Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumLingkungan & BencanaJumat, 24 Juli 2026

Kultum — "Pelukan Terakhir dan Sabar Pertama"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لَنَا أَمَانَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lalui, sebuah kabar dari laut membuat banyak dari kita terdiam. Seorang kakek tua menyerahkan pelampung terakhirnya kepada cucunya di tengah kapal yang tenggelam, lalu ia sendiri hilang ditelan air. Malam ini, dari satu kisah kecil itu, saya ingin membagikan satu pesan yang menempel di hati saya sepanjang pekan — dan saya rasa juga di hati kita semua.

Saudara-saudara sekalian, coba kita jujur pada diri sendiri: siapa di antara kita yang ketika mendengar kabar buruk secara tiba-tiba, hal pertama yang keluar dari mulut kita adalah keluhan? "Kok bisa begini?" "Kenapa harus kita?" "Ini nggak adil." Itu manusiawi. Tetapi mari kita dengar bagaimana Allah mengajarkan hamba-hamba yang Dia puji untuk merespons musibah:

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn.'" (QS. Al-Baqarah: 156)

Perhatikan, jamaah, Allah tidak berkata mereka tidak sedih. Mereka sedih — kesedihan itu tidak dilarang. Yang membedakan mereka adalah kalimat pertama yang mereka pilih: bukan protes, melainkan pengakuan bahwa kita ini milik Allah dan kepada-Nya kita pulang. Kalimat ini seperti jangkar yang kita lempar ke dasar laut ketika ombak mengombang-ambingkan perahu hati kita. Ia tidak menghentikan ombak, tapi ia menahan kita agar tidak terseret jauh dari harapan.

Nah, di sinilah pesan malam ini menjadi tajam. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُوْلَى

"Sesungguhnya kesabaran yang sejati itu ada pada guncangan yang pertama." (Sahih Muslim 926a)

Coba kita renungkan bersama. Sabar itu, kata Nabi ﷺ, diuji bukan di hari ketujuh, bukan di minggu kedua ketika luka mulai kering dengan sendirinya. Sabar sejati diuji di detik pertama — ketika kabar itu baru saja menghantam, ketika air mata belum sempat kering, ketika kaget masih memenuhi dada. Di detik itulah pilihan diambil: apakah lidah kita akan berkata "innā lillāh", atau justru meledak dengan sumpah serapah kepada takdir.

Dan tahukah kita, saudara-saudara, kenapa sebagian orang bisa langsung mengucap istirja' di guncangan pertama, sementara yang lain butuh berhari-hari? Rahasianya sederhana: latihan. Orang yang di hari-hari lapangnya membiasakan lidahnya berdzikir, ketika badai datang, lidahnya sudah otomatis memilih doa. Sebaliknya, kita yang jarang menyebut nama Allah saat senang, jangan heran kalau saat susah yang keluar malah keluhan. Iman itu seperti otot — dilatih waktu sehat, dipakai waktu sakit. Kakek yang menyerahkan pelampungnya itu tidak menjadi berani secara tiba-tiba; keberanian itu buah dari hidup yang panjang.

Maka mari kita ukur diri sendiri malam ini. Pekan ini kita menyaksikan gempa beruntun di Aceh, kabar kekeringan dan krisis air di banyak tempat, sebuah rumah yang meledak. Semua itu adalah pengingat bahwa guncangan bisa datang kapan saja, kepada siapa saja, termasuk kepada kita. Pertanyaannya bukan "apakah ujian akan datang", tetapi "apakah hati kita sudah dilatih untuk menyambutnya".

Ada satu hal lagi yang tidak boleh kita lewatkan. Sabar dalam Islam bukan berarti diam. Kakek itu sabar, tetapi ia bertindak — ia menyelamatkan cucunya. Maka sabar kita atas musibah pekan ini juga harus berwujud gerak: menengok yang berduka, menyisihkan sedikit rezeki untuk korban gempa dan banjir yang belum tersentuh bantuan, dan menjaga air serta lingkungan rumah kita sebagai amanah. Belas kasih yang berhenti di status media sosial adalah belas kasih yang mati sebelum berbuah.

Jadi, apa yang bisa kita bawa pulang malam ini? Pertama, biasakan lidah kita mengucap "innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn" setiap kali kabar duka sampai, sebelum kita berkomentar apa pun. Kedua, mari sisihkan hari ini juga, sekecil apa pun, untuk saudara kita yang tertimpa bencana. Ketiga, malam ini sebelum tidur, mari kita muhasabah: sudahkah kita berbaik hubungan dengan Allah, seandainya besok adalah guncangan pertama kita?

Saya tutup dengan doa singkat. Ya Allah, teguhkanlah hati kami saat diuji, dan jadikanlah lidah kami terbiasa menyebut nama-Mu.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِيْنَ الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَوْتَانَا وَمَوْتَى الْمُسْلِمِيْنَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَفَرِّجْ هَمَّ الْمَهْمُوْمِيْنَ، وَاكْشِفْ كَرْبَ الْمَنْكُوْبِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan