اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهَى عَنْ قَوْلِ الزُّوْرِ وَشَهَادَةِ الْبُهْتَانِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Marilah pada kesempatan Jumat yang mulia ini kita perbarui rasa syukur dan takwa kita kepada Allah Ta'ala — takwa yang bukan sekadar terucap di lisan, melainkan yang menjaga langkah, menjaga tangan, dan yang paling sering kita lupakan, menjaga lisan. Sebab lisan inilah yang paling banyak menyeret manusia ke dalam masalah, baik di dunia maupun di akhirat.
Allah Ta'ala menyebutkan salah satu sifat hamba-hamba pilihan-Nya dalam firman-Nya:
وَٱلَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا۟ بِٱللَّغْوِ مَرُّوا۟ كِرَامًۭا
"Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya." (QS. Al-Furqaan: 72)
Ayat ini, hadirin, menutup rangkaian panjang tentang sifat 'ibādur-Rahmān — hamba-hamba Ar-Rahman. Dan salah satu ciri mereka yang paling menonjol adalah dua hal: mereka tidak menjadi saksi kepalsuan, dan mereka melewati kesia-siaan dengan tetap menjaga kehormatan diri. Perhatikan bagaimana Allah menempatkan sifat menjaga lisan dan menjaga sikap terhadap kesia-siaan sejajar dengan sifat-sifat besar lainnya. Ini menunjukkan bahwa di sisi Allah, cara kita berbicara, cara kita menanggapi keributan, dan cara kita memperlakukan orang lain bukanlah perkara kecil. Ia adalah penanda keimanan.
Mari kita bawa ayat ini turun ke pekan yang baru saja kita lalui. Dari berita yang sampai kepada kita, ada satu kabar yang mengaitkan nama seorang tokoh yang lekat dengan simbol dakwah dengan dugaan penerimaan sejumlah dana dari seorang mantan pejabat daerah yang sedang tersangkut perkara. Kita harus sangat berhati-hati di sini, jamaah. Kabar itu masih berstatus dugaan; belum ada putusan yang menetapkannya bersalah. Dan justru di sinilah ayat tadi menegur kita lebih dulu daripada menegur siapa pun yang disebut dalam kabar itu. Sebelum kita ikut menjadi hakim di ruang percakapan, Allah bertanya kepada kita: apakah kita termasuk orang yang tidak menyaksikan kepalsuan? Apakah kita menyebarkan sesuatu yang belum kita ketahui kebenarannya?
Kita juga menyaksikan pekan ini bagaimana sebagian ruang percakapan tentang agama di media sosial merosot menjadi hinaan yang kasar. Ada yang melempar tuduhan keji kepada para ulama dan ustaz secara menyeluruh, seolah kesalahan segelintir oknum boleh ditimpakan kepada seluruh pengemban ilmu. Ada pula akun-akun yang menebarkan ajakan cabul secara terbuka kepada orang lain, sesuatu yang dahulu memalukan untuk diucapkan, kini dilempar begitu saja seakan candaan. Inilah gambaran nyata dari sebuah masyarakat yang sedang kehilangan rasa malu bersama.
Dan di tengah semua itu, muncul pula perbincangan tentang penyimpangan seksual dan ketahanan keluarga — sebagian mengangkat kisah kaum Nabi Luth sebagai peringatan, sebagian lain melontarkan sindiran yang mempertentangkan satu maksiat dengan maksiat lain. Kabar-kabar ini, hadirin, walau berbeda-beda wujudnya, sesungguhnya bermuara pada satu ujian yang sama: ujian akhlak umat di ruang publik. Bagaimana kita berbicara ketika seseorang tersandung kabar, bagaimana kita berselisih ketika berbeda pandangan, dan bagaimana kita menyikapi kemungkaran yang nyata tanpa kehilangan keadilan dan kasih sayang.
Perlu kita sadari bersama, hadirin, bahwa dahulu percakapan-percakapan seperti ini terjadi di ruang yang terbatas — di warung kopi, di teras rumah, di majelis-majelis kecil. Kata yang keliru bisa diralat, tuduhan yang salah bisa dimaafkan sebelum menyebar jauh. Namun hari ini, satu ketikan jari kita bisa dibaca ribuan orang dalam sekejap, tersimpan bertahun-tahun, dan tak bisa ditarik kembali. Ruang percakapan kita meluas tanpa batas, tetapi apakah adab kita ikut meluas seiring dengannya? Inilah yang menjadi keprihatinan kita: bukan teknologinya, melainkan hati dan lisan yang belum siap menghadapi kekuatan sebesar itu. Sebuah alat yang besar di tangan orang yang belum matang akhlaknya justru menjadi sumber kerusakan yang besar pula.
Karena itu, hadirin, mimbar Jumat pada hari ini tidak sedang mengajak kita menyalahkan siapa pun yang namanya beredar dalam kabar pekan ini. Justru sebaliknya — mimbar ini mengajak kita menengok ke dalam diri sendiri. Sebab yang paling sering luput dari perhatian kita bukanlah dosa orang lain yang jauh di sana, melainkan dosa lisan kita sendiri yang dekat, yang kita lakukan setiap hari tanpa merasa berdosa: ikut menyebarkan, ikut menuduh, ikut menghina, ikut menertawakan. Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, dan di antara jawaban beliau adalah lisan. Betapa mengerikan, jamaah, bahwa anggota tubuh yang paling ringan kita gerakkan justru paling berat pertanggungjawabannya.
Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan saya membawa kita kepada dalil kedua. Allah Ta'ala memerintahkan dengan tegas dalam firman-Nya:
ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌۭ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ ۗ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ ٱلْأَنْعَٰمُ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ ۖ فَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلرِّجْسَ مِنَ ٱلْأَوْثَٰنِ وَٱجْتَنِبُوا۟ قَوْلَ ٱلزُّورِ
"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta." (QS. Al-Hajj: 30)
Renungkanlah bagaimana Allah menyandingkan larangan menyembah berhala dengan larangan berkata dusta dalam satu tarikan nafas ayat. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa penyandingan ini menandakan betapa besarnya dosa perkataan dusta — ia diletakkan berdampingan dengan dosa syirik yang merupakan dosa terbesar. Ketika kita menyebarkan tuduhan yang belum jelas kebenarannya, ketika kita ikut memvonis seseorang di ruang percakapan hanya berdasar kabar sepotong, kita sesungguhnya sedang mendekati sesuatu yang Allah letakkan sejajar dengan kemungkaran terbesar. Betapa banyak jari-jari kita yang bergerak lebih cepat daripada verifikasi kita, betapa banyak lidah kita yang berputar lebih dulu daripada tabayyun kita.
Kita bisa belajar, hadirin, dari peristiwa besar yang menimpa keluarga Rasulullah ﷺ sendiri — peristiwa yang dikenal sebagai haditsul ifki, berita bohong yang menimpa Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha. Ketika itu, sebuah tuduhan keji dilontarkan tentang beliau, dan sebagian kaum Muslimin — bahkan sebagian yang tulus imannya — ikut membicarakannya tanpa memverifikasi. Selama berhari-hari kabar itu beredar, dan Aisyah menanggung beban yang teramat berat. Lalu turunlah teguran Allah yang keras di dalam Al-Qur'an: mengapa ketika kalian mendengarnya, kalian tidak berbaik sangka dan berkata "ini adalah kebohongan yang nyata"? Perhatikanlah, jamaah — bahkan para sahabat yang mulia pun ditegur ketika mereka lalai bertabayyun. Maka bagaimana dengan kita, yang jari-jarinya jauh lebih ringan dan kabar-kabarnya jauh lebih banyak? Peristiwa ini menjadi pelajaran abadi: kabar yang belum jelas tidak boleh diteruskan, dan berbaik sangka kepada sesama Muslim adalah sikap awal yang Allah perintahkan.
Maka, hadirin, keadilan dalam berbicara adalah bagian tak terpisahkan dari keimanan. Dan keadilan itu dimulai dari sikap terhadap orang yang paling mudah kita salahkan. Mari kita belajar dari teladan agung Nabi Yusuf 'alaihissalam. Ketika beliau memiliki peluang menahan saudaranya, beliau berkata:
قَالَ مَعَاذَ ٱللَّهِ أَن نَّأْخُذَ إِلَّا مَن وَجَدْنَا مَتَٰعَنَا عِندَهُۥٓ إِنَّآ إِذًۭا لَّظَٰلِمُونَ
"Berkata Yusuf: 'Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim.'" (QS. Yusuf: 79)
Lihatlah, jamaah, betapa Nabi Yusuf menolak menghukum orang yang tidak terbukti bersalah. Beliau menyebut tindakan menahan orang yang bukan pelakunya sebagai kezaliman. Inilah pelajaran yang kita butuhkan pekan ini: bahwa menuduh seseorang tanpa bukti, memvonis seseorang sebelum jelas perkaranya, adalah bentuk kezaliman yang nyata. Adil bukan hanya menghukum yang bersalah, tetapi juga membebaskan yang belum terbukti bersalah dari tuduhan yang menempel di namanya.
Kemudian, hadirin, dalam hal amanah harta, Nabi ﷺ telah memperingatkan kita dengan sangat keras. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ berdiri di antara para sahabat dan menyebutkan tentang al-ghulul — pengkhianatan terhadap harta yang diamanahkan:
لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ
"Janganlah aku dapati salah seorang dari kalian pada Hari Kiamat memikul di atas lehernya seekor domba yang merengek, atau memikul di atas lehernya seekor kuda yang meringkik…" (Sahih al-Bukhari 3073)
Betapa mengerikan gambaran yang dilukiskan Nabi ﷺ ini, jamaah. Harta yang dikhianati akan dipikul di leher pelakunya di hadapan seluruh makhluk pada Hari Kiamat. Peringatan ini tidak hanya berlaku untuk pejabat besar yang mengelola anggaran negara. Ia berlaku untuk kita semua yang memegang amanah, sekecil apa pun: bendahara pengajian, pengurus kas RT, panitia kurban, pengelola dana masjid, bahkan seorang karyawan yang memegang uang perusahaan. Kabar tentang tokoh yang tersandung dugaan dana pekan ini bukan untuk kita jadikan bahan gunjingan, melainkan cermin bagi diri kita sendiri: adakah amanah kecil yang kita pegang dan belum kita tunaikan dengan jujur?
Dan perhatikanlah, hadirin, betapa dua tema yang tampak berbeda ini — amanah harta dan amanah lisan — sesungguhnya berakar pada satu pohon yang sama: kejujuran. Orang yang menjaga hartanya dari khianat adalah orang yang sama yang menjaga lisannya dari dusta. Sebab keduanya lahir dari rasa takut kepada Allah dan kesadaran akan Hari Perhitungan. Allah Ta'ala menyebut para hamba beriman dengan sifat mereka:
وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ
"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya." (QS. Al-Ma'aarij: 32)
Amanat di sini, jamaah, mencakup segalanya: harta yang dititipkan, rahasia yang dipercayakan, kabar yang sampai kepada kita, bahkan jabatan dan kepercayaan umat. Ketika seseorang menerima sebuah kabar, sesungguhnya ia sedang memegang amanah — ia bertanggung jawab untuk tidak menyebarkannya sebelum jelas kebenarannya. Betapa banyak orang yang jujur dalam urusan uang, tetapi khianat dalam urusan kabar; ia tak mau mengambil satu rupiah yang bukan haknya, tetapi dengan ringan menyebarkan tuduhan yang bukan haknya untuk disebar. Keduanya adalah pengkhianatan amanah, hanya bentuknya yang berbeda.
Lalu, hadirin, bagaimana Islam mengajarkan kita menyikapi perbedaan dan pertikaian yang muncul di ruang publik? Allah Ta'ala memberi kita arah dalam firman-Nya:
وَلَا تَجْعَلُوا۟ ٱللَّهَ عُرْضَةًۭ لِّأَيْمَٰنِكُمْ أَن تَبَرُّوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَتُصْلِحُوا۟ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌۭ
"Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqara: 224)
Perhatikanlah, jamaah, bagaimana Allah menyebut mendamaikan sesama manusia — ishlah bainan-nas — sebagai kebajikan yang tidak boleh dihalangi oleh apa pun. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan orang yang menjadi pendamai, penyejuk, penenang di tengah keributan. Di zaman kita, ketika satu kabar bisa menyulut permusuhan antar-kelompok dalam hitungan menit, tugas seorang mukmin bukanlah menambah minyak ke dalam api, melainkan menjadi air yang menenangkan. Bukan berarti kita mengaburkan kebenaran atau berpura-pura semua sama — bukan itu. Islam tetap memerintahkan kita menolak yang mungkar dan membela yang benar. Tetapi cara kita melakukannya haruslah dengan hikmah, dengan keadilan, dan dengan menjaga martabat manusia yang kita ajak bicara. Kita menolak perbuatan tanpa merendahkan pelakunya, kita membela kebenaran tanpa menghancurkan kehormatan orang lain.
Inilah, hadirin, yang membedakan seorang da'i yang matang dari seorang penghakim yang gegabah. Da'i yang matang tahu bahwa tujuannya bukan memenangkan perdebatan, melainkan menyelamatkan hati. Ia tahu bahwa satu kata lembut yang tepat lebih berpengaruh daripada seribu kata keras yang menyakitkan. Rasulullah ﷺ diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan dakwah beliau memenangkan hati manusia bukan dengan cacian, melainkan dengan akhlak yang mulia. Ketika beliau dihina, beliau memaafkan; ketika beliau dizalimi, beliau mendoakan. Inilah warisan yang seharusnya kita bawa ke ruang percakapan kita hari ini.
Maka, hadirin, dari rangkaian ayat dan hadits ini, kita bisa menarik beberapa tindakan konkret untuk pekan ini. Pertama, mari kita jadikan diri kita orang yang tidak menjadi saksi kepalsuan — sebelum meneruskan sebuah kabar, tanyakan pada diri: apakah aku tahu ini benar? Kedua, mari kita jaga lisan dan jari kita dari tuduhan liar, terutama tuduhan yang menyapu rata semua orang saleh hanya karena kesalahan segelintir. Ketiga, mari kita audit amanah kecil yang kita pegang — kembalikan yang bukan hak kita, catat yang belum tercatat, tunaikan yang belum tertunaikan. Keempat, mari kita rawat rasa malu dalam berkomunikasi, sebab rasa malu adalah cabang keimanan yang menjaga seluruh cabang lainnya. Kelima, saat berselisih pandangan, mari kita muliakan lawan bicara kita; sebab memuliakan orang yang berbeda dengan kita adalah tanda kematangan iman, bukan kelemahan. Keenam, mari kita perkuat keluarga kita sebagai benteng pertama; anak-anak yang tumbuh dalam rumah yang menjaga lisan dan menjaga malu akan menjadi generasi yang mampu berbeda tanpa saling menghancurkan.
Semua tindakan ini, hadirin, sesungguhnya adalah wujud koeksistensi yang adil yang menjadi ruh dari perintah Islam. Islam tidak mengajarkan kita untuk mengaburkan kebenaran demi terlihat toleran, tetapi juga tidak membenarkan kita menegakkan kebenaran dengan cara yang menghancurkan kehormatan orang lain. Keadilan dan kasih sayang berjalan beriringan, dan lisan yang terjaga adalah jembatan antara keduanya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, pada khutbah kedua ini izinkan saya menegaskan kembali beberapa sisi dari apa yang telah kita renungkan tadi. Sisi pertama: menjaga lisan bukanlah kelemahan atau kepengecutan. Sebagian orang mengira bahwa berani berbicara berarti melempar semua yang ada di kepala tanpa saringan. Padahal keberanian yang sejati adalah keberanian untuk menahan diri ketika sebuah kabar belum jelas, keberanian untuk berkata "aku belum tahu" ketika semua orang berlomba memberi vonis.
Sisi kedua: keadilan terhadap orang yang berbeda dengan kita adalah ujian iman yang paling halus. Mudah bagi kita berlaku adil kepada mereka yang kita sukai. Yang berat adalah berlaku adil kepada mereka yang pandangannya berseberangan, kepada tokoh yang sedang kita ragukan, bahkan kepada mereka yang berbeda keyakinan. Islam memerintahkan kita menolak perbuatan yang mungkar tanpa harus merendahkan martabat manusia yang melakukannya. Membenci perbuatan dosa bukan berarti berhak menghinakan pelakunya di ruang publik.
Sisi ketiga: rumah dan keluarga adalah madrasah pertama tempat akhlak ini ditanam. Anak-anak kita belajar cara berbicara bukan dari ceramah, tetapi dari cara kita menanggapi berita di meja makan, dari cara kita menyebut nama orang lain di ruang keluarga. Jika kita ingin generasi yang mampu menjaga kerukunan sambil memegang prinsip, maka kita harus lebih dulu menjadi teladan yang menjaga lisan di hadapan mereka.
Sisi keempat: semua kebaikan ini bermula dari hati yang bersih dan berujung pada masyarakat yang tenang. Setiap kali seorang Muslim menahan satu tuduhan liar, ia sedang merawat kepercayaan publik. Setiap kali seorang Muslim menunaikan satu amanah kecil dengan jujur, ia sedang menambal celah yang selama ini merusak wajah umat. Inilah dakwah yang sesungguhnya — dakwah dengan akhlak, bukan hanya dengan kata.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُطَهِّرَ أَلْسِنَتَنَا مِنْ قَوْلِ الزُّوْرِ وَشَهَادَةِ الْبُهْتَانِ، وَأَنْ تَرْزُقَنَا الْحَيَاءَ الَّذِيْ يَحْجِزُنَا عَنْ مَعَاصِيْكَ، وَأَنْ تُعِيْنَنَا عَلٰى أَدَاءِ الْأَمَانَاتِ إِلٰى أَهْلِهَا.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا، وَعَجِّلْ لَهُمُ الْفَرَجَ وَالنَّصْرَ الْقَرِيْبَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُ الْعِبَادِ وَالْبِلَادِ، وَجَنِّبْهُمُ الظُّلْمَ وَالْخِيَانَةَ وَحُبَّ الدُّنْيَا.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدِيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا مَدَارِسَ لِلْأَخْلَاقِ وَالْحَيَاءِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
