh dengan momen ketika beliau berdiri membela yang tak bersuara. Inilah teladan yang tercecer dari hidup kita hari ini: kita sibuk mengurus banyak hal, tetapi lupa memasang mata untuk yang paling rapuh di sekitar kita.
Ingatlah, hadirin, bagaimana Rasulullah ﷺ memperlakukan anak-anak. Beliau mencium cucu-cucunya, menggendong mereka bahkan ketika sedang sholat, dan pernah memperpanjang sujud karena seorang anak menaiki punggungnya. Ketika seorang lelaki heran melihat beliau mencium anak dan berkata bahwa ia punya sepuluh anak namun tak pernah mencium seorang pun, Rasulullah ﷺ menjawab bahwa siapa yang tidak menyayangi tidak akan disayangi. Kelembutan seperti inilah yang seharusnya mewarnai rumah kita. Anak yang tumbuh dalam pelukan dan kasih akan menjadi anak yang berani bercerita ketika ada yang melukainya; sebaliknya, anak yang tumbuh dalam bentakan dan ketakutan akan memilih diam, dan diamnya itulah yang membuat luka bertahun-tahun tak terungkap. Maka menjaga anak dimulai dari membuat mereka merasa aman untuk berbicara.
Dan sungguh, sebagian dari kegagalan menjaga itu bersumber dari lisan kita sendiri, hadirin. Betapa banyak keluarga yang retak bukan karena masalah yang besar, melainkan karena bumbu-bumbu prasangka dan gosip yang menyebar dari mulut ke mulut. Rasulullah ﷺ memperingatkan kita dengan tegas:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا
"Jauhilah oleh kalian prasangka (buruk), sebab prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta. Janganlah kalian saling mencari-cari keburukan orang lain, janganlah saling memata-matai, janganlah saling mendengki, dan janganlah saling membenci." (Sahih Muslim 2563a)
Renungkanlah, hadirin, betapa keras Rasulullah ﷺ menamai prasangka sebagai "perkataan yang paling dusta." Karena prasangka menuduh tanpa bukti, lalu tuduhan itu diteruskan, lalu satu keluarga menjadi bahan omongan sekampung — dan yang paling dirugikan sering kali adalah pihak yang paling lemah, yang tak punya suara untuk membela diri. Di zaman kita, prasangka ini tidak lagi menyebar lewat obrolan di pasar, tetapi lewat ujung jari di grup-grup pesan yang sampai ke ribuan orang dalam hitungan menit. Menjaga keluarga dan masyarakat, karena itu, juga berarti menjaga lisan dan jari kita — menahan diri dari menyebar aib, memilih mendoakan daripada menggunjing, dan mengganti kecurigaan dengan husnuzhan.
Dan sungguh, hadirin, sebagian luka itu justru lahir dari dalam rumah dan dari terputusnya tali persaudaraan. Allah Ta'ala memberi peringatan keras tentang apa yang terjadi ketika manusia berpaling dari amanahnya:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوٓا۟ أَرْحَامَكُمْ
"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (QS. Muhammad: 22)
Ayat ini menyandingkan dua kerusakan sekaligus: ifsad fil-ardh, kerusakan di muka bumi, dan taqthi'ul-arham, memutuskan tali kekerabatan. Keduanya sengaja disebut berdampingan karena keduanya lahir dari akar yang sama — hati yang kehilangan rahmat. Ketika rahmat menguap dari rumah, yang tinggal hanya kuasa; dan kuasa tanpa rahmat selalu berujung pada penindasan terhadap yang lebih lemah. Inilah yang kita lihat pada kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga: pihak yang lebih kuat menyalahgunakan posisinya atas pihak yang lebih lemah, lalu memutus ikatan kasih yang seharusnya menjadi jantung keluarga.
Ada pula benang lain yang tidak kalah mendesak, hadirin. Pekan ini ruang publik dipenuhi luapan curhat — orang-orang yang membawa keletihan hidupnya, kegundahan tentang jodoh dan pernikahan, bahkan sampai ke ungkapan putus asa yang paling gelap. Ini adalah suara kesepian yang membumbung. Banyak saudara kita membawa lukanya ke layar telepon karena tak menemukan telinga di sekitarnya. Dan di sinilah, hadirin, dakwah kita diuji: apakah kita menjadi telinga itu, ataukah kita justru menambah bebannya dengan nasihat yang tergesa dan penghakiman yang dingin?
Rasulullah ﷺ mengajarkan kita nilai kehadiran bagi saudara yang sedang menderita:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa meringankan penderitaan seorang saudara dari penderitaan dunia, Allah akan meringankan penderitaannya dari penderitaan Hari Kiamat." (Sahih Muslim 2699a)
Betapa agungnya balasan ini, hadirin. Sekadar meringankan beban seorang saudara — mendengarkan curhatnya, menemani kesendiriannya, menghapus sedikit gelisahnya — dinilai Allah setara dengan diringankannya beban kita di hari yang tak seorang pun bisa menolong. Maka janganlah kita meremehkan kekuatan hadir. Kadang seorang saudara tidak butuh solusi; ia hanya butuh ditemani agar tidak merasa sendirian di tengah gelapnya.
Marilah kita renungkan lebih dalam, hadirin, apa yang sebenarnya diungkapkan oleh banjir curhat ini tentang keadaan masyarakat kita. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang membutuhkan sandaran. Ketika seseorang membawa luka batinnya ke ruang publik yang penuh orang asing, itu bukan tanda ia haus perhatian, melainkan tanda ia telah kehabisan tempat berbagi di dunia nyata. Dahulu, masyarakat kita punya banyak majelis kecil tempat beban dibagi — obrolan panjang di serambi rumah, silaturahmi antar-keluarga yang tulus, halaqah pengajian yang hangat. Ketika ruang-ruang itu menyempit, digantikan oleh kesibukan yang tak berujung dan layar yang menyita, orang-orang kehilangan telinga yang mau mendengar. Dan kesepian, hadirin, adalah beban yang bisa menghancurkan jiwa — sebagian saudara kita bahkan sampai pada ungkapan putus asa yang paling gelap, keinginan untuk mengakhiri hidup, karena merasa tidak ada seorang pun yang peduli.
Inilah cermin yang menuntut kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah rumah kita, komunitas kita, masjid kita menjadi tempat orang berani membawa lukanya? Ataukah kita telah menjadi masyarakat yang cepat menghakimi dan lambat mendengar, yang menyambut keluh dengan ceramah alih-alih dengan pelukan? Sungguh, hadirin, dakwah tidak selalu berbentuk nasihat yang fasih dari atas mimbar. Kadang dakwah yang paling dalam adalah ketika kita duduk di samping seseorang yang hancur, diam mendengarkan, dan membuatnya percaya kembali bahwa hidupnya berharga di mata manusia dan di mata Allah. Itulah rahma yang Rasulullah ﷺ ajarkan — bukan sekadar kata-kata, melainkan kehadiran yang menyembuhkan.
Ada pula, hadirin, benang ketiga yang tak boleh kita lewatkan. Keluarga hari ini menjadi medan tarik-menarik nilai yang tak pernah kita hadapi di masa lalu. Anak-anak kita tumbuh di tengah arus konten digital yang membentuk cara pandang mereka tentang tubuh, tentang pergaulan, tentang benar dan salah — arus yang sering kali bertentangan dengan nilai yang kita tanamkan. Banyak orang tua merasa kehilangan kendali, merasa kalah cepat dengan apa pun yang muncul di layar anak mereka. Namun jawaban atas kegelisahan ini bukanlah sekadar merampas gawai lalu merasa tenang. Filter terbaik bagi seorang anak bukanlah aplikasi, melainkan kedekatan — hubungan yang cukup hangat sehingga ketika anak bingung atau tergoda, ia datang bertanya kepada kita, bukan lari ke layar. Rumah yang hangat mengalahkan pembatas mana pun.
Dan di tengah kegelisahan tentang nilai ini, hadirin, ruang publik kita sering terjebak pada dua kutub yang sama-sama tidak menyembuhkan. Di satu sisi ada yang larut membiarkan segala sesuatu, seolah tidak ada lagi yang salah dan benar. Di sisi lain ada yang begitu keras mencaci, sampai lupa bahwa yang tersesat pun adalah manusia yang butuh dirangkul dan diajak kembali, bukan dilempari kata-kata kasar. Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan kita menjadi keras terhadap manusia dan lembek terhadap kemungkaran, ataupun sebaliknya. Beliau tegas pada prinsip tetapi lembut pada orangnya. Inilah keseimbangan yang harus kita jaga sebagai keluarga dan komunitas Muslim: menolak yang merusak tanpa kehilangan rahmat kepada yang keliru. Sebab dakwah yang kehilangan kelembutannya akan kehilangan hati yang ingin ia selamatkan.
Allah pun mengingatkan kita agar tidak merampas hak sesama dan tidak menyebar kerusakan di muka bumi. Firman-Nya:
وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
"Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan." (QS. Ash-Shu'araa: 183)
Ayat ini, hadirin, meski konteks aslinya berbicara tentang timbangan dagang, mengandung prinsip yang jauh lebih luas: jangan pernah mengurangi hak siapa pun. Dan hak yang paling asasi bagi seorang manusia adalah hak atas keselamatan tubuh dan kehormatannya. Merampas rasa aman seorang perempuan, melukai tubuh seorang anak, merenggut kehormatan seorang yang lemah — itu semua adalah bentuk bakhs, mengurangi hak orang, dalam wujudnya yang paling keji. Dan orang yang melakukannya, dalam bahasa ayat ini, tergolong mufsidin, para pembuat kerusakan di muka bumi. Maka membela yang lemah bukan sekadar kebaikan hati; ia adalah penegakan hak yang telah Allah wajibkan.
Maka, hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan kami menyimpulkan khutbah pertama ini dengan beberapa langkah konkret yang bisa kita ambil pekan ini. Pertama, jadikan rumah kita rumah yang aman — tempat anak berani bercerita tanpa takut dimarahi, tempat istri merasa dilindungi bukan diancam. Mulailah dengan satu kebiasaan sederhana namun mengubah: setiap hari, sisihkan beberapa menit untuk mendengarkan anak dan pasangan kita sepenuhnya, tanpa gawai di tangan dan tanpa memotong dengan penilaian. Anak yang terbiasa didengar akan datang kepada kita ketika ada bahaya; anak yang terbiasa dibentak akan memilih diam. Kedua, pasang mata untuk yang lemah di lingkungan kita — perempuan yang tinggal sendiri, anak yang sering terlihat murung, penyandang disabilitas di kompleks kita, lansia yang jarang keluar rumah. Sekadar menyapa dan menanyakan kabar mereka secara rutin sudah merupakan benteng; kepedulian yang terlihat membuat pelaku kejahatan berpikir dua kali. Ketiga, buat kesepakatan sederhana di lingkungan tempat anak-anak belajar mengaji: tidak ada ruang tertutup satu-lawan-satu antara pengajar dewasa dan anak, dan antar-jemput anak dilakukan bergilir oleh para orang tua. Aturan kecil ini menutup celah yang selama ini sering dimanfaatkan. Keempat, latih diri kita menjadi pendengar — ketika ada saudara yang mulai membawa keluhannya, tahan dulu nasihat, tampung dulu ceritanya. Kadang yang menyelamatkan seseorang dari keputusasaan bukanlah jawaban, melainkan keyakinan bahwa ada yang peduli. Kelima, jaga lisan dan jari kita dari menyebarkan aib dan prasangka, karena banyak keluarga hancur bukan oleh musuh, melainkan oleh gosip tetangga sendiri. Keenam, ajarkan anak-anak kita sejak dini untuk menjaga tubuhnya dan berani berkata "tidak" — bekal ini jauh lebih melindungi daripada larangan yang menakut-nakuti.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلٰى رِضْوَانِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu sisi dari khutbah tadi yang layak kita gali lebih dalam. Kita sering mengira bahwa menjaga keluarga adalah perkara mengunci pintu rapat-rapat dari ancaman luar. Padahal ancaman yang paling menyakitkan justru sering berasal dari dalam — dari tangan yang seharusnya melindungi. Karena itu menjaga bukan sekadar membentengi, tetapi membersihkan hati agar kuasa yang kita pegang atas keluarga tidak berubah menjadi alat menindas.
Sisi kedua, marilah kita renungkan tentang kesepian yang membanjiri ruang publik pekan ini. Banyak dari kita memandang curhat di media sosial sebagai tanda lemahnya iman. Tetapi bukankah lebih tepat kita bertanya: mengapa saudara kita tidak menemukan tempat berbagi di dunia nyata? Jawabannya sering menyakitkan — karena kita, komunitas ini, terlalu cepat menghakimi dan terlalu lambat mendengar. Memperbaiki ini adalah tugas kita bersama.
Sisi ketiga, tentang anak-anak kita. Mereka tumbuh di tengah arus konten yang tidak pernah kita hadapi di masa kecil kita. Menjaga mereka bukan berarti merampas telepon mereka lalu selesai; ia berarti membangun kedekatan sehingga mereka datang kepada kita saat bingung, bukan lari ke layar. Rumah yang hangat adalah filter terbaik, jauh melampaui aplikasi pembatas mana pun.
Sisi keempat, hadirin, marilah kita ingat bahwa menegakkan perlindungan bagi yang lemah adalah wujud takwa yang paling nyata. Betapa sering kita mengira takwa hanya hidup di dalam masjid, dalam ruku' dan sujud kita. Padahal takwa yang sejati ikut pulang bersama kita ke rumah, ke lingkungan, ke ruang-ruang tempat yang lemah membutuhkan pembelaan. Umat yang shalatnya khusyuk tetapi membiarkan tetangganya dilukai belum menggenapkan takwanya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang takwanya utuh — di masjid dan di rumah, di hadapan Allah dan di hadapan sesama.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا وَحَافِظًا وَمُؤَيِّدًا.
اَللّٰهُمَّ احْفَظِ النِّسَاءَ الْمُسْتَضْعَفَاتِ وَالْأَطْفَالَ الضِّعَافَ فِيْ دِيَارِنَا، اَللّٰهُمَّ كُنْ حَافِظًا لَهُمْ مِنْ كُلِّ ظُلْمٍ وَاعْتِدَاءٍ، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا مَسَاكِنَ رَحْمَةٍ وَأَمَانٍ وَسَكِيْنَةٍ.
اَللّٰهُمَّ مَنْ ضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا وَهَمَّ بِإِزْهَاقِ نَفْسِهِ فَفَرِّجْ عَنْهُ كَرْبَهُ، وَاشْرَحْ لَهُ صَدْرَهُ، وَارْزُقْهُ الصَّبْرَ وَالْأَمَلَ وَإِخْوَانًا يَحْمِلُوْنَ عَنْهُ هَمَّهُ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهُمْ رَحْمَةً عَلٰى رَعِيَّتِهِمْ لَا نِقْمَةً عَلَيْهِمْ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدِيْنَا، وَارْحَمْ أَوْلَادَنَا وَأَزْوَاجَنَا، وَاجْعَلْ ذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
