Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah kita buka khutbah pekan ini dengan menundukkan hati di hadapan firman Allah yang mengabarkan bahwa hidup ini memang dirancang sebagai ujian:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar — yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn.'" (QS. Al-Baqarah: 155–156)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ayat ini terasa seolah diturunkan untuk pekan yang baru saja kita lalui. Allah tidak berkata "mungkin akan Kami uji", melainkan "sungguh akan Kami uji" — dengan sumpah yang menegaskan bahwa ujian itu pasti datang, dan datang dalam bentuk-bentuk yang persis kita saksikan hari ini: rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa, dan kekurangan hasil bumi. Lima bentuk ujian yang disebut Allah itu bukan daftar teori. Ia adalah peta dari berita-berita yang sampai kepada kita pekan ini.
Kita dengar kabar dari perairan Kepulauan Selayar, sebuah kapal penumpang tenggelam di laut lepas. Di antara kabar itu ada satu kisah yang membuat banyak orang tercekat. Seorang kakek berusia delapan puluh tahun, di detik-detik terakhir ketika air mulai menelan segalanya, memilih menyerahkan pelampung terakhir yang ia pegang kepada cucunya. Ia melepas satu-satunya benda yang bisa menyelamatkan dirinya, demi seorang anak kecil. Dan sampai kabar ini kita terima, kakek itu masih hilang di laut. Inilah "naqsun minal-anfus", kekurangan jiwa yang Allah sebut dalam ayat tadi — dan sekaligus, di tengah kepedihannya, ia adalah cermin sebuah cinta yang paling tulus.
Kita dengar pula kabar dari tanah Aceh. Di kawasan pegunungan Gayo Lues, gempa datang beruntun, mengguncang daerah yang sebetulnya belum selesai membersihkan bekas banjir besar sebelumnya. Bahkan ada suara dari sebuah desa yang, delapan bulan setelah bencana menimpa mereka, mengaku belum tersentuh bantuan sama sekali. Kita dengar juga kabar dari sebuah rumah di kota besar yang meledak, yang diduga bermula dari kebocoran pipa gas. Dan di latar semua itu, musim kemarau panjang, kekeringan, dan krisis air terus disebut sebagai ancaman yang mengintai. Takut, lapar, kurang harta, kurang jiwa, kurang hasil bumi — semuanya hadir. Publik pun dikejutkan, sebagian larut dalam kesedihan, sebagian mempertanyakan keadilan, dan sebagian kecil mencari makna.
Dan ada satu lapisan yang membuat kabar pekan ini terasa lebih pedih lagi, hadirin. Bukan hanya bencananya, melainkan jeda yang panjang antara musibah dan pertolongan. Kita mendengar suara dari sebuah desa yang, delapan bulan setelah bencana menimpanya, mengaku belum tersentuh bantuan sama sekali. Bayangkanlah, jamaah: delapan bulan hidup di antara reruntuhan, sementara dunia sudah lama beralih ke berita berikutnya. Negeri kita ini berdiri di atas pertemuan lempeng-lempeng bumi dan barisan gunung berapi; gempa, banjir, kekeringan, dan tanah longsor bukanlah tamu asing bagi kita, melainkan bagian dari takdir geografis tanah air yang kita huni. Justru karena itu, kesiapsiagaan dan kepedulian bukanlah pilihan tambahan — ia adalah kewajiban yang melekat pada iman kita. Membiarkan saudara sesama Muslim terlantar dalam bencana, padahal kita mampu menolong, adalah beban dosa yang kita tanggung bersama.
Maka pertanyaan pertama yang harus kita jawab di mimbar ini bukanlah "mengapa musibah ini terjadi", melainkan "bagaimana seorang mukmin berdiri ketika musibah itu tiba". Dan jawaban pertama dari Al-Qur'an sungguh mengejutkan sederhananya. Allah tidak menyuruh kita, di ayat itu, untuk langsung menganalisis sebab, menyalahkan pihak, atau meratap sepanjang hari. Yang pertama Allah ajarkan adalah satu kalimat: innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn. Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada-Nya kita kembali. Kalimat ini bukan pelarian dari kenyataan; ia adalah penataan hati sebelum kaki melangkah. Ia mengakui dua kebenaran sekaligus: bahwa apa yang hilang memang bukan pernah benar-benar milik kita — ia titipan — dan bahwa kita sendiri, cepat atau lambat, sedang berjalan pulang kepada Pemilik segala.
Dan agar hati kita semakin mantap, marilah kita renungkan satu ayat yang seolah menyingkap rahasia mengapa dunia ini dipenuhi guncangan. Allah berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ ٱلْبَأْسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا۟ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصْرُ ٱللَّهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ ٱللَّهِ قَرِيبٌۭ
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al-Baqarah: 214)
Perhatikanlah kata yang Allah pilih, jamaah: wa zulzilū — "dan mereka diguncangkan". Akar kata yang sama dengan gempa, dengan zilzāl. Seolah Allah hendak berkata bahwa guncangan — baik yang mengguncang bumi maupun yang mengguncang hati — adalah jalan yang telah dilalui semua orang beriman sebelum kita. Bahkan para nabi dan para sahabat pun sempat bertanya di puncak kesulitan: "Kapan pertolongan Allah datang?" Pertanyaan itu bukan tanda lemahnya iman; ia tanda beratnya ujian. Dan jawaban Allah tidak menghardik pertanyaan itu, melainkan menenangkannya: "Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." Maka kepada saudara kita yang pekan ini merasa guncangan hidupnya nyaris tak tertanggungkan, ayat ini berbisik lembut: engkau sedang berjalan di jalan orang-orang shalih, dan fajar pertolongan lebih dekat daripada yang engkau kira.
Hadirin yang dimuliakan Allah, agar kalimat istirja' itu tidak menjadi sekadar ucapan di bibir, kita perlu meletakkannya di atas satu keyakinan yang kokoh tentang takdir. Allah berfirman:
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taghābun: 11)
Perhatikanlah, jamaah, bagian ayat yang sering luput dari perhatian kita. Allah tidak berhenti pada "musibah datang dengan izin-Nya". Allah melanjutkan: "barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia beri petunjuk kepada hatinya." Para ulama menafsirkan potongan ini dengan indah: bahwa buah dari iman kepada takdir bukanlah kepasrahan yang pasif dan murung, melainkan hati yang ditenangkan, hati yang diberi petunjuk untuk mengucapkan istirja', hati yang tahu bahwa di balik izin Allah selalu ada hikmah, meski akal kita tidak selalu sanggup menangkapnya. Ketika bumi berguncang dan laut merenggut, orang yang tidak beriman kepada takdir akan hancur berkeping-keping karena merasa alam semesta berlaku sewenang-wenang tanpa arti. Tetapi seorang mukmin, hatinya dipandu untuk tetap tegak, karena ia tahu tidak ada satu tetes air pun yang naik ke atas kapal itu tanpa sepengetahuan dan izin Rabb-nya.
Di sinilah kita perlu belajar dari perumpamaan indah yang diberikan Nabi kita ﷺ. Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْخَامَةِ مِنَ الزَّرْعِ، مِنْ حَيْثُ أَتَتْهَا الرِّيحُ كَفَأَتْهَا، فَإِذَا اعْتَدَلَتْ تَكَفَّأُ بِالْبَلَاءِ، وَالْفَاجِرُ كَالْأَرْزَةِ صَمَّاءَ مُعْتَدِلَةً حَتَّى يَقْصِمَهَا اللهُ إِذَا شَاءَ
"Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti tanaman muda yang segar; dari arah mana pun angin datang, ia dibengkokkannya, tetapi ketika angin mereda, ia tegak kembali. Demikianlah seorang mukmin dilentukkan oleh cobaan. Adapun orang yang durhaka adalah seperti pohon pinus yang keras dan tegak kaku, sampai Allah mematahkannya ketika Dia berkehendak." (Sahih al-Bukhari 5644)
Betapa dalamnya gambaran ini, ma'asyiral muslimin. Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita menjadi keras seperti pohon pinus yang seolah tak tergoyahkan, sebab yang keras justru patah sekali tebas dan tidak pernah bangkit lagi. Sebaliknya, beliau mengajarkan kita menjadi seperti tangkai gandum muda yang lentur: ketika angin bencana datang, ia menunduk — ia menangis, ia berduka, ia merasakan sakit itu sepenuhnya — tetapi begitu angin reda, ia kembali tegak menghadap langit. Iman tidak menuntut kita berpura-pura kuat dan tidak merasakan apa-apa. Iman mengizinkan kita menunduk oleh duka, asalkan kita tidak patah dari harapan kepada Allah. Kakek yang menyerahkan pelampungnya itu, dan keluarga yang kini menanti kabarnya, sedang menjadi tangkai gandum yang dilentukkan angin — dan tugas kita, umat ini, adalah memastikan mereka punya tanah yang subur untuk kembali tegak.
Hadirin yang dimuliakan Allah, ada satu rahasia lain dalam menyikapi guncangan yang perlu kita pahami. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُوْلَى
"Sesungguhnya kesabaran (yang sejati) itu ada pada guncangan yang pertama." (Sahih Muslim 926a)
Kesabaran sejati, kata Nabi ﷺ, diuji bukan berminggu-minggu setelah musibah — ketika luka sudah mulai mengering dengan sendirinya oleh waktu — melainkan di detik pertama, di guncangan pertama, ketika kabar itu baru saja menghantam dada. Di detik itulah pilihan besar diambil: apakah lidah kita akan meluncurkan keluhan yang menyalahkan takdir, ataukah ia akan menuntun kita mengucap istirja'. Inilah kenapa kita perlu melatih hati sebelum musibah datang — karena ketika ia datang, tidak ada waktu untuk belajar. Orang yang membiasakan dzikir di hari-hari lapangnya, akan mendapati lidahnya secara otomatis mengucap "innā lillāh" di guncangan pertamanya. Dan orang yang lalai, akan mendapati mulutnya penuh keluh sebelum sempat ia sadari.
Namun, jamaah, khutbah ini tidak boleh berhenti pada urusan hati semata. Sebab musibah pekan ini tidak hanya menuntut kesabaran, ia juga menuntut tanggung jawab. Marilah kita dengar seruan Nabi Musa 'alaihissalam kepada kaumnya, yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an:
قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱللَّهِ وَٱصْبِرُوٓا۟ ۖ إِنَّ ٱلْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۖ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
"Musa berkata kepada kaumnya: 'Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.'" (QS. Al-A'rāf: 128)
Renungkanlah urutan kalimat Nabi Musa ini, ma'asyiral muslimin. Beliau menggabungkan dua hal yang sering kita pisahkan: "mohonlah pertolongan kepada Allah" — itu urusan langit, urusan doa dan tawakkal — dan "bersabarlah" — itu urusan bumi, urusan ketahanan dan usaha. Lalu beliau mengingatkan satu kebenaran yang menampar kesombongan manusia modern: innal-arda lillāh, sesungguhnya bumi ini milik Allah. Bumi ini bukan milik kita. Kita hanya dititipi, hanya diberi hak pakai, hanya menjadi khalifah yang akan diminta pertanggungjawaban atas cara kita mengurusnya. Ketika kita menyalahi amanah itu — menebang sembarangan hingga tanah longsor, mengeruk air tanpa perhitungan hingga kekeringan datang, membiarkan pipa dan instalasi rusak hingga meledak — maka sebagian musibah itu, dengan segala kerendahan hati kita akui, bukan semata "cobaan dari langit", melainkan buah dari amanah yang kita telantarkan di bumi.
Inilah yang membuat tema pekan ini istimewa, jamaah. Islam sudah empat belas abad lebih awal mengajarkan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari iman, bukan tren yang datang dari luar. Menjaga jiwa manusia — hifz an-nafs — dan menjaga lingkungan tempat jiwa itu hidup — hifz al-bi'ah — adalah amanah yang melekat pada status kita sebagai khalifah fil-ardh. Maka ketika kita melihat saudara kita di Aceh yang belum tersentuh bantuan berbulan-bulan, itu bukan urusan pemerintah semata; itu adalah fardh kifayah, kewajiban kolektif umat yang berdosa bersama jika dibiarkan terbengkalai.
Di sinilah cara pandang seorang mukmin diuji, ma'asyiral muslimin. Sebagian orang mengembalikan fenomena alam kepada takhayul dan ramalan kosong — guncangan bumi atau langit yang berubah dianggap pertanda mistik yang harus ditakuti secara buta. Islam meluruskan pandangan itu: segala tanda di langit dan bumi adalah bukti kebesaran Allah yang memanggil hamba-Nya untuk kembali menghadap-Nya. Inilah teladan kita: ketika bumi berguncang, ketika laut mengamuk, ketika langit menahan hujannya, respons seorang mukmin bukanlah kepanikan yang buta atau ramalan yang kosong — melainkan menoleh kepada Rabb-nya dengan istighfar dan doa.
Namun, jamaah, jangan sampai kita salah paham tentang makna tawakkal. Sebagian orang mengira tawakkal berarti berpangku tangan menunggu langit menyelesaikan segalanya. Padahal tawakkal yang benar adalah memadukan ikhtiar dengan penyerahan — mengikat dulu sebab-sebabnya, baru menyerahkan hasilnya: kita periksa keselamatan rumah kita, kita bangun sistem peringatan dini, kita rawat hutan dan sumber air, kita siapkan bantuan bagi yang tertimpa — lalu setelah semua usaha itu, barulah kita sandarkan hasilnya kepada Allah. Menyalahkan takdir tanpa memperbaiki kelalaian adalah sikap lari dari tanggung jawab; dan mengandalkan usaha semata tanpa menyandarkan hati kepada Allah adalah kesombongan. Seorang mukmin berdiri seimbang di antara keduanya.
Karena itu, hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan khutbah ini menutup bagian pertamanya dengan beberapa langkah nyata yang bisa kita ambil, bukan sekadar perasaan yang kita simpan. Pertama, hidupkan kembali kalimat istirja' sebagai respons pertama kita atas setiap kabar duka — sebelum jempol kita mengetik komentar, biarkan lidah kita berkata "innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn". Kedua, jadikan bencana pekan ini pintu untuk bersedekah secara terarah kepada korban yang nyata, bukan berhenti pada unggahan simpati yang menguap dalam sehari; carilah lembaga amanah, salurkan bantuan kepada wilayah yang tertinggal seperti desa-desa yang belum terjangkau. Ketiga, periksa amanah kita sendiri atas lingkungan terdekat — keran yang bocor, sampah yang menumpuk, instalasi gas dan listrik di rumah yang belum kita cek — sebab menjaga keselamatan keluarga adalah ibadah, bukan urusan teknis semata. Keempat, hentikan kebiasaan mencaci alam dan cuaca ketika ia menyulitkan kita; ganti dengan doa memohon kebaikannya. Kelima, latih hati dengan dzikir di hari-hari lapang, agar di guncangan pertama musibah, lidah kita sudah terbiasa memilih doa, bukan keluhan. Keenam, ajarkan anak-anak kita membaca musibah sebagai tanda dan pelajaran, bukan sebagai kabar horor yang menakutkan tanpa makna.
Dan sebelum kita menutup bagian pertama ini, ada satu hal yang perlu ditegaskan agar tidak ada hati yang salah paham. Sabar tidak berarti kita dilarang menangis. Islam membedakan air mata kesedihan yang wajar — yang tidak tercela — dari ratapan dan keluhan yang menuduh takdir; mata boleh menangis dan hati boleh bersedih, tetapi lidah tetap dijaga dari ucapan yang membuat Allah murka. Maka kepada keluarga yang pekan ini menanti kabar orang tercinta yang hilang di laut, kepada mereka yang kehilangan rumah dan ladang, Islam tidak menuntut wajah yang pura-pura tegar. Islam mengizinkan air mata mengalir, asalkan hati tetap berbaik sangka kepada Allah dan lidah tetap terjaga dari keluhan yang menuduh takdir. Menangis adalah rahmat; berputus asa dari rahmat Allah itulah yang dilarang. Dan di antara keduanya terbentang ruang luas bernama shabrun jamīl — kesabaran yang indah, yang menerima kepedihan tanpa kehilangan iman.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sabar ketika diuji, bersyukur ketika dilapangkan, dan amanah dalam menjaga titipan-Nya di bumi ini.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, di khutbah kedua ini izinkan kita menggali lebih dalam satu sisi yang mudah terlewat. Kita telah bicara tentang sabar dan istirja'. Tetapi ada satu keistimewaan mukmin yang lebih tinggi dari sekadar bertahan: yaitu kemampuan mengubah setiap keadaan menjadi kebaikan. Rasulullah ﷺ menyebut hal ini sebagai perkara yang menakjubkan — bahwa seluruh urusan mukmin adalah baik baginya; jika ia mendapat kesenangan lalu bersyukur, itu baik baginya; dan jika ia ditimpa musibah lalu bersabar, itu pun baik baginya. Musibah pekan ini, bagi hati yang beriman, bukan akhir cerita; ia adalah pintu pahala, pintu penghapus dosa, dan pintu untuk kembali menata prioritas hidup yang mungkin selama ini keliru.
Sisi kedua yang perlu kita tegaskan: kesabaran seorang mukmin tidak pernah berarti diam berpangku tangan. Sabar dalam Islam selalu bergandengan dengan usaha. Nabi Musa berkata "mohon pertolongan dan bersabarlah", lalu beliau tetap memimpin kaumnya keluar dari penindasan. Maka menyaksikan saudara kita yang tertimpa gempa dan banjir, sabar kita harus berwujud gerak: menghimpun bantuan, menengok yang berduka, dan menuntut agar tidak ada wilayah yang ditinggalkan sendirian dalam reruntuhannya. Belas kasih yang tidak sampai pada tindakan hanyalah perasaan yang mati sebelum berbuah.
Sisi ketiga: bencana adalah pengingat kematian yang paling jujur. Kakek yang hilang di laut itu, pagi harinya mungkin tidak pernah menyangka bahwa itulah hari terakhirnya. Begitulah ajal — ia tidak menunggu kita siap. Maka pekan ini semestinya menggerakkan kita untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan dengan sesama sebelum giliran kita tiba, dan untuk tidak menunda taubat dengan alasan "nanti masih ada waktu".
Marilah kita tutup khutbah ini dengan memperbanyak shalawat dan doa, memohon rahmat Allah bagi para korban, ketegaran bagi yang ditinggalkan, dan keselamatan bagi negeri kita.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ الدَّائِمَةَ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْغَرَقَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الَّذِيْنَ أَصَابَتْهُمُ الْمَصَائِبُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ، اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِمَنْ غَرِقَ فِي الْبِحَارِ وَمَنْ مَاتَ تَحْتَ الْهَدْمِ، وَتَقَبَّلْهُمْ عِنْدَكَ فِيْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ، وَاجْبُرْ قُلُوْبَ أَهْلِيْهِمْ بِالصَّبْرِ الْجَمِيْلِ وَحُسْنِ السَّلْوَانِ.
اَللّٰهُمَّ أَغِثْ إِخْوَانَنَا الْمَنْكُوْبِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَاكْشِفْ عَنْهُمُ الضُّرَّ وَالْكَرْبَ، وَعَجِّلْ لَهُمُ الْفَرَجَ وَالْإِغَاثَةَ، وَسَخِّرْ لَهُمْ مِنْ عِبَادِكَ مَنْ يَرْحَمُهُمْ وَيَقُوْمُ بِحَاجَتِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا هَنِيْئًا مَرِيْئًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَرْضَنَا وَمِيَاهَنَا وَهَوَاءَنَا، وَاجْعَلْنَا لِأَمَانَتِكَ فِيْهَا مِنَ الْحَافِظِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ عَوْنًا وَنَصِيْرًا، وَلَا تَجْعَلْنَا خَذَلَةً لَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ خَيْرُ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً عَلٰى رَعِيَّتِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا وَمَشَايِخَنَا وَمُعَلِّمِيْنَا، رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
