Pekan ini publik ramai membicarakan amanah kekuasaan yang diduga dikhianati. Ada satu kisah lama yang justru bercerita tentang kebalikannya. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — غزوة ذات السلاسل merekam sebuah perselisihan kecil tentang siapa yang berhak memimpin — dan bagaimana seorang panglima besar menyelesaikannya dengan cara yang tak terduga.
Angin dingin dari arah Syam menampar wajah pasukan itu. Debu padang menempel di jubah. Amr bin al-Ash sudah beberapa hari berkemah di daerah bernama Dzatus Salasil, di perbatasan Syam, di tanah kabilah Bali' dan Qudha'ah.
Amr diutus Rasulullah ﷺ memimpin pasukan ke sana. Tetapi ketika sampai, ia melihat jumlah musuh jauh lebih banyak dari perkiraan. Hatinya gentar. Ia mengirim utusan kembali ke Madinah, meminta bala bantuan.
Rasulullah ﷺ pun memanggil para Muhajirin generasi pertama. Yang tampil ke depan bukan orang sembarangan. Abu Bakar ada di sana. Umar ada di sana. Sekelompok tokoh terbaik Muhajirin ikut bergerak. Dan Rasulullah ﷺ menunjuk seorang lelaki lembut berwibawa sebagai pemimpin rombongan itu: Abu Ubaidah bin al-Jarrah, orang yang pernah beliau sebut sebagai kepercayaan umat ini.
Rombongan itu tiba di kemah Amr. Debu belum sempat mengendap dari perjalanan. Dan di situlah ketegangan pertama muncul.
"Aku panglima kalian," kata Amr, tegas. "Aku hanya mengirim surat kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta tambahan pasukan, dan kalianlah tambahan itu."
Para Muhajirin tidak setuju. "Bukan begitu," sahut mereka. "Engkau panglima atas pasukanmu sendiri. Tapi Abu Ubaidah adalah panglima kaum Muhajirin."
Suasana menegang. Di padang perbatasan yang jauh dari rumah, dengan musuh yang siap menyerang kapan saja, dua barisan justru nyaris berselisih soal siapa yang memegang komando. Sebuah perselisihan yang, kalau dibiarkan, bisa memecah pasukan sebelum pedang musuh sempat terhunus.
Amr tidak mundur. "Kalian hanyalah bala bantuan yang kupanggil," katanya lagi.
Semua mata beralih kepada Abu Ubaidah. Dialah yang berhak marah. Dialah yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah ﷺ. Dialah yang membawa Abu Bakar dan Umar dalam rombongannya. Kalau ada satu orang yang punya alasan untuk bersikeras mempertahankan jabatannya, orang itu adalah Abu Ubaidah.
Tetapi Abu Ubaidah adalah lelaki yang baik akhlaknya dan lembut perangainya. Ia menarik napas. Ia tidak melihat kursi komando; ia melihat pasukan yang bisa pecah. Lalu ia berkata dengan tenang:
إِذَا قَدِمْتَ عَلَى صَاحِبِكَ فَتَطَاوَعَا
"Ketahuilah, wahai Amr, bahwa pesan terakhir yang diamanahkan Rasulullah ﷺ kepadaku adalah sabda beliau: 'Apabila engkau sampai kepada sahabatmu, maka saling taatlah kalian berdua.'"
Lalu ia mengucapkan kalimat yang membuat sejarah mencatatnya sampai hari ini:
وَإِنَّكَ إِنْ عَصَيْتَنِي لَأُطِيعَنَّكَ
"Dan sungguh, seandainya engkau membangkang kepadaku, aku tetap akan menaatimu."
Kalimat itu menutup perselisihan. Abu Ubaidah menyerahkan komando kepada Amr. Bukan karena ia lemah, bukan karena ia takut, tetapi karena ia lebih takut menyelisihi pesan Rasulullah ﷺ tentang persatuan daripada kehilangan gelar panglima. Ego seorang pemimpin ia lipat, demi keutuhan barisan yang lebih besar dari dirinya.
Pelajaran
Abu Ubaidah mengajarkan satu hal yang jarang dipahami di zaman mana pun: jabatan sejati adalah amanah untuk melayani, bukan piala untuk dipertahankan. Ia sedang memegang hak yang sah — ia ditunjuk langsung Rasulullah ﷺ — namun ia melepaskannya begitu melihat bahwa mempertahankannya akan memecah umat. Ketika banyak orang berebut kursi seakan kursi itu tujuan hidup, seorang panglima terbaik justru menunjukkan bahwa kematangan kepemimpinan diukur dari kesediaan mengalah demi maslahah yang lebih besar. Ia menaati satu pesan Nabi tentang persatuan, dan dengan itu ia menang tanpa harus bertengkar. Di pekan ketika amanah kekuasaan banyak dipertanyakan, kisah ini mengingatkan bahwa kadang bukti paling tinggi dari amanah adalah keberanian untuk melepaskan demi maslahat yang lebih besar.
Sumber Asli
Al-Bidayah wan-Nihayah — غزوة ذات السلاسل
ذَكَرَهَا الْحَافِظُ الْبَيْهَقِيُّ هَاهُنَا... بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ إِلَى ذَاتِ السَّلَاسِلِ مِنْ مَشَارِفِ الشَّامِ فِي بَلِيٍّ وَعَبْدِ اللَّهِ وَمَنْ يَلِيهِمْ مِنْ قُضَاعَةَ... فَلَمَّا صَارَ إِلَى هُنَاكَ خَافَ مِنْ كَثْرَةِ عَدُوِّهِ، فَبَعَثَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَمِدُّهُ، فَنَدَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُهَاجِرِينَ الْأَوَّلِينَ، فَانْتَدَبَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فِي جَمَاعَةٍ مِنْ سَرَاةِ الْمُهَاجِرِينَ، وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ.
فَلَمَّا قَدِمُوا عَلَى عَمْرٍو قَالَ: أَنَا أَمِيرُكُمْ، وَأَنَا أَرْسَلْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْتَمِدُّهُ بِكُمْ. فَقَالَ الْمُهَاجِرُونَ: بَلْ أَنْتَ أَمِيرُ أَصْحَابِكَ، وَأَبُو عُبَيْدَةَ أَمِيرُ الْمُهَاجِرِينَ. فَقَالَ عَمْرٌو: إِنَّمَا أَنْتُمْ مَدَدٌ أُمْدِدْتُهُ. فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ أَبُو عُبَيْدَةَ، وَكَانَ رَجُلًا حَسَنَ الْخُلُقِ لَيِّنَ الشِّيمَةِ، قَالَ: تَعَلَّمْ يَا عَمْرُو أَنَّ آخِرَ مَا عَهِدَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ قَالَ: «إِذَا قَدِمْتَ عَلَى صَاحِبِكَ فَتَطَاوَعَا» وَإِنَّكَ إِنْ عَصَيْتَنِي لَأُطِيعَنَّكَ.
