Di pekan ketika banyak orang bertanya-tanya apakah ibadah benar-benar menembus hati atau berhenti di gerakan, ada satu kisah tua tentang fitnah paling besar yang pernah dijanjikan akan datang di akhir zaman. Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah menghimpun peringatan Rasulullah ﷺ tentang Dajjal, dan di dalamnya tersimpan satu adegan tentang seorang lelaki biasa yang keimanannya tidak bisa dibeli, tidak bisa ditakut-takuti, bahkan tidak bisa dibunuh.
Hari itu Nabi ﷺ berkhutbah panjang. Sebagian besar khutbahnya adalah peringatan tentang Dajjal. Wajah para sahabat menegang. Angin Madinah terasa berhenti.
"Tidak ada fitnah di muka bumi sejak Allah menciptakan keturunan Adam yang lebih besar daripada fitnah Dajjal," sabda beliau. Setiap nabi, kata beliau, telah memperingatkan umatnya tentang makhluk ini. Ia akan keluar dari celah antara Syam dan Irak, merusak ke kanan dan ke kiri.
Lalu Nabi ﷺ menggambarkan tipuannya. Mula-mula Dajjal mengaku nabi. Kemudian ia meningkat lebih jauh.
أَنَا رَبُّكُمْ، وَلَا تَرَوْنَ رَبَّكُمْ حَتَّى تَمُوتُوا
"Aku adalah Tuhan kalian," katanya. Tetapi Nabi ﷺ membongkar kebohongan itu seketika: "Kalian tidak akan melihat Tuhan kalian sampai kalian mati."
Dan ada satu tanda yang tidak bisa ditutupi Dajjal, betapapun hebat sihirnya.
إِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
"Ia bermata satu, sedangkan Tuhan kalian tidaklah bermata satu." Di antara kedua matanya tertulis satu kata yang bisa dibaca setiap mukmin: kafir.
Maka datanglah hari itu. Dajjal keluar. Ia membawa apa yang tampak seperti surga dan neraka, sungai air dan gunung api. Manusia berkerumun, sebagian jatuh takjub, sebagian gemetar. Lalu dari kerumunan itu melangkah maju seorang lelaki beriman. Wajahnya tenang. Ia menunjuk Dajjal dan berkata di depan orang banyak bahwa inilah pendusta yang telah diperingatkan Rasulullah ﷺ.
Dajjal murka. Ia memanggil lelaki itu, lalu di hadapan ribuan mata, ia membelah tubuhnya menjadi dua potongan, dan berjalan gagah di antara keduanya. Debu beterbangan. Orang-orang menahan napas. Kemudian Dajjal berbalik.
"Bangkitlah," perintahnya. Dan lelaki itu bangkit, berdiri tegak, utuh kembali, seolah tak pernah tersentuh.
Dajjal tersenyum penuh kemenangan. "Apakah sekarang engkau beriman kepadaku?"
Lelaki itu memandangnya lurus. Suaranya tidak bergetar.
مَا ازْدَدْتُ فِيكَ إِلَّا بَصِيرَةً
"Tidaklah aku bertambah, kecuali makin jelas penglihatanku tentang siapa engkau sebenarnya," jawabnya. Justru mukjizat palsu tadi meyakinkannya bahwa makhluk di hadapannya adalah Dajjal yang dijanjikan.
Wajah Dajjal berubah. Ia menyeret lelaki itu untuk menyembelihnya. Tetapi tiba-tiba bagian antara leher dan tulang selangkanya berubah menjadi tembaga. Pisau tidak menemukan jalan. Dajjal mencoba lagi, gagal lagi. Akhirnya, dengan geram, ia memegang kedua tangan dan kaki lelaki itu, lalu melemparnya jauh-jauh. Orang-orang menyangka Dajjal melemparnya ke dalam neraka. Padahal ia dilemparkan ke dalam surga.
Rasulullah ﷺ menutup kisah itu dengan satu kalimat yang membuat para sahabat merinding.
هَذَا أَعْظَمُ النَّاسِ شَهَادَةً عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Inilah orang yang paling agung kesaksian (syahadah)-nya di sisi Rabb semesta alam."
Pelajaran
Fitnah Dajjal adalah fitnah yang paling besar justru karena ia menyerang lewat mata: ia menyulap yang palsu tampak nyata, dan yang nyata tampak palsu. Senjata lelaki itu bukanlah kekuatan fisik — tubuhnya bahkan dibelah dua — melainkan bashirah, penglihatan hati yang berakar pada tauhid yang bersih. Ia tahu satu hal yang tidak bisa digoyahkan oleh sihir apa pun: Tuhan tidak bermata satu, dan Tuhan tidak bisa dilihat di dunia. Karena keyakinan itu sudah menembus ke dalam hatinya, bukan sekadar hafalan di lisannya, tidak ada mukjizat palsu yang mampu membelinya. Inilah buah ibadah yang sampai ke dalam: ia tidak runtuh saat diuji. Di zaman ketika layar setiap hari menyuguhkan yang palsu seolah benar, kisah ini mengingatkan bahwa iman yang menyelamatkan bukanlah iman yang paling banyak diucapkan, melainkan iman yang paling dalam berakar.
Sumber Asli
Al-Bidayah wan-Nihayah — حديث عن أبي أمامة الباهلي صدي بن عجلان في معنى حديث النواس بن سمعان
قَالَ ابْنُ مَاجَهْ: … عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ، قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَكْثَرُ خُطْبَتِهِ حَدِيثًا حَدَّثَنَاهُ عَنِ الدَّجَّالِ، وَحَذَّرَنَاهُ، فَكَانَ مِنْ قَوْلِهِ أَنْ قَالَ: «إِنَّهُ لَمْ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ مُنْذُ ذَرَأَ اللَّهُ ذُرِّيَّةَ آدَمَ أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ، وَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْ نَبِيًّا إِلَّا حَذَّرَ مِنَ الدَّجَّالِ … وَهُوَ خَارِجٌ فِيكُمْ لَا مَحَالَةَ … يَبْدَأُ، فَيَقُولُ: أَنَا نَبِيٌّ. وَلَا نَبِيَّ بَعْدِي، ثُمَّ يُثَنِّي فَيَقُولُ: أَنَا رَبُّكُمْ. وَلَا تَرَوْنَ رَبَّكُمْ حَتَّى تَمُوتُوا، وَإِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ، عَزَّ وَجَلَّ، لَيْسَ بِأَعْوَرَ، وَإِنَّهُ مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ: [كَافِرٌ]»
Al-Bidayah wan-Nihayah — ذكر أحاديث منثورة في الدجال
… ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: قُمْ. فَيَسْتَوِي قَائِمًا. ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: أَتُؤْمِنُ بِي؟ فَيَقُولُ: مَا ازْدَدْتُ فِيكَ إِلَّا بَصِيرَةً. ثُمَّ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّهُ لَا يَفْعَلُ بَعْدِي بِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ. فَيَأْخُذُهُ الدَّجَّالُ لِيَذْبَحَهُ، فَيُجْعَلُ مَا بَيْنَ رَقَبَتِهِ إِلَى تَرْقُوَتِهِ نُحَاسًا، فَلَا يَسْتَطِيعُ إِلَيْهِ سَبِيلًا. فَيَأْخُذُ بِيَدَيْهِ وَرَجُلَيْهِ، فَيَقْذِفُ بِهِ، فَيَحْسَبُ النَّاسُ أَنَّمَا قَذَفَهُ إِلَى النَّارِ، وَإِنَّمَا أُلْقِيَ فِي الْجَنَّةِ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذَا أَعْظَمُ النَّاسِ شَهَادَةً عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
