بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ النَّاسَ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِيَتَعَارَفُوْا، وَجَعَلَ بَيْنَهُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ بُعِثَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Para jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lalui, ketika kabar tentang ibadah yang dihalangi dan olok-olok antar-umat memenuhi layar telepon kita, ada satu pertanyaan sederhana yang ingin saya ajak kita jawab bersama malam ini: apakah iman yang kuat itu ditandai oleh suara yang paling keras, atau justru oleh hati yang paling lapang?
Saudara-saudara sekalian, saya kira kita semua pernah merasakannya. Ada momen ketika kita membaca sesuatu yang menyinggung keyakinan kita, lalu darah kita naik, jari kita gatal ingin membalas, dan dalam hitungan detik kita sudah mengetik kalimat yang tajam. Rasanya seperti sedang membela agama. Tetapi mari kita ukur diri sendiri dengan jujur: apakah yang kita bela benar-benar agama, atau sebenarnya ego kita yang tersinggung?
Mari kita dengarkan bagaimana Allah menuntun kita. Allah berfirman:
وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍ
Dalam Surah Al-An'aam ayat 108, Allah melarang kita memaki sembahan yang mereka sembah selain Allah, "karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan." Renungkan betapa dalamnya ajaran ini, jamaah. Yang dibicarakan di sini bukan sesuatu yang benar, melainkan sesuatu yang jelas-jelas keliru dalam pandangan kita. Namun Allah tetap melarang kita memakinya — bukan karena ia layak dihormati, tetapi karena makian kita hanya akan melahirkan makian balik yang menyeret nama Allah. Islam mengajari kita berpikir tentang buah dari setiap kata. Kalau terhadap sesuatu yang batil saja kita diminta menahan lisan demi menjaga kehormatan Allah, apalagi terhadap tetangga yang masih satu kemanusiaan dengan kita.
Dan tahukah kita, saudaraku, dari mana banyak permusuhan itu bermula? Bukan dari perbedaan itu sendiri, melainkan dari prasangka. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَنَافَسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا
Dalam riwayat Muslim nomor 2563a, Rasulullah ﷺ bersabda: "Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dusta perkataan. Janganlah kalian saling mencari-cari berita keburukan satu sama lain, jangan saling memata-matai, jangan saling berlomba secara buruk, dan jangan saling mendengki." Bukankah ini persis yang terjadi pekan ini? Kita melihat satu potongan kabar, lalu otak kita langsung menyusun cerita paling buruk tentang niat orang lain, dan kita membela cerita karangan itu seolah kebenaran mutlak. Nabi ﷺ menyebut prasangka sebagai "sedusta-dusta perkataan" — kebohongan yang paling berbahaya justru karena ia menyamar sebagai keyakinan yang kita rasa pasti benar.
Saudara-saudara, izinkan saya membagikan satu cara pandang yang mengubah hidup saya. Iman yang matang itu seperti pohon yang akarnya dalam: ia tidak goyah oleh angin, sehingga cabangnya bisa merunduk memberi teduh. Sebaliknya, tanaman yang akarnya dangkal akan panik pada tiupan angin sekecil apa pun. Ketika seseorang merasa harus berteriak, menghina, dan menghadang untuk membela Tuhannya, sering kali itu bukan tanda iman yang perkasa, melainkan iman yang cemas. Padahal Allah tidak pernah meminta dibela dengan cara yang Dia larang. Rasulullah ﷺ dihina jauh lebih kejam daripada yang kita alami hari ini, namun beliau tetap mendoakan, tetap tersenyum, tetap memenangkan hati manusia dengan akhlak, bukan dengan amarah.
Coba kita renungkan sejenak, saudara-saudara. Ketika penduduk sebuah kota melempari beliau dengan batu hingga kakinya berdarah, beliau tidak mengutuk mereka. Beliau justru mendoakan agar dari keturunan mereka lahir orang-orang yang beriman. Bayangkan besarnya hati itu. Sementara kita, hanya karena satu komentar yang menyinggung di layar telepon, sudah sanggup memaki seharian dan menyimpan dendam berhari-hari. Jarak antara akhlak kita dan akhlak beliau begitu jauh, dan pekan-pekan seperti ini adalah cermin yang jujur untuk mengukurnya. Kalau kita mengaku mencintai beliau, maka bukti cinta itu bukan pada seberapa keras kita membelanya dengan makian, melainkan pada seberapa sungguh kita meniru kelembutannya.
Dan mari kita jujur, jamaah, bahwa yang paling sulit dari semua ini adalah memulai dari diri sendiri. Sangat mudah menunjuk kesalahan orang lain — kelompok itu yang intoleran, orang itu yang provokatif, pihak sana yang memulai. Tetapi perubahan tidak pernah datang dari menunggu orang lain berubah lebih dulu. Ia datang ketika kita, satu per satu, memutuskan untuk menahan lisan yang biasa tajam, untuk mengecek sebelum menyebar, untuk menyapa tetangga yang selama ini kita diamkan. Dakwah yang paling berdampak sering kali bukan yang paling lantang, melainkan yang paling konsisten dalam diam.
Maka apa yang bisa kita bawa pulang malam ini? Tiga hal sederhana. Satu, sebelum membalas sesuatu yang menyinggung, tarik napas dan tanyakan: "apakah balasan saya ini akan mendekatkan orang pada kebaikan, atau justru menambah kebencian?" Jika jawabannya menambah kebencian, tahan. Dua, biasakan berbaik sangka: ketika ada kabar yang memancing emosi, tunda dulu penghakiman, cek dulu kebenarannya. Tiga, jadikan tetangga yang berbeda keyakinan sebagai ladang akhlak kita — sapa mereka, hormati ibadah mereka, hadir saat mereka susah. Itulah dakwah yang paling jujur.
Malam ini, sebelum kita pulang, mari kita ambil satu keputusan kecil: pilih satu orang yang selama ini kita diamkan karena berbeda, lalu sapa ia esok hari dengan tulus. Perubahan besar dalam masyarakat selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang tampak sepele seperti itu.
Saudara-saudara yang saya cintai, kekuatan iman kita tidak akan pernah diukur dari seberapa keras kita meneriaki yang berbeda, melainkan dari seberapa teduh kita menaunginya. Semoga Allah menganugerahi kita hati yang lapang dan lisan yang terjaga. Mari kita tutup dengan doa.
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَطَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ السَّبِّ وَالْبُهْتَانِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَقُوْلُوْنَ لِلنَّاسِ حُسْنًا. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا حُسْنَ الظَّنِّ بِعِبَادِكَ، وَقُوَّةَ الْإِيْمَانِ مَعَ لِيْنِ الْجَانِبِ، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا وَأَحْيَاءَنَا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
