بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا تُقَدَّرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا أَنَّ الْمُؤْمِنَ الْقَوِيَّ خَيْرٌ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, pekan yang baru saja kita lewati ini bukan pekan yang ringan. Kalau kita membuka layar ponsel, kita bertemu begitu banyak saudara yang menuliskan hal-hal yang berat — ada yang menuliskan bahwa ia sudah tidak sanggup melanjutkan hidup, ada yang berhari-hari tidak makan, ada yang meminta agar seseorang mengakhiri deritanya. Malam ini saya ingin berbagi satu pesan yang sederhana tapi sering kita lupakan: bahwa cara kita menanggapi luka orang lain itu sama pentingnya dengan niat baik kita.
Coba jujur pada diri sendiri, jamaah. Ketika ada teman yang bercerita tentang bebannya, berapa cepat kita menjawab "yang sabar ya, itu ujian"? Kalimat itu tidak salah. Tapi kalau diucapkan terlalu cepat, sebelum kita benar-benar mendengar, ia bisa terasa seperti pintu yang ditutup di depan wajah orang yang sedang menangis. Seakan kita berkata: "sudah, jangan cerita lagi, terima saja." Padahal yang ia butuhkan pertama kali bukan nasihat — melainkan telinga.
Mari kita belajar dari cara Nabi ﷺ mendidik jiwa kita. Beliau bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ.
"Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, tetapi kebaikan ada pada keduanya. Bersemangatlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa tak berdaya." (Bulugh al-Maram 1724)
Perhatikan tiga perintah yang Nabi ﷺ rangkai dalam satu kalimat, jamaah: bersemangatlah pada yang bermanfaat, mintalah pertolongan Allah, dan jangan merasa tak berdaya. Ini bukan resep untuk orang yang santai — ini resep untuk orang yang sedang terpuruk. Nabi ﷺ tidak berkata "diam saja dan tahan." Beliau berkata "bergeraklah ke arah yang bermanfaat, dan bersandarlah kepada Allah, dan jangan menyerah pada rasa tak berdaya." Sabar dalam Islam itu aktif, bukan pasif. Sabar itu bertahan sambil terus mencari jalan keluar yang halal — termasuk meminta bantuan orang lain, meminta pendampingan, bahkan meminta pertolongan tenaga yang ahli bila luka itu luka jiwa yang dalam.
Inilah yang sering terbalik dalam budaya kita. Kita mengira orang yang kuat adalah yang tidak pernah mengeluh dan tidak pernah minta tolong. Padahal justru sebaliknya. Orang yang benar-benar kuat imannya adalah orang yang berani berkata "aku sedang tidak baik-baik saja, tolong temani aku" — karena ia tahu bahwa meminta tolong bukan aib, dan bahwa Allah sendiri memerintahkan wasta'in billah, mintalah pertolongan. Yang berbahaya adalah gengsi yang membuat orang memendam sampai jiwanya pecah dalam kesendirian.
Jamaah, mari kita jujur pada satu kebiasaan yang kurang baik di tengah kita. Kadang, orang yang berani bercerita tentang bebannya malah kita nilai "kurang iman" atau "kurang bersyukur". Padahal Nabi ﷺ, manusia yang paling kuat imannya, pun pernah bersedih hingga berlinang air mata ketika kehilangan orang yang beliau cintai. Beliau tidak berpura-pura tegar; beliau menangis, dan mengajarkan bahwa air mata dan kesedihan hati bukanlah sesuatu yang tercela selama lisan tetap terjaga dari keluh-kesah yang membuat Allah murka. Artinya, saudara-saudara, kesedihan itu manusiawi, dan ia bukan dosa. Yang dilarang dalam Islam bukanlah sedihnya, melainkan berputus asa dari rahmat Allah dan berburuk sangka kepada-Nya. Maka jika malam ini ada di antara kita yang datang dengan hati yang remuk, ketahuilah bahwa engkau tetap seorang mukmin yang dicintai Allah, dan air matamu tidak menurunkan derajatmu sedikit pun di sisi-Nya.
Pekan ini kita juga mendengar kabar-kabar kekerasan yang menyayat — di dalam rumah, di ruang belajar, bahkan dalam ikatan yang paling suci antara anak dan ibunya. Kabar-kabar itu mengingatkan kita bahwa luka tidak selalu datang dari luar; kadang luka lahir dari lidah dan tangan orang terdekat. Maka bagian dari sabar yang aktif adalah menjaga agar kita sendiri tidak menjadi sumber luka bagi orang di sekitar kita. Allah memuji orang yang menahan diri dan memaafkan:
وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ
"Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (QS. Ash-Shura: 43)
Sabar dan memaafkan dalam pergaulan sehari-hari — menahan lidah saat lelah, tidak membalas kata kasar dengan kata kasar — itu bukan tanda kalah, jamaah. Allah menyebutnya min 'azmil umur, termasuk perkara yang butuh tekad besar. Tapi mari kita jujur juga: memaafkan bukan berarti membiarkan kezaliman berlanjut. Kalau ada saudara kita yang jiwanya atau raganya terancam, menolongnya keluar dari bahaya itu bukan kurang sabar — itu justru bentuk kasih sayang yang paling nyata.
Maka, jamaah, ketika kita pulang dari sholat malam ini, mari kita ubah cara kita menemani orang yang terluka. Pertama, kalau ada yang bercerita, dengarkan dulu sampai selesai sebelum menasihati; tahan dorongan untuk cepat-cepat berkata "sabar ya". Kedua, kalau kita sendiri sedang terpuruk, beranikan diri untuk berkata jujur dan minta tolong — kepada keluarga, kepada saudara seiman, atau kepada yang ahli. Ketiga, mari kita jaga lidah dan tangan kita di rumah, agar rumah menjadi tempat sembuh, bukan tempat melukai.
Mari kita tutup dengan doa:
اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلٰى دِيْنِكَ، وَاشْرَحْ صُدُوْرَنَا، وَفَرِّجْ هُمُوْمَنَا، وَاشْفِ كُلَّ قَلْبٍ أَثْقَلَهُ الْحُزْنُ مِنْ إِخْوَانِنَا.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بُيُوْتَنَا سَكَنًا وَرَحْمَةً، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَهْلِيْنَا وَأَوْلَادِنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
