Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsLingkungan & BencanaJumat, 24 Juli 2026

Kisah Pendek — "Api dari Tanah Hijaz"

Pekan ini bumi seolah tak henti berbicara — laut merenggut di Selayar, tanah berguncang beruntun di Aceh. Tetapi jauh sebelum zaman kita, pernah ada satu peristiwa yang membuat bumi seakan berteriak di hadapan seluruh negeri. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah mencatatnya dengan teliti, sebuah kabar yang telah diramalkan Nabi ﷺ jauh, jauh sebelumnya.

Malam itu tahun enam ratus lima puluh empat Hijriah. Hari Jumat. Langit di atas kota Madinah tiba-tiba memerah.

Bukan senja. Senja sudah lama berlalu.

Warna merah itu datang dari sebuah lembah di tanah Hijaz, tak jauh dari kota Nabi. Sebuah api. Tapi bukan api biasa. Ia menjalar sepanjang empat farsakh, selebar empat mil — sebuah lautan bara yang bergerak pelan seperti punggung unta yang berjalan lambat.

Api itu melelehkan batu. Batu-batu gunung yang keras mencair, mengalir seperti timah panas, lalu membeku menghitam bagai arang.

Orang-orang berdiri di kejauhan, tercekam. Panasnya terasa dari jarak yang jauh. Di malam hari, cahayanya begitu terang hingga para musafir bisa berjalan menuju Tayma' hanya dengan sinarnya, tanpa obor.

Api itu bertahan bukan sehari, bukan dua hari. Ia menyala sebulan penuh.

Penduduk Madinah mencatat setiap detailnya. Mereka menggubah syair-syair tentangnya, agar anak cucu tahu bahwa mereka pernah menyaksikan tanah sendiri berubah menjadi api.

Dan inilah yang membuat bulu kuduk berdiri. Berabad-abad sebelum malam itu, Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ تُضِيءُ أَعْنَاقَ الْإِبِلِ بِبُصْرَى

"Tidak akan tiba hari Kiamat sampai keluar api dari tanah Hijaz yang menerangi leher-leher unta di Bushra." (Sahih al-Bukhari, dinukil Ibn Katsir)

Bushra. Sebuah negeri di tanah Syam, ratusan kilometer jauhnya dari Madinah. Dan di pagi hari setelah malam itu, para Badui yang tinggal di dekat Bushra bercerita: mereka benar-benar melihat leher-leher unta mereka tersorot cahaya — cahaya dari api yang keluar di tanah Hijaz. Sabda Nabi ﷺ terbukti, kata demi kata.

Dalam riwayat lain yang dihimpun Ibn Katsir, Nabi ﷺ bahkan menggambarkan gerak api itu:

تَخْرُجُ نَارٌ تُضِيءُ أَعْنَاقَ الْإِبِلِ بِبُصْرَى، تَسِيرُ سَيْرَ بَطِيئَةِ الْإِبِلِ، تَسِيرُ النَّهَارَ وَتُقِيمُ اللَّيْلَ

"Akan keluar api yang menerangi leher-leher unta di Bushra, berjalan lambat seperti langkah unta, berjalan di siang hari dan berhenti di malam hari."

Seakan-akan api itu punya kehendak. Ia mengumumkan kedatangannya, memberi manusia waktu, seolah berkata: "Wahai manusia, api telah berangkat pagi ini, maka berangkatlah kalian; api telah berhenti malam ini, maka beristirahatlah."

Para ulama pada zaman itu terdiam. Bukan karena takut pada api yang akhirnya padam juga, tetapi karena satu kenyataan yang jauh lebih besar: seorang manusia yang wafat enam ratus tahun sebelumnya, telah melihat malam itu dengan jelas — dan membiarkannya tercatat sebagai tanda.

Pelajaran

Api Hijaz akhirnya padam, tetapi maknanya tidak. Ibn Katsir rahimahullah mencatat peristiwa ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menegaskan satu hal: bahwa lidah Rasulullah ﷺ tidak pernah berbicara dari hawa nafsu. Beliau mengabarkan sebuah kejadian yang belum ada, dengan detail geografis yang mustahil ditebak — api dari Hijaz yang cahayanya menyentuh unta-unta di Bushra — dan berabad kemudian, ia terjadi persis seperti kata-katanya. Inilah salah satu bukti kenabian yang terpateri di lembaran sejarah. Namun ada ibrah kedua yang lebih dekat ke kita: bumi ini, dengan gempanya, banjirnya, keringnya, dan apinya, tidak pernah sekadar batu dan air yang bergerak tanpa arti. Ia adalah ayat — tanda yang Allah pasang untuk membangunkan hati yang tertidur. Ketika pekan ini kita mendengar tanah Aceh berguncang dan laut Selayar merenggut, seorang mukmin tidak berhenti pada rasa ngeri. Ia bertanya pada dirinya: apakah aku sudah pulang kepada Allah sebelum bumi memanggilku pulang dengan cara-Nya sendiri?

Sumber Asli

Al-Bidayah wan-Nihayah — ذكر الخبر الوارد في ظهور نار من أرض الحجاز أضاءت لها أعناق الإبل ببصرى

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ تُضِيءُ أَعْنَاقَ الْإِبِلِ بِبُصْرَى». وَفِي رِوَايَةٍ: «تَخْرُجُ نَارٌ تُضِيءُ أَعْنَاقَ الْإِبِلِ بِبُصْرَى، تَسِيرُ سَيْرَ بَطِيئَةِ الْإِبِلِ، تَسِيرُ النَّهَارَ وَتُقِيمُ اللَّيْلَ … مَنْ أَدْرَكَتْهُ أَكَلَتْهُ».

Al-Bidayah wan-Nihayah — ذكر إخباره صلى الله عليه وسلم بالغيوب المستقبلة بعد زماننا هذا

أَنَّ فِي سَنَةِ أَرْبَعٍ وَخَمْسِينَ وَسِتِّمِائَةٍ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ خَامِسِ جُمَادَى الْآخِرَةِ مِنْهَا ظَهَرَتْ نَارٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ فِي أَرْضِ الْمَدِينَةِ النَّبَوِيَّةِ … طُولَ أَرْبَعَةِ فَرَاسِخَ وَعَرْضَ أَرْبَعَةِ أَمْيَالٍ، تُسِيلُ الصَّخْرَ حَتَّى يَبْقَى مِثْلَ الْآنُكِ، ثُمَّ يَصِيرُ مِثْلَ الْفَحْمِ الْأَسْوَدِ، وَكَانَ النَّاسُ يَسِيرُونَ عَلَى ضَوْئِهَا بِاللَّيْلِ إِلَى تَيْمَاءَ، وَاسْتَمَرَّتْ شَهْرًا.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan