Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatKonflik & GeopolitikJumat, 24 Juli 2026

Khutbah Jumat — "Menjaga Ukhuwah Saat Dunia Terbakar"

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِخْوَةً، وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ بِنِعْمَتِهِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Pada Jumat yang penuh berkah ini, marilah kita awali dengan satu kalimat pendek yang di dalamnya tersimpan seluruh peta hubungan kita sebagai umat. Allah berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujuraat: 10)

Perhatikanlah, jamaah, betapa ringkas dan betapa dalam ayat ini. Allah tidak berkata "sebaiknya" bersaudara, tetapi menetapkan bahwa orang beriman itu memang bersaudara — sebuah fakta, bukan anjuran. Dan dari fakta persaudaraan itu lahir satu tugas: fa ashlihu, damaikanlah. Lalu ayat ditutup dengan takwa dan rahmat. Seolah Allah hendak berkata kepada kita pekan ini: dunia boleh terbakar, kabar boleh datang bertubi-tubi dari segala penjuru, tetapi tugas pertama kalian tetap satu — jaga agar barisan kalian tidak ikut terbakar.

Hadirin yang dirahmati Allah, kita berkumpul hari ini di tengah pekan yang berat. Dari berita yang sampai kepada kita, layar-layar kita dibanjiri kabar dari medan konflik yang jauh. Ada video demi video tentang ketegangan besar di kawasan Teluk — selat yang sempit, pangkalan-pangkalan, rekaman peluncuran rudal — yang beredar tanpa henti, sebagian berlabel "siaran langsung", sebagian entah kapan direkam. Ada kabar tentang sebuah rumah milik keluarga Palestina yang dirobohkan di sebuah kota di utara Al-Khalil, tanah para nabi. Ada penilaian dari lembaga hak asasi manusia internasional bahwa pelanggaran atas gencatan senjata itu tergolong kejahatan perang. Dan ada pula kabar yang menyalakan harapan: seorang tokoh Muslim di sebuah kota besar di Amerika berdiri tegak mengecam pemimpin yang menzalimi Gaza, dan sebuah negeri jiran kita menutup pintunya rapat-rapat bagi warga negara yang menjajah saudara-saudara kita.

Kabar-kabar itu membelah hati kita, jamaah. Sebagian membuat kita marah, sebagian membuat kita menangis, sebagian membuat kita bangga. Tetapi izinkan pada Jumat ini kita menata perasaan itu, karena keprihatinan yang tidak tertata mudah berubah menjadi bahan bakar bagi kerusakan yang lebih besar. Rasa marah yang benar bisa tergelincir menjadi penyebaran kabar yang belum tentu benar. Rasa cinta pada saudara yang jauh bisa, tanpa kita sadari, merenggangkan ikatan dengan saudara yang dekat. Dan di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi kita pekan ini.

Marilah kita mulai dari kenyataan pertama: umat ini mudah tergerak oleh gambar, dan gambar adalah hal yang paling mudah dipalsukan. Betapa sering kita menekan tombol bagikan sebelum jari kita sempat bertanya: benarkah ini? kapan ini terjadi? dari mana asalnya? Kita mengira sedang membela, padahal kadang kita sedang menyalakan api yang salah. Padahal Allah telah memperingatkan kita tentang bahaya kekacauan yang timbul dari kelalaian umat menjaga urusannya. Allah berfirman:

وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ وَفَسَادٌۭ كَبِيرٌۭ

"Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar." (QS. Al-Anfaal: 73)

Ayat ini, jamaah, menyingkap sebuah hukum yang berlaku sepanjang zaman: ketika kebatilan begitu rapi menata barisannya, sementara umat yang benar justru berpencar, tercerai, dan sibuk saling menyalahkan, maka yang lahir adalah fitnah fil ardhi wa fasadun kabir — kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar. Kelalaian kita menjaga persatuan dan menegakkan yang haq bukanlah perkara kecil; ia membuka pintu bagi kerusakan yang jauh lebih luas daripada yang kita bayangkan. Maka menahan jari dari menyebar kabar yang belum jelas, jamaah, bukan sikap penakut. Itu adalah bagian dari menjaga bumi ini dari fitnah. Menyaring sebelum meneruskan adalah amal, bukan kelambanan.

Kenyataan kedua yang perlu kita akui hari ini: simpati yang tidak berujung pada amal akan menguap begitu saja. Betapa banyak dari kita yang, ketika melihat reruntuhan di Gaza, hatinya remuk selama beberapa detik — lalu tersalur habis dalam satu unggahan ulang, satu emoji marah, dan padam. Layar bergeser, dan penderitaan saudara kita menjadi sekadar satu slide di antara ribuan slide lain. Islam datang justru untuk memutus rantai ini, untuk mengubah rasa menjadi gerak. Dengarlah bagaimana Rasulullah ﷺ mendefinisikan persaudaraan bukan sebagai perasaan, melainkan sebagai tindakan. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يُسْلِمُهُ

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Maka ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menyerahkannya kepada musuh. Dan barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya." (Sahih al-Bukhari 6951)

Lihatlah kata lā yuslimuhu, jamaah — jangan menyerahkan saudaramu, jangan membiarkannya sendirian di hadapan yang menzaliminya. Nabi ﷺ tidak berkata "jangan bersedih atas saudaramu"; beliau berkata "jangan tinggalkan saudaramu". Bersedih itu mudah; yang dituntut adalah tidak membiarkan. Dan ujung hadits ini memberi kita kunci: barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Maka setiap rupiah yang kita salurkan lewat lembaga yang terpercaya untuk Gaza, setiap pilihan belanja yang kita timbang agar tidak menyuburkan penindasan, setiap suara santun yang kita angkat untuk membela yang lemah — itu semua adalah wujud dari "tidak menyerahkan saudara". Simpati kita baru bernilai ketika ia menemukan tangan.

Kenyataan ketiga, dan inilah yang paling halus bahayanya: konflik di luar sering menggoda perpecahan di dalam. Setan tidak selalu datang menyuruh kita berhenti peduli pada Palestina; kadang ia justru membiarkan kita sangat peduli, lalu menggunakan kepedulian itu untuk memecah kita. Kita mulai bertengkar bukan lagi tentang bagaimana membela, tetapi tentang siapa yang paling benar dalam membela. Kita saling menuduh sesama Muslim kurang peduli, salah sikap, salah barisan. Dan tanpa sadar, energi yang seharusnya kita arahkan kepada yang menindas justru kita habiskan untuk saling melukai di dalam rumah kita sendiri. Terhadap penyakit inilah Allah memberi obatnya yang paling tegas:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai." (QS. Aal-i-Imraan: 103)

Allah tidak sekadar menyuruh kita berpegang pada tali-Nya; Ia menyuruh kita berpegang jamī'an — bersama-sama, serentak, dalam satu genggaman. Dan Ia melarang perpecahan dengan larangan yang jelas: wa lā tafarraqū. Ayat ini turun kepada masyarakat yang dahulu, di masa Jahiliyah, saling bermusuhan bertahun-tahun karena dendam yang sepele, lalu dipersatukan hatinya oleh Islam hingga menjadi bersaudara. Allah mengingatkan mereka: dahulu kalian di tepi jurang neraka, lalu Aku selamatkan. Betapa ruginya bila umat yang telah dipersatukan itu kembali bercerai hanya karena berbeda cara menyikapi satu berita.

Jamaah yang dimuliakan Allah, dari ketiga kenyataan ini muncul satu pertanyaan besar: bagaimana seharusnya seorang mukmin membawa hati yang penuh keprihatinan tanpa kehilangan rahmatnya? Marilah kita belajar dari junjungan kita, Rasulullah ﷺ. Kita semua ingat bagaimana beliau diperlakukan di Thaif — dilempari batu hingga kakinya berdarah, diusir oleh penduduk yang tidak mau mendengar. Pada saat itu, malaikat penjaga gunung datang menawarkan untuk menimpakan dua gunung besar kepada penduduk kota yang menyakitinya. Andai kita di posisi beliau, mungkin kita akan berkata "ya, timpakanlah". Tetapi apa jawab manusia paling mulia itu? Beliau menolak, dan berkata bahwa beliau lebih memilih bersabar, sebab siapa tahu Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata. Beliau bahkan berdoa untuk hidayah mereka. Inilah wajah kekuatan yang sesungguhnya, jamaah: bukan kekuatan yang haus menghancurkan, melainkan kekuatan yang masih menyimpan harapan bagi kebaikan. Kemarahan kita pada kezaliman haruslah kemarahan yang tetap menginginkan keselamatan, bukan kebinasaan.

Dan inilah keseimbangan yang harus kita jaga. Membela yang tertindas bukan berarti membenci setiap orang yang berbeda agama dengan kita. Betapa banyak justru suara-suara nurani dari kalangan non-Muslim di berbagai negeri yang hari ini turun ke jalan membela Gaza. Maka bagaimana mungkin kita meratakan kebencian kepada seluruh pemeluk agama lain — termasuk tetangga kita sendiri yang setiap pagi menyapa dengan ramah dan tak ada kaitannya sedikit pun dengan kezaliman di seberang lautan? Yang kita lawan adalah kezaliman dan penindasan, bukan identitas dan darah orang per orang. Islam mengajarkan kita menimbang dengan adil bahkan terhadap yang kita benci.

Karena itu, jamaah, ketika kita berbicara tentang perdamaian dan penyelesaian konflik, Islam tidak mengajarkan sikap netral yang dingin, melainkan keadilan yang aktif. Allah berfirman tentang kewajiban mendamaikan pihak-pihak yang bertikai:

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱقْتَتَلُوا۟ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا

"Dan kalau ada dua golongan dari orang-orang beriman berperang, maka damaikanlah antara keduanya." (QS. Al-Hujuraat: 9)

Ayat ini melanjutkan bahwa jika salah satu pihak berlaku aniaya, maka yang aniaya itulah yang harus dihentikan sampai ia kembali kepada perintah Allah, lalu didamaikan kembali bil-'adl — dengan adil. Perhatikanlah, jamaah: damai dalam Islam tidak pernah berarti membiarkan yang zalim terus menindas atas nama "menjaga ketenangan". Damai yang sejati adalah damai yang berdiri di atas keadilan. Maka seruan kita untuk Palestina bukanlah seruan perang, melainkan seruan agar kezaliman dihentikan dan keadilan ditegakkan — dan itu adalah inti ajaran agama kita.

Hadirin yang dirahmati Allah, setelah kita memahami peta ini, apa yang bisa kita lakukan pekan ini, dalam pekan yang nyata ini, sepulang dari masjid? Izinkan saya sebutkan beberapa langkah konkret. Pertama, jadikan doa untuk saudara-saudara kita yang tertindas sebagai wirid tetap — bukan hanya saat berita viral, tetapi setiap selesai shalat, sebutlah mereka. Doa yang tekun jauh lebih bernilai daripada kemarahan yang meledak sesaat. Kedua, tegakkan tabayyun: sebelum meneruskan satu video atau satu kabar konflik, tahan sejenak, periksa sumbernya, dan tanyakan apakah ini menambah cahaya atau menambah kobaran. Ketiga, salurkan bantuan yang nyata melalui lembaga terpercaya, sekecil apa pun, sebab yang sampai itu lebih baik daripada yang hanya bergema di layar. Keempat, jaga lisan dan jari kita terhadap sesama Muslim; jika kita melihat saudara yang berbeda cara menyikapi, ingatkan dengan santun, jangan patahkan barisan. Kelima, tetaplah adil dan baik kepada tetangga dan rekan yang berbeda agama; tunjukkan bahwa Muslim membela keadilan justru karena akhlaknya, bukan karena kebenciannya. Keenam, didiklah anak-anak kita untuk memahami penderitaan saudara mereka tanpa menanamkan dendam buta — ajari mereka mencintai keadilan, bukan sekadar membenci musuh.

Semoga Allah menjadikan keprihatinan kita sebagai keprihatinan yang tertata, cinta kita sebagai cinta yang menyatukan, dan suara kita sebagai suara yang membawa keadilan tanpa kehilangan rahmat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلٰى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Jamaah yang dimuliakan Allah, pada khutbah kedua ini izinkan saya menegaskan kembali beberapa hal agar tertanam di hati kita sepulang dari sini. Persaudaraan yang Allah tetapkan dalam Al-Qur'an itu bukan slogan yang kita bagikan di grup, melainkan tanggung jawab yang kita pikul dengan tangan dan lisan kita. Ukhuwah diuji justru ketika dunia bergejolak — sebab di saat itulah paling mudah bagi kita untuk lupa bahwa saudara yang duduk di sebelah kita hari ini sama berharganya dengan saudara yang kita tangisi di layar.

Marilah kita renungkan bahwa keprihatinan yang paling bernilai di sisi Allah bukanlah yang paling nyaring, melainkan yang paling istiqamah. Menangis satu malam untuk Gaza itu baik; tetapi mendoakan mereka setiap hari, menyisihkan sedikit harta setiap pekan, dan menjaga diri dari menyebarkan fitnah — itulah keprihatinan yang mengubah keadaan. Air yang menetes terus-menerus melubangi batu; luapan yang datang sekali lalu surut hanya meninggalkan lumpur.

Dan ingatlah, jamaah, bahwa kemenangan sejati yang Allah janjikan bukanlah sekadar hancurnya musuh, melainkan tegaknya keadilan dan terjaganya hati kita dari kebencian yang merusak. Kita memohon kepada Allah agar Ia menghentikan tangan-tangan yang menzalimi, meneguhkan hati saudara-saudara kita yang bertahan di tanah yang diberkahi, dan menjaga kita di sini agar tetap menjadi umat yang satu — yang menahan lisannya, menjernihkan kabarnya, dan menggerakkan tangannya untuk kebaikan.

Ketahuilah bahwa Allah memerintahkan kita bershalawat kepada Nabi-Nya, maka marilah kita perbanyak shalawat, lalu kita panjatkan doa bersama.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَاحْفَظْ دِمَاءَهُمْ وَأَعْرَاضَهُمْ وَأَطْفَالَهُمْ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَغْيَ وَالْعُدْوَانَ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ كَيْدَ الظَّالِمِيْنَ فِيْ نُحُوْرِهِمْ، وَرُدَّ مَكْرَهُمْ عَلَيْهِمْ، وَأَوْقِفِ الدِّمَاءَ الْمَسْفُوْكَةَ، وَأَحْلِلِ الْأَمْنَ وَالْعَدْلَ مَحَلَّ الْخَوْفِ وَالْجَوْرِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ خَيْرُ الْعِبَادِ وَالْبِلَادِ، وَاجْعَلْ بَلَدَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيْبَةِ وَنَشْرِ الْفِتْنَةِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدِيْنَا، وَارْحَمْنَا كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا، وَاجْعَلْنَا وَذُرِّيَّاتِنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan