بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الدُّنْيَا مَتَاعًا وَجَعَلَ الْآخِرَةَ خَيْرًا وَأَبْقَىٰ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan ketika layar kita nyaris tak pernah padam dan jempol kita terus menggeser tanpa henti, ada satu pesan sederhana yang ingin saya bagikan malam ini: kilau di layar itu tidak pernah habis, tetapi hati kita punya batas. Coba jujur, saudara-saudara sekalian — siapa di sini yang pekan ini membuka ponsel hanya untuk "sebentar", lalu tersadar tiga puluh menit sudah lewat dan tangan masih menggeser? Kita semua pernah merasakannya. Dan itu bukan kebetulan; ruang digital memang dirancang supaya kita selalu merasa kurang, selalu ingin satu geseran lagi.
Mari kita dengarkan bagaimana Al-Qur'an berbicara tentang mana yang benar-benar bernilai. Allah berfirman, mengabadikan ucapan Nabi Syu'aib kepada kaumnya:
بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيْرٌۭ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيْكُم بِحَفِيظٍۢ
"Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." (QS. Hud: 86)
Baqiyyatullah — sisa yang Allah tinggalkan untukmu, yaitu yang halal, yang sedikit tetapi diberkahi, yang bertahan. Nabi Syu'aib mengucapkannya kepada kaum yang gemar mencurangi timbangan demi keuntungan cepat. Dan betapa mengherankan, ayat itu terasa seolah ditujukan kepada kita yang hidup di zaman untung-instan. Sebab layar hari ini penuh tawaran yang berkilau: cuan cepat lewat judi online, pinjaman yang cair dalam hitungan menit, gaya hidup yang seakan gratis padahal dibayar dengan utang. Semua berkilau, semua menjanjikan "lebih". Tetapi Al-Qur'an membisikkan sebaliknya: yang sedikit dan halal itu lebih baik daripada tumpukan yang haram.
Saudara-saudara, mari kita ukur diri sendiri. Kilau layar itu bekerja pada satu titik lemah kita: rasa tidak pernah cukup. Kita melihat hidup orang lain yang tampak sempurna, lalu merasa hidup kita kurang. Kita melihat orang lain mendadak kaya lewat jalan yang tidak jelas, lalu tergoda ikut. Padahal yang kita lihat di layar hanyalah kilaunya, bukan kegelapan yang tersembunyi di baliknya. Pekan ini kita dengar bagaimana jerat pinjaman dan judi online mengeringkan tabungan keluarga dan menyalakan pertengkaran di rumah-rumah. Itulah harga dari kilau yang kita kira gratis.
Saudara-saudara, ada satu racun halus lain dari kilau layar yang jarang kita sadari: ia membuat kita lupa bersyukur. Setiap kali kita melihat hidup orang lain yang tampak lebih indah, diam-diam hati kita berbisik bahwa nikmat kita ini kurang. Kita punya rumah, tapi merasa sempit karena melihat rumah orang. Kita punya rezeki yang cukup, tapi merasa miskin karena menyaksikan pamer orang. Padahal kunci syukur justru terletak pada kebiasaan membandingkan diri dengan yang di bawah kita dalam urusan dunia, bukan dengan yang di atas, agar kita tidak meremehkan nikmat yang sudah Allah berikan. Kilau layar justru melakukan yang sebaliknya — ia terus mengarahkan mata kita ke atas, ke yang lebih, ke yang tak terjangkau, sampai pelan-pelan kita kehilangan rasa syukur atas apa yang sudah ada dalam genggaman kita.
Dan bukan hanya soal harta. Kilau layar juga menawarkan sesuatu yang lebih halus: pengakuan. Kita ingin dilihat, ingin disukai, ingin dianggap. Sampai-sampai sebagian dari kita lebih rajin merawat citra di layar daripada merawat hati di hadapan Allah. Di sinilah kita perlu berhenti dan bertanya, seperti yang diajarkan Nabi ﷺ, apakah yang sedang kita kejar ini jelas halalnya, jelas haramnya, atau justru samar. Beliau ﷺ bersabda bahwa yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara musytabihat yang banyak orang tidak mengetahuinya — dan siapa yang menjaga diri dari yang samar, ia menyelamatkan agama dan kehormatannya. Betapa banyak keputusan digital kita jatuh di wilayah samar itu, dan betapa jarang kita berhenti sejenak untuk bertanya.
Coba kita bayangkan, saudara-saudara, seandainya setiap kali jempol kita hendak menggeser layar, ada suara lembut yang bertanya: "Untuk apa?" Mungkin separuh waktu kita di layar akan berhenti seketika. Sebab jujur saja, banyak dari geseran kita bukan karena butuh, melainkan karena sudah terbiasa — sebuah refleks kosong yang menyita waktu, menyita ketenangan, dan pelan-pelan menyita kekhusyukan kita di hadapan Allah. Rasa "cukup" itu bukan berarti kita menjadi anti dunia; Islam tidak pernah mengajarkan kita membenci dunia. Yang diajarkan adalah menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Genggam secukupnya, gunakan seperlunya, dan jangan biarkan ia menguasai ruang di hati yang seharusnya hanya milik Allah.
Lalu apa yang bisa kita lakukan, mulai malam ini setelah pulang dari sini? Pertama, latih hati kita berkata "cukup". Tetapkan satu jam dalam sehari ketika layar kita padam total — saat makan bersama keluarga, misalnya, atau menjelang tidur. Kedua, sebelum tergoda pada tawaran cuan cepat apa pun di layar, tanyakan tiga kata: halal, haram, atau samar? Bila samar, tinggalkan; ketenangan hati jauh lebih mahal daripada keuntungan yang meragukan. Ketiga, alihkan sedikit waktu menatap layar menjadi waktu menatap yang nyata — wajah anak kita, wajah pasangan kita, halaman Al-Qur'an yang sudah lama tidak kita buka.
Saudara-saudara yang saya hormati, kilau di layar akan terus ada dan tidak akan pernah habis kita kejar. Tetapi baqiyyatullah — yang halal, yang sedikit tapi berkah, yang bertahan sampai akhirat — itulah yang benar-benar milik kita. Hati yang terjaga bukanlah hati yang menjauh dari dunia, melainkan hati yang tahu kapan harus berkata cukup. Sebab pada akhirnya, yang menentukan nasib kita bukanlah seberapa canggih layar di tangan, melainkan seberapa hidup hati di dada kita saat memegangnya. Semoga Allah menganugerahkan kita hati seperti itu.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ قُلُوْبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، وَقَنِّعْنَا بِمَا رَزَقْتَنَا مِنَ الْحَلَالِ، وَاصْرِفْ عَنَّا فِتْنَةَ مَا لَا يَنْفَعُنَا فِيْ هٰذِهِ الشَّاشَاتِ، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
