Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsTeknologi & AIJumat, 24 Juli 2026

Kisah Pendek — "Dua Lelaki yang Berebut Menolak Emas"

Di zaman ketika layar melatih banyak orang untuk cepat-cepat mengambil apa pun yang bisa diambil, ada satu kisah tua yang berjalan ke arah sebaliknya. Imam Ibn Katsir rahimahullah menghimpunnya dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — قصة أخرى, sebuah riwayat tentang dua lelaki yang justru berebut untuk menolak sekantong emas. Ceritanya pendek. Tapi ia membalik seluruh cara kita mengukur kejujuran.

Seorang lelaki membeli sebidang tanah. Ia membayar, menjabat tangan penjual, lalu pergi membawa haknya. Tanah itu kini miliknya.

Beberapa waktu kemudian ia mulai menggarap tanah itu. Cangkulnya menyentuh sesuatu yang keras. Ia menggali lebih dalam. Debu beterbangan. Muncullah sebuah kendi tanah, berat sekali. Ia membukanya. Di dalamnya, emas.

Lelaki itu terdiam. Orang lain mungkin akan diam-diam menyimpannya. Tidak ada saksi. Tidak ada yang tahu. Tetapi ia justru mengangkat kendi itu, membersihkan tangannya, dan berjalan kembali ke rumah penjual tanah.

"Ambil emasmu dariku," katanya.

خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الْأَرْضَ، وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ

"Ambillah emasmu ini dariku. Aku hanya membeli tanah darimu, aku tidak membeli emas darimu."

Penjual itu mengerutkan dahi. Ia menggeleng.

إِنَّمَا بِعْتُكَ الْأَرْضَ وَمَا فِيهَا

"Aku telah menjual kepadamu tanah itu beserta apa pun yang ada di dalamnya," jawabnya.

Maka terjadilah perdebatan yang ganjil. Bukan perdebatan dua orang yang saling merebut, melainkan dua orang yang saling menolak. Yang satu berkata "ini milikmu", yang lain menjawab "bukan, ini milikmu". Emas yang biasanya membuat orang bermusuhan, di sini membuat dua lelaki bersikeras memberi.

Bayangkan pemandangan itu. Dua orang dewasa berdiri berhadapan, masing-masing mendorong kendi emas ke arah lawan bicaranya, dan tak seorang pun mau menerimanya. Di pasar mana pun, di zaman mana pun, orang berkelahi memperebutkan emas. Di sini, dua lelaki nyaris berselisih justru karena sama-sama menolaknya. Keduanya memegang satu keyakinan yang sederhana namun berat: mengambil sesuatu yang bukan haknya, sekecil apa pun nilainya, akan mengganjal di dada sampai ajal menjemput.

Karena tak ada yang mau mengalah, keduanya pergi kepada seorang lelaki agar menjadi penengah. Mereka menceritakan perkara emas itu. Sang penengah mendengarkan, lalu bertanya dengan tenang, "Apakah kalian punya anak?"

Yang seorang menjawab, "Aku punya seorang anak lelaki." Yang lain berkata, "Aku punya seorang anak perempuan."

Penengah itu tersenyum. Ia sudah menemukan jalannya.

أَنْكِحُوا الْغُلَامَ الْجَارِيَةَ، وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ، وَتَصَدَّقَا

"Nikahkanlah anak lelaki itu dengan anak perempuan itu, nafkahilah keduanya dari emas ini, dan bersedekahlah dengan sisanya."

Begitulah. Emas yang tak seorang pun mau memilikinya akhirnya menjadi berkah bagi generasi berikutnya — mas kawin, nafkah rumah tangga baru, dan sedekah bagi yang membutuhkan. Riwayat ini disebutkan Imam al-Bukhari dalam kabar-kabar Bani Israil, dan diriwayatkan pula oleh Imam Muslim.

Pelajaran

Kita hidup di zaman ketika kejujuran sering dipahami sebatas "tidak ketahuan mencuri". Kisah ini menaikkan standarnya jauh lebih tinggi. Kedua lelaki itu tidak sekadar tidak mencuri; mereka menolak keras sesuatu yang secara hukum bisa saja mereka klaim, hanya karena hati mereka merasa itu bukan hak yang murni. Padahal tak ada saksi, tak ada dokumen, tak ada yang akan menuntut. Justru di titik itulah kejujuran sejati diuji — bukan saat ada yang melihat, melainkan saat tak ada siapa pun kecuali Allah. Di ruang digital hari ini, ketika begitu banyak orang berlomba mengambil apa yang bisa diambil karena "toh algoritma tidak menghakimi", dua lelaki tua ini mengingatkan bahwa ada manusia yang justru berebut untuk memberi. Dan lihatlah buahnya: kejujuran mereka tidak berhenti pada diri sendiri, ia menikahkan dua keluarga dan menghidupi yang lemah.

Sumber Asli

Al-Bidayah wan-Nihayah — قصة أخرى

[قِصَّةٌ أُخْرَى] شَبِيهَةٌ بِهَذِهِ الْقِصَّةِ فِي الصِّدْقِ وَالْأَمَانَةِ قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اشْتَرَى رَجُلٌ مِنْ رَجُلٍ عَقَارًا لَهُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ فِي عَقَارِهِ جَرَّةً فِيهَا ذَهَبٌ فَقَالَ لَهُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ: خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الْأَرْضَ، وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ، وَقَالَ الَّذِي لَهُ الْأَرْضُ: إِنَّمَا بِعْتُكَ الْأَرْضَ وَمَا فِيهَا فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ فَقَالَ الَّذِي تَحَاكَمَا إِلَيْهِ: أَلَكُمَا وَلَدٌ؟ قَالَ أَحَدُهُمَا: لِي غُلَامٌ، وَقَالَ الْآخَرُ: لِي جَارِيَةٌ قَالَ: أَنْكِحُوا الْغُلَامَ الْجَارِيَةَ، وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ، وَتَصَدَّقَا» هَكَذَا رَوَى الْبُخَارِيُّ هَذَا الْحَدِيثَ فِي أَخْبَارِ بَنِي إِسْرَائِيلَ، وَأَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ بِهِ. وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ هَذِهِ الْقِصَّةَ وَقَعَتْ فِي زَمَنِ ذِي الْقَرْنَيْنِ وَقَدْ كَانَ قَبْلَ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِدُهُورٍ مُتَطَاوِلَةٍ، فَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan