Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatHukum & KeadilanJumat, 24 Juli 2026

Khutbah Jumat — "Timbangan yang Tak Boleh Miring"

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, di atas mimbar ini kita berdiri bukan untuk menghakimi orang lain, melainkan untuk menimbang diri kita sendiri. Sebab pekan yang baru saja kita lewati sarat dengan kabar tentang timbangan yang miring — tentang orang-orang yang dipercaya menjaga keadilan, lalu tergelincir; tentang yang kuat menindas yang lemah; tentang uang yang berpindah tangan bukan pada tempat yang benar. Maka izinkanlah, ma'asyiral muslimin rahimakumullah, khutbah ini kita mulai dari firman Allah yang meletakkan keadilan sebagai fondasi bumi.

Allah Ta'ala berfirman mengabadikan seruan Nabi Syu'aib 'alaihissalam kepada kaumnya:

QS. Hud: 85

وَيَٰقَوْمِ أَوْفُوا۟ ٱلْمِكْيَالَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

"Dan Syu'aib berkata: 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.'"

Perhatikanlah, jamaah, betapa Al-Qur'an menghubungkan tiga hal dalam satu tarikan napas: takaran yang adil, hak manusia yang tidak dikurangi, dan bumi yang tidak dirusak. Ketiganya satu paket. Nabi Syu'aib diutus kepada kaum yang secara ibadah tidak buruk, tetapi rusak di pasar — mereka mengurangi takaran, menambah timbangan untuk diri sendiri, dan menyerobot hak orang lain sedikit demi sedikit. Dan Allah menyebut perbuatan itu bukan sekadar "curang", melainkan fasād fil-ardh, kerusakan di muka bumi. Artinya, di dalam pandangan syariat, mencuri hak orang lain — sekecil apa pun — bukanlah dosa pribadi yang berhenti di pelakunya; ia adalah retakan di lantai peradaban, yang bila dibiarkan akan meruntuhkan seluruh bangunan.

Renungkanlah pula, ma'asyiral muslimin, kepada siapa ayat ini pertama kali diturunkan. Kaum Nabi Syu'aib bukanlah kaum yang mengingkari Tuhan secara terang-terangan; mereka mengenal Allah, mereka pun beribadah. Tetapi kerusakan mereka terletak di pasar — di timbangan, di tempat mereka bertransaksi. Inilah pelajaran yang mahal bagi kita: seseorang bisa rajin ke masjid namun curang di kantornya; bisa fasih berbicara tentang agama namun culas dalam berdagang; bisa tampak saleh di hadapan orang banyak namun memangkas hak orang lain di belakang layar. Islam menolak pemisahan seperti itu. Iman yang benar tidak berhenti di atas sajadah; ia turun ke dompet, ke meja kerja, ke cara kita memperlakukan orang yang lebih lemah dari kita. Bahkan Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kejujuran dalam bermuamalah adalah bagian dari iman itu sendiri. Maka bila kita mendengar kabar seseorang yang secara lahiriah beragama namun tersangkut perkara mengambil hak orang lain, jangan buru-buru kita bertanya "kok bisa orang yang kelihatan agamis begitu?" — sebab justru di situlah ujian terbesar iman kita masing-masing: apakah agama kita sudah sampai ke tangan dan kaki kita, ataukah baru berhenti di lisan dan penampilan?

Hadirin, dari berita pekan ini kita ketahui betapa dekatnya ayat ini dengan hari-hari kita. Publik dikejutkan oleh dugaan korupsi yang menyeret seorang mantan pejabat tinggi di lingkungan penegakan hukum — orang yang dahulu tugasnya menuntut para pencuri, kini diperiksa karena diduga menikmati harta yang bukan haknya. Kabar lain sampai kepada kita tentang seorang kepala daerah yang terjaring dalam sebuah operasi mendadak. Dan yang barangkali paling membuat kita menggeleng: dugaan korupsi yang merambah dana pakan satwa di sebuah kebun binatang — sampai jatah makan hewan pun tega dikurangi. Kita tidak sedang berdiri di sini untuk menunjuk hidung siapa pun; proses hukum punya jalannya sendiri, dan kita menghormati asas praduga tak bersalah. Tetapi sebagai jamaah yang beriman, kita wajib membaca polanya: timbangan sedang miring di banyak meja sekaligus.

Yang mengkhawatirkan bukan hanya kecurangannya, melainkan cara sebagian kita menyikapinya. Sebagian bersinis ria, menganggap semua pejabat sama saja, lalu diam-diam berkata dalam hati: "Kalau yang di atas saja begitu, wajar dong kalau aku ambil sedikit." Di sinilah bahaya sesungguhnya. Kezaliman yang paling merusak sebuah bangsa bukanlah kezaliman satu-dua orang besar, melainkan saat rakyat kehilangan rasa jijik terhadap kecurangan, lalu menormalkannya. Ketika timbangan yang miring dianggap biasa, saat itulah bumi benar-benar mengalami fasād.

Perhatikanlah bagaimana penyakit ini bekerja, jamaah. Ia jarang datang sekaligus. Hati manusia pada mulanya peka — ia berdebar ketika pertama kali melihat kecurangan, ia menolak, ia risih. Tetapi bila kecurangan itu disaksikan berulang-ulang tanpa perlawanan, lama-lama kepekaan itu menumpul. Yang tadinya membuat kita marah, pelan-pelan hanya membuat kita mengangkat bahu. Yang tadinya kita anggap dosa, pelan-pelan kita anggap "yah, beginilah dunia". Inilah yang para ulama sebut sebagai karat yang menutupi hati: setiap dosa yang dibiarkan meninggalkan satu titik hitam, dan bila dibiarkan menumpuk, seluruh cermin hati menjadi gelap sehingga tak lagi mampu memantulkan kebenaran. Maka tugas terberat kita pekan ini bukanlah menghukum orang lain, melainkan menjaga agar hati kita sendiri tidak ikut berkarat — agar kita tetap bisa merasa jijik pada kecurangan, tetap bisa tersentuh oleh penderitaan yang lemah, tetap bisa membedakan mana cahaya dan mana gelap. Sebab umat yang paling berbahaya bukanlah umat yang penuh dengan pendosa, melainkan umat yang sudah tidak lagi bisa membedakan dosa dari kebiasaan.

Maka izinkan saya, jamaah, mengajak kita menoleh sejenak kepada teladan generasi terbaik umat ini. Di masa Rasulullah ﷺ dan para sahabat sesudahnya, keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu — hukum yang sama berlaku atas yang berpangkat dan atas rakyat jelata, dan yang kuat justru ditekan lebih dahulu agar tidak menzalimi yang lemah. Inilah wajah keadilan Islam: ia menekan yang kuat lebih dahulu, bukan menginjak yang lemah. Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu, di puncak kekuasaannya, berjalan sendiri di kegelapan malam memeriksa keadaan rakyatnya yang paling miskin, karena beliau paham bahwa seorang pemimpin akan ditanya bukan tentang berapa banyak yang ia kumpulkan, melainkan tentang siapa yang ia biarkan kelaparan.

Di sinilah, hadirin, Islam menjawab keluhan yang paling sering kita dengar pekan ini: bahwa hukum katanya tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Dalam pandangan syariat, keadilan tidak mengenal pandang bulu. Yang berpangkat dan rakyat jelata berdiri di atas timbangan yang sama; bahkan yang kuat justru dituntut lebih dahulu agar tidak menyalahgunakan kekuatannya. Bukankah sebentar lagi akan kita dengar peringatan Nabi ﷺ bahwa sebuah umat tak akan pernah suci selama hak yang lemah tidak bisa ditagih dari yang kuat? Maka bila hari ini kita menyaksikan gejala hukum yang pilih kasih, itu bukan alasan untuk berputus asa dan berkata "ah, memang begitulah dunia"; itu justru panggilan untuk mengembalikan keadilan pada bentuknya yang benar. Dan panggilan itu tidak hanya ditujukan kepada para penegak hukum di gedung-gedung tinggi, melainkan kepada kita semua di tempat kita masing-masing — sebab siapa pun yang diberi sedikit kuasa, sekecil apa pun, sedang memegang timbangan yang sama, hanya berbeda ukurannya.

Bandingkanlah, hadirin, dengan penyakit yang kita saksikan pekan ini. Betapa jauhnya. Maka mari kita dengarkan peringatan Rasulullah ﷺ tentang hakikat kezaliman:

Riyad as-Salihin 203

اِتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ.

"Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada Hari Kiamat; dan jauhilah kekikiran, karena kekikiran telah membinasakan orang-orang sebelum kalian — ia mendorong mereka untuk menumpahkan darah dan menghalalkan yang haram."

Renungkanlah kata zhulumāt, kegelapan yang berlapis-lapis. Rasulullah ﷺ tidak berkata kezaliman itu "dosa" atau "pelanggaran"; beliau menggambarkannya sebagai kegelapan. Orang yang menzalimi orang lain sesungguhnya sedang memadamkan cahaya di sekelilingnya sendiri, sehingga di Hari Kiamat kelak ia berjalan meraba-raba dalam gelap gulita, tanpa penerang. Dan lihatlah bagaimana Nabi ﷺ menautkan kezaliman dengan syuḥḥ — kerakusan, ketamakan yang membuat seseorang merasa tak pernah cukup. Inilah akar dari hampir semua korupsi: bukan kebutuhan, melainkan kerakusan. Seseorang yang gajinya sudah lebih dari cukup masih merasa kurang, lalu tangannya menjulur ke hak orang lain. Umat-umat terdahulu binasa bukan karena miskin, tetapi karena rakus.

Lalu apa obat dari kerakusan ini, hadirin? Obatnya bukan menjadi miskin, melainkan menjadi cukup — qana'ah. Orang yang rakus adalah orang yang, berapa pun yang ia miliki, matanya selalu tertuju pada yang belum ia raih; ia kaya di kantong tetapi miskin di hati. Sebaliknya, orang yang bersyukur memandang apa yang ada di tangannya sebagai pemberian yang cukup, sehingga ia tak perlu menjulurkan tangan ke hak orang lain. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kekayaan yang sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan kayanya jiwa. Betapa banyak orang bergaji besar yang tetap merasa kurang, hingga tangannya menjulur ke yang haram; dan betapa banyak orang bergaji kecil yang merasa cukup, hingga tangannya tetap bersih. Maka mari kita didik hati kita untuk bersyukur atas rezeki yang halal meski sedikit, dan menolak rezeki yang haram meski banyak. Sebab keberkahan tidak diukur dari jumlah, melainkan dari kehalalan; dan sepiring nasi yang halal jauh lebih menenangkan tidur kita daripada gunung harta yang di dalamnya bercampur hak orang lain.

Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu sisi dari kabar pekan ini yang tidak boleh kita lewatkan, justru karena ia yang paling jarang dibicarakan. Di tengah hiruk-pikuk kasus elite, ada kabar-kabar senyap tentang anak-anak yang menjadi korban. Dari beberapa kota sampai kepada kita dugaan kekerasan terhadap anak-anak — dilakukan justru oleh orang-orang dewasa yang mereka percayai, dengan modus yang begitu kecil dan licik hingga menyayat hati. Ada pula kabar seorang bayi yang diduga diperjualbelikan. Anak-anak ini tidak trending. Mereka tidak punya pembela. Suara mereka tenggelam di bawah gemuruh perdebatan orang-orang besar. Maka di sinilah keadilan diuji sebenar-benarnya. Rasulullah ﷺ pernah ditanya secara retoris tentang nasib umat yang membiarkan hal ini:

Bulugh al-Maram 1587

كَيْفَ تُقَدَّسُ أُمَّةٌ لَا يُؤْخَذُ مِنْ شَدِيدِهِمْ لِضَعِيفِهِمْ؟

"Bagaimana suatu umat dapat disucikan, sementara hak orang-orang lemahnya tidak diambil dari orang-orang kuatnya?"

Inilah timbangan yang sesungguhnya, jamaah. Sebuah umat tidak diukur dari kemegahan bangunannya atau kecanggihan hukumnya di atas kertas, melainkan dari satu pertanyaan sederhana: apakah hak si lemah bisa ditagih dari si kuat? Ketika seorang anak kecil, seorang pembantu rumah tangga, seorang buruh harian, atau seorang tetangga miskin dizalimi oleh yang lebih berkuasa — dan tidak ada yang membelanya — maka menurut sabda Nabi ﷺ, umat itu kehilangan kesuciannya. Ia tidak lagi layak disebut umat yang diberkahi. Kita bertanya kepada diri sendiri hari ini: ketika kita mendengar kabar anak yang dizalimi, apakah hati kita masih berdetak, ataukah kita sudah kebal? Kekebalan hati terhadap penderitaan yang lemah adalah gejala pertama umat yang kehilangan cahaya.

Marilah kita bawa timbangan ini pulang ke rumah dan lingkungan kita, jamaah. Sebab keadilan terhadap yang lemah tidak diukur dari seberapa keras kita mengecam kejahatan di layar berita, melainkan dari bagaimana kita memperlakukan orang lemah yang setiap hari ada di dekat kita. Bagaimana kita memperlakukan orang yang bekerja membantu di rumah kita — apakah upahnya kita bayar penuh dan tepat waktu, ataukah kita tunda-tunda dengan seribu alasan? Bagaimana kita memperlakukan buruh dan pekerja kecil — apakah kita hargai keringatnya, ataukah kita tekan sekehendak kita karena kita yang memegang uang? Bagaimana kita memperlakukan anak-anak dan orang tua yang tak berdaya di sekitar kita? Setiap kali kita menegakkan hak seorang yang lemah, kita sedang menyalakan satu lilin di tengah kegelapan zaman. Dan setiap kali kita membiarkan yang lemah diinjak padahal kita mampu menolongnya, kita ikut menanggung gelapnya. Inilah timbangan yang tak pernah miring di sisi Allah: bukan seberapa besar nama kita, melainkan seberapa banyak yang lemah kita bela.

Lalu bagaimana bisa orang berbuat semua ini sambil merasa baik-baik saja? Al-Qur'an memberi kita jawaban yang mengejutkan. Allah Ta'ala berfirman menggambarkan orang-orang yang merusak namun merasa benar:

QS. Al-Baqara: 11

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

"Dan bila dikatakan kepada mereka: 'Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,' mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.'"

Inilah tipu daya yang paling halus, ma'asyiral muslimin. Pelaku kerusakan yang paling berbahaya bukanlah yang tahu dirinya jahat, melainkan yang yakin dirinya sedang berbuat baik. Ia berkata: "Saya hanya mempercepat proses." "Saya hanya membantu teman." "Ini sudah jadi tradisi kantor, semua begini." "Uang ini kan untuk kepentingan bersama juga." Pembenaran-pembenaran ini adalah selubung yang menutupi mata hati. Dan bahaya terbesarnya, penyakit ini tidak hanya menghinggapi pejabat besar. Ia bisa hinggap pada kita — pada pedagang yang mengurangi takaran sedikit, pada karyawan yang memakai fasilitas kantor untuk urusan pribadi, pada panitia yang "membulatkan" laporan keuangan, pada siapa pun yang mengambil hak orang lain lalu berkata pada dirinya sendiri: "Ah, kan cuma sedikit."

Bagaimana kita melindungi diri dari tipu daya ini, ma'asyiral muslimin? Kuncinya ada dua. Pertama, muhasabah — membiasakan diri berhenti sejenak setiap hari untuk menimbang: adakah hari ini aku mengambil yang bukan hakku, meski sekecil apa pun? Orang yang rutin menimbang dirinya sendiri sulit tertipu oleh dirinya sendiri. Kedua, membuka pintu bagi nasihat. Pelaku kerusakan yang paling parah biasanya adalah orang yang mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang hanya membenarkan, yang tak berani berkata "tuan, ini keliru". Ia kehilangan cermin. Maka seorang mukmin yang bijak justru mencari sahabat yang berani menegurnya, dan berterima kasih ketika ditegur, bukan tersinggung. Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu, di puncak kekuasaannya, justru berkata bahwa semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan aib-aibnya kepadanya. Andai setiap orang yang memegang amanah hari ini memiliki keberanian menerima teguran seperti itu, betapa banyak kegelapan yang bisa dicegah sejak ia masih berupa titik kecil. Maka jadilah cermin yang jujur bagi saudara kita, dan terimalah dengan lapang bila kita yang dijadikan cermin.

Rasulullah ﷺ pun menutup pintu terhadap perampasan hak dalam bentuk apa pun. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melarang an-nuhbā, yakni mengambil milik orang lain tanpa izin, dan melarang al-muthlah, yakni merusak dan mencederai. Islam tidak mengenal kategori "korupsi kecil yang boleh". Setiap hak yang diambil tanpa keridaan pemiliknya adalah rampasan, dan setiap rampasan adalah kegelapan yang akan menuntut balik pelakunya kelak.

Dan izinkan saya menegaskan satu hal, ma'asyiral muslimin, tentang kabar anak-anak yang menjadi korban pekan ini. Menjaga jiwa yang lemah — anak-anak, orang tua, mereka yang tak berdaya — bukanlah urusan sampingan dalam agama kita; ia termasuk maqashid syariat, tujuan-tujuan pokok yang karenanya agama ini diturunkan. Menjaga jiwa dan menjaga keturunan adalah amanah yang dibebankan kepada seluruh umat sebagai fardh kifayah — kewajiban kolektif yang bila terbengkalai, kita semua ikut menanggung dosanya. Artinya, ketika ada anak di lingkungan kita yang terancam, kita tidak bisa berlepas tangan dan berkata "itu bukan urusan saya". Melindungi mereka adalah utang kita bersama, yang akan ditanyakan di yaumil hisab. Begitu pula menjaga harta umat dari dirampas dan diselewengkan adalah bagian dari amanah yang sama. Kita bukan sedang mengikuti tren dunia ketika kita peduli pada anak yang dizalimi atau pada harta rakyat yang dikorupsi; kita sedang menunaikan perintah yang telah Allah tetapkan jauh sebelum siapa pun berbicara tentangnya. Inilah kesadaran yang membedakan seorang mukmin: ia berbuat baik bukan karena dilihat manusia, melainkan karena ia tahu dirinya seorang khalifah di bumi yang kelak dimintai pertanggungjawaban.

Maka, hadirin yang dirahmati Allah, apa yang bisa kita lakukan pulang dari Jumat ini? Keadilan bukan hanya tugas hakim dan jaksa; ia tugas kita semua, dan ia dimulai dari lingkaran yang paling kecil — dari diri kita sendiri.

Pertama, mari kita audit timbangan kita sendiri pekan ini. Di dagangan kita, adakah takaran yang kita kurangi? Di pekerjaan kita, adakah jam atau fasilitas yang kita ambil diam-diam untuk urusan pribadi? Di rumah kita, adakah hak orang yang bekerja pada kita yang masih kita tunda? Bila ada satu hak orang lain — sekecil apa pun — yang kita tahan, jangan tunggu Jumat depan; kembalikan pekan ini juga, sebab hak yang tertahan adalah beban yang kita bawa sampai ke akhirat.

Kedua, mari kita jaga setiap amanah yang dititipkan kepada kita, sekecil apa pun — kas lingkungan, dana masjid, uang arisan, fasilitas kantor, hingga uang belanja keluarga — dengan pencatatan yang terbuka dan jujur. Keterbukaan adalah benteng pertama melawan godaan; sesuatu yang dicatat dan bisa diperiksa jauh lebih sulit diselewengkan daripada sesuatu yang gelap dan hanya kita sendiri yang tahu.

Ketiga, mari kita pasang mata untuk yang lemah di sekitar kita. Anak-anak yang sering ditinggal sendirian, tetangga lansia yang hidup seorang diri, keluarga kurang mampu di ujung gang yang malu meminta — merekalah ujian keadilan kita yang paling dekat. Menengok mereka, memastikan mereka aman, dan membela hak mereka bila terinjak adalah cahaya yang kita kumpulkan diam-diam.

Keempat, mari kita jaga lisan dan jari kita. Di tengah banjir kabar dan tuduhan pekan ini, betapa mudahnya kita ikut menyebarkan berita yang belum tentu benar dan ikut menghakimi orang yang belum tentu bersalah. Padahal menuduh tanpa bukti juga sebuah kezaliman — kezaliman yang sering kita lakukan sambil merasa sedang membela kebenaran. Sebelum jari kita meneruskan sesuatu, tanyakan: benarkah kabar ini, dan adilkah aku bila menyebarkannya?

Kelima, mari kita didik anak-anak kita untuk mencintai keadilan sejak dini — dengan meneladankan kejujuran di hadapan mereka, bukan sekadar menasihati mereka. Sebab dari rumah-rumah yang adil hari ini, lahir para pemimpin yang adil esok hari.

Dan keenam, yang barangkali paling berat: mari kita rawat rasa jijik kita terhadap kecurangan. Jangan sampai, karena terlalu sering menyaksikannya, kita perlahan menerimanya sebagai hal yang biasa. Sebab pada hari kita berhenti merasa terganggu oleh kezaliman, pada hari itulah gelap benar-benar menang di dalam dada kita. Selama masih ada rasa tidak nyaman ketika melihat yang salah, selama itu pula cahaya iman masih menyala di hati kita.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang menegakkan timbangan-Nya dengan adil, di meja mana pun kita ditempatkan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, di khutbah kedua ini izinkan saya menegaskan satu hal yang mudah luput. Kita cenderung menganggap keadilan sebagai urusan orang lain — urusan pengadilan, urusan pejabat, urusan lembaga yang jauh dari kita. Padahal keadilan pertama yang akan ditanyakan kepada kita adalah keadilan di rumah kita sendiri: apakah kita adil kepada pasangan, kepada anak, kepada orang tua yang menua, kepada pembantu yang bekerja pada kita? Seorang yang lantang mengecam korupsi di layar televisi namun mengurangi hak orang yang bekerja padanya, sesungguhnya sedang membawa timbangan yang miring juga, hanya dalam ukuran yang lebih kecil.

Kedua, mari kita hati-hati dengan sinisme. Sinisme terasa seperti kecerdasan — seolah orang yang berkata "semua sama saja busuknya" adalah orang yang paling paham dunia. Padahal sinisme adalah pintu menuju keputusasaan, dan keputusasaan adalah lahan subur bagi kezaliman untuk terus berlangsung tanpa perlawanan. Seorang mukmin tidak boleh putus asa terhadap keadilan, sebab ia beriman kepada Hari ketika setiap timbangan diluruskan, dan setiap hak sekecil biji sawi pun dikembalikan kepada pemiliknya.

Ketiga, ingatlah bahwa dakwah kita adalah dakwah rahmat, bukan dakwah caci-maki. Kita mendoakan perbaikan bagi para pemimpin, bukan menyumpahi mereka; kita menuntut keadilan dengan cara yang adil pula, bukan dengan fitnah dan tuduhan liar yang justru menambah gelap. Sebab memerangi kezaliman dengan kezaliman lain hanya akan melipatgandakan kegelapan.

Dan janganlah kita meremehkan peran orang biasa dalam menegakkan keadilan, hadirin. Kita mungkin bukan hakim, bukan pejabat, bukan penegak hukum. Tetapi setiap kali seorang pedagang menyempurnakan timbangannya, setiap kali seorang karyawan menolak menggelembungkan laporan, setiap kali seorang tetangga membela anak yang dizalimi, setiap kali seorang ibu mengajari anaknya mengembalikan yang bukan haknya — di situ keadilan sedang ditegakkan, batu demi batu. Peradaban yang adil tidak dibangun oleh satu keputusan besar dari atas, melainkan oleh jutaan keputusan kecil yang jujur dari bawah. Maka jangan pernah kita merasa terlalu kecil untuk berarti, jangan pernah merasa usaha kita sia-sia. Kejujuran kita yang paling sunyi — yang tak dilihat siapa pun kecuali Allah — adalah sedekah paling berharga yang kita berikan kepada masyarakat kita. Dan bila cukup banyak dari kita menyalakan lilin masing-masing, gelap yang pekat ini pun akan menyingkir. Sebab kegelapan, betapapun luasnya, tidak pernah bisa mengalahkan cahaya yang menolak padam.

Semoga Allah meneguhkan kaki kita di atas keadilan, dan menjadikan kita bagian dari mereka yang menegakkan timbangan-Nya sampai akhir hayat.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، وَلَا تَجْعَلْهُ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا فَنَضِلَّ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَدْلَ فِيْ أَنْفُسِنَا وَفِيْ أَهْلِيْنَا وَفِيْ مُعَامَلَاتِنَا، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الظُّلْمِ أَنْ نَظْلِمَ أَوْ نُظْلَمَ، وَمِنَ الشُّحِّ وَالطَّمَعِ وَأَكْلِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ ضُعَفَاءَنَا وَأَطْفَالَنَا وَيَتَامَانَا مِنْ كُلِّ ظُلْمٍ وَاعْتِدَاءٍ، وَاجْعَلْ أَيْدِيَنَا حَامِيَةً لَهُمْ لَا مُؤْذِيَةً، وَاشْفِ قُلُوْبَ الْمَظْلُوْمِيْنَ وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ خَيْرُ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ الَّتِيْ تَدُلُّهُمْ عَلَى الْعَدْلِ وَتُعِيْنُهُمْ عَلَيْهِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ عَوْنًا وَنَصِيْرًا، وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدِيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan