بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Para jamaah yang saya hormati. Pekan ini ada satu kabar yang menyentil saya, dan mungkin juga menyentil kita semua: sebagian anak muda kita mulai menjadikan mesin percakapan di layar sebagai tempat menumpahkan keluh, bahkan menjadikannya semacam penasihat pribadi. Bahkan muncul sebuah gugatan karena mesin semacam itu dinilai memberi nasihat yang menyesatkan. Malam ini saya ingin kita duduk sebentar dengan satu pertanyaan sederhana: kalau hati kita sedang berat, ke mana sebenarnya ia berlari?
Izinkan saya mulai dari satu ayat yang, kalau kita renungkan, sebenarnya sedang menjawab keresahan pekan ini. Allah berfirman:
وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat." (QS. An-Nur: 56)
Perhatikan, saudara-saudara, bagaimana Allah menutup ayat ini dengan kata turhamūn — semoga kamu dirahmati. Rahmat itu digantungkan pada tiga hal: shalat yang ditegakkan, zakat yang ditunaikan, dan ketaatan pada tuntunan Rasul ﷺ. Kata kuncinya bagi saya malam ini ada di ujung: taatlah kepada rasul. Artinya, jalan yang benar itu punya sumber. Ia turun dari Allah, lewat Nabi ﷺ, lalu diwariskan kepada para ulama yang hidup di tengah kita. Bimbingan sejati selalu punya sanad, punya asal-usul, punya pertanggungjawaban.
Nah, di sinilah letak keresahan pekan ini terasa penting untuk kita renungkan. Kabar yang sampai ke kita menyebutkan bahwa sebagian remaja lebih nyaman curhat ke mesin daripada ke manusia. Para ahli pun mengingatkan, mesin itu jangan sampai menggantikan pendamping manusia. Dan memang masuk akal kekhawatiran itu. Sebab mesin, secanggih apa pun, tidak menanggung apa-apa di hadapan Allah atas nasihat yang ia berikan. Ia tidak mengenal kita, tidak mendoakan kita, tidak menangis bersama kita, dan tidak akan ditanya di hari kiamat tentang ke mana ia mengarahkan hati kita.
Tetapi, saudara-saudara, mari kita jujur. Sebelum kita sibuk menyalahkan anak-anak muda yang lari ke layar, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri: kenapa mereka lari ke sana? Sering kali seseorang mencari sandaran di tempat yang salah bukan karena ia mencintai kesesatan, tetapi karena ia tidak menemukan pintu yang benar terbuka untuknya. Layar itu selalu menyala jam dua pagi. Layar itu tidak pernah memotong cerita kita di tengah. Layar itu tidak menghakimi, tidak menguliahi, tidak menyuruh cepat-cepat karena ngantuk. Pertanyaannya: apakah kita — sebagai orang tua, sebagai kakak, sebagai tetangga, sebagai guru ngaji — sudah sehangat itu?
Di sinilah saya kira dakwah kita pekan ini menemukan bentuknya yang paling sederhana. Bukan dengan mengharamkan mesinnya, tetapi dengan menghadirkan diri lebih dekat. Menjadi telinga dulu, sebelum menjadi lisan. Menyimak dulu, sebelum menasihati. Karena orang yang sedang berat itu, sembilan dari sepuluh, tidak sedang mencari fatwa — ia sedang mencari seseorang yang mau mendengar tanpa buru-buru menghakiminya.
Dan ada satu lapisan lagi yang lebih dalam, saudara-saudara. Kalau kita perhatikan, konten yang justru paling disukai orang pekan ini bukan konten yang gaduh, melainkan kajian-kajian yang menenangkan: tafsir ayat demi ayat, renungan tentang bersabar saat hidup menekan, pesan tentang menutup usia dengan kalimat yang baik. Artinya, di balik hiruk-pikuk layar, hati umat sebenarnya sedang lapar pada penjelasan yang otentik dan berakar. Kerinduan itu nyata dan besar. Yang sedang diperebutkan hanyalah: siapa yang akan mengisinya — guru yang hidup, atau layar yang tak berjiwa.
Maka pesan saya malam ini satu saja, dan mari kita bawa pulang: jangan biarkan hati kita — dan hati anak-anak kita — kehabisan tempat berlari yang benar. Ada dua pintu yang tidak pernah tertutup, dan keduanya jauh lebih layak daripada layar. Pintu pertama adalah sujud; adukan dulu kepada Allah sebelum kepada siapa pun, karena Dia tidak pernah tidur dan tidak pernah bosan mendengar. Pintu kedua adalah manusia yang hidup dan bertanggung jawab: seorang guru ngaji, satu majelis yang berakar, satu sahabat yang bisa dipercaya.
Jadi malam ini, sebelum tidur, saya mengajak kita melakukan dua hal kecil. Pertama, kirim satu pesan sederhana kepada satu orang yang kita tahu sedang berat — cukup tulis, "apa kabar, aku ada kalau kamu mau cerita." Kedua, sebelum besok pagi kita membuka layar untuk mengeluh, coba tegakkan dulu dua rakaat dan tumpahkan semuanya di sana. Insya Allah kita akan merasakan bedanya: yang satu menjawab dari kekosongan, yang satu lagi menjawab dari Yang Maha Mendengar.
Mari kita tutup dengan doa.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ قُلُوْبَنَا وَقُلُوْبَ أَبْنَائِنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، وَلَا تَجْعَلْ سَنَدَنَا إِلَّا إِلَيْكَ، وَاهْدِنَا لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
