Pekan ini banyak orang bertanya di mana letak kebesaran sejati seorang manusia — di gelar, di jabatan, atau di sesuatu yang lain. Ada satu kisah tua yang menjawabnya dengan sunyi. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam «Al-Bidayah wan-Nihayah» — الإشارة النبوية إلى دولة عمر بن عبد العزيز menghimpun sebuah riwayat yang dihasankan al-Baihaqi, tentang seorang khalifah dan sebuah bangkai di tengah padang pasir.
Matahari Jazirah membakar. Rombongan kecil itu berjalan menuju Mekah, melintasi tanah lapang yang tak berpenghuni. Debu naik dari kaki-kaki mereka. Di tengah rombongan berjalan seorang lelaki bersahaja — Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang kelak dikenang sebagai penegak keadilan dan penghidup ilmu.
Tiba-tiba langkahnya terhenti. Di atas pasir tergeletak seekor ular yang sudah mati.
Rombongan berhenti. Seekor ular mati di tengah gurun bukanlah pemandangan yang menggugah siapa pun; kebanyakan orang akan melangkah melewatinya begitu saja. Tetapi lelaki itu turun. Matahari masih membakar, tanah keras dan berdebu, dan tak ada satu pun alasan duniawi untuk repot. Namun ada sesuatu dalam dirinya yang tidak sanggup membiarkan makhluk Allah tergeletak tanpa dihormati.
"Ambilkan aku alat penggali," katanya.
Orang-orang di sekelilingnya heran. "Biar kami saja yang mengurusnya, semoga Allah memperbaiki keadaanmu," kata mereka.
"Tidak," jawabnya pendek.
Ia sendiri yang mengambil alat itu. Ia sendiri yang menggali lubang di tanah keras itu, di bawah terik, tanpa penonton yang perlu dikesankan. Lalu ia membungkus bangkai ular itu dengan sehelai kain, meletakkannya perlahan, dan menimbunnya dengan tanah.
Tak ada yang tampak istimewa dari pemandangan itu — seorang lelaki berdebu, berlutut di tanah tandus, mengurus bangkai seekor ular yang tak dikenalnya. Tak ada sorak, tak ada yang mencatat, tak ada rakyat yang menyaksikan. Hanya langit yang membentang dan angin gurun yang lewat. Dan justru di saat seperti itulah watak sejati seseorang tampak: ketika tak ada satu pun mata manusia yang menilai.
Angin padang berdesir. Dan dari kejauhan yang tak terlihat, sebuah suara memanggil — tak seorang pun melihat siapa pemiliknya:
رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ يَا سُرَّقُ
"Rahmat Allah atasmu, wahai Surraq."
Umar bin Abdul Aziz mengangkat wajahnya. "Siapa engkau? Semoga Allah merahmatimu."
"Aku seorang dari kalangan jin," jawab suara itu. "Dan ini adalah Surraq. Tidak tersisa lagi di antara mereka yang pernah berbai'at kepada Rasulullah ﷺ kecuali aku dan dia. Sungguh, aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:"
تَمُوتُ يَا سُرَّقُ بِفَلَاةٍ مِنَ الْأَرْضِ، وَيَدْفِنُكَ خَيْرُ أُمَّتِي
"Engkau akan mati, wahai Surraq, di sebuah tanah lapang yang sunyi, dan yang akan menguburkanmu adalah sebaik-baik umatku."
Sunyi sejenak. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Umar bin Abdul Aziz meminta suara itu bersumpah, memastikan kebenaran kabar itu. Dan ketika sumpah itu diucapkan, khalifah yang perkasa itu tak kuasa menahan air matanya. Ia menangis — bukan karena bangga, melainkan karena gentar. Sebab lisan Nabi ﷺ, jauh sebelum ia lahir, telah menyebut orang yang menggali kubur di padang sunyi itu sebagai "sebaik-baik umatku". Dan orang itu ternyata dirinya.
Rombongan itu melanjutkan perjalanan dalam diam. Tetapi ada sesuatu yang berubah di dada mereka yang menyaksikan — sebuah pemahaman pelan bahwa kemuliaan sejati ternyata tidak pernah berteriak. Ia menunduk, ia melayani, dan ia menangis justru ketika dipuji.
Pelajaran
Yang paling menggetarkan dari kisah ini bukan suara jin di padang pasir, melainkan tangan seorang khalifah yang menolak diwakili. Ia bisa saja menyuruh, dan tak ada yang akan mencelanya. Tetapi ia menggali sendiri, di tempat yang tak ada seorang pun perlu ia kesankan. Di sanalah letak kebesaran yang sesungguhnya: adab dan kerendahan hati yang tetap hidup saat tidak ada yang menonton. Umar bin Abdul Aziz disebut Nabi ﷺ sebagai sebaik-baik umatnya bukan karena mahkota di kepalanya, melainkan karena kelembutan tangan yang mau menguburkan seekor bangkai di gurun kosong. Inilah buah dari tarbiyah yang benar — ilmu yang turun sampai ke tangan dan hati, bukan berhenti sebagai hafalan. Di pekan ketika banyak orang mengejar gelar dan sorotan, kisah ini berbisik pelan: yang menentukan nilai seseorang di sisi Allah adalah apa yang ia lakukan ketika merasa hanya Allah yang melihat. Dan barangkali di situlah letak seluruh pelajaran pekan ini: bukan pada seberapa tinggi ilmu yang dikejar, melainkan pada seberapa dalam ilmu itu turun menjadi kelembutan yang nyata pada tangan dan hati.
Sumber Asli
«Al-Bidayah wan-Nihayah» — مدح النبي وهب بن منبه وذمه لغيلان (kisah Umar bin Abdul Aziz)
«بَيْنَمَا عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ يَمْشِي إِلَى مَكَّةَ بِفَلَاةٍ مِنَ الْأَرْضِ إِذْ رَأَى حَيَّةً مَيِّتَةً فَقَالَ: عَلَيَّ بِمِحْفَارٍ. فَقَالُوا: نَكْفِيكَ، أَصْلَحَكَ اللَّهُ. قَالَ: لَا. ثُمَّ أَخَذَهُ فَحَفَرَ لَهُ، ثُمَّ لَفَّهُ فِي خِرْقَةٍ وَدَفَنَهُ، فَإِذَا هَاتِفٌ يَهْتِفُ لَا يَرَوْنَهُ: رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ يَا سُرَّقُ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ: مَنْ أَنْتَ؟ يَرْحَمُكَ اللَّهُ. قَالَ: أَنَا رَجُلٌ مِنَ الْجِنِّ، وَهَذَا سُرَّقٌ وَلَمْ يَبْقَ مِمَّنْ بَايَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرِي وَغَيْرُهُ، وَأَشْهَدَ لَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: تَمُوتُ يَا سُرَّقُ بِفَلَاةٍ مِنَ الْأَرْضِ، وَيَدْفِنُكَ خَيْرُ أُمَّتِي» وَفِيهِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَلَّفَهُ، فَلَمَّا حَلَفَ بَكَى عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ. وَقَدْ رَجَّحَهُ الْبَيْهَقِيُّ وَحَسَّنَهُ. فَاللَّهُ أَعْلَمُ.
