Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumInspirasi & Kisah PribadiKamis, 30 Juli 2026

Kultum — "Yang Menunduk Justru Ditinggikan"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَفَعَ الْمُتَوَاضِعِيْنَ بِتَوَاضُعِهِمْ، وَوَضَعَ الْمُتَكَبِّرِيْنَ بِكِبْرِهِمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ أَعْظَمُ الْخَلْقِ خُلُقًا وَأَشَدُّهُمْ تَوَاضُعًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, kita menyaksikan sebuah tontonan yang berulang: orang kecil ditekan oleh yang merasa besar, dan publik ramai-ramai membelanya. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini, dan pesan itu sederhana: dalam timbangan Allah, yang menunduk justru ditinggikan, dan yang meninggi justru direndahkan.

Coba kita renungkan sebuah ayat yang turun berkaitan dengan satu adegan menarik dalam hidup Nabi ﷺ. Allah berfirman:

وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ

Artinya: "Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran)," (QS. Abasa: 8)

Saudara-saudara, ayat ini turun ketika seorang lelaki tunanetra yang miskin datang bersegera kepada Nabi ﷺ untuk belajar, sementara beliau saat itu sedang sibuk berbicara dengan para pembesar Quraisy. Allah mengingatkan Nabi-Nya — dan lewat beliau, mengingatkan kita semua — bahwa orang yang datang dengan tulus dan bersungguh-sungguh itulah yang paling berhak atas perhatian, meski ia tidak punya harta, tidak punya jabatan, tidak punya pengaruh. Betapa halusnya didikan Allah: jangan sampai kita silau pada yang berpangkat sampai lupa pada yang tulus.

Mari kita ukur diri sendiri. Kita pernah, mungkin, lebih ramah kepada tamu yang "penting" daripada kepada tukang paket. Kita pernah lebih cepat membalas pesan atasan daripada pesan orang tua. Kita pernah memilih duduk dekat orang yang bisa menguntungkan kita, dan menjauh dari yang tampak biasa. Itu semua manusiawi, tetapi ayat tadi mengajak kita menata ulang: siapa yang sebenarnya paling layak kita muliakan?

Pekan ini kita mendengar kabar seorang petugas keamanan kecil yang berhadapan dengan pengemudi Alphard, lalu justru ia yang tertekan. Kita juga mendengar kabar dari jauh, seorang perempuan dihina dan dihajar karena dianggap "berbeda". Dua kabar ini membuat kita marah, dan kemarahan itu sehat — ia menandakan hati kita masih mengenali ketidakadilan. Tetapi jangan berhenti pada marah. Kita perlu bertanya: apakah dalam skala kecil, di rumah dan di tempat kerja kita, kita juga sedang menjadi "orang besar" yang menekan "orang kecil"?

Di sinilah saya teringat sebuah doa indah yang Nabi ﷺ ajarkan. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita berdoa:

اللهم ألهمني رشدي، وأعذني من شر نفسي

Artinya: "Ya Allah, ilhamkanlah kepadaku petunjuk (kelurusan) bagi urusanku, dan lindungilah aku dari keburukan diriku sendiri." (Riyad as-Salihin 1487)

Perhatikan, saudara-saudara. Nabi ﷺ tidak mengajarkan kita berdoa "lindungilah aku dari orang jahat," melainkan "lindungilah aku dari keburukan diriku sendiri." Karena kesombongan itu tidak datang dari luar; ia tumbuh diam-diam di dalam. Orang yang paling berbahaya bagi kita, sering kali, adalah ego kita sendiri yang membisikkan bahwa kita lebih baik, lebih benar, lebih berhak. Doa ini adalah rem. Ia menjaga kita tetap kecil di hadapan Allah, sehingga kita bisa lembut di hadapan sesama.

Dan lihatlah teladan tertinggi kita. Rasulullah ﷺ, manusia paling mulia, menunggang keledai, menjenguk yang sakit, memenuhi undangan orang paling sederhana, bahkan tidak mau para sahabat berdiri menyambutnya. Semakin Allah tinggikan derajat beliau, semakin beliau menundukkan diri. Itulah rumus yang terbalik dari logika dunia: bukan menekan yang membuat kita besar, melainkan menunduk.

Maka, saudara-saudara, sebelum kita pulang malam ini, izinkan saya menitipkan tiga hal yang bisa kita kerjakan dalam waktu dekat. Pertama, pilih satu orang yang jasanya sering kita anggap biasa — satpam, petugas kebersihan, penjual sayur — dan besok sapa ia dengan namanya, ucapkan terima kasih dengan tulus. Kedua, jadikan doa tadi wirid harian kita, cukup dua kalimat, kita baca setiap pagi. Ketiga, malam ini, sebelum tidur, tanyakan pada diri: adakah hari ini aku merendahkan seseorang karena merasa lebih? Kalau ada, mohon ampun, dan perbaiki besok.

Mari kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ أَلْهِمْنَا رُشْدَنَا وَأَعِذْنَا مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ، وَاجْعَلْنَا مُتَوَاضِعِيْنَ رُحَمَاءَ بِالضُّعَفَاءِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِيْ أَقْوَالِنَا وَأَعْمَالِنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan