Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatEkonomi & BisnisKamis, 30 Juli 2026

Khutbah Jumat — "Rezeki Menyempit, Hati Jangan Menyempit"

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلٰى نِعَمِهِ الَّتِيْ لَا تُحْصٰى.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ فِيْ قَوْلِهِ وَفِعْلِهِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Marilah kita membuka khutbah Jumat ini dengan menundukkan kepala pada satu kenyataan sederhana: sebagian besar dari kita datang ke masjid ini dengan beban yang tidak selalu terlihat — beban harga yang naik, cicilan yang membengkak, dan pertanyaan yang berulang setiap awal bulan, "apakah rezeki ini akan cukup?" Allah, dalam Kitab-Nya, tidak berpaling dari beban itu. Ia justru menempatkan urusan perut orang miskin sebagai ujian keimanan yang paling nyata.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

أَوْ إِطْعَٰمٌۭ فِى يَوْمٍۢ ذِى مَسْغَبَةٍۢ

"Atau memberi makan pada hari kelaparan." (QS. Al-Balad: 14)

Ayat ini adalah bagian dari rangkaian yang Allah sebut sebagai al-'aqabah — jalan yang mendaki, jalan yang sulit ditempuh. Dalam surah itu, Allah seakan bertanya kepada manusia: mengapa engkau tidak menempuh jalan yang mendaki itu? Lalu Allah menjelaskan apa jalan mendaki itu: memerdekakan yang terbelenggu, dan memberi makan pada hari ketika perut-perut sedang lapar. Perhatikanlah, hadirin — Allah tidak berkata "memberi makan ketika engkau lapang", tetapi "memberi makan pada hari kelaparan". Justru di hari sulit, ketika kita sendiri terhimpit, di situlah nilai memberi menjadi jalan yang mendaki, dan justru karena itu ia bernilai tinggi di sisi Allah.

Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita hubungkan ayat ini dengan kabar-kabar yang sampai kepada kita pekan ini. Dari berita yang ramai kita dengar, ada hitungan yang membuat banyak keluarga muda tertegun: bahwa dengan mengandalkan upah minimum, seseorang mungkin membutuhkan waktu berpuluh tahun — disebut lebih dari dua dekade — hanya untuk memiliki satu rumah yang layak huni. Angka itu, benar atau tidak persisnya, menangkap satu perasaan yang nyata: bahwa hidup layak terasa makin jauh dari jangkauan orang yang bekerja jujur. Di sela itu, harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak, dan ada pula kabar tentang pasar global yang terasa penuh spekulasi, seolah aturannya ditentukan di tempat yang tak terjangkau orang kecil.

Kabar kedua yang sampai kepada kita lebih menyentak. Publik dikejutkan oleh dugaan penyelewengan dana di sebuah lembaga publik hingga miliaran rupiah — dan yang membuat hati teriris, akibatnya justru menimpa makhluk-makhluk titipan yang tak berdaya, yang dibiarkan kelaparan karena dana yang seharusnya menghidupi mereka menguap entah ke mana. Kita juga mendengar keprihatinan tentang tata kelola program pangan untuk anak-anak yang berjalan di tengah bangunan sekolah yang rapuh. Niat menyalurkan gizi adalah baik, tetapi publik bertanya: apakah pengelolaannya benar-benar menjaga yang lemah, ataukah amanah itu bocor di tengah jalan?

Dan kabar ketiga, hadirin, adalah tentang jalan pintas yang menjerat. Kita mendengar betapa masifnya perputaran uang di judi daring, betapa gencarnya iklan pinjaman kilat yang menjanjikan pencairan tanpa syarat, bahkan sampai ada kisah pilu seorang ayah bersama anaknya yang mencuri, lalu uang hasil curian itu dipakai untuk berjudi. Ini adalah wajah ekonomi ilusi: janji kaya dalam semalam yang, alih-alih mengangkat, justru menenggelamkan orang lebih dalam.

Tiga kabar ini, hadirin, sebenarnya satu cerita: cerita tentang rezeki yang terasa menyempit, dan tentang bagaimana penyempitan itu menguji hati kita. Maka tema khutbah kita hari ini adalah: rezeki boleh menyempit, tetapi hati kita jangan ikut menyempit. Sebab ketika hati menyempit, dua penyakit lahir — kikir kepada yang lebih lemah, dan tamak sampai menempuh jalan yang haram. Islam datang untuk menjaga kita dari keduanya sekaligus.

Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita mulai dari penyakit pertama: mengerasnya hati kepada yang lemah ketika kita sendiri sedang susah. Ini adalah godaan yang sangat manusiawi. Ketika dapur sendiri terancam, wajar bila perhatian menyusut ke dalam. Tetapi justru di titik itulah Allah meletakkan tanda keimanan. Dalam Al-Qur'an, Allah menggambarkan orang yang mendustakan agama; dan di antara ciri mereka, Allah sebutkan:

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ

"Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin." (QS. Al-Maa'un: 3)

Renungkanlah betapa halusnya ayat ini, hadirin. Allah tidak berkata "orang yang tidak memberi makan orang miskin", tetapi "orang yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin". Artinya, dosa itu sudah dimulai bukan dari kegagalan memberi — sebab boleh jadi kita memang sedang tak punya — melainkan dari matinya kepedulian, dari lidah dan hati yang bahkan tak lagi tergerak untuk mendorong orang lain agar peduli. Inilah bahaya penyempitan hati: ia membuat kita berhenti menganjurkan kebaikan, seolah urusan orang lapar bukan lagi urusan kita.

Dan lihatlah, Allah menempatkan sikap ini sejajar dengan "mendustakan agama". Betapa seriusnya. Seolah Allah berkata: engkau boleh rajin ke masjid, tetapi jika hatimu telah menutup pintu bagi yang lapar, ada yang keliru dalam keberagamaanmu. Agama bukan sekadar ritual yang naik ke langit; ia juga adalah kepedulian yang turun ke perut orang miskin di sebelah rumah kita.

Maka di tengah kabar tentang harga yang naik dan rumah yang tak terjangkau, tugas kita bukan menutup diri, melainkan justru menajamkan mata pada tetangga yang lebih terjepit. Sebab Allah melengkapi gambaran itu dengan menyebut siapa yang paling berhak kita perhatikan:

أَوْ مِسْكِينًۭا ذَا مَتْرَبَةٍۢ

"Atau kepada orang miskin yang sangat fakir." (QS. Al-Balad: 16)

Dzā matrabah — orang yang miskin sampai seakan menempel dengan tanah, tak punya apa-apa untuk berteduh atau beralas. Inilah orang yang paling mudah luput dari pandangan kita ketika kita sibuk menghitung kekurangan sendiri. Padahal justru merekalah yang Allah tunjuk sebagai pintu jalan mendaki. Hadirin, kita mungkin merasa miskin karena tak sanggup membeli rumah; tetapi di dekat kita ada yang bahkan tak sanggup membeli makan hari ini. Jangan sampai kesulitan kita membuat kita buta pada kesulitan yang lebih dalam di sebelah.

Mari kita ambil teladan dari generasi terbaik. Para sahabat Rasulullah ﷺ, sebagaimana kita ketahui, hidup dalam kesempitan yang jauh lebih berat dari kita. Ada di antara mereka yang mengganjal perutnya dengan batu karena lapar. Namun justru di masa paling sempit itu, kaum Anshar membuka rumah dan kebun mereka untuk saudara-saudara Muhajirin. Mereka mendahulukan saudaranya di atas diri sendiri padahal mereka sendiri berkekurangan. Kesempitan tidak mereka jadikan alasan untuk menutup tangan; mereka jadikan justru ladang untuk memperbesar pahala. Inilah itsar — mengutamakan orang lain — yang lahir bukan dari kelapangan, melainkan dari hati yang tak ikut menyempit meski keadaan menyempit.

Hadirin yang dimuliakan Allah, sekarang mari kita masuk ke penyakit kedua: tamak yang mendorong menempuh jalan haram untuk keluar dari himpitan. Inilah godaan judi daring dan pinjaman ribawi yang pekan ini begitu nyata di sekeliling kita. Logikanya tampak masuk akal bagi orang yang panik: "kalau jalan halal terlalu lambat dan sempit, mengapa tidak coba jalan cepat ini?" Maka orang menaruh uang belanja di meja judi daring dengan harapan lipat ganda, atau menandatangani pinjaman berbunga mencekik dengan harapan menutup lubang — dan berakhir di lubang yang jauh lebih dalam.

Di sinilah kita perlu meluruskan satu keyakinan mendasar tentang rezeki. Banyak orang menempuh jalan haram karena diam-diam meyakini bahwa rezeki itu semata hasil kelihaian dan keberanian mengambil risiko, sehingga siapa cepat dan berani, dialah yang menang. Rasulullah ﷺ mengajarkan yang sebaliknya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik:

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: غَلَا السِّعْرُ بِالْمَدِيْنَةِ عَلٰى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ النَّاسُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! غَلَا السِّعْرُ فَسَعِّرْ لَنَا، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu: Ketika harga-harga melambung di Madinah pada masa Rasulullah ﷺ, orang-orang berkata, "Wahai Rasulullah, harga-harga telah melambung, maka tetapkanlah harga untuk kami." Rasulullah ﷺ menjawab, "Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, yang menahan, yang melapangkan, dan yang memberi rezeki. Dan sungguh aku berharap berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kalian menuntutku karena suatu kezaliman." (Bulugh al-Maram 927)

Hadirin, lihatlah kebijaksanaan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak menampik bahwa harga mahal itu nyata dan menyusahkan. Tetapi beliau menolak mengambil jalan yang zalim untuk mengatasinya, sekalipun jalan itu tampak menyelesaikan masalah dengan cepat. Beliau mengembalikan hati umat pada keyakinan: Allah-lah al-Musa'ir, Dzat yang menetapkan harga; Dia yang menahan dan melapangkan rezeki. Keyakinan ini bukan untuk membuat kita pasrah tanpa ikhtiar, melainkan untuk membebaskan kita dari kepanikan yang mendorong pada yang haram. Orang yang yakin rezekinya di tangan Allah tidak akan menggadaikan akhiratnya demi sedikit dunia yang belum tentu ia dapat.

Perhatikan pula penutup sabda beliau: harapan agar berjumpa Allah tanpa ada seorang pun yang menuntut karena kezaliman. Inilah timbangan sejati seorang mukmin dalam ekonomi — bukan seberapa banyak yang ia kumpulkan, melainkan apakah dalam mengumpulkannya ia menzalimi seseorang. Judi daring menzalimi diri sendiri dan keluarga yang uangnya habis. Pinjaman ribawi menzalimi peminjam dengan beban yang melipat. Penyelewengan amanah menzalimi orang banyak yang haknya dirampas. Semua itu adalah kezaliman yang kelak akan berdiri menuntut di hadapan Allah. Maka jalan pintas yang haram itu, hadirin, sesungguhnya bukan jalan keluar — ia adalah jalan masuk ke kezaliman yang akan kita pertanggungjawabkan.

Dan justru inilah kabar gembiranya: Islam tidak sekadar melarang, ia menawarkan jalan yang menenangkan. Ketika kita menutup pintu judi dan riba, Allah membuka pintu keberkahan pada yang halal, betapapun sedikitnya. Rezeki yang sedikit tapi berkah lebih menyelamatkan daripada tumpukan yang menjerat. Dan di dalam harta yang halal itu, Allah menaruh hak orang lain yang bila kita tunaikan justru membersihkan dan menumbuhkan harta kita sendiri. Allah berfirman tentang sifat orang-orang yang beruntung, bahwa dalam harta mereka ada hak yang tertentu:

لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ

"Bagi orang yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang menahan diri dari meminta)." (QS. Al-Ma'aarij: 25)

Hadirin, ayat ini mengajarkan sesuatu yang sangat membebaskan. Dalam pandangan Islam, sebagian dari rezeki yang kita terima sejak awal memang bukan sepenuhnya milik kita — ada hak yang melekat padanya untuk as-sā'il (yang meminta) dan al-mahrūm (yang tidak meminta karena menjaga harga dirinya, padahal ia kekurangan). Ketika kita berbagi, kita bukan sedang berbaik hati dengan milik kita; kita sedang mengembalikan titipan kepada pemilik haknya. Cara pandang ini mengubah segalanya: memberi tak lagi terasa mengurangi, karena yang kita berikan memang bukan bagian kita. Dan orang yang menunaikan hak ini, meski hartanya sedikit, hidupnya jauh lebih tenang daripada orang yang menimbun sambil menutup mata pada yang lapar.

Maka, hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan khutbah ini menurunkan semua ini ke langkah-langkah konkret yang bisa kita mulai pekan ini juga:

Pertama, mari kita tetapkan satu "hak orang lain" dari penghasilan kita, sekecil apa pun, dan keluarkan lebih dulu sebelum belanja apa pun. Bukan dari sisa, tetapi dari awal — sebagai pengakuan bahwa bagian itu memang bukan milik kita.

Kedua, mari kita perhatikan satu keluarga di sekitar kita yang kita tahu paling terjepit, lalu ringankan beban makan mereka pekan ini secara diam-diam, tanpa mempermalukan. Inilah jalan mendaki yang Allah puji.

Ketiga, bagi kita yang tergoda jalan pintas — judi daring atau pinjaman berbunga — mari kita putus satu simpul malam ini juga: hapus satu aplikasi taruhan, tutup satu pinjaman ribawi yang bisa kita lunasi, dan gantikan dengan ikhtiar halal betapapun lambatnya.

Keempat, mari kita jaga amanah sekecil apa pun yang ada di tangan kita — kas RT, dana pengajian, titipan tetangga — dengan catatan yang jelas dan terbuka, sebagai latihan agar amanah besar tidak mudah kita khianati.

Kelima, mari kita didik anak-anak kita bahwa kaya bukanlah ukuran kemuliaan, dan bahwa merasa cukup adalah kekayaan yang sesungguhnya — agar mereka tumbuh tidak mudah tergiur ilusi cuan instan.

Keenam, mari kita perbanyak doa memohon rezeki yang halal dan berkah, sebab hati yang tersambung kepada Allah adalah benteng pertama dari kepanikan yang mendorong pada yang haram.

Semoga Allah melapangkan rezeki kita dengan yang halal, menjaga hati kita agar tidak menyempit di masa sempit, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang menempuh jalan mendaki menuju ridha-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, pada khutbah kedua ini izinkan kita menggali lebih dalam satu sisi yang tadi kita sentuh: bahwa keyakinan "Allah-lah yang menetapkan rezeki" bukanlah alasan untuk berpangku tangan, melainkan sumber keberanian untuk tetap jujur. Orang yang paling mudah tergelincir pada yang haram justru adalah orang yang di lubuk hatinya tidak percaya rezekinya dijamin. Ia mengira jika ia tidak curang, ia akan tertinggal; jika ia tidak berjudi, ia akan miskin selamanya. Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa harga dan rezeki di tangan Allah, sehingga tugas kita bukan menang dengan segala cara, melainkan bergerak dengan cara yang tidak menzalimi siapa pun.

Renungkan pula, hadirin, bahwa kezaliman ekonomi selalu punya korban yang tak bersuara. Ketika amanah dana publik diselewengkan, yang paling menderita adalah pihak yang paling lemah dan paling bergantung — mereka yang tak punya akses untuk protes, bahkan makhluk yang tak bisa bicara sama sekali. Ketika seseorang terjerat judi daring, yang paling terluka bukan dirinya saja, tetapi anak dan istri yang uang belanjanya lenyap. Islam mengajarkan kita menimbang perbuatan bukan dari keuntungan yang tampak, melainkan dari luka yang ditinggalkannya pada yang lemah. Inilah mata batin yang harus kita rawat.

Dan akhirnya, hadirin, mari kita ingat bahwa kesempitan adalah ujian yang bergilir, bukan hukuman yang kekal. Nabi kita ﷺ dan para sahabatnya melewati masa lapar yang panjang, tetapi mereka tidak membiarkan lapar itu membusukkan iman dan akhlak mereka. Mereka tetap adil dalam berdagang, tetap terbuka tangannya, tetap tersambung hatinya kepada Allah. Maka bila pekan ini terasa berat, jadikanlah ia ladang, bukan alasan. Ladang untuk bersabar, untuk berbagi meski sedikit, dan untuk membuktikan bahwa iman kita tidak dibeli oleh lapang atau sempitnya keadaan.

Marilah kita tutup dengan memperbanyak doa, memohon kepada Allah kelapangan yang halal dan hati yang tenang.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

اَللّٰهُمَّ فَرِّجْ هَمَّ الْمَهْمُوْمِيْنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِيْنِيْنَ، وَنَجِّ إِخْوَانَنَا مِنْ كُلِّ جَشَعٍ وَرِبًا وَقِمَارٍ يُهْلِكُ الْأَمْوَالَ وَالْأَنْفُسَ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ عَوْنًا وَنَصِيْرًا، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ أُمَنَاءَ عَلٰى أَمْوَالِ الرَّعِيَّةِ وَأَرْزَاقِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ أَطْفَالَنَا وَأَيْتَامَنَا وَفُقَرَاءَنَا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا عَامِرَةً بِالْحَلَالِ وَالْقَنَاعَةِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan