Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumToleransi & Lintas-ImanKamis, 16 Juli 2026

Kultum — "Rem yang Bernama Malu"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَزَيَّنَهُ بِالْحَيَاءِ وَحُسْنِ الْخُلُقِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ini, ada satu pemandangan yang mungkin kita semua saksikan tanpa sadar: layar ponsel kita dipenuhi kata-kata yang dulu memalukan untuk diucapkan, kini dilempar begitu saja. Ada yang menuduh ustaz dan kiai dengan kata-kata keji tanpa bukti, ada pula akun yang menebar ajakan cabul secara terbuka. Malam ini, saya ingin kita berhenti sejenak dan merenungkan satu hal kecil yang sedang perlahan hilang dari kita: rasa malu.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang betapa Allah sendiri memiliki sifat malu, dan bagaimana seorang mukmin pun menjadikan malu sebagai penjaga dirinya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَغَارُ

"Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan seorang mukmin juga pemalu. Dan rasa malu Allah akan terciderai jika seorang mukmin melakukan apa yang telah Allah larang baginya." (Sahih Muslim 2761a)

Saudara-saudara sekalian, hadits ini sederhana tapi dalam. Malu itu bukan sifat lemah, bukan pula sikap penakut. Malu adalah rem. Ia yang menahan tangan kita sebelum mengetik komentar yang menyakitkan, menahan lidah kita sebelum menyebarkan kabar yang belum jelas, menahan jempol kita sebelum menekan tombol kirim pada tuduhan yang belum tentu benar. Coba kita bayangkan sejenak: berapa banyak keburukan yang tidak jadi terjadi seandainya kita masih punya rasa malu yang cukup?

Pekan ini kita dengar bagaimana sebagian orang menuduh seluruh ulama dan ustaz dengan tuduhan yang sangat kasar, hanya karena kesalahan segelintir oknum. Kita juga dengar bagaimana ada figur publik yang dikaitkan dengan dugaan penerimaan dana — sebuah kabar yang, harus kita tekankan, masih dugaan dan belum ada putusan. Yang menarik untuk kita renungkan bukanlah siapa yang bersalah, tapi betapa cepatnya kita, sebagai penonton, ikut melempar batu. Padahal, kalau rasa malu itu masih ada di dada kita, kita akan berpikir dua kali: "Apakah aku punya hak menghakimi ini? Apakah aku sudah tahu duduk perkaranya?"

Mari kita ukur diri sendiri, jamaah. Siapa di antara kita pekan ini yang pernah meneruskan sebuah kabar tanpa memastikan kebenarannya? Siapa yang pernah ikut menghina, ikut menuduh, ikut memvonis, hanya karena semua orang di grup melakukannya? Kita semua pernah, atau setidaknya nyaris. Dan di sinilah rasa malu menjadi penyelamat. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa malu adalah bagian dari iman. Ketika rasa malu itu hilang, yang tersisa hanyalah keberanian yang liar — berani berkata apa saja, berani menuduh siapa saja, tanpa takut pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Allah Ta'ala juga mengingatkan kita dalam Al-Qur'an tentang bahaya perkataan dusta. Dalam firman-Nya:

وَٱجْتَنِبُوا۟ قَوْلَ ٱلزُّورِ

"…dan jauhilah perkataan-perkataan dusta." (QS. Al-Hajj: 30)

Perhatikan, saudara-saudara, dalam ayat ini Allah menyandingkan larangan berkata dusta dengan larangan menyembah berhala. Betapa besar dosa perkataan dusta hingga diletakkan sejajar dengan dosa terbesar. Tuduhan tanpa bukti, kabar bohong yang kita sebarkan, fitnah yang kita teruskan — semuanya termasuk dalam qawl az-zur ini. Dan rasa malulah yang menjaga kita dari terjerumus ke dalamnya.

Kalau kita renungkan lebih dalam, rasa malu ini sebenarnya berbicara tentang siapa kita di hadapan Allah, bukan di hadapan manusia. Banyak orang menjaga penampilan di depan orang lain, tapi lupa bahwa Allah Maha Melihat setiap ketukan jari kita di keyboard, setiap kabar yang kita teruskan diam-diam, setiap komentar yang kita tulis lalu kita hapus. Malu yang sejati adalah malu kepada Allah, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Inilah yang membedakan seorang mukmin dari yang lain — ia menjaga dirinya bukan karena takut dilihat manusia, tapi karena sadar selalu dilihat Allah.

Maka apa yang bisa kita lakukan setelah pulang dari sholat malam ini? Pertama, mari kita jadikan satu pertanyaan sebagai rem sebelum menekan tombol kirim: "Apakah aku malu kalau Allah tahu aku menyebarkan ini?" Kalau ragu, tahan. Kedua, mari kita berhenti sejenak sebelum ikut menuduh siapa pun — beri jeda, cari kejelasan, dan kalau tidak yakin, diamlah dengan mulia sebagaimana disebut dalam Al-Qur'an tentang hamba-hamba Ar-Rahman yang melewati kesia-siaan dengan menjaga kehormatan diri. Ketiga, mari kita ajarkan rasa malu ini kepada anak-anak kita, bukan dengan omelan, tapi dengan contoh cara kita berbicara di rumah.

Sebagai penutup, jamaah yang saya hormati, ingatlah bahwa menjaga lisan dan menjaga malu bukan urusan sepele. Ia adalah cara kita merawat kepercayaan sesama, menjaga kerukunan, dan menampilkan wajah Islam yang teduh di tengah dunia yang gaduh. Rasa malu adalah rem yang Allah pasangkan dalam dada setiap mukmin. Tugas kita hanyalah menjaganya agar tidak aus.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا الْحَيَاءَ الَّذِيْ يَقُوْدُنَا إِلَى طَاعَتِكَ، وَطَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنْ كُلِّ قَوْلِ زُوْرٍ وَبُهْتَانٍ، وَاحْفَظْ قُلُوْبَنَا مِنْ سُوْءِ الظَّنِّ بِإِخْوَانِنَا.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan