Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsEkonomi & BisnisKamis, 30 Juli 2026

Kisah Pendek — "Naungan, Kurma, dan Air Sejuk"

Di pekan ketika banyak orang mengeluh harga dan rezeki yang terasa menyempit, ada satu kisah lama yang menawarkan cara pandang berbeda tentang apa itu "kaya". Imam at-Tirmidzi rahimahullah, dalam Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah — bab tentang cara hidup Rasulullah ﷺ, menghimpun riwayat-riwayat yang memperlihatkan betapa sederhananya penghidupan Nabi ﷺ. Salah satunya adalah sebuah siang yang bermula dari rasa lapar.

Matahari Madinah berdiri tinggi. Waktu itu bukan waktu orang keluar rumah. Panas menyengat, jalanan lengang, dan bayangan menyusut di kaki dinding.

خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ سَاعَةٍ لَا يَخْرُجُ فِيْهَا وَلَا يَلْقَاهُ فِيْهَا أَحَدٌ

"Rasulullah ﷺ keluar pada suatu waktu yang biasanya beliau tidak keluar padanya, dan tidak seorang pun menemuinya pada waktu itu."

Lalu datang Abu Bakar. Rasulullah ﷺ bertanya, "Apa yang membawamu keluar, wahai Abu Bakar?" Abu Bakar menjawab bahwa ia keluar hanya untuk menemui Rasulullah ﷺ, memandang wajah beliau, dan mengucapkan salam. Belum lama, datang pula Umar. "Apa yang membawamu, wahai Umar?" tanya beliau. Umar menjawab jujur, "Lapar, wahai Rasulullah." Beliau ﷺ tersenyum dan berkata, "Aku pun merasakan sebagiannya."

Maka ketiganya berjalan. Tujuan mereka rumah Abu Haitsam bin at-Tayyihan, seorang Anshar yang punya banyak pohon kurma dan kambing, tetapi tak punya pelayan. Mereka mengetuk, namun Abu Haitsam tidak ada. Istrinya keluar. "Ke mana suamimu?" Perempuan itu menjawab bahwa suaminya pergi mencarikan air tawar yang segar untuk mereka.

Tak lama, Abu Haitsam datang memikul qirbah — kantung air — yang penuh dan berat. Ia meletakkannya, lalu bergegas memeluk Nabi ﷺ, menebusnya dengan ayah dan ibunya. Tanpa banyak bicara, ia membawa ketiga tamunya ke kebunnya. Ia bentangkan tikar di bawah rindang pepohonan. Kemudian ia melangkah ke sebatang pohon, dan kembali membawa setandan kurma segar.

Rasulullah ﷺ memandang tandan itu, lalu berkata lembut, "Mengapa tidak kaupilihkan saja untuk kami yang matang?" Abu Haitsam menjawab dengan tulus bahwa ia sengaja membawa satu tandan utuh agar para tamunya sendiri yang memilih — mana yang sudah masak (ruthab) dan mana yang masih muda (busr). Maka mereka pun makan dari kurma itu, dan minum dari air sejuk yang tadi dipikul jauh-jauh.

Di bawah naungan pohon, dengan kurma manis di tangan dan air dingin membasahi tenggorokan yang tadi kering karena lapar, Rasulullah ﷺ mengucapkan kalimat yang kelak dikenang sepanjang zaman:

هٰذَا وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مِنَ النَّعِيْمِ الَّذِيْ تُسْأَلُوْنَا عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ظِلٌّ بَارِدٌ، وَرُطَبٌ طَيِّبٌ، وَمَاءٌ بَارِدٌ

"Ini, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, adalah bagian dari kenikmatan yang akan kalian ditanya tentangnya pada Hari Kiamat: naungan yang sejuk, kurma yang segar, dan air yang dingin."

Kemudian Abu Haitsam beranjak hendak menyembelihkan mereka seekor ternak. Rasulullah ﷺ berpesan agar ia tidak menyembelih kambing yang masih menyusui — yang darinya keluarga masih mengambil susu. Maka Abu Haitsam menyembelih seekor anak kambing, dan mereka pun makan bersama.

Sebelum pamit, Nabi ﷺ menanyakan apakah Abu Haitsam punya pelayan yang membantunya. Abu Haitsam menjawab tidak. Beliau ﷺ berpesan agar Abu Haitsam datang menemuinya bila kelak ada tawanan yang bisa dibebankan pekerjaan. Ketika hari itu tiba dan Abu Haitsam datang, Nabi ﷺ menyuruhnya memilih. Abu Haitsam justru berkata, "Pilihkan untukku, wahai Rasulullah." Beliau ﷺ menjawab dengan satu kaidah yang indah:

إِنَّ الْمُسْتَشَارَ مُؤْتَمَنٌ

"Sesungguhnya orang yang dimintai nasihat itu adalah pemegang amanah."

Beliau lalu memilihkan seorang yang beliau lihat mengerjakan shalat, dan berpesan agar Abu Haitsam memperlakukannya dengan baik. Ketika Abu Haitsam menyampaikan pesan itu kepada istrinya, sang istri berkata bahwa ia tak akan menunaikan hak pesan Nabi ﷺ atas orang itu kecuali dengan memerdekakannya. Maka Abu Haitsam pun berkata, "Dia merdeka."

Pelajaran

Yang membuat kisah ini menghunjam adalah satu kalimat Nabi ﷺ di bawah pohon itu: naungan yang sejuk, kurma yang segar, dan air yang dingin — tiga hal paling sederhana — beliau sebut sebagai kenikmatan yang akan ditanya pada Hari Kiamat. Padahal beliau mengucapkannya justru setelah lapar, bukan setelah kenyang berlimpah. Di sinilah letak pelajarannya: rasa cukup bukan lahir dari banyaknya yang kita miliki, melainkan dari matanya hati yang mampu melihat nikmat pada hal-hal kecil yang setiap hari kita anggap remeh. Di tengah pekan ketika kita mudah merasa kurang — harga naik, gaji tak cukup, keinginan tak terpenuhi — kisah ini mengajak kita berhenti sejenak: seteguk air bersih, sepiring nasi hangat, atap yang meneduhkan dari terik. Semua itu adalah nikmat yang kelak ditanyakan. Orang yang bisa mensyukurinya adalah orang yang paling kaya, sekalipun dompetnya sedang tipis.

Sumber Asli

Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 50- باب ما جاء في عيش رسول الله صلى الله عليه وسلم

٣٥٤- حدثنا محمد بن إسماعيل، حدثنا آدم بن أبي سلمة بن أبي إياس، حدثنا شيبان (أبو معاوية)، حدثنا عبد الملك بن عمير عن ابن عبد الرحمن عن أبي هريرة قال: خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم في ساعة لا يخرج فيها ولا يلقاه فيها أحد، فأتاه أبو بكر فقال: ما جاء بك يا أبا بكر؟ قال: خرجت ألقى رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنظر في وجهه، والتسليم عليه، فلم يلبث أن جاء عمر، فقال: ما جاء بك يا عمر؟ قال: الجوع يا رسول الله. قال صلى الله عليه وسلم: وأنا قد وجدت بعض ذلك. فانطلقوا إلى منزل أبي الهيثم بن التيّهان الأنصاريّ، وكان رجلا كثير النخيل والشاء ولم يكن له خدم، فلم يجدوه، فقالوا لامرأته: أين صاحبك؟ فقالت: انطلق يستعذب لنا الماء، فلم يلبثوا أن جاء أبو الهيثم بقربة يزعبها فوضعها، ثم جاء يلتزم النبي صلى الله عليه وسلم ويفديه بأبيه وأمّه، ثم انطلق بهم إلى حديقته فبسط لهم بساطا، ثم انطلق إلى نخلة فجاء بقنو فوضعه، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: أفلا تنقّيت لنا من رطبه؟ فقال: يا رسول الله إني أردت أن تختاروا أو تخيروا من رطبه وبسره، فأكلوا وشربوا من ذلك الماء. فقال صلى الله عليه وسلم: هذا والذي نفسي بيده من النعيم الذي تسألونا عنه يوم القيامة! ظل بارد، ورطب طيّب، وماء بارد. فانطلق أبو الهيثم ليصنع لهم طعاما فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لا تذبحنّا لنا ذات درّ، فذبح لهم عناقا أو جديا، فأتاهم بها، فأكلوا، فقال صلى الله عليه وسلم: هل لك خادم؟ قال: لا. قال: فإذا أتانا سبي فأتنا؛ فأتى صلى الله عليه وسلم برأسين معهما ثالث. فأتاه أبو الهيثم فقال النبي صلى الله عليه وسلم: اختر منهما. فقال: يا رسول الله اختر لي، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: إن المستشار مؤتمن، خذ هذا، فإنّي رأيته يصلي، واستوص به معروفا، فانطلق أبو الهيثم الى امرأته فأخبرها بقول رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت امرأته: ما أنت ببالغ حقّ ما قال فيه النبي صلى الله عليه وسلم إلّا بأن تعتقه، قال: فهو عتيق، فقال صلى الله عليه وسلم: إن الله لم يبعث نبيا ولا خليفة إلّا وله بطانتان: بطانة تأمره بالمعروف وتنهاه عن المنكر، وبطانة لا تألوه خبالا، ومن يوق بطانة السوء فقد وقي.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan