Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumHukum & KeadilanJumat, 24 Juli 2026

Kultum — "Kegelapan yang Berlipat di Hari Kiamat"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, hampir setiap hari kita disuguhi kabar tentang orang yang mengambil hak orang lain — ada yang di kursi tinggi, ada yang di kantor kecil, bahkan ada yang tega mengambil dari jatah makan hewan di kebun binatang. Malam ini saya tidak ingin mengajak kita ikut sibuk menghakimi mereka. Saya ingin mengajak kita menimbang satu kata yang sering kita anggap enteng: zhalim.

Coba kita renungkan sabda Rasulullah ﷺ yang begitu menggetarkan hati:

Riyad as-Salihin 203

اِتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

"Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada Hari Kiamat."

Perhatikan, saudaraku, Nabi ﷺ tidak berkata kezaliman itu "kesalahan kecil" atau "urusan hukum dunia saja". Beliau menyebutnya zhulumāt — kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Bayangkan seseorang di Hari Kiamat berjalan di padang mahsyar, semua orang mendapat cahaya sesuai amalnya, tetapi ia meraba-raba dalam gelap gulita, tersandung oleh setiap hak yang pernah ia ambil. Itulah gambaran yang Nabi ﷺ tanamkan agar kita takut, bukan takut kepada KPK atau kepada wartawan, tetapi takut kepada gelap yang kita ciptakan sendiri.

Nah, di sinilah kita perlu jujur. Kita mudah sekali marah kepada koruptor besar. Kita bagikan beritanya, kita komentari dengan geram. Tetapi mari kita ukur diri sendiri. Kezaliman itu punya versi kecilnya yang tinggal di rumah dan di kantong kita. Ada pedagang yang mengurangi timbangan sedikit saja, toh pembeli tak akan tahu. Ada karyawan yang mengambil jam kerja untuk urusan pribadi, atau membawa pulang barang kantor "yang kecil-kecil". Ada di antara kita yang menunda membayar utang padahal mampu, atau menahan gaji orang yang bekerja pada kita dengan seribu alasan. Semua ini, saudaraku, adalah timbangan yang miring — hanya beda ukuran, tidak beda jenis.

Pekan ini pun sampai kepada kita kabar-kabar yang lebih menyayat: dugaan kekerasan terhadap anak-anak di beberapa kota, dilakukan oleh orang dewasa yang justru dipercaya. Anak-anak ini adalah manusia paling lemah, dan kezaliman terhadap yang lemah adalah kegelapan yang paling pekat. Seorang pimpinan Majelis Ulama pekan ini mengingatkan dengan kalimat yang layak kita renungkan: bahwa koruptor yang tak bertobat kelak akan memikul sendiri harta korupsinya di Hari Kiamat. Betapa beratnya beban itu. Dan betapa sia-sianya harta yang dikumpulkan dengan kegelapan.

Allah Ta'ala mengingatkan kita agar tidak mengurangi hak sesama manusia:

QS. Ash-Shu'araa: 183

وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

"Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya, dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan."

Ayat ini menutup satu celah yang sering kita cari. Kita suka berpikir: "Kan cuma sedikit, kan cuma sekali, kan tidak ada yang dirugikan." Padahal Allah menyebut mengambil hak orang lain — sekecil apa pun — sebagai bagian dari merusak bumi. Sebab kepercayaan antar-manusia itu seperti kaca: retak sedikit demi sedikit, sampai suatu hari pecah, dan tak ada lagi yang percaya kepada siapa pun. Bukankah itu yang kita rasakan sekarang? Banyak orang sudah tidak percaya kepada pejabat, tidak percaya kepada penegak hukum, bahkan mulai tidak percaya kepada tetangga. Itulah bumi yang sedang retak.

Tapi saudaraku, saya tidak ingin kita pulang malam ini dengan perasaan putus asa. Justru sebaliknya. Retaknya kepercayaan itu adalah panggilan buat kita untuk menjadi yang berbeda. Kalau dunia di luar sana penuh orang yang mengambil hak orang lain, jadilah kita orang yang mengembalikan hak. Kalau banyak yang menahan upah, jadilah kita yang menyegerakannya. Kalau banyak yang mengurangi takaran, jadilah kita yang menyempurnakannya. Satu orang jujur di tengah lingkungan yang curang itu ibarat satu lilin di ruangan gelap — kelihatannya kecil, tetapi cukup untuk membuat orang lain ingat bahwa terang itu masih ada. Dan siapa tahu, dari satu lilin kecil itu, menyala pula lilin-lilin yang lain.

Lalu apa yang bisa kita lakukan, saudara-saudaraku, malam ini sebelum kita pulang? Kita tidak bisa membenahi seluruh negeri sendirian, tetapi kita bisa membenahi timbangan kita sendiri. Pertama, malam ini juga, mari kita ingat-ingat: adakah satu hak orang lain yang masih kita tahan — utang yang belum dibayar, gaji yang belum dilunasi, barang pinjaman yang belum dikembalikan, janji yang belum ditepati? Selesaikan pekan ini. Kedua, mari kita jaga setiap amanah kecil yang dititipkan kepada kita, sekecil uang kas RT atau uang belanja keluarga, dengan pencatatan yang jujur. Ketiga, mari kita perhatikan yang lemah di sekitar kita — tengok anak tetangga yang sering ditinggal sendiri, tanyakan kabar lansia yang tinggal sendirian. Kepedulian yang kecil ini adalah cahaya yang kita kumpulkan untuk melawan gelap.

Dan jangan lupa, saudara-saudaraku, bahwa keadilan yang paling sering kita lalaikan justru keadilan terhadap orang-orang terdekat. Kita bisa marah besar pada koruptor di layar, tetapi lupa bahwa anak kita juga punya hak atas waktu dan perhatian kita; bahwa pasangan kita punya hak atas kelembutan kita; bahwa orang tua kita yang menua punya hak atas kesabaran kita. Menahan hak orang jauh mungkin tak pernah kita lakukan, tetapi menahan hak orang dekat — berapa sering? Maka mari kita mulai keadilan dari lingkaran yang paling kecil dan paling dekat, sebab di situlah timbangan kita diuji setiap hari, tanpa kamera, tanpa saksi, kecuali Allah.

Sebab pada akhirnya, saudaraku, keadilan bukan urusan yang kita tunggu dari orang lain. Ia adalah cahaya yang kita nyalakan dari diri kita sendiri, satu keputusan jujur pada satu waktu. Dan cahaya-cahaya kecil itulah yang kelak menerangi jalan kita, di Hari ketika banyak orang justru berjalan dalam gelap.

Marilah kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قَلْبًا يَخْشَاكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الظُّلْمِ وَالشُّحِّ وَأَكْلِ الْحَرَامِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْقَائِمِيْنَ بِالْقِسْطِ وَلَوْ عَلٰى أَنْفُسِنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan