Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsTeknologi & AIKamis, 16 Juli 2026

Kisah Pendek — "Negeri yang Lupa Menegur"

Pekan ini ruang digital kita dipenuhi kata-kata yang melukai, dan sebuah kaum kuno pernah binasa bukan hanya karena satu dosa, tetapi karena tak ada lagi yang berani menegur. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — قصة قوم لوط عليه السلام menghimpun kisah kaum Nabi Luth, sebuah negeri yang jatuh perlahan sebelum jatuh sekaligus.

Di dataran rendah Zughar, berdirilah kota Sadum. Tanahnya subur. Ladangnya luas. Kafilah dagang melintasinya siang dan malam. Dari luar, ia tampak makmur.

Tetapi di dalamnya, ada yang membusuk. Penduduknya, kata Ibn Katsir, termasuk manusia paling durjana, paling kufur, dan paling buruk perangainya. Batinnya paling jahat, perilakunya paling rusak. Mereka merampok kafilah di jalan. Mereka melakukan kemungkaran secara terang-terangan di tempat pertemuan mereka. Dan yang paling parah — mereka menciptakan sebuah kekejian yang belum pernah dilakukan seorang pun sebelum mereka.

Bukan itu saja yang menakutkan. Yang menakutkan adalah bagaimana keburukan itu berhenti terasa buruk bagi mereka. Ia dilakukan di tempat terbuka. Ia ditonton bersama. Tak ada lagi yang berbisik "ini salah". Rasa risih telah lenyap dari kota itu, seperti angin yang berhenti bertiup. Yang tersisa hanya keramaian yang membenarkan dirinya sendiri.

Ke tengah negeri itulah Allah mengutus Luth 'alaihissalam. Ia keponakan Ibrahim al-Khalil, yang pindah ke Sadum atas izin pamannya. Ia datang membawa satu seruan yang jernih: sembahlah Allah semata, tinggalkan kekejian ini.

فَدَعَاهُمْ لُوطٌ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَهَاهُمْ عَنْ تَعَاطِي هَذِهِ الْمُحَرَّمَاتِ

"Maka Luth menyeru mereka untuk menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan melarang mereka dari mengerjakan perbuatan-perbuatan haram itu."

Luth berbicara. Ia mengingatkan. Ia memperingatkan. Sendirian, di tengah kota yang seluruhnya menentangnya.

Dan bagaimana jawaban kaumnya? Bukan perenungan. Bukan pertanyaan. Allah merekam jawaban mereka:

أَخْرِجُوهُم مِّن قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

"Usirlah mereka dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri."

Lihatlah keterbalikan itu. Orang yang menyeru pada kebaikan justru diejek. Kesucian dijadikan bahan olokan. Mereka yang menjaga diri disebut "sok suci" dan diusir. Inilah puncak kerusakan sebuah masyarakat: ketika yang benar dibungkam dan yang salah dirayakan.

Ibn Katsir mencatat, mereka terus tenggelam dalam kesesatan dan pembangkangan. Tak seorang pun di antara mereka mencegah kemungkaran yang dilakukan yang lain.

وَلَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنكَرٍ فَعَلُوهُ

"Dan mereka tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka perbuat."

Di sinilah letak kebinasaan sesungguhnya. Bukan hanya karena mereka berbuat keji, tetapi karena tak ada lagi yang saling mengingatkan. Rasa malu telah mati. Suara nurani telah bisu. Setiap orang menonton keburukan tetangganya tanpa bergerak.

Maka datanglah keputusan Allah. Azab yang tak dapat ditolak, yang tak pernah terlintas dalam benak mereka. Negeri itu dijungkirbalikkan. Dan Allah menjadikan mereka pelajaran bagi seluruh alam.

وَجَعَلَهُمْ مَثُلَةً فِي الْعَالَمِينَ، وَعِبْرَةً يُتَّعَظُ بِهَا

"Dan Allah menjadikan mereka contoh yang menghinakan di seluruh alam, serta pelajaran yang dapat dipetik darinya."

Pelajaran

Kaum Luth tidak binasa dalam sehari. Mereka binasa perlahan, dari hari ke hari, ketika satu per satu orang berhenti menegur. Kekejian mereka bermula, tetapi yang menyegel nasib mereka adalah kalimat itu — walā yatanāhawna 'an munkarin fa'alūh, mereka tidak lagi saling melarang dari kemungkaran. Sebuah masyarakat bisa bertahan meski ada dosa di dalamnya, selama masih ada suara yang mengingatkan. Ia baru benar-benar runtuh ketika suara itu dibungkam dan orang yang berkata benar justru diusir. Di zaman kita, ruang digital bisa menjadi Sadum kecil: tempat di mana keburukan dirayakan, dan yang mengingatkan diejek sebagai "sok suci". Pelajarannya bukan sekadar menjauhi keburukan, tetapi memberanikan diri menjadi satu suara yang menegur dengan hikmah — walau hanya kita sendirian di kolom komentar.

Sumber Asli

Al-Bidayah wan-Nihayah — قصة قوم لوط عليه السلام وما حل بهم من النقمة العميمة

وَكَانَ لُوطٌ قَدْ نَزَحَ عَنْ مَحَلَّةِ عَمِّهِ الْخَلِيلِ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ بِأَمْرِهِ لَهُ وَإِذْنِهِ، فَنَزَلَ بِمَدِينَةِ سَدُومَ مِنْ أَرْضِ غَوْرِ زُغَرَ، وَكَانَتْ أُمَّ تِلْكَ الْمَحَلَّةِ وَلَهَا أَرْضٌ وَمُعْمَلَاتٌ وَقُرًى مُضَافَةٌ إِلَيْهَا، وَلَهَا أَهْلٌ مِنْ أَفْجَرِ النَّاسِ وَأَكْفَرِهِمْ وَأَسْوَئِهِمْ طَوِيَّةً وَأَرْدَئِهِمْ سَرِيرَةً وَسِيرَةً، يَقْطَعُونَ السَّبِيلَ، وَيَأْتُونَ فِي نَادِيهِمُ الْمُنْكَرَ، وَلَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ، لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ. فَدَعَاهُمْ لُوطٌ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَهَاهُمْ عَنْ تَعَاطِي هَذِهِ الْمُحَرَّمَاتِ، وَالْفَوَاحِشِ الْمُنْكَرَاتِ، فَتَمَادَوْا عَلَى ضَلَالِهِمْ وَطُغْيَانِهِمْ، فَأَحَلَّ اللَّهُ بِهِمْ مِنَ الْبَأْسِ الَّذِي لَا يُرَدُّ، وَجَعَلَهُمْ مَثُلَةً فِي الْعَالَمِينَ، وَعِبْرَةً يُتَّعَظُ بِهَا.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan