Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumHukum & KeadilanKamis, 30 Juli 2026

Kultum — "Akar Halus Sebuah Kecurangan"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, kita dibanjiri kabar tentang orang-orang besar yang diduga mencurangi amanah besar. Dan biasanya reaksi kita cepat: kita menuding ke atas, ke sana, ke mereka. Malam ini saya ingin mengajak kita melakukan sesuatu yang lebih sulit — menoleh ke dalam. Sebab tidak ada orang yang bangun pagi lalu tiba-tiba menggelapkan miliaran rupiah. Semua kecurangan besar tumbuh dari akar yang halus, dan akar itu ada di dalam hati, termasuk hati kita.

Mari kita mulai dari satu pertanyaan sederhana: apa sebenarnya yang membuat seseorang mau mengambil hak yang bukan miliknya? Jawabannya hampir selalu sama — cinta yang berlebihan pada tiga hal: harta, kedudukan, dan kenyamanan. Dan justru di sinilah kita menemukan sebuah nasihat tua yang menusuk. Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma sebuah petuah yang dihimpun dalam kitab Nashaihul 'Ibad:

حَقٌّ عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَخْتَارَ سَبْعًا عَلٰى سَبْعٍ: الْفَقْرَ عَلَى الْغِنٰى، وَالذُّلَّ عَلَى الْعِزِّ، وَالتَّوَاضُعَ عَلَى الْكِبْرِ، وَالْجُوْعَ عَلَى الشِّبَعِ، وَالْغَمَّ عَلَى السُّرُوْرِ، وَالدُّوْنَ عَلَى الْمُرْتَفِعِ، وَالْمَوْتَ عَلَى الْحَيَاةِ.

"Sudah semestinya orang berakal memilih tujuh atas tujuh: kefakiran atas kekayaan, kerendahan atas kemuliaan (dunia), tawadhu atas kesombongan, lapar atas kenyang, sedih (akan dosa) atas riang, yang rendah atas yang tinggi (kedudukan), dan mati atas hidup." (Nashaihul Ibad — Bab as-Suba'i)

Saudara-saudara sekalian, ini bukan ajaran untuk membenci kehidupan atau menolak rezeki halal. Ibnu 'Abbas sedang memetakan arah condongnya hati orang bijak. Perhatikan: setiap pasangan itu meletakkan hal yang biasanya kita kejar mati-matian — kaya, mulia, kenyang, tinggi — di sisi yang justru tidak diprioritaskan. Kenapa? Karena begitu hati terlalu mencintai keempat hal itu, ia akan mencari jalan apa pun untuk mendapatkannya, termasuk jalan yang gelap. Orang yang tergila-gila pada kedudukan akan tega menyingkirkan pesaing. Orang yang tergila-gila pada harta akan tega mengurangi hak orang. Akar korupsi bukan pertama-tama pada kesempatan, melainkan pada hati yang sudah lebih dulu terbakar keinginan.

Maka ketika pekan ini kita mendengar kabar dugaan penyalahgunaan kuasa dan penyitaan aset yang menumpuk, jangan hanya bertanya "kenapa mereka setega itu?" Tanyakan juga, "seandainya saya diberi kuasa dan kesempatan yang sama, apakah hati saya cukup bersih untuk menolak?" Pertanyaan ini lebih berguna daripada seribu tudingan, karena ia mengubah kita dari penonton menjadi orang yang berbenah.

Dan di sinilah keadilan Allah memberi kita ketenangan. Allah berfirman:

أَفَنَجْعَلُ ٱلْمُسْلِمِينَ كَٱلْمُجْرِمِينَ

"Maka apakah patut Kami memperlakukan orang-orang yang berserah diri itu sama seperti orang-orang yang berdosa?" (QS. Al-Qalam: 35)

Ayat ini adalah pelukan bagi orang jujur yang lelah. Mungkin di kantor, kita satu-satunya yang menolak menggelembungkan nota, dan kita terlihat bodoh. Mungkin di lingkungan, kita satu-satunya yang mengembalikan kembalian berlebih, dan kita terlihat naif. Allah menjamin: yang lurus dan yang merusak tidak akan pernah berakhir sama di sisi-Nya. Timbangan dunia boleh timpang, tetapi timbangan langit tidak pernah keliru sedikit pun.

Lalu apa yang bisa kita lakukan begitu pulang dari sini? Saya tawarkan tiga hal yang ringan tapi nyata. Pertama, malam ini periksa satu keinginan yang paling membakar hati kita — entah pada harta, jabatan, atau pengakuan — lalu ucapkan pelan, "Ya Allah, cukupkan aku dengan yang halal." Kedua, dalam dua puluh empat jam ke depan, tunaikan satu hak orang lain yang selama ini kita tunda — kembalikan pinjaman, bayar utang kecil, minta maaf atas giliran yang kita serobot. Ketiga, tahan satu jari kita dari ikut menyebarkan tuduhan yang belum jelas buktinya; cukup doakan agar yang bersalah diberi hidayah dan yang terzalimi diberi kekuatan.

Sebab, saudaraku, memperbaiki negeri ini tidak menunggu kita jadi pejabat. Ia menunggu hati kita jujur pada hal-hal kecil hari ini. Orang yang menjaga akar halus di dalam dadanya, tidak akan mudah tumbang oleh kesempatan besar di luar sana.

Marilah kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا، وَطَهِّرْ أَمْوَالَنَا، وَاجْعَلْ رِزْقَنَا حَلَالًا طَيِّبًا، وَجَنِّبْنَا الْكَسْبَ الْحَرَامَ وَظُلْمَ النَّاسِ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَادِلِيْنَ فِيْ بُيُوْتِنَا وَأَعْمَالِنَا، وَاحْفَظْ ضُعَفَاءَنَا وَأَطْفَالَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan