Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْمَالَ قِوَامًا لِلْعِبَادِ، وَابْتَلَانَا بِهِ لِيَنْظُرَ كَيْفَ نَعْمَلُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلٰى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Pada Jumat yang penuh berkah ini, marilah kita bersama-sama merenungkan satu kenyataan yang begitu dekat dengan keseharian kita: benda kecil yang kita genggam setiap hari — telepon di saku kita — telah menjadi pintu yang bisa mengalirkan kebaikan sekaligus kerusakan ke dalam rumah kita. Allah Ta'ala mengajarkan kepada kita prinsip yang dibawa Nabi Syu'aib kepada kaumnya, prinsip yang hari ini terasa sangat relevan dengan zaman kita:
وَيَٰقَوْمِ أَوْفُوا۟ ٱلْمِكْيَالَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
"Dan Syu'aib berkata: 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.'" (QS. Hud: 85)
Ayat ini turun kepada satu kaum yang penyakit utamanya adalah kecurangan dalam muamalah — mereka mengurangi timbangan, merugikan hak orang lain, lalu menebar kerusakan di bumi. Nabi Syu'aib tidak datang hanya untuk memperbaiki timbangan di pasar; beliau datang untuk memperbaiki hati yang rakus, yang tega mengambil hak orang demi keuntungan sesaat. Dan hari ini, jamaah yang dimuliakan Allah, "pasar" itu telah pindah ke layar. Timbangan yang dicurangi bukan lagi timbangan beras, melainkan janji-janji palsu tentang kekayaan cepat dan kemudahan tanpa risiko.
Dari berita pekan ini kita ketahui betapa dalamnya jerat itu. Judi online telah menyeret sekian banyak orang biasa — bukan penjahat, tapi tetangga kita, kerabat kita, mungkin ada yang duduk di antara kita sekarang — ke dalam lingkaran yang sulit diputus. Kabar yang sampai kepada kita bahkan menautkan uang judi dengan hilangnya ketenteraman keluarga, sampai pada kisah yang mengiris hati tentang keretakan hubungan antara anak dan orang tuanya karena persoalan uang. Di sisi lain, ramai pula diperbincangkan pekan ini bagaimana peminjam yang gagal membayar pinjaman online justru diperlakukan tanpa adab — ditekan, dipermalukan, bahkan ada dugaan pelecehan oleh pihak penagih. Dan di ruang yang sama, banjir konten cabul yang menyamar sebagai "konten sekolah" menyeret rasa penasaran anak-anak muda kita ke tempat yang gelap.
Mari kita berhenti sejenak pada kata "kerusakan" yang disebut ayat tadi. Dalam bahasa Al-Qur'an, fasad bukan sekadar rusaknya satu benda, melainkan rusaknya tatanan — ketika yang seharusnya menumbuhkan justru menghancurkan, ketika yang seharusnya menjaga justru melukai. Dan bukankah itu persis yang kita saksikan pada penyakit-penyakit digital ini? Judi yang dijanjikan sebagai hiburan justru menghabiskan tabungan. Pinjaman yang dijanjikan sebagai pertolongan justru menjerat leher. Konten yang dijanjikan sebagai tontonan justru meracuni jiwa. Semua berjalan dengan wajah manis di permukaan, tetapi meninggalkan fasad di kedalaman — dan itulah yang dilarang keras oleh Nabi Syu'aib empat belas abad lalu.
Dan yang membuat hati kita semakin miris, hadirin, adalah bahwa korban-korban ini bukanlah orang yang jauh dari kita. Mereka adalah anak muda yang tumbuh di tengah kampung kita, kepala keluarga yang setiap Jumat berdiri di saf yang sama dengan kita, ibu-ibu yang anaknya bermain bersama anak kita. Ketika kita mendengar kabar tentang keluarga yang retak karena utang judi, sesungguhnya kita tidak sedang mendengar berita orang lain — kita sedang mendengar peringatan tentang kerapuhan yang bisa menimpa rumah mana pun yang lengah menjaga pintunya. Maka merenungkan ini bukanlah untuk menghakimi mereka yang tergelincir, melainkan untuk memeriksa kunci pintu rumah kita sendiri.
Semua ini, hadirin, adalah wajah baru dari penyakit lama yang diperingatkan Nabi Syu'aib: mengurangi hak orang lain dan menebar kerusakan di muka bumi. Bedanya, hari ini kerusakan itu tidak butuh kaki untuk berjalan dari rumah ke rumah — ia merayap melalui sinyal, masuk ke kamar tidur, ke genggaman anak kita, ke grup keluarga kita, dalam hitungan detik. Inilah mengapa tugas menjaga diri dan keluarga pada zaman ini menjadi lebih berat daripada zaman kakek-nenek kita.
Marilah kita renungkan lebih dalam. Kenapa seseorang yang tahu judi itu haram tetap saja memencet aplikasi taruhan tengah malam? Kenapa seseorang yang paham bunga pinjol mencekik tetap saja mengambilnya? Jawabannya bukan semata kebodohan. Jawabannya ada di hati. Rasulullah ﷺ telah memberi kita peringatan yang begitu tajam tentang penyakit hati ini. Beliau bersabda:
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ
"Dua serigala lapar yang dilepas di tengah kawanan domba tidak lebih merusak bagi mereka daripada keserakahan seseorang terhadap harta dan ketenaran terhadap agamanya." (Riyad as-Salihin 484)
Bayangkan gambaran yang dilukiskan Rasulullah ﷺ ini, jamaah. Dua serigala lapar yang dilepas di tengah kawanan domba — dalam semalam, kawanan itu bisa habis tercabik-cabik. Dan Nabi ﷺ mengatakan: keserakahan terhadap harta lebih merusak agama seseorang daripada dua serigala itu bagi domba-domba. Inilah akar dari judol dan pinjol yang menjerat. Bukan aplikasinya yang paling berbahaya — aplikasi hanyalah alat. Yang paling berbahaya adalah dua serigala di dalam dada kita: serigala keserakahan yang berbisik "sekali lagi, pasti menang", dan serigala ketakutan akan kekurangan yang berbisik "pinjam dulu, nanti juga terbayar." Dua bisikan inilah yang mencabik iman pelan-pelan, sampai seseorang yang tadinya menjaga sholatnya kini menggadaikan waktu, harta, bahkan keluarganya demi mengejar bayangan.
Dan janganlah kita mengira, jamaah, bahwa penyakit yang kita saksikan pekan ini adalah dosa-dosa kecil yang bisa dianggap sepele. Rasulullah ﷺ pernah mengumpulkan tujuh dosa terbesar dalam satu peringatan yang tegas. Beliau bersabda:
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ
"Jauhilah tujuh dosa besar yang membinasakan." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah itu?" Beliau menjawab: menyekutukan Allah, melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita-wanita suci yang menjaga kehormatannya. (Sahih al-Bukhari 2766)
Perhatikan, hadirin, betapa daftar ini seolah berbicara langsung tentang pekan kita. Memakan riba — bukankah itu inti dari jerat pinjaman berbunga yang mencekik para peminjam sampai kehilangan rumah dan harga diri? Membunuh jiwa yang diharamkan — bukankah kabar yang sampai kepada kita pekan ini menyentuh persoalan nyawa yang melayang di tengah lilitan utang dan kekerasan dalam rumah tangga? Dan menuduh serta mencemarkan kehormatan wanita suci — bukankah banjir konten cabul yang menyeret nama sekolah dan menyebarkan aib adalah bentuk paling keji dari pencemaran kehormatan di zaman ini? Tiga dari tujuh dosa terbesar itu, jamaah, hadir di beranda telepon kita pekan ini, dikemas dalam tampilan yang terasa biasa saja.
Inilah bahaya yang paling halus: layar telah membuat dosa-dosa besar terasa kecil. Sesuatu yang dahulu butuh keberanian besar untuk dilakukan — berjudi di depan umum, menyebar aib seseorang, menekan orang yang berutang — kini cukup dilakukan dengan ujung jari, sendirian, dalam gelap kamar, seolah tidak ada yang melihat. Padahal Allah Maha Melihat setiap ketukan jari kita. Dan justru karena kemudahannya itulah dosa-dosa ini menjadi lebih berbahaya, sebab ia mengikis rasa takut kita kepada Allah sedikit demi sedikit, sampai suatu hari kita tidak lagi merasa sedang berbuat dosa besar.
Dan ketahuilah, hadirin, bahwa harta yang diperoleh dengan cara yang batil tidak pernah membawa keberkahan, sebanyak apa pun jumlahnya. Allah Ta'ala berfirman dengan tegas:
يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa." (QS. Al-Baqara: 276)
Perhatikan pilihan kata Allah: yamhaq — memusnahkan, menghapus, mengikis sampai tak bersisa. Harta riba dan harta judi mungkin terlihat bertambah di layar rekening, tapi Allah mengikis keberkahannya sampai habis. Berapa banyak kita dengar kisah orang yang menang besar dalam judi, lalu dalam waktu singkat hartanya lenyap bersama ketenangan hidupnya? Berapa banyak yang meminjam sedikit, lalu terjerat bunga sampai kehilangan rumah dan harga diri? Itulah mahq — pemusnahan keberkahan yang Allah janjikan. Sebaliknya, sedekah yang tampak mengurangi harta justru disuburkan Allah, ditumbuhkan berlipat ganda dalam bentuk yang sering tak terduga: ketenangan, kesehatan, anak yang saleh, rezeki dari pintu yang tak disangka.
Bahkan, hadirin, penyakit ini menyentuh salah satu larangan paling tegas dalam muamalah. Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ وَتُدْلُوا۟ بِهَآ إِلَى ٱلْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا۟ فَرِيقًۭا مِّنْ أَمْوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
"Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui." (QS. Al-Baqara: 188)
Renungkanlah frasa "memakan harta dengan jalan yang batil". Judi adalah memindahkan harta tanpa hak — yang menang mengambil apa yang bukan miliknya, dan pada akhirnya bandarlah yang selalu memakan harta banyak orang. Penipuan daring adalah memakan harta dengan tipu daya. Bunga yang mencekik peminjam adalah memakan harta orang yang sedang terdesak dengan memanfaatkan keterdesakannya. Semua ini, dalam pandangan Allah, termasuk akl al-mal bil-batil — memakan harta dengan cara yang tidak dibenarkan. Dan ayat ini ditutup dengan kalimat yang menggetarkan: "padahal kamu mengetahui." Artinya, dosa ini menjadi lebih berat justru ketika pelakunya tahu itu keliru, tetapi tetap menempuhnya karena tergoda keuntungan sesaat.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menyebut membawa urusan harta "kepada para hakim" demi memakan hak orang lain. Betapa relevannya di zaman kita, ketika sebagian jerat finansial justru dibungkus dokumen yang tampak sah, perjanjian yang ditandatangani dalam keadaan terdesak, dan legalitas yang menutupi ketidakadilan di baliknya. Islam mengajarkan bahwa sesuatu tidak menjadi halal hanya karena ada kertas dan tanda tangan; ia menjadi halal ketika ia adil dan tidak memakan hak orang lain. Maka tugas kita bukan sekadar menghindari yang jelas-jelas haram, melainkan juga jeli melihat kezaliman yang berselubung kerapian administrasi.
Maka, jamaah yang dimuliakan Allah, penyakit-penyakit ini sesungguhnya adalah penyakit yang menyerang beberapa lapis amanah syariat sekaligus. Ia menyerang penjagaan harta kita — hifz al-mal — karena judol dan riba memindahkan harta umat ke tangan yang batil. Ia menyerang penjagaan akal kita — hifz al-'aql — karena kecanduan taruhan dan layar melumpuhkan kemampuan berpikir jernih, persis seperti mabuk. Dan ketika utang menekan sampai memicu kekerasan atau keputusasaan, ia menyerang penjagaan jiwa itu sendiri — hifz an-nafs. Dan ketika banjir konten keji menyeret anak-anak serta merusak kesucian generasi muda, ia menyerang penjagaan keturunan — hifz an-nasl — yang menjadi tumpuan masa depan umat. Islam datang empat belas abad lalu bukan untuk sekadar melarang, tapi untuk menjaga manusia dari kehancuran dirinya sendiri. Larangan riba, larangan maysir, larangan menyebarkan kekejian — semuanya adalah pagar kasih sayang yang Allah pasang demi keselamatan kita.
Dan menjaga pagar-pagar ini — agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta — bukanlah tugas yang bisa kita bebankan kepada pemerintah atau aparat semata. Ia adalah fardh kifayah, kewajiban bersama yang jika cukup banyak di antara kita menunaikannya maka gugurlah beban dari yang lain, tetapi jika kita semua berpangku tangan maka dosanya kita pikul bersama-sama. Sebagai khalifah di bumi ini, kita kelak akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya atas apa yang kita perbuat, melainkan juga atas kerusakan yang kita biarkan tumbuh di depan mata tanpa kita usahakan mencegahnya. Inilah beban sekaligus kehormatan menjadi umat terbaik: di hadapan kerusakan, kita tidak diperkenankan sekadar diam.
Para ulama kita mengajarkan bahwa obat penyakit hati bukanlah sekadar menjauhi larangan, melainkan menyibukkan hati dengan yang halal dan yang baik sampai tidak tersisa ruang bagi yang haram. Ibarat gelas yang penuh dengan air jernih — kotoran yang dituang ke dalamnya akan tumpah dengan sendirinya, karena tidak ada tempat lagi baginya. Maka generasi terbaik umat ini, ketika turun ayat pengharaman riba, tidak menawar-nawar dan tidak mencari-cari celah pembenaran; mereka segera meninggalkannya, karena hati mereka telah lebih dahulu dipenuhi cinta kepada perintah Allah daripada cinta kepada keuntungan dunia yang fana.
Hari ini, jamaah, tantangan kita serupa tetapi medannya berbeda. Kita tidak lagi berhadapan dengan riba di pasar dan kedai, melainkan riba yang masuk lewat notifikasi di layar. Kita tidak lagi berhadapan dengan perjudian di rumah-rumah judi, melainkan perjudian yang bersembunyi di balik ikon permainan yang tampak ramah dan tidak berbahaya. Kita tidak lagi berhadapan dengan gambar-gambar keji yang dijajakan sembunyi-sembunyi, melainkan yang datang sendiri tanpa diundang ke genggaman anak kita. Prinsipnya sama; hanya kemasannya yang berubah. Dan tugas kita adalah mengenali wajah lama itu di balik topeng barunya, lalu menolaknya dengan ketegasan yang sama seperti para pendahulu kita — bukan dengan panik, melainkan dengan iman yang kokoh dan hati yang penuh.
Dan di balik semua penyakit ini ada satu ancaman yang lebih besar, yang Rasulullah ﷺ peringatkan dengan sungguh-sungguh. Beliau bersabda:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ
"Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan di Hari Kiamat, dan jauhilah kekikiran (keserakahan), karena kekikiran telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, karena ia mendorong mereka untuk menumpahkan darah dan menghalalkan apa yang diharamkan bagi mereka." (Sahih Muslim 2578)
Lihatlah betapa dalamnya peringatan ini, hadirin. Rasulullah ﷺ menghubungkan asy-syuhh — keserakahan yang tamak — dengan penumpahan darah dan penghalalan yang haram. Bukankah inilah persis yang kita saksikan pekan ini? Keserakahan akan uang mudah yang berujung pada keretakan keluarga, bahkan sampai kabar tentang nyawa yang melayang. Ketamakan lembaga pemberi pinjaman yang menghalalkan penekanan dan pelecehan terhadap yang berutang. Semua kegelapan ini bermula dari satu benih: keserakahan yang tidak dijaga, lalu tumbuh menjadi kezaliman terhadap sesama. Dan kezaliman itu, kata Nabi ﷺ, akan menjelma menjadi kegelapan yang nyata pada Hari Kiamat — kegelapan yang menghalangi seseorang menemukan jalannya menuju keselamatan.
Sebelum kita beranjak ke langkah-langkah nyata, ada satu sisi lain dari kabar pekan ini yang tidak boleh kita lewatkan. Di tengah gelapnya berita, ada secercah cahaya pelajaran: seorang korban baru berani membuka kasusnya karena ada kerabat — seorang bibi dan paman — yang bersedia mendengarkan. Andai tidak ada telinga yang mau mendengar, luka itu mungkin akan terus terkubur dalam diam. Ini mengingatkan kita bahwa menjaga jiwa dan kehormatan yang lemah — anak-anak kita, saudari-saudari kita, tetangga yang sedang tertekan — adalah amanah yang berat di pundak kita. Rasa aman seseorang sering bergantung pada keberanian satu orang untuk hadir dan percaya. Maka jadilah kita orang itu: yang mau mendengar sebelum menghakimi, yang menjaga rahasia yang dititipkan, yang membuka pintu bagi yang membutuhkan pertolongan.
Dan bagi siapa pun di antara kita — atau di antara orang-orang yang kita cintai — yang merasa sudah terlanjur jatuh ke dalam jerat ini, dengarlah kabar gembira ini baik-baik. Sebesar apa pun tumpukan utang, sedalam apa pun keterjeratan, sekelam apa pun masa lalu, pintu rahmat Allah tidak pernah tertutup bagi hamba yang mau kembali. Allah tidak pernah menuntut kita datang dalam keadaan sudah bersih; Dia hanya meminta kita datang, dan Dialah yang akan membersihkan. Yang dibutuhkan hanyalah satu langkah jujur untuk berbalik: berhenti menambah, mengakui keadaan, lalu meminta pertolongan — kepada Allah lebih dahulu, kemudian kepada keluarga dan saudara yang bisa dipercaya. Jangan biarkan rasa malu kepada manusia mengalahkan harapan kepada Allah, sebab keputusasaan justru pintu yang paling disukai setan untuk menahan seseorang tetap terkurung dalam kesalahannya.
Lalu apa yang harus kita lakukan, jamaah? Peringatan tanpa jalan keluar hanya akan menambah kecemasan. Maka izinkan saya menyampaikan beberapa langkah nyata yang bisa kita mulai pekan ini.
Pertama, mari kita audit diri sendiri lebih dulu sebelum menunjuk orang lain. Malam ini, sebelum tidur, bukalah riwayat aplikasi dan transaksi di telepon kita. Adakah aplikasi taruhan yang masih terpasang? Adakah langganan paylater yang sebenarnya hanya menutup gengsi? Adakah dorongan "sekali lagi" yang sudah beberapa kali menuntun jari kita? Tandai satu, lalu putus satu itu malam ini juga.
Kedua, mari kita jaga keluarga kita. Duduklah bersama anak-anak, bukan untuk memarahi, tapi untuk membangun kepercayaan agar mereka berani bercerita ketika melihat sesuatu yang mengganggu di layar mereka. Dampingi ruang digital mereka; jangan tinggalkan tanpa pengawasan. Ajari mereka mengenali dan tidak meneruskan tautan-tautan mencurigakan yang menyamar sebagai konten sekolah.
Ketiga, mari kita menjadi penolong bagi tetangga yang terjerat, bukan penghakim. Jika kita tahu ada saudara yang terlilit pinjol, dekati dengan kasih, bantu mendata utangnya, temani mencari jalan penyelesaian yang halal. Rasa malu sering membuat orang yang terjerat semakin tenggelam; kehadiran kita bisa menjadi pelampung.
Keempat, mari kita hidupkan kembali alternatif yang halal di lingkungan kita — kas kebersamaan RT, pinjaman kebaikan tanpa bunga (qardh hasan) antartetangga, dan kebiasaan sedekah Subuh yang kecil tapi rutin. Ketika ada jalan yang bersih, godaan jalan yang kotor akan berkurang dengan sendirinya.
Kelima, mari kita rawat pandangan dan hati kita dengan memperbanyak dzikir dan menjaga sholat lima waktu. Hati yang penuh dengan mengingat Allah tidak akan mudah menjadi tanah subur bagi bisikan dua serigala tadi.
Keenam, mari kita manfaatkan teknologi yang sama untuk kebaikan: laporkan dan blokir tautan judi serta konten cabul yang masuk ke grup kita, alih-alih membiarkannya, apalagi meneruskannya karena penasaran. Satu tautan yang kita hentikan penyebarannya bisa menyelamatkan entah berapa banyak mata dan hati yang tidak kita kenal. Inilah bentuk amar makruf nahi mungkar yang paling sederhana di zaman kita — cukup satu ketukan jari untuk menutup celah, bukan untuk membukanya lebih lebar. Dan ingatlah, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa mengubah kemungkaran itu berjenjang: dengan tangan bagi yang mampu, dengan lisan, dan minimal dengan hati bagi yang tidak mampu berbuat lebih — dan yang terakhir itu adalah selemah-lemahnya iman. Jangan sampai kita kehilangan bahkan yang paling minimal itu, yaitu rasa tidak suka di dalam hati terhadap kerusakan yang lewat di hadapan kita.
Semoga Allah menjaga kita, keluarga kita, dan lingkungan kita dari segala bentuk kerusakan yang merayap melalui layar. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita rezeki yang halal, hati yang qana'ah, dan keluarga yang menjadi penyejuk mata.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلٰى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan saya menegaskan kembali beberapa sisi dari apa yang telah kita renungkan pada khutbah pertama, agar ia benar-benar tertanam ketika kita pulang nanti.
Sisi pertama: penyakit ini menyebar bukan karena orang jahat tiba-tiba bertambah banyak, melainkan karena ruang bersama kita dibiarkan tanpa penjagaan. Grup keluarga, lini masa, kamar anak — semua itu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Menjaga ruang-ruang ini dari kerusakan bukanlah beban satu orang, melainkan tanggung jawab bersama yang jika terbengkalai, dosanya kita tanggung bersama pula.
Sisi kedua: keberkahan tidak pernah datang dari harta yang batil. Sebesar apa pun angka kemenangan judi atau kemudahan pinjaman, Allah telah berjanji akan mengikisnya. Maka ketenangan sejati justru ada pada rezeki yang sedikit tetapi halal, bukan pada yang banyak tetapi haram. Inilah keyakinan yang harus kita tanamkan kembali di hati keluarga kita.
Sisi ketiga: pintu tobat selalu terbuka. Bagi siapa pun di antara kita yang pernah tergelincir — pernah bertaruh, pernah terjerat riba, pernah lalai menjaga pandangan — ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun. Yang Allah minta bukan kesempurnaan, melainkan kesungguhan untuk berbalik. Mulailah dari satu langkah kecil hari ini, dan sandarkan langkah itu pada pertolongan Allah, karena tidak ada daya dan kekuatan untuk berubah kecuali dengan pertolongan-Nya.
Sisi keempat: dakwah kita menghadapi penyakit ini haruslah dakwah yang merangkul, bukan yang menghakimi. Orang yang terjerat judol dan pinjol sering sudah cukup tersiksa oleh rasa malu dan cemas. Tugas kita bukan menambah beban itu, melainkan mengulurkan tangan, menunjukkan jalan keluar, dan mendoakan kebaikan. Membenci perbuatannya adalah keharusan; tetapi memusuhi pelakunya bukanlah jalan para nabi.
Sisi kelima: kekuatan komunitas jauh lebih besar daripada kekuatan satu orang. Seorang diri, godaan layar terasa berat dilawan; tetapi ketika satu lingkungan sepakat saling menjaga — grup keluarga yang dibersihkan dari tautan judi, tetangga yang saling mengingatkan dengan lembut, dan tersedianya alternatif pinjaman kebaikan tanpa bunga — maka benteng itu menjadi kokoh. Islam tidak pernah menjadikan kesalehan sebagai proyek menyendiri. Ia selalu mengaitkan keselamatan pribadi dengan keselamatan bersama, sebab kerusakan yang dibiarkan di satu rumah, cepat atau lambat, akan mengetuk pintu rumah di sebelahnya. Menjaga ruang bersama kita adalah fardh kifayah — kewajiban kolektif yang jika kita tunaikan bersama, menjadi keselamatan bersama; dan jika kita abaikan, menjadi dosa yang kita tanggung bersama pula.
Maka marilah kita menengadahkan tangan, memohon kepada Allah agar dijauhkan dari segala fitnah yang merayap dari layar kita.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَالِ وَشَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ حِرْصٍ يُهْلِكُ الدِّيْنَ.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ شَبَابَنَا وَأَوْلَادَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يَتَسَلَّلُ إِلَيْهِمْ مِنَ الشَّاشَاتِ، وَطَهِّرْ بُيُوْتَنَا وَمَجَالِسَنَا مِنَ الْفَوَاحِشِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
اَللّٰهُمَّ فُكَّ كَرْبَ الْمَدِيْنِيْنَ، وَاقْضِ دَيْنَ الْغَارِمِيْنَ، وَأَغْنِهِمْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا وَحَافِظًا.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً عَلٰى رَعِيَّتِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْ أَوْلَادَنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
