Pekan ini layar kita dibanjiri kerusakan yang datang bertubi-tubi — dan mudah sekali kita merasa, "toh masih banyak orang baik, pasti aman-aman saja." Ada satu malam, empat belas abad silam di Madinah, yang menjawab perasaan itu dengan cara yang mengejutkan. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — باب ذكر أنواع من الفتن menghimpun riwayat dari Zainab binti Jahsy radhiyallahu 'anha tentang malam itu.
Rumah Nabi ﷺ sunyi. Beliau baru saja tidur sebentar. Zainab binti Jahsy ada di dekat situ.
Madinah malam itu tenang. Angin yang biasa menyusup di sela pelepah kurma pun seolah menahan diri, dan kota para sahabat terlelap dalam damai yang biasa. Tidak ada yang menyangka ketenangan itu akan pecah — bukan oleh serangan dari luar, melainkan oleh sesuatu yang datang dari tidur seorang nabi.
Tiba-tiba Rasulullah ﷺ terbangun. Wajahnya memerah. Bukan merah karena marah pada seseorang — merah karena sesuatu yang beliau lihat dalam kegelisahan, sesuatu yang besar.
Orang-orang yang menyaksikan pasti terkesiap. Wajah yang biasanya seteduh purnama itu kini menyimpan beban. Dan ketika seorang nabi terbangun dengan cara demikian, semua tahu: ini bukan mimpi biasa, ini sebuah peringatan.
Dari lisan beliau meluncur kalimat tauhid, lalu peringatan yang membuat siapa pun terjaga:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ
"Tiada tuhan selain Allah. Celakalah bangsa Arab dari keburukan yang telah mendekat."
Beliau mengangkat tangannya. Jari-jari beliau membentuk lingkaran, seperti orang yang menunjukkan sebuah lubang kecil yang mulai menganga. Perawi hadits ini kemudian menirukan bentuk itu dengan jarinya.
فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَٰذِهِ
"Telah terbuka hari ini dari dinding (penghalang) Ya'juj dan Ma'juj, sebesar ini."
Sebuah celah kecil. Bukan runtuh seluruhnya — hanya terbuka sedikit, sebesar lingkaran jari. Tapi cukup untuk membuat wajah manusia paling mulia memerah karena cemas. Karena beliau tahu, keburukan tidak perlu pintu besar untuk masuk; ia cukup butuh satu celah kecil yang dibiarkan.
Suasana hening. Lalu seseorang memberanikan diri bertanya — pertanyaan yang mungkin ada juga di hati kita hari ini:
أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟
"Apakah kami akan binasa, padahal di antara kami masih ada orang-orang saleh?"
Sebuah pertanyaan yang wajar. Bukankah kehadiran orang-orang saleh seharusnya menjadi perisai? Bukankah selama masih ada yang sholat, yang berpuasa, yang bersedekah, masyarakat pasti terlindungi?
Jawaban Rasulullah ﷺ singkat, dan justru karena singkatnya ia menghunjam:
نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ
"Ya, apabila kekotoran (kejahatan) telah merajalela."
Pelajaran
Jawaban Nabi ﷺ itu membongkar satu ilusi yang kita pelihara: bahwa kehadiran orang baik secara otomatis menyelamatkan masyarakat. Ternyata tidak. Ketika al-khabats — kekotoran, kemaksiatan, kerusakan — dibiarkan tumbuh sampai merajalela, kebinasaan bisa datang meski orang saleh masih ada, selama mereka diam dan tidak lagi berusaha membendungnya. Celah kecil sebesar lingkaran jari itu terasa begitu dekat dengan zaman kita: satu tautan judi yang dibiarkan tersebar di grup, satu konten kotor yang didiamkan, satu utang riba yang dianggap lumrah. Semuanya tampak kecil, tapi ketika dibiarkan menumpuk, ia menjadi khabats yang merajalela. Maka pelajaran malam itu bukan untuk membuat kita takut, melainkan untuk membangunkan kita seperti Nabi ﷺ terbangun: bahwa menjadi baik saja tidak cukup — kita dituntut ikut menutup celah, sekecil apa pun peran yang bisa kita ambil di ruang kita masing-masing. Menutup satu celah kecil hari ini jauh lebih berarti daripada meratapi dinding yang telanjur retak esok hari.
Sumber Asli
Al-Bidayah wan-Nihayah — باب ذكر الفتن جملة ثم نفصل ذكرها بعد ذلك إن شاء الله تعالى
«سَمِعَ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ: كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ; مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي … قُلْتُ: وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مَنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ»
Al-Bidayah wan-Nihayah — ذكر شرور تحدث في هذه الأمة في آخر الزمان
«يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ، خَمْسُ خِصَالٍ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ … لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا … وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ»
Al-Bidayah wan-Nihayah — ذكر أنواع من الفتن وقعت وستكثر وتتفاقم في آخر الزمان
«اسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ النَّوْمِ مُحْمَرًّا وَجْهُهُ، يَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ! فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ … قِيلَ: أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ»
