Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumEkonomi & BisnisJumat, 24 Juli 2026

Kultum — "Untung yang Tumbuh di Sisi Allah"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ini, banyak sekali kabar tentang uang: ada yang tercekik utang berbunga, ada yang tergoda judi daring, ada pula pedagang kecil yang menghitung untung tipisnya sambil berharap-harap cemas. Malam ini saya ingin mengajak kita semua berhenti sejenak dan bertanya satu hal sederhana: sebenarnya, untung yang kita kejar itu tumbuh di mana — di rekening, atau di sisi Allah?

Mari kita mulai dari satu ayat yang menurut saya sangat menohok. Allah berfirman dalam surah Ar-Room ayat 39:

وَمَآ ءَاتَيْتُم مِّن رِّبًۭا لِّيَرْبُوَا۟ فِىٓ أَمْوَٰلِ ٱلنَّاسِ فَلَا يَرْبُوا۟ عِندَ ٱللَّهِ ۖ وَمَآ ءَاتَيْتُم مِّن زَكَوٰةٍۢ تُرِيدُونَ وَجْهَ ٱللَّهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُضْعِفُونَ

"Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar ia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah di sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan pahalanya." Perhatikanlah, saudara-saudara. Ayat ini memakai kata yang sama — "bertambah" — untuk dua hal yang berlawanan. Riba tampak bertambah di mata kita, tetapi di sisi Allah ia mandek, bahkan menyusut. Sedekah dan zakat tampak mengurangi uang kita, tetapi di sisi Allah justru dilipatgandakan. Inilah dua sistem akuntansi yang berbeda: satu dicatat oleh bank dunia, satu lagi dicatat oleh Allah. Dan kita, kalau jujur, sering lebih percaya pada catatan yang pertama.

Kenapa kita lebih percaya pada angka di layar? Karena ia kelihatan, saudara-saudara. Sementara pahala di sisi Allah tidak muncul di notifikasi ponsel. Di sinilah ujian iman kita yang sesungguhnya. Kita dengar pekan ini bagaimana pinjaman daring dan paylater menawarkan kemudahan instan — satu ketuk, uang cair. Yang tidak ditampilkan adalah bunga yang menumpuk, dan penagihan yang bisa merampas harga diri. Kita juga dengar kabar yang jauh lebih pahit: judi daring yang berujung maut di dalam rumah sendiri. Semua ini berangkat dari satu ilusi yang sama — bahwa harta bisa "bertambah" tanpa kerja jujur dan tanpa keberkahan.

Sekarang bandingkan dengan gambaran orang beriman yang Allah puji. Allah berfirman dalam surah An-Noor ayat 37:

رِجَالٌۭ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَٰرَةٌۭ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًۭا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلْقُلُوبُ وَٱلْأَبْصَٰرُ

"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, dari mendirikan salat, dan dari menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang di hari itu hati dan penglihatan menjadi goncang." Saudara-saudara, coba renungkan. Ayat ini tidak menyuruh kita berhenti berdagang. Ia tidak berkata "tinggalkan pasar, tinggalkan usaha". Justru ia memuji orang yang tetap berniaga, tetapi perniagaannya tidak pernah sanggup melalaikannya dari Allah. Inilah kesetimbangan yang kita cari: tangan sibuk bekerja, tetapi hati tetap terpaut pada zikir, salat, dan zakat.

Mari kita ukur diri kita sendiri malam ini dengan jujur. Ketika azan berkumandang di tengah jam ramai jualan, mana yang kita dahulukan? Ketika ada peluang untung besar tetapi caranya keruh, apakah kita masih bisa berkata "tidak"? Ketika rezeki kita lapang, apakah zakat dan sedekah ikut lapang, atau justru makin pelit karena takut berkurang? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak untuk membuat kita merasa bersalah, tetapi untuk menyalakan kembali kesadaran bahwa kita ini pedagang di dua pasar sekaligus — pasar dunia dan pasar akhirat.

Dan saudara-saudara, uang itu punya cara yang aneh untuk membuka isi hati kita. Coba perhatikan: seringnya bukan miskinnya yang membuat orang gelisah, melainkan rakusnya. Ada yang penghasilannya pas-pasan tapi tidurnya nyenyak, ada yang rekeningnya tebal tapi tidak pernah merasa cukup, selalu kurang, selalu ingin lebih, sampai rela menempuh yang keruh. Di sinilah kita menyentuh satu kebenaran sederhana: kecukupan yang sejati tidak diukur dari seberapa tebal rekening, melainkan dari hati yang tenang menerima yang halal. Kalau hati sudah merasa cukup dengan yang halal, godaan pinjol, judol, dan jalan pintas itu kehilangan daya tariknya. Tapi kalau hati terus lapar, berapa pun yang masuk akan terasa kurang, dan di situlah setan paling mudah membisikkan "ambil saja, toh cuma sedikit, toh semua juga begitu."

Dan kabar baiknya, saudara-saudara, pintu untuk memperbaiki selalu terbuka lebar. Kita tidak perlu menunggu kaya untuk mulai jujur. Kita tidak perlu menunggu lunas untuk mulai bertaubat dari riba. Yang Allah minta hanyalah langkah pertama yang tulus: niat untuk membersihkan penghasilan kita, sedikit demi sedikit. Sebab untung yang sejati bukanlah yang membuat rekening kita tebal, melainkan yang membuat kita berani menatap wajah Allah di hari ketika hati dan penglihatan menjadi goncang.

Maka sebelum kita pulang malam ini, saya mengajak kita semua pada tiga langkah kecil. Pertama, malam ini juga, periksa satu sumber penghasilan atau satu utang kita — apakah ada yang perlu diluruskan? Kedua, sisihkan sedekah, sekecil apa pun, sebagai "modal" di pasar akhirat, dan rasakan bahwa harta kita tidak berkurang karenanya. Ketiga, kalau ada saudara atau tetangga yang sedang terjerat utang atau judi, jangan menghakiminya; dekati, dengarkan, dan bantu ia menemukan pintu keluar.

Mari kita tutup dengan memohon kepada Allah agar dijadikan-Nya termasuk orang yang berniaga tetapi tidak lalai, yang berharta tetapi tidak diperbudak harta.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَنَا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ لَا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan