Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsAqidah & IbadahKamis, 30 Juli 2026

Kisah Pendek — "Damai yang Lebih Mahal dari Takhta"

Kufah, penghujung Ramadhan tahun keempat puluh Hijriah. Udara subuh masih dingin ketika sebuah pedang beracun merobohkan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu di ambang masjid. Di pekan ketika orang ramai bertanya bagaimana seharusnya seorang pemimpin dan otoritas berbicara di ruang publik — dengan gaduh atau dengan sejuk — sebuah babak dari «Al-Bidayah wan-Nihayah» karya Imam Ibn Katsir rahimahullah layak dibuka kembali — kisah khilafah al-Hasan bin Ali dan sebuah keputusan besar yang lahir dari kesabaran, bukan dari keinginan menang.

Orang-orang mengerumuni Ali yang terluka. "Tunjuklah pengganti, wahai Amirul Mukminin," pinta mereka. Ali menggeleng lemah.

لَا، وَلَكِنْ أَدَعُكُمْ كَمَا تَرَكَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Tidak. Aku tinggalkan kalian sebagaimana Rasulullah ﷺ meninggalkan kalian," katanya. Lalu ia menambahkan satu kalimat yang menaruh seluruh urusan di tangan Allah:

فَإِنْ يُرِدِ اللَّهُ بِكُمْ خَيْرًا يَجْمَعْكُمْ عَلَى خَيْرِكُمْ

"Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kalian, Dia akan menghimpun kalian pada yang terbaik di antara kalian."

Beberapa hari kemudian Ali wafat. Putranya, al-Hasan, mengimami shalat jenazah ayahnya, sebab ia anak tertua. Dan ketika semua urusan selesai, orang pertama yang melangkah maju adalah Qais bin Sa'd bin 'Ubadah. Ia menjulurkan tangannya ke arah al-Hasan.

ابْسُطْ يَدَكَ أُبَايِعْكَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ

"Ulurkan tanganmu, aku membaiatmu di atas Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya." Al-Hasan terdiam sejenak, lalu mengulurkan tangan. Orang-orang pun berbaiat sesudahnya. Jadilah al-Hasan pemimpin umat.

Tetapi al-Hasan mewarisi negeri yang retak. Ia tahu betul tabiat penduduk Irak yang membaiatnya. Maka sejak awal ia mengikat syarat kepada mereka: kalian harus mendengar dan taat, berdamai dengan siapa yang kudamaikan, dan berperang melawan siapa yang kuperangi.

مُسَالِمُونَ مَنْ سَالَمْتُ، مُحَارِبُونَ مَنْ حَارَبْتُ

Mendengar syarat itu, hati penduduk Irak justru meragu. Tak lama, sebagian mereka bahkan sempat melukainya. Al-Hasan makin paham: pasukan yang berdiri di belakangnya bukan pasukan yang hatinya satu. Mereka bisa berteriak paling lantang hari ini, dan bubar paling cepat esok hari.

Di seberang sana berdiri Mu'awiyah bin Abi Sufyan dengan pasukannya. Maka dua kekuatan besar itu berhadap-hadapan. Seorang perawi, al-Hasan al-Bashri, menggambarkan pemandangan itu — sebagaimana dicatat Imam al-Bukhari dalam Kitab ash-Shulh: al-Hasan bin Ali menyongsong Mu'awiyah dengan barisan-barisan pasukan sebesar gunung.

Amr bin al-Ash memandang lautan pasukan itu dan berkata kepada Mu'awiyah, "Sungguh aku melihat barisan-barisan yang tidak akan mundur sebelum membunuh lawan-lawannya." Ia seolah berkata: ini akan jadi pertumpahan darah yang dahsyat, dan kita mungkin menang.

Tetapi Mu'awiyah — dan demi Allah, kata perawi, ia adalah yang lebih baik di antara dua lelaki itu dalam urusan ini — tidak silau oleh hitungan kemenangan. Ia justru melihat yang tak dilihat Amr. Ia bertanya dengan suara yang berat oleh tanggung jawab:

مَنْ لِي بِأُمُورِ النَّاسِ؟ مَنْ لِي بِضَيْعَتِهِمْ؟ مَنْ لِي بِنِسَائِهِمْ؟

"Kalau pasukan ini membunuh pasukan itu, dan pasukan itu membunuh pasukan ini — siapa yang akan mengurus urusan orang banyak sesudahnya? Siapa yang akan mengurus keluarga yang mereka tinggalkan? Siapa yang akan mengurus para janda mereka?" Lalu ia mengutus dua orang dari Quraisy untuk membawa pesan damai kepada al-Hasan.

Dan al-Hasan, yang sejak awal memang tak pernah berhasrat menumpahkan darah sesama Muslim, menyambut uluran itu. Ia menyerahkan urusan kekuasaan kepada Mu'awiyah demi mendamaikan dua kubu umat yang nyaris saling menghabisi. Takhta ia lepaskan; darah kaum Muslimin ia selamatkan.

Pelajaran

Yang paling mudah bagi al-Hasan waktu itu adalah maju berperang. Ia punya pasukan sebesar gunung, punya nama besar, punya alasan. Tetapi ia memilih yang paling mahal: melepaskan kekuasaan demi menjaga nyawa dan masa depan umat. Begitu pula Mu'awiyah — di puncak peluang menang, yang ia tanyakan bukan "bagaimana caranya menang", melainkan "siapa yang akan mengurus para janda dan anak-anak sesudah perang ini". Dua-duanya mengukur keputusan bukan dari siapa yang paling keras suaranya, melainkan dari mana yang paling menyelamatkan orang banyak. Di pekan ketika kita ramai bertanya bagaimana otoritas dan kita sendiri seharusnya bersikap di tengah perbedaan, kisah ini menaruh satu timbangan di depan kita: kadang kemenangan sejati justru berbentuk kesediaan mengalah demi meredakan, dan hati yang besar diukur dari berapa banyak darah yang ia cegah, bukan berapa banyak yang ia tumpahkan.

Sumber Asli

«Al-Bidayah wan-Nihayah» — خلافة الحسن بن علي بن أبي طالب رضي الله عنهما

[خِلَافَةُ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا] قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ عَلِيًّا، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمَّا ضَرَبَهُ ابْنُ مُلْجَمٍ قَالُوا لَهُ: اسْتَخْلِفْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ. فَقَالَ: لَا، وَلَكِنْ أَدَعُكُمْ كَمَا تَرَكَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … فَإِنْ يُرِدِ اللَّهُ بِكُمْ خَيْرًا يَجْمَعْكُمْ عَلَى خَيْرِكُمْ … فَكَانَ أَوَّلُ مَنْ تَقَدَّمَ إِلَى الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ قَيْسُ بْنُ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ، فَقَالَ لَهُ: ابْسُطْ يَدَكَ أُبَايِعْكَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ. فَسَكَتَ الْحَسَنُ، فَبَايَعَهُ ثُمَّ بَايَعَهُ النَّاسُ بَعْدَهُ.

«Al-Bidayah wan-Nihayah» — تسليم الحسن بن علي الأمر لمعاوية بن أبي سفيان

[تَسْلِيمُ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ الْأَمْرَ لِمُعَاوِيَةَ بْنِ أَبَى سُفْيَانَ] … طَفِقَ يُشْتَرَطُ عَلَيْهِمْ: إِنَّكُمْ سَامِعُونَ مُطِيعُونَ، مُسَالِمُونَ مَنْ سَالَمْتُ، مُحَارِبُونَ مَنْ حَارَبْتُ … وَقَالَ الْبُخَارِيُّ فِي كِتَابِ الصُّلْحِ: … سَمِعْتُ الْحَسَنَ يَقُولُ: اسْتَقْبَلَ وَاللَّهِ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبَى سُفْيَانَ بِكَتَائِبَ أَمْثَالِ الْجِبَالِ، فَقَالَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ: إِنِّي لَأَرَى كَتَائِبَ لَا تُوَلِّي حَتَّى تَقْتُلَ أَقْرَانَهَا. فَقَالَ مُعَاوِيَةُ، وَكَانَ وَاللَّهِ خَيْرَ الرَّجُلَيْنِ: أَيْ عَمْرُو، إِنْ قَتَلَ هَؤُلَاءِ هَؤُلَاءِ، وَهَؤُلَاءِ هَؤُلَاءِ، مَنْ لِي بِأُمُورِ النَّاسِ؟ مَنْ لِي بِضَيْعَتِهِمْ؟ مَنْ لِي بِنِسَائِهِمْ؟

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan