Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsSosial & KeluargaKamis, 16 Juli 2026

Kisah Pendek — "Tamu di Kebun Abul Haitsam"

Di siang yang terik di Madinah, ketika matahari membuat orang-orang bersembunyi di rumah, seorang lelaki keluar dari kediamannya di jam yang tak biasa. Kisah ini dihimpun Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — Bab 50 tentang cara hidup Rasulullah ﷺ, sebuah bab yang mengumpulkan potret betapa sederhananya kehidupan Nabi ﷺ dan para sahabatnya.

Lelaki yang keluar di siang panas itu adalah Rasulullah ﷺ. Bukan kebiasaan beliau keluar di saat orang-orang berteduh. Tak lama, seseorang menyusul. Abu Bakar radhiyallahu 'anhu.

"Apa yang membuatmu keluar, wahai Abu Bakar?" tanya Nabi ﷺ.

"Aku keluar untuk menemui Rasulullah, memandang wajah beliau, dan mengucapkan salam," jawab Abu Bakar.

Belum lama, datang pula Umar radhiyallahu 'anhu.

"Apa yang membuatmu keluar, wahai Umar?"

"Rasa lapar, wahai Rasulullah."

Nabi ﷺ tersenyum. "Aku pun merasakan sebagian dari yang kau rasakan."

Maka ketiganya berjalan menuju rumah Abul Haitsam bin at-Tayyihan al-Anshari, seorang lelaki yang punya banyak pohon kurma dan kambing, tetapi tak punya pembantu. Mereka tidak menemukannya di rumah. Istrinya berkata bahwa Abul Haitsam sedang pergi mengambil air tawar untuk keluarganya.

Tak lama, Abul Haitsam datang memikul girbah berisi air. Ia meletakkannya, lalu berlari memeluk Nabi ﷺ, menebus beliau dengan ayah dan ibunya. Ia membawa ketiga tamunya ke kebun, membentangkan tikar, lalu memetik setandan kurma dan meletakkannya.

"Mengapa tidak kaupilihkan kurma yang matang untuk kami?" tanya Nabi ﷺ.

"Wahai Rasulullah, aku ingin engkau sendiri yang memilih dari kurma matang dan kurma mudanya," jawab Abul Haitsam.

Maka mereka makan kurma itu dan minum air sejuk tadi. Lalu Nabi ﷺ mengucapkan kalimat yang menggetarkan:

هَذَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي تُسْأَلُونَ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ! ظِلٌّ بَارِدٌ، وَرُطَبٌ طَيِّبٌ، وَمَاءٌ بَارِدٌ

"Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, inilah termasuk kenikmatan yang akan ditanyakan kepada kalian pada Hari Kiamat! Naungan yang sejuk, kurma yang lezat, dan air yang dingin."

Lalu Abul Haitsam bergegas menyiapkan makanan. Nabi ﷺ berpesan agar ia tidak menyembelih kambing yang sedang menyusui. Maka disembelihlah seekor anak kambing, dan mereka pun makan bersama.

Setelah itu Nabi ﷺ bertanya, "Apakah kau punya pembantu?"

"Tidak," jawab Abul Haitsam.

"Kalau begitu, bila datang tawanan kepada kami, datanglah kepada kami," kata Nabi ﷺ. Kemudian ketika datang dua orang tawanan, Abul Haitsam datang, dan Nabi ﷺ menyuruhnya memilih. Abul Haitsam berkata, "Wahai Rasulullah, pilihkanlah untukku." Maka Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُسْتَشَارَ مُؤْتَمَنٌ، خُذْ هَذَا، فَإِنِّي رَأَيْتُهُ يُصَلِّي، وَاسْتَوْصِ بِهِ مَعْرُوفًا

"Sesungguhnya orang yang dimintai nasihat itu adalah orang yang dipercaya. Ambillah yang ini, karena aku melihatnya mengerjakan shalat, dan perlakukanlah ia dengan baik."

Abul Haitsam pulang menyampaikan pesan itu kepada istrinya. Istrinya berkata, "Engkau tidak akan menunaikan hak sebagaimana yang disabdakan Nabi ﷺ tentang orang ini kecuali dengan memerdekakannya." Abul Haitsam menjawab, "Kalau begitu, ia merdeka." Mendengar hal itu, Nabi ﷺ bersabda bahwa tidaklah Allah mengutus seorang nabi atau khalifah kecuali baginya dua penasihat: penasihat yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah keburukan, dan penasihat yang tak henti merusaknya — dan siapa yang dijaga dari penasihat yang buruk, sungguh ia telah terjaga.

Pelajaran

Kisah ini memperlihatkan wajah paling hangat dari sebuah rumah tangga Muslim. Ketika tiga tamu datang dalam keadaan lapar, Abul Haitsam tidak menganggapnya beban — ia berlari memeluk, membentangkan tikar, memberikan yang terbaik, bahkan menyembelih kambing untuk mereka. Dan lihatlah bagaimana keputusan besar dalam rumah itu lahir dari musyawarah suami-istri: sang istri justru yang mengingatkan agar hak si tawanan ditunaikan penuh dengan memerdekakannya, dan sang suami menerimanya tanpa gengsi. Rumah yang seperti inilah yang menjadi tempat kenikmatan sejati — bukan karena mewahnya, tetapi karena rahmat yang mengalir di dalamnya: keramahan pada tamu, kelembutan pada yang lemah, dan telinga yang saling mendengar antara suami dan istri. Di tengah kabar pekan ini tentang rumah-rumah yang justru melukai penghuninya, kisah Abul Haitsam mengingatkan bahwa rumah seharusnya adalah naungan yang sejuk, bukan sumber ketakutan.

Sumber Asli

Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 50- باب ما جاء في عيش رسول الله صلى الله عليه وسلم

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي سَاعَةٍ لَا يَخْرُجُ فِيهَا وَلَا يَلْقَاهُ فِيهَا أَحَدٌ، فَأَتَاهُ أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ: مَا جَاءَ بِكَ يَا أَبَا بَكْرٍ؟ قَالَ: خَرَجْتُ أَلْقَى رَسُولَ اللهِ وَأَنْظُرُ فِي وَجْهِهِ وَالتَّسْلِيمِ عَلَيْهِ، فَلَمْ يَلْبَثْ أَنْ جَاءَ عُمَرُ، فَقَالَ: مَا جَاءَ بِكَ يَا عُمَرُ؟ قَالَ: الْجُوعُ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ صلى الله عليه وسلم: وَأَنَا قَدْ وَجَدْتُ بَعْضَ ذَلِكَ.

فَانْطَلَقُوا إِلَى مَنْزِلِ أَبِي الْهَيْثَمِ بْنِ التَّيِّهَانِ الْأَنْصَارِيِّ … ثُمَّ انْطَلَقَ بِهِمْ إِلَى حَدِيقَتِهِ فَبَسَطَ لَهُمْ بِسَاطًا، ثُمَّ انْطَلَقَ إِلَى نَخْلَةٍ فَجَاءَ بِقِنْوٍ فَوَضَعَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: أَفَلَا تَنَقَّيْتَ لَنَا مِنْ رُطَبِهِ؟ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي أَرَدْتُ أَنْ تَخْتَارُوا مِنْ رُطَبِهِ وَبُسْرِهِ، فَأَكَلُوا وَشَرِبُوا مِنْ ذَلِكَ الْمَاءِ. فَقَالَ صلى الله عليه وسلم: هَذَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي تُسْأَلُونَ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ! ظِلٌّ بَارِدٌ، وَرُطَبٌ طَيِّبٌ، وَمَاءٌ بَارِدٌ.

فَقَالَ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ الْمُسْتَشَارَ مُؤْتَمَنٌ، خُذْ هَذَا، فَإِنِّي رَأَيْتُهُ يُصَلِّي، وَاسْتَوْصِ بِهِ مَعْرُوفًا، فَانْطَلَقَ أَبُو الْهَيْثَمِ إِلَى امْرَأَتِهِ فَأَخْبَرَهَا بِقَوْلِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتِ امْرَأَتُهُ: مَا أَنْتَ بِبَالِغٍ حَقَّ مَا قَالَ فِيهِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِلَّا بِأَنْ تَعْتِقَهُ، قَالَ: فَهُوَ عَتِيقٌ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan