Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumEkonomi & BisnisKamis, 30 Juli 2026

Kultum — "Siapa Sebenarnya yang Menetapkan Harga?"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati — pekan ketika harga-harga terasa makin mencekik dan banyak dari kita menghitung ulang isi dompet sambil menghela napas — ada satu pertanyaan yang ingin saya ajak kita renungkan bersama malam ini. Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya bisa menenangkan hati yang sedang gelisah: siapa sebenarnya yang menetapkan rezeki dan harga dalam hidup kita?

Saya yakin, saudara-saudara sekalian, kita semua pernah merasakannya. Ada malam ketika kita membuka aplikasi belanja, melihat harga naik lagi, lalu diam-diam bertanya, "sampai kapan begini?" Ada pula yang pekan ini tergoda melihat iklan yang berseliweran: pinjaman cair dalam hitungan menit, atau taruhan daring yang katanya bisa melipatgandakan uang semalam. Godaan itu nyata, dan ia paling kuat justru ketika kita paling terjepit.

Maka izinkan saya membawa kita ke satu peristiwa di zaman Nabi ﷺ. Suatu ketika harga-harga di Madinah melambung, dan orang-orang datang meminta agar Rasulullah ﷺ menetapkan harga demi meringankan mereka. Diriwayatkan dari Anas bin Malik:

إِنَّ اللهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ

"Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, yang menahan, yang melapangkan, dan yang memberi rezeki." (Bulugh al-Maram 927)

Perhatikanlah, jamaah. Rasulullah ﷺ tidak menampik bahwa harga mahal itu menyusahkan. Beliau tidak berkata "sudah, sabar saja". Tetapi beliau mengembalikan hati umat pada satu keyakinan yang membebaskan: bahwa yang menggenggam kendali sesungguhnya adalah Allah — al-Qābidh yang menahan, al-Bāsith yang melapangkan. Ini bukan ajakan untuk berhenti berikhtiar. Ini adalah obat bagi kepanikan. Sebab tahukah kita, apa yang paling sering mendorong orang menempuh jalan haram? Bukan kejahatan hati, melainkan ketakutan — takut tidak cukup, takut tertinggal, takut besok tak ada yang dimakan. Dan ketakutan itu lahir dari lupa siapa yang sebenarnya memegang rezeki kita.

Coba kita ukur diri sendiri, saudara-saudara. Ketika kita yakin rezeki di tangan Allah, kita tidak akan rela menggadaikan ketenangan hidup demi taruhan yang belum tentu menang. Kita tidak akan menandatangani utang berbunga mencekik hanya karena panik sesaat. Orang yang hatinya tersambung kepada Allah punya rem yang tidak dimiliki orang yang panik. Ia bisa berkata, "aku akan cari yang halal, meski lebih lambat, karena aku percaya Yang Melapangkan rezeki tidak pernah tidur."

Tetapi ada satu sisi lain yang ingin saya bagikan, dan ini yang sering terlewat. Keyakinan bahwa rezeki dari Allah bukan cuma soal menerima — ia juga soal menyalurkan. Allah berfirman bahwa dalam harta orang beriman itu ada hak yang sudah tertentu:

لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ

"Bagi orang yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa yang menahan diri dari meminta." (QS. Al-Ma'aarij: 25)

Jamaah, ayat ini mengajarkan hal yang indah. Ternyata sebagian dari rezeki yang masuk ke tangan kita sejak awal memang bukan sepenuhnya milik kita. Ada titipan di dalamnya untuk orang yang meminta, dan — ini yang menyentuh — untuk al-mahrūm, orang yang butuh tetapi terlalu menjaga harga diri untuk meminta. Mereka ada di sekitar kita: tetangga yang diam-diam mengurangi jatah makan, teman yang menolak dibantu karena malu. Ketika kita berbagi, sebenarnya kita bukan sedang murah hati dengan milik kita; kita sedang mengantarkan titipan kepada yang berhak. Betapa ringannya memberi jika kita memahami ini.

Dan lihatlah bagaimana dua ajaran ini saling melengkapi. Yang pertama menyembuhkan ketakutan kita: rezeki di tangan Allah, maka jangan panik sampai menempuh yang haram. Yang kedua menyembuhkan kekikiran kita: dalam rezeki itu ada hak orang lain, maka jangan tutup tangan meski di masa sempit. Orang yang memahami keduanya akan hidup dengan tenang di tengah badai harga: tidak nekat, tidak pula pelit.

Maka, saudara-saudara sekalian, sebelum kita pulang malam ini, saya mengajak kita mengambil dua langkah kecil dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, bila ada di antara kita yang pekan ini menyimpan aplikasi judi daring atau tergoda pinjaman ribawi, malam ini juga hapus satu, dan gantikan niatnya dengan doa memohon rezeki halal. Kedua, sisihkan sedikit — sekecil apa pun — dari yang kita punya untuk satu orang di sekitar kita yang kita tahu sedang kekurangan, dan berikan besok pagi tanpa membuatnya malu. Percayalah, dua langkah kecil ini akan membuat hati kita jauh lebih lapang daripada tumpukan uang yang didapat dengan menahan takut dan menutup tangan.

Semoga Allah menenangkan hati kita yang gelisah, melapangkan rezeki kita dengan yang halal, dan menjadikan kita hamba yang percaya bahwa Dia-lah sebaik-baik pemberi rezeki.

اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَاجْعَلْ قُلُوْبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِذِكْرِكَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan