Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatTeknologi & AIKamis, 16 Juli 2026

Khutbah Jumat — "Lisan yang Berpindah ke Jari"

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ الْبَيَانَ، وَجَعَلَ اللِّسَانَ نِعْمَةً وَأَمَانَةً، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah. Marilah pada kesempatan mulia ini kita bersama-sama meningkatkan takwa kepada Allah, dengan menjaga bukan hanya perbuatan kita, tetapi juga apa yang keluar dari lisan kita — dan di zaman ini, apa yang keluar dari ujung jari kita. Allah membuka pintu khutbah kita hari ini dengan sebuah peringatan yang lembut namun tegas tentang bahaya lisan. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." Demikianlah tuntunan Allah dalam surah Al-Hujurat ayat 6.

Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini turun empat belas abad yang lalu, di zaman ketika kabar bergerak dari mulut ke mulut, dari kafilah ke kafilah, dengan kecepatan seekor unta. Bayangkan betapa relevannya ia hari ini, ketika satu kabar bohong dapat menjangkau ribuan orang hanya dalam hitungan detik, sebelum kita sempat mengambil napas untuk berpikir. Perintah Allah untuk tabayyun — meneliti sebelum menyebar — bukanlah anjuran sopan santun belaka. Ia adalah benteng yang Allah dirikan untuk melindungi kehormatan dan keselamatan sesama manusia dari kecerobohan lisan kita.

Pekan ini, dari berita dan percakapan yang sampai kepada kita, kita menyaksikan wajah ruang digital yang mengganggu hati. Ada akun yang berulang kali melontarkan ajakan tak senonoh kepada banyak orang di ruang publik maya — kalimat yang sama diulang ke nama-nama berbeda, seakan melecehkan sesama manusia telah menjadi hiburan. Ada pula tudingan berat yang dilempar kepada kelompok agama secara umum, dibungkus umpatan kasar, tanpa bukti, tanpa rasa segan sedikit pun. Kita tidak sedang membicarakan sebuah kasus hukum tertentu; kita sedang membaca sebuah pola — pola di mana lisan manusia, yang kini menjelma menjadi jari yang mengetik, telah kehilangan penjaganya.

Inilah tema kita hari ini, jamaah. Teknologi bukanlah musuh kita. Layar di genggaman kita adalah benda mati yang tidak berdosa. Yang menjadi persoalan adalah bahwa alat ini telah memperpendek jarak antara dorongan hati dan kata yang keluar. Dulu, antara amarah dan ucapan ada tenggang: kita perlu menemui orang itu, membuka mulut, dan menanggung tatapannya. Kini, antara amarah dan sebuah kalimat yang melukai hanya ada satu ketukan ibu jari. Rem batin yang dulu menahan kita — rasa malu, rasa segan, kesadaran bahwa kita berhadapan dengan manusia lain — kini nyaris hilang karena kita berbicara ke sebuah layar, bukan ke sebuah wajah.

Rasulullah ﷺ jauh-jauh hari telah memperingatkan kita tentang bahaya yang terkandung dalam lisan yang lepas. Dalam sebuah riwayat, beliau ﷺ memperkenalkan sebuah penyakit yang menghancurkan masyarakat dari dalam. Sahih Muslim 2606 — diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ مَا الْعَضْهُ؟ هِيَ النَّمِيمَةُ، الْقَالَةُ بَيْنَ النَّاسِ

"Maukah aku beritahukan kepada kalian apa itu al-'adhh? Ia adalah namimah — mengadu domba — yang menebar perpecahan di antara manusia." Dan beliau melanjutkan: "Seseorang senantiasa berkata benar hingga dicatat sebagai orang yang jujur, dan seseorang senantiasa berdusta hingga dicatat sebagai pendusta."

Jamaah yang dirahmati Allah, perhatikanlah betapa dalam peringatan ini. Rasulullah ﷺ tidak menyebut namimah sekadar sebagai dosa kecil yang lewat begitu saja. Beliau menamainya al-'adhh — sesuatu yang menggigit, yang merobek, yang menebar perpecahan di antara manusia. Dan beliau menutup dengan sebuah hukum kejiwaan yang menakutkan: kebiasaan berkata sesuatu, entah jujur entah dusta, pada akhirnya membentuk siapa kita di sisi Allah. Orang yang terbiasa menebar hoaks, lama-kelamaan dicatat sebagai pendusta — bukan karena satu ketikan, melainkan karena pola yang mengeras menjadi karakter. Betapa banyak di antara kita yang, tanpa sadar, sedang menuliskan takdir catatannya sendiri setiap kali jempol kita bergerak menekan tombol "kirim".

Lebih dari itu, jamaah, ada bahaya lain yang lebih halus namun lebih merusak: kebiasaan melaknat dan menuduh. Di ruang digital, betapa mudahnya seseorang melempar laknat, mengumpat, dan menuduh sesama dengan tuduhan terberat sekalipun. Rasulullah ﷺ memberi kita peringatan yang sangat tegas tentang ini. Bulugh al-Maram 1712 — dari Abu ad-Darda' radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّعَّانِيْنَ لَا يَكُوْنُوْنَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Sesungguhnya orang-orang yang terbiasa melaknat tidak akan menjadi pemberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi pada Hari Kiamat." Riwayat Muslim. Renungkanlah, jamaah. Orang yang lidahnya — atau jarinya — terbiasa melaknat, dikeluarkan dari barisan orang-orang yang kelak memberi kesaksian kebaikan dan syafaat. Ia menutup pintu kebaikan besar bagi dirinya sendiri, hanya karena kebiasaan yang ia anggap sepele: mengetik kata-kata yang melukai. Di kolom komentar yang tampak remeh itu, sesungguhnya ada timbangan akhirat yang sedang bergerak.

Dan ketahuilah, hadirin, bahwa sikap terlalu mudah menuduh dan berprasangka adalah salah satu tanda kerusakan yang menimpa umat-umat terdahulu. Rasulullah ﷺ menggambarkan bagaimana kerusakan pertama masuk ke tengah Bani Israil bukan lewat pedang, melainkan lewat sikap manusia terhadap sesamanya. Diriwayatkan dalam Riyad as-Salihin 196, dari Ibnu Mas'ud, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa kerusakan pertama yang menimpa Bani Israil adalah ketika seseorang menegur saudaranya, "Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan perbuatanmu," lalu keesokan harinya ia tetap makan, minum, dan duduk bersamanya seolah tak terjadi apa-apa. Amar ma'ruf mereka menjadi kata-kata kosong tanpa tindak lanjut, sementara di sisi lain lisan mereka bebas mencela. Inilah pelajaran bagi kita: menegur di dunia maya semudah mengetik, namun nasihat yang benar menuntut kelembutan, kesinambungan, dan keteladanan — bukan sekadar cacian yang dilempar lalu ditinggalkan.

Maka apa yang harus kita lakukan, jamaah, dalam pekan ini dan seterusnya? Izinkan saya menyebut beberapa langkah konkret. Pertama, mari kita biasakan jeda sebelum mengetik. Sebelum jari kita menekan "kirim", tanyakan tiga hal: apakah ini benar, apakah ini perlu, apakah ini baik. Jika salah satunya tidak, tahanlah. Diam yang selamat lebih mulia daripada kata yang melukai. Kedua, mari kita jadikan tabayyun sebagai kebiasaan keluarga. Ajarkan anak-anak dan pasangan kita untuk memverifikasi sebelum menyebar, terutama kabar yang membakar emosi. Ketiga, mari kita jauhkan lisan dan jari kita dari melaknat siapa pun — karena laknat yang lepas menutup pintu syafaat bagi diri kita sendiri. Keempat, mari kita isi ruang digital kita dengan yang baik: satu nasihat, satu ayat, satu doa. Karena jika kita tidak mengisinya dengan kebaikan, ruang itu akan diisi oleh yang lain.

Kelima, jamaah, mari kita hidupkan kembali rasa malu. Rasa malu — al-hayā — adalah pengendali paling ampuh bagi lisan. Bila kita malu kepada Allah yang mengawasi setiap ketukan jari, kita tidak akan sanggup mengetik kata-kata yang melukai. Dan keenam, bagi kita yang mampu, jadilah penjaga ruang digital di lingkaran terkecil kita: grup keluarga, grup RT, grup alumni. Satu suara yang mengingatkan dengan lembut sering kali cukup untuk memadamkan api fitnah sebelum ia membesar.

Semoga Allah menjaga lisan dan jari kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang berkata baik atau diam.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan pada khutbah kedua ini kita menggali lebih dalam satu sisi yang sering luput. Kita cenderung mengira bahwa dosa lisan di dunia maya lebih ringan daripada dosa lisan di dunia nyata, karena tak ada tatap muka, tak ada suara. Padahal justru sebaliknya. Kata yang kita ucapkan di ruang nyata mungkin didengar oleh beberapa orang lalu lenyap ditelan waktu. Tetapi kata yang kita ketik di ruang maya tersimpan, tersebar, dan dapat dibaca ribuan orang selama bertahun-tahun. Jejak lisan digital kita nyaris abadi. Betapa besar pertanggungjawabannya kelak.

Kedua, marilah kita renungkan bahwa keteguhan rasa malu adalah warisan kenabian. Rasulullah ﷺ, sebagaimana disaksikan para sahabat, lebih pemalu daripada seorang gadis dalam pingitannya. Bila beliau tidak menyukai sesuatu, cukup terlihat dari raut wajahnya, tanpa perlu mencela. Bandingkan dengan zaman kita, di mana orang berlomba menunjukkan kemarahan dengan kata-kata paling kasar. Rasa malu bukanlah kelemahan; ia adalah kekuatan yang menahan diri dari melukai. Menghidupkannya kembali di ruang digital adalah bentuk meneladani akhlak Nabi yang paling nyata di zaman ini.

Ketiga, mari kita sadari bahwa mengisi ruang digital dengan kebaikan adalah kewajiban kolektif — fardh kifayah — atas umat ini. Bila kaum Muslimin yang baik menarik diri dari ruang maya karena jijik dengan kegaduhannya, maka ruang itu akan sepenuhnya dikuasai oleh yang buruk. Justru kehadiran kita yang menyejukkan, yang meluruskan dengan hikmah, adalah cahaya yang dibutuhkan. Jangan tinggalkan medan ini kosong.

Maka marilah kita tutup dengan memperbanyak doa, memohon kepada Allah agar dijaga lisan dan jari kita.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا وَأَيْدِيَنَا مِنْ كُلِّ قَوْلٍ يَجْرَحُ، وَمِنْ كُلِّ بُهْتَانٍ وَنَمِيْمَةٍ وَلَعْنٍ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَقُوْلُ خَيْرًا أَوْ يَصْمُتُ، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْغِلِّ وَالْحَسَدِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا وَحَافِظًا.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan