Pekan ini linimasa dipenuhi cerita hidup yang berat, dan sebagian orang bertanya apakah iman benar-benar menopang saat hidup terasa runtuh. Ada satu potret lama yang bisa menemani pertanyaan itu. Syaikh Yusuf al-Kandahlawi rahimahullah, dalam Hayatus Shahabah — Bab Tahammul asy-Syada'id fillah (bab tentang menanggung kesulitan di jalan Allah), membuka satu babak tentang orang-orang pertama yang memikul beban paling berat demi satu kalimat.
Mekah di siang hari. Matahari membakar batu-batu hitam sampai tak bisa disentuh telapak tangan. Angin dari padang pasir membawa debu, bukan kesejukan. Di lembah sempit itu, air adalah barang mahal dan bayang-bayang adalah kemewahan.
Di kota itu hidup sekelompok kecil manusia yang memilih jalan yang paling sempit dari semua jalan yang tersedia. Mereka orang-orang beriman yang pertama. Di tengah mereka berdiri Nabi Muhammad ﷺ.
Pilihan mereka mudah diucapkan, tetapi berat ditanggung. Mereka berkata bahwa tiada tuhan selain Allah. Sebuah kalimat pendek. Namun kalimat itu mengguncang seluruh tatanan kota yang menyembah banyak berhala.
Maka datanglah kesulitan bertubi-tubi. Datang gangguan dari kerabat sendiri. Ada yang dijemur di terik, ada yang dilapari, ada yang dihalangi dari air dan makanan. Perut sering kosong. Kerongkongan sering kering. Beban itu nyata, bukan kiasan.
Babak yang dibuka Syaikh al-Kandahlawi menggambarkan justru suasana itu:
كَيْفَ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ وَأَصْحَابُهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ يَتَحَمَّلُونَ الشَّدَائِدَ وَالْأَذَى، وَالْجُوعَ وَالْعَطَشَ، إِظْهَارًا لِلدِّينِ الْمَتِينِ
"Bagaimana Nabi ﷺ dan para sahabatnya radhiyallahu 'anhum menanggung berbagai kesulitan dan gangguan, lapar dan dahaga, demi menampakkan agama yang kokoh."
Yang menakjubkan bukan bahwa mereka menderita. Banyak orang menderita di setiap zaman. Yang menakjubkan adalah bagaimana penderitaan itu terasa ringan di pundak mereka.
Rasa lapar tetap lapar. Terik tetap membakar. Tetapi ada sesuatu yang lebih besar dari rasa sakit itu, dan sesuatu yang lebih besar itu membuat rasa sakit menjadi kecil. Dalam bahasa kitab itu, jiwa mereka menjadi ringan bagi mereka di jalan Allah demi meninggikan kalimat-Nya:
هانت عليهم نفوسهم في الله
Ringan di sini bukan berarti mereka menganggap hidup tak berharga. Justru mereka orang-orang yang paling mencintai hidup yang bermakna. Ringan di sini berarti mereka menimbang: di satu sisi ada rasa nyaman diri sendiri, di sisi lain ada kebenaran yang harus tegak. Dan mereka memilih kebenaran, walau harganya adalah kenyamanan mereka sendiri.
Maka mereka bertahan. Bukan dengan gigi terkatup penuh dendam, melainkan dengan hati yang tunduk penuh harap.
Ada yang menahan lapar sampai perutnya melilit. Ada yang kehausan di bawah langit yang tak berawan. Ada yang kehilangan tempat berteduh dan kerabat yang dahulu menyayanginya. Semua itu nyata. Semua itu berat.
Tetapi malam-malam mereka tidak pernah sunyi dari doa. Di dalam gelap, terdengar bisik-bisik yang memohon kepada Rabb yang tak terlihat namun mahadekat. Mereka tidak meminta agar beban itu dicabut seketika. Mereka meminta kekuatan untuk sanggup memikulnya sampai ke ujung.
Dan yang paling menakjubkan, di tengah semua itu mereka tetap saling menguatkan. Yang satu menghibur yang lain. Yang masih tegak menopang yang hampir jatuh. Tidak ada seorang pun yang dibiarkan menanggung sendirian. Mereka tahu untuk apa mereka menahan lapar. Mereka tahu untuk siapa mereka menanggung luka. Dan pengetahuan itulah yang mengubah beban paling berat menjadi sesuatu yang sanggup dipikul.
Hari-hari berat itu tidak berlangsung selamanya. Tetapi bahkan ketika masih di puncak kesulitan, mereka tidak kehilangan arah. Mereka terus menghadap ke tempat yang benar — kepada Allah — sambil tangan mereka tetap bekerja dan lidah mereka tetap berdoa.
Pelajaran
Kisah ini menyingkap satu hal yang mudah salah paham di pekan yang penuh cerita berat seperti sekarang. Inspirasi sejati bukanlah cerita orang yang tidak pernah menderita. Inspirasi sejati adalah cerita orang yang menderita, mengakui beratnya, lalu tetap memikulnya karena ia tahu untuk apa. Yang membuat beban para sahabat terasa ringan bukanlah karena beban itu ringan, melainkan karena hati mereka penuh oleh sesuatu yang lebih besar dari beban itu. Maka bagi siapa pun yang pekan ini merasa hidupnya terlalu berat, kisah ini tidak berkata "abaikan sakitmu". Ia berkata: sakit itu nyata, tetapi kamu tidak harus memikulnya kosong tanpa makna dan tanpa Allah. Ketika hati menemukan alasan dan sandaran, pundak yang tadinya nyaris patah bisa menemukan kekuatan yang tak disangka-sangka.
Sumber Asli
Hayat as-Sahabah — الباب الثالث باب تحمل الشدائد في الله
حياة الصحابة الباب الثالث باب تحمل الشدائد في الله كيف كان النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه رضي الله عنهم يتحمّلون الشدائد والأذى، والجوع والعطش، إِظهاراً للدين المتين. وكيف هانت عليهم نفوسهم في الله لإِعلاء كلمته.
