Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatTeknologi & AIJumat, 24 Juli 2026

Khutbah Jumat — "Menjaga Diri di Ruang yang Tak Terlihat"

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita buka khutbah ini dengan satu firman Allah yang menuntun kita menjaga apa yang terhormat dan menjauhi apa yang kotor. Allah berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌۭ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ ۗ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ ٱلْأَنْعَٰمُ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ ۖ فَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلرِّجْسَ مِنَ ٱلْأَوْثَٰنِ وَٱجْتَنِبُوا۟ قَوْلَ ٱلزُّورِ

"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta." (QS. Al-Hajj: 30)

Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini menutup dengan dua perintah yang terasa sangat dekat dengan zaman kita: jauhilah rijs, yaitu kekotoran, dan jauhilah qawl az-zur, yaitu perkataan dusta. Empat belas abad yang lalu perintah ini turun, dan hari ini ia seolah berbicara langsung tentang layar yang setiap hari kita genggam. Sebab di ruang digital pekan ini, kekotoran dan kedustaan itu tidak lagi bersembunyi di sudut gelap — ia dikemas rapi, disebar cepat, dan dijajakan kepada yang paling muda di antara kita.

Perhatikanlah dua kata itu baik-baik, jamaah: rijs dan qawl az-zur. Rijs adalah segala yang kotor dan menjijikkan, dan pekan ini kita menyaksikan bagaimana kekotoran itu tidak lagi malu-malu — konten pornografi dikemas rapi seolah materi pelajaran, lalu disebarkan ke ruang-ruang yang seharusnya aman bagi anak-anak. Adapun qawl az-zur, yaitu perkataan dusta, adalah wabah lain yang tak kalah merusak: kabar bohong, fitnah, dan tuduhan yang beredar tanpa disaring, mencemarkan nama baik orang dan memecah belah masyarakat hanya dalam hitungan menit. Dua penyakit inilah — kekotoran dan kedustaan — dua pintu utama kerusakan di ruang digital. Dan Al-Qur'an memerintahkan kita menjauhi keduanya, bukan sekadar tidak melakukannya, tetapi juga tidak ikut menyebarkannya, sebab menyebarkan keburukan sama beratnya dengan memulainya.

Kita semua tahu dari kabar pekan ini bagaimana sebuah grup percakapan di lingkungan sebuah kampus di Surabaya berubah menjadi ruang tempat kekerasan terhadap puluhan korban muda dirancang dan dibicarakan, sampai pihak kampus menonaktifkan beberapa mahasiswanya. Bayangkan, jamaah: alat yang seharusnya mempermudah belajar dan bersilaturahmi, di tangan hati yang sakit, berubah menjadi tempat merancang luka. Ini bukan cerita tentang teknologi yang jahat; teknologi tidak punya niat. Ini cerita tentang manusia yang lupa bahwa tidak ada satu pun ruang yang benar-benar tersembunyi dari pandangan Allah.

Kabar lain yang sampai kepada kita pekan ini adalah membanjirnya konten kotor yang sengaja dikemas seolah materi sekolah, lalu menyeret nama anak-anak ke dalamnya. Inilah rijs yang diperingatkan ayat tadi, dan inilah qawl az-zur — kedustaan yang membungkus keburukan dengan label yang tampak aman. Publik juga masih mencermati kekerasan seksual di lingkungan pendidikan yang kini menguji sungguh-sungguh sejauh mana perlindungan anak kita bekerja, termasuk kabar memilukan dari sebuah tragedi yang menimpa seorang santri di Lombok Tengah. Semua ini menuntut kita, sebagai orang tua, guru, dan tetangga, untuk tidak lagi menganggap layar sebagai urusan pribadi yang tak perlu dijaga.

Namun pekan ini juga menghadirkan cahaya, jamaah. Dari perairan timur negeri kita, kabar tentang seorang kakek berusia delapan puluh tahun yang memberikan pelampung terakhirnya kepada sang cucu dalam musibah tenggelamnya sebuah kapal penumpang, dan hingga kini beliau belum ditemukan. Kabar ini menyebar bukan sebagai tontonan, melainkan sebagai doa dan keharuan yang menyatukan hati banyak orang. Inilah bukti bahwa ruang digital yang sama, yang bisa menjadi tempat kekotoran, juga bisa menjadi tempat rahma dan keteladanan tersebar. Pertanyaannya, mana yang lebih sering kita perbesar dengan jari kita sendiri?

Hadirin yang dimuliakan Allah, bila kita cermati, ada satu benang yang menghubungkan hampir seluruh kabar pekan ini: yang paling muda di antara kita adalah yang paling rentan. Kekerasan seksual di lingkungan pendidikan kembali menjadi ujian sungguh-sungguh bagi perlindungan anak kita, dan kabar-kabar memilukan tentang anak-anak yang tersakiti, terjerat, bahkan ada yang terinfeksi penyakit berat hingga usia yang paling belia, terus berdatangan dari berbagai penjuru negeri. Di ruang digital pula kita mendengar suara-suara keputusasaan anak muda yang merasa tidak didengar, sampai sebagian mereka mengisyaratkan hendak menyakiti diri sendiri. Mereka lahir menggenggam layar sebelum sempat menggenggam kejernihan, sementara kita, orang dewasa di sekeliling mereka, sering kali justru sibuk dengan layar kita sendiri. Ini adalah amanah yang tidak boleh kita abaikan, dan ia akan ditanyakan kepada kita kelak.

Ma'asyiral muslimin, dari sinilah tema khutbah kita hari ini bertolak: bagaimana seorang mukmin menjaga dirinya di ruang yang terasa tak terlihat. Sebab inti persoalan digital bukanlah kecanggihan alatnya, melainkan keyakinan yang mulai pudar bahwa Allah Maha Melihat bahkan ketika tidak ada satu manusia pun yang menyaksikan. Ketika keyakinan itu kuat, layar menjadi ladang kebaikan. Ketika keyakinan itu lemah, layar menjadi tempat kita paling mudah tergelincir.

Dan inilah yang paling mengherankan dari zaman kita, jamaah: ruang digital adalah ruang yang paling banyak merekam setiap jejak kita, namun justru kita perlakukan sebagai ruang yang paling pribadi dan paling bebas. Sebuah pesan yang kita kira lenyap setelah dibaca ternyata tersimpan; sebuah unggahan yang kita hapus ternyata sudah tersalin di tempat lain. Kita merasa sendirian di depan layar, padahal kita sedang berada di ruang yang paling ramai dan paling terekam sepanjang sejarah manusia. Bila kepada sesama manusia saja jejak kita tidak benar-benar hilang, bagaimana mungkin kita melupakan bahwa di sisi Allah tidak ada satu pun yang luput dari catatan? Setiap ketukan jari kita, setiap detik yang kita habiskan, semuanya tercatat oleh dua malaikat yang tidak pernah lengah sedetik pun.

Perlu kita pahami pula, jamaah, bahwa teknologi itu sendiri bukanlah musuh kita. Ia hanyalah alat, sebagaimana pisau di dapur bisa dipakai memotong sayur atau melukai. Al-Qur'an dan sunnah tidak pernah memusuhi alat; yang dijaga adalah niat dan cara memakainya. Maka keliru bila kita mengira jalan keluarnya adalah lari dari dunia digital dan menyuruh anak-anak kita hidup seolah di masa lampau — itu bukan jalan Islam. Jalan Islam adalah masuk ke dalam ruang itu dengan membawa cahaya, menjadikannya sarana kebaikan, sambil tetap menjaga batas-batas yang telah Allah tetapkan. Yang berbahaya bukanlah layarnya, melainkan hati yang kosong dari kesadaran akan Allah ketika memegangnya. Sebab alat yang sama, di tangan hati yang hidup, menjadi ladang pahala; dan di tangan hati yang lalai, menjadi jurang.

Hadirin yang dimuliakan Allah, langkah pertama penjagaan diri adalah kejernihan tentang batas. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

"Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat yang banyak orang tidak mengetahuinya. Maka barangsiapa yang menjaga diri dari perkara-perkara syubhat, ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya; dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam syubhat, ia terjerumus ke dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar batas larangan, hampir-hampir ternaknya masuk ke dalamnya." (Sahih al-Bukhari 52)

Betapa tepat hadits ini untuk zaman layar. Ruang digital penuh dengan wilayah abu-abu: aplikasi yang penghasilannya tidak jelas, tautan yang syubhat isinya, tontonan yang setengah halal setengah tidak, permainan berhadiah yang diam-diam berbau judi. Nabi ﷺ tidak menuntut kita menjadi ahli fikih untuk setiap kasus; beliau memberi kita naluri kehati-hatian. Siapa yang terbiasa berhenti sejenak dan bertanya, "Ini halal, haram, atau samar?", ia sedang membangun benteng bagi agama dan kehormatannya. Sebaliknya, siapa yang membiasakan diri menggembala di tepi batas — mengeklik apa saja yang tampak menarik tanpa bertanya — cepat atau lambat ternaknya akan masuk ke wilayah yang haram.

Para ulama kita mengajarkan bahwa naluri kehati-hatian ini bukanlah sesuatu yang asing, melainkan warisan para pendahulu yang saleh. Kita mengenal kisah Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu yang, ketika mengetahui bahwa sesuap makanan yang telah ia telan ternyata berasal dari sumber yang meragukan, segera berusaha memuntahkannya kembali, karena beliau takut ada bagian dari tubuhnya yang tumbuh dari sesuatu yang tidak jelas kehalalannya. Betapa jauh jarak antara kehati-hatian seperti itu dengan kebiasaan kita hari ini, yang menelan begitu saja apa pun yang disodorkan layar tanpa sekali pun bertanya dari mana asalnya dan ke mana ia membawa kita. Inilah yang para ulama sebut sebagai muraqabah — kesadaran terus-menerus bahwa Allah senantiasa mengawasi. Dan inti dari ihsan adalah beribadah seakan-akan kita melihat Allah, dan bila kita tidak mampu merasakannya, kita meyakini dengan pasti bahwa Allah melihat kita. Seorang yang hatinya dipenuhi muraqabah tidak lagi membutuhkan pengawas di ruangan, tidak butuh kamera atau saksi manusia, sebab ia sadar bahwa layarnya, jarinya, dan matanya semuanya tercatat rapi di sisi Allah.

Langkah kedua, jamaah, adalah menjaga pintu-pintu masuk ke dalam hati. Imam al-Ghazali rahimahullah menuntun kita dalam kitab Bidayatul Hidayah untuk menjaga anggota tubuh satu per satu, dan beliau menekankan bahwa penjagaan kehormatan diri tidak akan tercapai kecuali dengan:

بِحِفْظِ الْعَيْنِ عَنِ النَّظَرِ، وَحِفْظِ الْقَلْبِ عَنِ التَّفَكُّرِ، وَحِفْظِ الْبَطْنِ عَنِ الشُّبْهَةِ

Yaitu menjaga mata dari pandangan yang tidak halal, menjaga hati dari pikiran yang membangkitkan syahwat, dan menjaga perut dari yang syubhat. Beliau juga mengingatkan agar tangan dijaga dari memukul seorang Muslim, dari mengambil harta haram, dan dari mengkhianati amanah. Renungkanlah, hadirin: hari ini mata kita, hati kita, dan tangan kita bertemu dalam satu benda kecil di saku kita. Jari yang mengetik adalah tangan; layar yang kita tatap adalah pintu mata; dan apa yang kita baca berjam-jam adalah makanan bagi hati. Penjagaan yang dulu berlaku di pasar dan di jalan, kini berlaku di dalam genggaman kita. Barangsiapa menjaga matanya dari memandang yang haram di layar, ia sedang menjaga hatinya; dan barangsiapa menjaga hatinya, ia sedang menjaga seluruh dirinya.

Renungkanlah lebih dalam, jamaah. Ruang digital hari ini justru dirancang untuk melumpuhkan penjagaan mata dan hati yang diajarkan para ulama itu. Gambar demi gambar disusun agar mata tidak sempat berpaling; konten demi konten diatur agar hati terus terpancing dan penasaran. Satu geseran jari saja sudah cukup membuka pemandangan yang, seandainya muncul di hadapan kita di jalan raya, pasti segera kita tundukkan pandangan darinya. Tetapi karena ia muncul di layar dalam kesendirian, kita justru membiarkannya. Padahal mata yang sama, hati yang sama, dan pertanggungjawaban yang sama tetaplah berlaku, di jalan maupun di layar. Menjaga pandangan di era ini bukan lagi sekadar menundukkan kepala di pasar, melainkan keberanian menutup satu tab, memblokir satu akun, dan menahan satu rasa penasaran yang sebenarnya mudah kita padamkan. Kemenangan-kemenangan kecil inilah yang, bila dikumpulkan hari demi hari, menjaga hati kita tetap hidup di tengah banjir yang justru berusaha mematikannya.

Langkah ketiga adalah melatih jiwa untuk berkata cukup. Allah berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ

"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya." (QS. An-Naazi'aat: 40)

Perhatikanlah, jamaah, bagaimana Allah menggandengkan dua hal: takut kepada kebesaran Tuhan, dan menahan diri dari hawa nafsu. Keduanya tidak terpisah. Ruang digital dirancang justru untuk melawan ayat ini — ia dibangun untuk memancing hawa nafsu, membuat kita terus menggeser layar, terus menginginkan yang berikutnya, tanpa pernah merasa cukup. Setiap tarikan itu berkata, "Ikuti keinginanmu." Dan Al-Qur'an menjawab, "Tahan dirimu, karena engkau sedang berdiri di hadapan Tuhanmu." Kemenangan sejati seorang mukmin di zaman ini bukanlah punya perangkat tercanggih, melainkan punya jiwa yang sanggup berkata "cukup" ketika seluruh dunia menyuruhnya terus.

Dan ketahuilah, hadirin, bahwa jiwa yang tidak pernah dilatih akan tumbuh liar mengikuti setiap keinginannya. Para ulama menggambarkan nafsu manusia seperti seorang bayi: bila dibiarkan menyusu selamanya, ia tidak akan pernah berhenti dengan sendirinya; tetapi bila disapih dengan lembut dan sabar, ia akan tumbuh menjadi dewasa yang mandiri. Ruang digital adalah ujian penyapihan terbesar bagi generasi kita. Anak-anak kita di negeri ini tumbuh dalam dunia yang setiap detiknya menawarkan rangsangan baru, dan bila mereka tidak pernah diajari makna cukup, mereka akan dewasa sebagai jiwa-jiwa yang selalu lapar dan tidak pernah merasa tenang. Maka melatih diri kita sendiri, dan kemudian anak-anak kita, untuk berani berkata cukup bukanlah sebuah kemewahan, melainkan pertahanan hidup yang paling dasar. Sebuah umat yang jiwanya terlatih menahan diri akan jauh lebih kokoh daripada umat yang hanya pandai mengonsumsi tanpa henti.

Langkah keempat menyentuh harta, dan ini pun diperingatkan pekan ini melalui derasnya judi online, pinjaman online, dan paylater yang menjerat rumah tangga. Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍۢ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًۭا

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisaa: 29)

Betapa dalam ayat ini, jamaah. Allah melarang memakan harta dengan batil, lalu langsung menyambungnya dengan larangan membunuh diri sendiri. Seolah Al-Qur'an ingin menunjukkan bahwa harta yang haram dan jiwa yang hancur sering berjalan beriringan. Berapa banyak pekan-pekan ini kita dengar orang yang terjerat pinjaman online sampai putus asa, dan judi online yang mengeringkan tabungan keluarga hingga menyalakan pertengkaran dan keputusasaan? Ayat ini menutup dengan kalimat yang menenangkan: innallaha kana bikum rahima — sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu. Larangan itu bukan untuk menyempitkan kita, melainkan karena Allah sayang dan tidak ingin kita menghancurkan diri sendiri lewat harta yang batil.

Hadirin yang dimuliakan Allah, betapa banyak air mata tertumpah pekan-pekan ini di balik layar yang tampak tenang — seorang kepala keluarga yang tabungannya ludes di meja judi digital, seorang ibu yang dikejar penagih pinjaman dengan ancaman dan hinaan, seorang anak muda yang malu karena terlilit utang yang berawal hanya dari iseng. Islam datang bukan untuk menambah beban mereka, melainkan untuk mengulurkan jalan keluar. Maka tugas kita bukan sekadar mengharamkan dan menyalahkan, tetapi menawarkan alternatif yang halal: menghidupkan kembali budaya menabung bersama, saling meminjami tanpa bunga di lingkungan kita, dan merangkul mereka yang terjerat tanpa mempermalukannya. Sebab seseorang yang sudah jatuh tidak butuh ditertawakan; ia butuh tangan yang menariknya berdiri.

Dan bila kita satukan seluruh penjagaan ini — menjaga agama dari kekacauan, menjaga akal dari pembusukan, menjaga harta dari kebatilan, dan menjaga jiwa dari kehancuran — sesungguhnya kita sedang menunaikan maksud-maksud syariat itu sendiri. Umat Islam menjaga semua ini bukan karena mengikuti tren siapa pun, melainkan karena syariat kita telah memerintahkannya berabad-abad sebelum dunia ramai membicarakannya. Inilah tugas kita sebagai khalifah di muka bumi, termasuk di bumi digital yang baru ini: bukan sekadar pengguna yang pasif dan hanyut, melainkan penjaga yang sadar bahwa setiap jari, setiap pandangan, dan setiap unggahan kita kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Kembali kepada ayat pembuka kita tadi, hadirin — Allah memuji orang yang mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi-Nya. Di antara yang paling terhormat dalam pandangan syariat adalah darah, harta, dan kehormatan seorang manusia. Ketiganya justru paling mudah dilanggar di ruang digital: darah lewat kekerasan yang direkam dan disebarkan, harta lewat penipuan dan jerat riba, dan kehormatan lewat fitnah serta penyebaran aib yang hanya butuh beberapa detik. Mengagungkan kehormatan yang Allah muliakan itu, di zaman kita, berarti menahan diri untuk tidak ikut menyebarkan rekaman aib saudara kita, tidak tergesa menghakimi sebelum perkaranya jelas, dan tidak menjadikan musibah orang lain sebagai bahan tontonan yang menghibur. Betapa banyak kehormatan yang hancur, betapa banyak keluarga yang tercoreng, hanya karena jari-jari yang gatal ingin lebih dulu menyebar. Maka setiap kali kita menahan jari kita dari menekan tombol sebar, sesungguhnya kita sedang mengagungkan apa yang Allah agungkan, dan itu lebih baik bagi kita di sisi Tuhan kita.

Karena itu, hadirin yang dimuliakan Allah, izinkanlah khatib menutup khutbah pertama ini dengan beberapa langkah nyata yang bisa kita bawa pulang pekan ini. Pertama, jadikan satu pertanyaan sebagai kebiasaan sebelum mengeklik apa pun: "Ini halal, haram, atau samar?" — dan bila samar, tinggalkanlah demi menjaga agama dan kehormatan. Kedua, jagalah mata dan hati kita di layar sebagaimana kita menjaganya di pasar; apa yang tidak pantas kita lihat di hadapan orang, jangan pula kita lihat dalam kesendirian, sebab Allah tetap menyaksikan. Ketiga, dampingi anak-anak kita — jangan biarkan mereka sendirian menghadapi lautan konten; duduklah bersama mereka, kenali tautan yang berbahaya, dan ajari mereka melapor tanpa takut dimarahi. Keempat, jauhi dan bantu orang lain menjauhi judi online serta jerat pinjaman berbunga; tawarkan jalan yang halal, sekecil apa pun. Kelima, jadilah jari yang menyebar rahma, bukan yang menyebar aib; setiap kali kita hendak membagikan sesuatu, bertanyalah apakah ini menambah kebaikan atau menambah luka. Keenam, sisihkanlah waktu khusus yang bebas dari layar setiap hari — saat makan bersama keluarga, menjelang tidur, dan terutama ketika kita sedang bersama anak-anak — agar kehadiran kita utuh dan tidak terbelah antara mereka dan gawai di tangan kita.

Keenam langkah ini tampak sederhana, hadirin, tetapi justru di kesederhanaannya terletak kekuatannya. Kita tidak diminta memusuhi teknologi, tidak pula membuang gawai kita ke laut. Kita hanya diminta membawa iman kita masuk ke dalam genggaman kita sendiri — agar ruang yang selama ini kita kira gelap dan bebas berubah menjadi ruang yang kita jaga dengan penuh kesadaran. Sebab pada akhirnya, layar hanyalah cermin dari hati yang memegangnya. Hati yang terjaga akan melahirkan jari yang terjaga; jari yang terjaga akan melahirkan rumah yang terjaga; dan rumah-rumah yang terjaga itulah yang menyusun umat yang terjaga pula.

Dan janganlah kita berkecil hati, hadirin, seolah gelombang ini terlalu besar untuk dihadapi. Setiap perubahan besar dalam sejarah umat selalu bermula dari satu keluarga yang berbenah dan satu lingkungan yang saling menjaga. Bila di rumah kita tumbuh kebiasaan bertanya 'apakah Allah ridha dengan yang sedang kita tonton ini', bila di lingkungan kita para tetangga saling mengingatkan dengan lembut tanpa merasa lebih suci, dan bila di masjid kita anak-anak menemukan kehangatan yang tidak mereka dapatkan di layar, maka pelan-pelan ruang digital itu pun akan ikut berubah. Sebab pada hakikatnya teknologi mengikuti manusia, bukan manusia yang harus tunduk mengikuti teknologi. Marilah kita menjadi generasi yang tidak diperbudak oleh alat yang kita ciptakan sendiri, melainkan generasi yang menundukkan alat itu untuk mengabdi kepada Allah dan memuliakan sesama makhluk-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلٰى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Jamaah yang dimuliakan Allah, di khutbah kedua ini khatib ingin menggali lebih dalam satu sisi yang mudah kita lewatkan. Kita sering mengira dosa digital lebih ringan karena tidak ada saksi manusia. Padahal justru di situlah ujiannya paling berat. Seorang yang jujur di hadapan keramaian belum tentu jujur dalam kesendirian di depan layarnya. Maka ukuran iman kita hari ini bukan pada bagaimana kita tampil di feed, melainkan pada apa yang kita lakukan ketika kita yakin tidak ada yang melihat. Ihsan — beribadah seakan-akan melihat Allah, dan bila tidak, yakin bahwa Allah melihat kita — adalah ruh yang paling kita butuhkan di ruang yang terasa gelap ini.

Sisi kedua, jamaah, adalah tanggung jawab kita atas yang lemah. Kabar-kabar pekan ini menunjukkan bahwa korban terbanyak dari keburukan digital adalah anak-anak dan remaja. Mereka lahir menggenggam layar sebelum sempat menggenggam kejernihan. Maka menjaga mereka bukan pilihan, melainkan amanah kolektif kita — sebuah fardhu kifayah yang berdosa bila kita semua membiarkannya. Bila di lingkungan kita ada satu keluarga saja yang anaknya kesepian menghadapi layar tanpa pendamping, di sanalah pintu khidmah kita terbuka.

Sisi ketiga adalah cara kita merespons duka. Ketika sebuah rekaman kekerasan atau aib beredar, kita berdiri di persimpangan: menyebarkannya sebagai tontonan, atau memutus rantainya dan menggantinya dengan doa serta bantuan nyata. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kezaliman adalah kegelapan pada Hari Kiamat; dan menyebarkan aib saudara, sekalipun ia bersalah, dapat menjadi kegelapan baru yang kita tambahkan sendiri. Marilah kita jadikan jari-jari kita alat rahma, bukan alat yang memperpanjang luka.

Sisi keempat, jamaah, adalah keberanian untuk menjadi cahaya di ruang yang sama. Ruang digital yang bisa menjadi tempat kekotoran itu juga adalah ladang subur bagi kebaikan yang belum pernah semudah ini disebar. Satu nasihat yang tulus, satu kisah yang menguatkan, satu ajakan kepada yang halal — semuanya kini bisa menjangkau ribuan hati hanya dengan satu geseran jari. Bila para pembawa keburukan begitu rajin menebar racunnya siang dan malam, sungguh memalukan bila kita yang mengaku membawa cahaya justru memilih diam. Setiap kita, dengan gawai di tangan, sesungguhnya telah menjadi seorang da'i, entah kita sadari atau tidak.

Dan sisi terakhir yang ingin khatib tekankan adalah kesabaran dalam menjaga. Perubahan tidak datang dalam semalam. Kita tidak akan seketika menjadi pribadi yang sempurna menjaga mata, hati, dan jarinya. Tetapi Allah tidak menuntut kesempurnaan yang instan; Ia menuntut kesungguhan yang istiqamah. Maka mulailah dari satu langkah kecil malam ini — satu aplikasi yang dihapus, satu kebiasaan yang diperbaiki — lalu istiqamahlah menjaganya. Sebab kebaikan kecil yang dijaga terus-menerus jauh lebih kokoh daripada lonjakan besar yang cepat padam.

Maka, jamaah, marilah kita tutup dengan menengadahkan tangan, memohon kepada Allah agar menjaga kita, keluarga kita, dan generasi kita di zaman yang penuh fitnah ini.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتَنِ الزَّمَانِ، وَشُرُوْرِ مَا يُعْرَضُ عَلَيْنَا فِيْ هٰذِهِ الشَّاشَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَعْيُنَنَا وَقُلُوْبَنَا وَأَيْدِيَنَا مِنْ كُلِّ مَا يُغْضِبُكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ خَافَ مَقَامَكَ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا وَشَبَابَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يُحِيْطُ بِهِمْ، وَقِهِمْ فِتْنَةَ الشَّهَوَاتِ وَالْمُسْكِرَاتِ وَالْقِمَارِ وَالرِّبَا، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لِأُمَّتِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ انْصُرْهُمْ وَفَرِّجْ كَرْبَهُمْ، وَارْحَمْ ضَحَايَا الْمَصَائِبِ وَالْغَرْقٰى فِيْ بِحَارِنَا، وَاجْعَلْ مَنْ فُقِدَ مِنْهُمْ فِيْ رَحْمَتِكَ الْوَاسِعَةِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan