Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPendidikan & SDMJumat, 24 Juli 2026

Kultum — "Iblis Pun Ahli Ibadah"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ زَيَّنَ قُلُوْبَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِالْعِلْمِ وَالتَّقْوٰى، وَطَهَّرَ نُفُوْسَ أَوْلِيَائِهِ مِنَ الْكِبْرِ وَالْهَوٰى، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ini ada satu kabar kecil yang mungkin terlewat: sebuah renungan sederhana yang beredar dari layar ke layar, berbunyi kira-kira begini — iblis itu taat, ia juga ahli ibadah, tetapi ia gagal menjadi kekasih Allah karena ada satu kalimat yang bersarang di dalam dirinya. Malam ini, izinkan saya mengajak kita semua duduk sebentar dengan kalimat itu.

Coba kita renungkan bersama. Iblis bukan makhluk bodoh. Ia tahu Allah itu ada — bahkan ia pernah berdialog langsung dengan-Nya. Ia tahu surga dan neraka itu nyata. Ibadahnya, kata para ulama, sudah ribuan tahun. Kalau ilmu dan ibadah otomatis menyelamatkan, iblis mestinya menjadi makhluk paling mulia. Tetapi apa yang menjatuhkannya? Satu penyakit hati: kesombongan. "Aku lebih baik daripada dia," katanya. Ilmunya tinggi, ibadahnya panjang, tetapi jiwanya kotor. Dan Allah tidak menimbang kita dari tumpukan pengetahuan, melainkan dari kebersihan hati yang membawanya.

Allah Ta'ala bersumpah dengan sumpah yang panjang di dalam surah Asy-Syams, lalu Dia tutup dengan satu ayat yang menggetarkan:

وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

"Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 10)

Yang dimaksud "mengotorinya" di sini adalah jiwa. Sebelum ayat ini, Allah menyebut keberuntungan orang yang menyucikan jiwanya. Lalu di sini, kerugian orang yang menutupi dan mengubur jiwanya di bawah kesombongan, riya, dan hawa nafsu. Perhatikan, saudara-saudara: Allah tidak berkata "merugilah orang yang bodoh." Dia berkata "merugilah orang yang mengotori jiwanya." Karena banyak orang pintar yang jiwanya kotor, dan itu lebih berbahaya daripada orang awam yang hatinya bersih.

Kabar pekan ini seakan mempertegas pelajaran ini dengan cara yang pahit. Kita mendengar tentang seseorang yang pernah menempuh pendidikan tinggi keagamaan di negeri seberang, tetapi kemudian tega menghabisi nyawa ibunya sendiri. Saya tidak akan berpanjang tentang kasusnya, karena bukan itu tujuan kita malam ini. Tetapi izinkan saya bertanya pada diri sendiri lebih dulu, lalu pada kita semua: kalau ilmu agama yang tinggi ternyata bisa berdampingan dengan hilangnya adab kepada ibu, apa sebenarnya yang kurang? Jawabannya, saya kira, adalah hati yang lupa dibersihkan. Ilmu masuk ke kepala, tetapi tidak turun ke hati. Dan ilmu yang berhenti di kepala hanya menambah kesombongan, bukan kekhusyukan.

Coba kita bayangkan dua orang di majelis yang sama, saudara-saudara. Yang satu pulang merasa dadanya penuh, ingin segera membantah orang lain untuk membuktikan ia lebih tahu. Yang lain pulang merasa dadanya justru kosong, sadar betapa banyak yang belum ia amalkan, lalu diam-diam memperbaiki shalatnya malam itu. Keduanya mendengar ilmu yang sama, tetapi ilmu itu turun ke tempat yang berbeda: yang satu berhenti di lidah, yang lain sampai ke hati dan tangan. Semoga kita termasuk yang kedua — yang ilmunya membuatnya makin menunduk, bukan makin merasa tinggi.

Para hukama, sebagaimana dihimpun dalam kitab Nashaihul Ibad, pernah menyebut enam sebab seseorang tidak selamat. Di antaranya: barangsiapa tidak menjaga amalnya, ia tidak selamat dari riya; barangsiapa tidak meminta pertolongan Allah dalam menjaga hatinya, ia tidak selamat dari hasad. Lihatlah, saudara-saudara — musuh-musuh ini bukan di luar kita. Riya, hasad, tamak, sombong: semuanya tinggal di dalam dada kita sendiri. Dan tidak ada gelar, tidak ada hafalan, tidak ada jabatan yang bisa mengusirnya kecuali kita sendiri yang rajin membersihkannya.

Coba kita bandingkan dengan para ulama sejati yang kita kenal, saudara-saudara. Semakin dalam ilmu mereka, justru semakin tunduk kepala mereka. Imam-imam besar umat ini, yang hafalannya menggunung dan kitab-kitabnya kita baca sampai hari ini, tetap menangis di keheningan malam karena takut kepada Allah. Ilmu yang benar itu tidak membuat dada membusung; ia justru membuat lutut gemetar. Itulah bedanya ilmu yang menjadi cahaya dengan ilmu yang menjadi beban: yang satu menuntun pemiliknya makin dekat dan makin rendah hati di hadapan Allah, yang lain justru menjauhkan dan menyombongkan. Maka kalau kita merasa makin banyak tahu tetapi makin keras hati, makin sinis, dan makin merasa paling benar sendiri — itu tanda bahaya, bukan tanda kemajuan. Kabar baiknya, obatnya selalu tersedia: kita tinggal kembali, menunduk, dan meminta Allah membersihkan hati kita.

Nah, di sinilah biasanya kita tersenyum malu. Karena kita sering lebih rajin menambah ilmu daripada membersihkan hati. Kita ikut kajian ke sana ke mari, folder catatan penuh, tetapi kalau ada teman yang dipuji orang, dada ini masih terasa sesak. Kita hafal banyak dalil tentang sabar, tetapi di grup keluarga masih paling cepat tersinggung. Tidak apa-apa — mari kita akui sama-sama, termasuk saya. Justru mengakui itulah langkah pertama membersihkan jiwa. Yang berbahaya adalah kalau kita merasa sudah bersih padahal belum pernah menengok ke dalam.

Maka apa yang bisa kita bawa pulang malam ini? Bukan ilmu baru, tetapi satu pekerjaan lama yang sering kita tunda. Pertama, sebelum tidur nanti, luangkan lima menit untuk muhasabah: tanyakan pada diri, hari ini adakah kesombongan atau iri yang sempat singgah di hati saya, lalu istighfar dan minta Allah bersihkan. Kedua, kalau kita orang tua atau guru, mulai besok tambahkan satu hal di samping pelajaran anak-anak kita: bukan hanya "kamu sudah belajar belum," tetapi juga "kamu sudah minta maaf belum, kamu sudah bersyukur belum." Ketiga, jadikan setiap ilmu yang kita cari punya satu tujuan sederhana: agar hati makin dekat kepada Allah, bukan agar kita terlihat lebih pintar dari orang lain. Keempat, pilih satu orang yang lebih berilmu dan lebih baik akhlaknya dari kita, lalu jadikan ia cermin — bukan untuk kita irikan, tetapi untuk kita jadikan pengingat agar terus merendahkan hati.

Saudara-saudara sekalian, iblis mengajarkan kita satu hal dari kegagalannya: bahwa ibadah dan ilmu tanpa kerendahan hati bisa berujung pada kehancuran. Semoga Allah tidak menjadikan kita orang yang banyak ilmunya tetapi kotor jiwanya. Semoga Allah menjadikan kita orang yang beruntung — yang menyucikan jiwanya — bukan yang merugi karena mengotorinya.

Mari kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ وَالْحَسَدِ، وَارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا يَقُوْدُنَا إِلَيْكَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُلُوْبِ السَّلِيْمَةِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan