Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsKonflik & GeopolitikJumat, 24 Juli 2026

Kisah Pendek — "Gigitan di Punggung yang Menyelamatkan"

Di pekan yang layarnya penuh oleh gambar perang dan tawanan, ada baiknya kita menengok bagaimana manusia paling mulia memperlakukan orang-orang yang jatuh ke tangannya setelah sebuah pertempuran besar. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam «Al-Bidayah wan-Nihayah» — bab kedatangan saudara sepersusuan Rasulullah ﷺ di Ji'ranah menghimpun satu adegan kecil yang tak banyak orang tahu, dari hari-hari setelah Perang Hunain.

Matahari membakar lembah Ji'ranah. Debu naik dari kaki ribuan tawanan Hawazin yang digiring masuk. Di antara barisan itu ada seorang laki-laki dari Bani Sa'd bin Bakr bernama Bijad. Ia pernah berbuat kesalahan, dan Rasulullah ﷺ sudah berpesan tentangnya di hari Hunain:

إِنْ قَدَرْتُمْ عَلَى بِجَادٍ فَلَا يُفْلِتَنَّكُمْ

"Jika kalian berhasil menangkap Bijad, jangan biarkan dia lolos."

Maka para sahabat menangkapnya, dan menggiring Bijad bersama keluarganya. Ada seorang perempuan digiring bersama mereka. Wajahnya letih, pakaiannya berdebu. Para prajurit memperlakukannya dengan kasar di sepanjang jalan, mendorongnya seperti tawanan biasa. Mereka tidak tahu siapa dia.

Perempuan itu akhirnya berhenti dan berkata dengan suara bergetar menahan marah dan lelah:

تَعْلَمُوا وَاللَّهِ إِنِّي لَأُخْتُ صَاحِبِكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ

"Ketahuilah, demi Allah, aku ini saudara sepersusuan dari pemimpin kalian."

Para sahabat terdiam. Saudara sepersusuan Rasulullah ﷺ? Mereka tidak percaya. Perempuan ini bisa saja berdusta untuk menyelamatkan diri, seperti banyak tawanan lain. Maka mereka menggiringnya menghadap Rasulullah ﷺ sendiri, biar beliau yang memutuskan.

Ketika ia sampai di hadapan beliau, ia mengangkat wajahnya. "Wahai Rasulullah, aku ini saudaramu sepersusuan." Beliau memandangnya. Bertahun-tahun telah berlalu sejak masa kecil di perkampungan kabilah yang dulu menyusui dan mengasuhnya. Wajah bisa berubah dimakan usia. Maka beliau bertanya dengan tenang:

وَمَا عَلَامَةُ ذَلِكَ؟

"Apa tandanya?"

Perempuan itu menyebut satu kenangan yang hanya diketahui oleh mereka berdua, sebuah kenangan dari masa mereka masih kanak-kanak:

عَضَّةٌ عَضِضْتَنِيهَا فِي ظَهْرِي وَأَنَا مُتَوَرِّكَتُكَ

"Sebuah gigitan yang engkau gigitkan di punggungku, ketika aku menggendongmu di pinggangku."

Rasulullah ﷺ terdiam. Beliau mengenali tanda itu. Gigitan kecil seorang bayi di punggung kakak yang menggendongnya — bertahun-tahun lampau, di padang yang jauh. Dan lihatlah apa yang beliau lakukan. Beliau tidak sekadar melepaskannya. Beliau membentangkan selendangnya sendiri di tanah, lalu mempersilakan perempuan itu duduk di atasnya. Seorang tawanan yang tadi didorong-dorong di jalan, kini didudukkan di atas selendang Rasulullah ﷺ. Lalu beliau memberinya pilihan:

إِنْ أَحْبَبْتِ فَعِنْدِي مُحَبَّةٌ مُكَرَّمَةٌ

"Jika engkau suka, tinggallah bersamaku sebagai orang yang dicintai dan dimuliakan."

Dan beliau menawarkan pula, jika ia lebih suka, untuk dikembalikan kepada kaumnya dengan baik. Perempuan yang beberapa jam sebelumnya diperlakukan sebagai rampasan perang, kini diperlakukan sebagai keluarga yang dihormati.

Pelajaran

Kebesaran seorang pemenang tidak diukur dari seberapa keras ia menghancurkan yang kalah, melainkan dari seberapa lembut ia memperlakukan mereka ketika sudah tak berdaya di tangannya. Rasulullah ﷺ baru saja memenangkan pertempuran besar; di depannya ada ribuan tawanan. Tetapi ketika satu ikatan lama muncul — sekadar kenangan gigitan bayi di punggung — beliau membentangkan selendangnya di tanah untuk mendudukkan perempuan itu. Beliau tidak mempermalukan yang lemah, tidak balas dendam atas masa lalu, tidak menukar kemenangan dengan kekejaman. Di pekan ketika kita menyaksikan begitu banyak gambar orang-orang tak berdaya yang diperlakukan dengan kejam, kisah ini menjadi cermin: begitulah seharusnya seorang yang kuat bersikap. Kekuatan yang dibimbing iman selalu menyisakan ruang untuk kelembutan, dan tidak pernah kehilangan wajah rahmatnya bahkan di puncak kemenangan.

Sumber Asli

«Al-Bidayah wan-Nihayah» — ذكر مجيء أخت رسول الله صلى الله عليه وسلم من الرضاعة إليه وهو بالجعرانة

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمَ هَوَازِنَ: "إِنْ قَدَرْتُمْ عَلَى بِجَادٍ - رَجُلٍ مَنْ بَنِي سَعْدِ بْنِ بَكْرٍ - فَلَا يُفْلِتَنَّكُمْ". وَكَانَ قَدْ أَحْدَثَ حَدَثًا، فَلَمَّا ظَفِرَ بِهِ الْمُسْلِمُونَ سَاقُوهُ وَأَهْلَهُ، وَسَاقُوا مَعَهُ الشَّيْمَاءَ بِنْتَ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى، أُخْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الرَّضَاعَةِ، فَعَنَفُوا عَلَيْهَا فِي السُّوقِ، فَقَالَتْ: تَعْلَمُوا وَاللَّهِ إِنِّي لَأُخْتُ صَاحِبِكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ.»

«فَلَمَّا انْتُهِيَ بِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُخْتُكَ مِنَ الرَّضَاعَةِ. قَالَ: "وَمَا عَلَامَةُ ذَلِكَ؟" قَالَتْ: عَضَّةٌ عَضِضْتَنِيهَا فِي ظَهْرِي وَأَنَا مُتَوَرِّكَتُكَ. فَعَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَلَامَةَ، فَبَسَطَ لَهَا رِدَاءَهُ فَأَجْلَسَهَا عَلَيْهِ، وَخَيَّرَهَا وَقَالَ: إِنْ أَحْبَبْتِ فَعِنْدِي مُحَبَّةٌ مُكَرَّمَةٌ.»

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan