KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الصِّحَّةَ وَالْعَافِيَةَ أَمَانَةً فِيْ أَعْنَاقِنَا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah kita buka khutbah ini dengan satu adegan yang pasti akan dilewati oleh setiap kita — tanpa terkecuali. Al-Qur'an melukiskan detik-detik ketika ajal menjemput, saat orang-orang di sekeliling panik mencari penyembuh sementara nyawa sudah sampai di kerongkongan. Allah berfirman:
وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍۢ
Artinya: "Dan dikatakan (kepadanya): 'Siapakah yang dapat menyembuhkan?'" (QS. Al-Qiyaama: 27). Sebuah pertanyaan yang, di detik itu, tidak lagi punya jawaban dari manusia mana pun. Dokter terbaik berhenti. Obat termahal tidak berguna. Yang tersisa hanya amal dan hubungan kita dengan Allah.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ayat ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan kita akan satu kebenaran yang sering kita lupakan di tengah kesibukan: tubuh yang sehat, akal yang jernih, dan jiwa yang tenang ini bukanlah milik kita. Ia titipan. Ia pinjaman yang suatu hari akan ditagih, dan kita akan ditanya bagaimana kita menggunakannya. Sehat yang kita nikmati pagi ini adalah nikmat yang, kata sebagian ulama, paling sering dilupakan justru karena ia terasa biasa.
Para ulama merumuskan bahwa seluruh syariat ini turun untuk menjaga lima hal pokok pada diri manusia: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dan menjaga jiwa — hifz an-nafs — menempati kedudukan yang begitu tinggi, karena tanpa jiwa yang terjaga tidak ada agama yang bisa ditegakkan, tidak ada ilmu yang bisa dituntut, tidak ada keluarga yang bisa dibangun. Maka merawat kesehatan, menolong yang sakit, melindungi yang lemah, dan tidak membiarkan satu nyawa pun tersia-sia bukanlah urusan sampingan dalam agama kita; ia adalah salah satu maksud tertinggi mengapa syariat ini diturunkan. Ketika kita membaca kabar tentang nyawa yang terancam pekan ini, sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan inti dari tujuan beragama itu sendiri.
Pekan ini, kabar-kabar yang sampai kepada kita menegaskan betapa rapuhnya kehidupan yang sering kita anggap kokoh. Dari berita yang ramai diperbincangkan, kita dengar kabar duka dari dunia medis, tentang nyawa yang terenggut secara mendadak. Kita juga mendengar kabar yang lebih memilukan: seorang oknum tenaga kesehatan diduga terlibat dalam perdagangan bayi di sebuah rumah sakit, dan seorang dokter di ruang gawat darurat diduga menyalahgunakan narkoba di lingkungan tempatnya bertugas. Kabar-kabar ini menyayat karena menyentuh titik yang paling kita percayai: tempat kita menitipkan nyawa kita dan nyawa orang-orang yang kita cintai.
Namun mari kita berhati-hati, jamaah. Tugas kita di mimbar ini bukan menghakimi satu profesi atau menggeneralisasi keburukan. Mayoritas tenaga kesehatan kita adalah orang-orang yang berjuang di garis depan, sering dengan lelah yang tidak terlihat. Yang ingin kita ambil dari kabar-kabar ini adalah pelajaran tentang amanah: bahwa siapa pun yang memegang nyawa, kesehatan, atau keselamatan orang lain sedang memikul beban yang sangat berat di hadapan Allah. Dan amanah itu tidak bisa dijaga hanya dengan ijazah atau keterampilan — ia dijaga oleh iman, oleh kesadaran bahwa ada Mata yang tidak pernah tidur mengawasi.
Di sinilah, hadirin, letak pelajaran terdalam bagi kita semua — bukan hanya bagi mereka yang berjubah putih di rumah sakit. Setiap kita, tanpa terkecuali, sedang memegang amanah atas nyawa dan kesejahteraan orang lain di posisi masing-masing. Orang tua memegang amanah atas anak-anaknya. Guru memegang amanah atas muridnya. Pengurus masjid memegang amanah atas jamaahnya. Bahkan seorang tetangga memegang amanah atas keselamatan tetangga di sebelah rumahnya. Ketika satu kepercayaan dikhianati, yang goyah bukan sekadar satu kasus di berita, melainkan seluruh jalinan halus yang membuat masyarakat kita bisa hidup dengan tenang dan saling percaya. Karena itu, jamaah, memperbaiki keadaan tidak pernah dimulai dari menuding orang lain di kejauhan; ia dimulai dari pertanyaan yang kita ajukan kepada diri sendiri pagi ini: amanah apa yang sedang aku pikul, dan sudahkah aku menjaganya dengan rasa takut kepada Allah, ataukah aku menyepelekannya karena merasa tidak ada yang melihat?
Hadirin yang berbahagia, ketika kita bicara tentang kesehatan dalam Islam, kita menemukan bahwa Rasulullah ﷺ menempatkan orang sakit pada kedudukan yang begitu tinggi — sedemikian tinggi hingga menjenguknya disamakan dengan kedekatan kepada Allah sendiri. Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُوْلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ...
Artinya, sebagaimana diriwayatkan: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman pada hari Kiamat: 'Wahai anak Adam, Aku sakit tetapi engkau tidak menjenguk-Ku.' Hamba itu berkata: 'Wahai Rabb, bagaimana aku menjenguk-Mu sedang Engkau Rabb semesta alam?' Allah berfirman: 'Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku si fulan sakit, tetapi engkau tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, seandainya engkau menjenguknya niscaya engkau dapati Aku di sisinya?'" (hadits qudsi, riwayat Sahih Muslim 2569).
Renungkanlah betapa dahsyatnya penghormatan ini, jamaah. Allah — Rabb semesta alam yang tidak butuh apa pun — menisbatkan sakitnya hamba kepada diri-Nya, seolah berkata: kalau kalian abaikan orang sakit yang lemah itu, kalian telah mengabaikan sesuatu yang sangat dekat dengan-Ku. Ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Islam, orang sakit bukanlah beban yang menyusahkan, melainkan pintu menuju rahmat Allah. Menjenguk mereka, mendoakan mereka, meringankan penderitaan mereka — itu semua ibadah yang tinggi nilainya.
Bayangkan seandainya penghormatan setinggi ini benar-benar hidup di dada setiap orang yang bekerja merawat nyawa. Seseorang yang meyakini bahwa di sisi pasien yang lemah itu ada kedekatan dengan Allah tidak akan sanggup memperdagangkan bayi yang baru lahir, tidak akan sanggup merusak akalnya dengan barang haram di tempat ia dipercaya menjaga keselamatan orang. Kabar-kabar pahit pekan ini justru menegaskan pesan hadits tadi dari sisi sebaliknya: ketika kesadaran akan kehadiran Allah di sisi yang lemah itu padam, yang tersisa hanyalah jabatan tanpa jiwa. Maka memperbaiki layanan kesehatan kita bukan sekadar soal aturan dan pengawasan — meski itu penting — melainkan soal menghidupkan kembali rasa takut dan cinta kepada Allah di hati mereka yang memegang nyawa manusia.
Maka lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ mempraktikkannya. Diriwayatkan bahwa apabila ada seseorang yang sakit di antara keluarga beliau, Rasulullah ﷺ mengusapnya dengan tangan kanan beliau dan memohon kesembuhan kepada Allah — mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya Penyembuh, dan tidak ada kesembuhan kecuali dari-Nya (Sahih Muslim 2191a). Perhatikan, jamaah: Nabi ﷺ tidak menolak pengobatan; beliau juga tidak menuhankan pengobatan. Beliau menggabungkan ikhtiar dengan tawakal. Tangan mengusap, mulut berdoa, hati bersandar kepada Allah. Inilah keseimbangan yang hilang di zaman kita — sebagian orang panik berlebihan sampai lupa Allah, sebagian lain pasrah keliru sampai lupa berikhtiar.
Keseimbangan itu juga tampak dalam sikap Nabi ﷺ terhadap penyakit menular. Dalam sebuah riwayat, beliau menegaskan bahwa tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya tanpa kehendak Allah, namun dalam napas yang sama beliau memerintahkan agar yang sakit tidak dicampurkan dengan yang sehat (Sahih Muslim 2221b). Inilah kearifan Islam yang lengkap: secara aqidah, kita yakin segala sesuatu terjadi dengan izin Allah — tidak ada makhluk yang punya kuasa mandiri untuk mencelakakan; namun secara amal, kita tetap wajib menjaga jarak, menjaga kebersihan, dan tidak menyebarkan penyakit kepada orang lain. Empat belas abad yang lalu, jauh sebelum istilah karantina dikenal, Nabi ﷺ sudah mengajarkan prinsipnya.
Dari sini kita belajar bahwa menjaga kesehatan bukan semata urusan pribadi masing-masing. Dalam pandangan syariat, memastikan adanya layanan yang jujur, lingkungan yang bersih, dan pertolongan bagi yang sakit adalah fardhu kifayah — kewajiban bersama yang, bila ditelantarkan, seluruh masyarakat ikut menanggung dosanya. Kita ini khalifah di muka bumi, dan tubuh serta nyawa saudara-saudara kita adalah bagian dari amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Maka seorang mukmin tidak cukup berkata: yang penting keluargaku sehat. Ia terpanggil untuk peduli apakah tetangganya punya jalan untuk berobat, apakah posyandu di kampungnya berjalan, apakah lansia yang tinggal sendirian di ujung gang masih ada yang menengok. Kepedulian yang turun ke jalanan seperti inilah wujud nyata dari iman yang kita akui di lisan.
Jamaah yang dimuliakan Allah, benang kedua yang mengikat pekan ini adalah nasib anak-anak. Kita mendengar kabar tentang belasan anak yang menjadi korban kekerasan dari satu terduga pelaku, dan tentang terduga pelaku lain yang diamankan di daerah berbeda. Hati siapa yang tidak teriris? Namun di balik luka itu, ada juga kabar yang melegakan: para petugas perlindungan perempuan dan anak bersama kepolisian bergerak mendampingi pemulihan trauma korban, dan seruan publik menguat agar perlindungan anak diperkuat. Anak-anak adalah amanah yang paling tidak berdaya. Allah mengisahkan dalam Al-Qur'an bagaimana Dia menjaga bayi Musa 'alaihissalam:
۞ وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ ٱلْمَرَاضِعَ مِن قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰٓ أَهْلِ بَيْتٍۢ يَكْفُلُونَهُۥ لَكُمْ وَهُمْ لَهُۥ نَٰصِحُونَ
Artinya: "Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: 'Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?'" (QS. Al-Qasas: 12). Perhatikan pilihan kata Allah: "ahlul bait yang akan memelihara dan berlaku baik." Anak yang lemah harus diserahkan ke tangan yang benar-benar tulus merawat, bukan sekadar tangan yang tersedia. Ayat ini mengajarkan kita bahwa menjaga anak berarti memastikan siapa yang kita percayakan untuk mengasuhnya — sebuah pelajaran yang sangat relevan ketika sebagian kekerasan justru datang dari lingkaran yang semestinya aman. Menjaga keturunan — hifz an-nasl — adalah salah satu maksud syariat yang paling ditekankan, dan ia tidak berhenti pada melahirkan anak, melainkan berlanjut pada memastikan mereka tumbuh dalam pengasuhan yang aman, penuh kasih, dan bersih dari tangan-tangan yang menzalimi. Perlindungan yang paling kokoh bagi anak bukanlah pagar aturan yang jauh, melainkan mata orang tua yang waspada, telinga yang mau mendengar cerita kecil mereka, dan lingkungan yang tidak menutup mata ketika ada yang ganjil. Kewaspadaan yang lahir dari kasih sayang, bukan dari kecurigaan yang menakut-nakuti anak — itulah yang sesungguhnya diajarkan ayat ini kepada kita.
Ma'asyiral muslimin, benang ketiga barangkali yang paling halus namun paling meluas: kesehatan jiwa. Pekan ini banyak diperbincangkan kecenderungan sebagian remaja untuk mencurahkan isi hati kepada mesin kecerdasan buatan, sampai-sampai para dokter anak mengingatkan agar mesin jangan sampai menggantikan pendamping manusia. Ada pula kabar seorang tokoh agama yang menggugat penyedia AI karena nasihat yang menyesatkan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Ada kelelahan batin yang meluas, ada kesepian yang mencari tempat bercerita. Dan ketika manusia tidak menemukan telinga yang mau mendengar, ia berpaling ke apa pun yang tersedia — bahkan kepada mesin yang tidak punya hati.
Islam menawarkan obat untuk kegelisahan ini. Para ulama salaf mengajarkan bahwa ketenangan sejati lahir bukan dari menumpuk dunia, melainkan dari kaya hati. Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma menasihatkan agar orang berakal memilih tujuh perkara atas tujuh lawannya:
حَقٌّ عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَخْتَارَ سَبْعًا عَلَى سَبْعٍ: الْفَقْرَ عَلَى الْغِنَى، وَالذُّلَّ عَلَى الْعِزِّ، وَالتَّوَاضُعَ عَلَى الْكِبْرِ، وَالْجُوعَ عَلَى الشِّبَعِ، وَالْغَمَّ عَلَى السُّرُوْرِ، وَالدُّوْنَ عَلَى الْمُرْتَفِعِ، وَالْمَوْتَ عَلَى الْحَيَاةِ.
Artinya: "Hak atas orang yang berakal adalah memilih tujuh atas tujuh: kefakiran atas kekayaan, kerendahan atas kemuliaan (semu), tawadhu atas kesombongan, lapar atas kenyang, sedih (yang menyadarkan) atas gembira (yang melalaikan), yang rendah atas yang tinggi (kedudukan dunia), dan (mengingat) mati atas (tenggelam dalam) hidup" (Nashaihul Ibad — باب السباعي). Nasihat ini bukan mengajak kita membenci dunia atau mencari kemiskinan, melainkan membebaskan hati dari perbudakan pada ukuran-ukuran dunia yang justru menjadi sumber kecemasan. Betapa banyak kegelisahan jiwa hari ini lahir dari perbandingan tanpa henti — merasa kurang kaya, kurang sukses, kurang bahagia dibanding yang tampil di layar. Padahal ketenangan itu ada di dalam, dalam hati yang bersandar kepada Allah.
Perhatikanlah, jamaah, betapa halus jebakan zaman kita. Kita hidup dikelilingi layar yang seakan mendekatkan, tetapi hati justru semakin sepi. Kita punya ratusan nama di daftar kontak, tetapi sedikit sekali yang benar-benar mau duduk mendengar. Maka ketika ada saudara kita — terutama yang muda — memilih menumpahkan lukanya kepada mesin yang tak berhati, itu bukan sekadar soal kecanduan gawai; itu adalah jeritan sunyi yang berkata: adakah yang sudi mendengarku? Islam menjawab jeritan itu dari dua arah sekaligus. Dari langit, ia mengingatkan bahwa ada Dzat yang tidak pernah tidur dan tidak pernah bosan mendengar keluh hamba-Nya. Dari bumi, ia memerintahkan kita untuk menjadi telinga bagi sesama, menyambung silaturahmi, dan menghidupkan majelis-majelis yang menenangkan hati.
Maka, jamaah yang dimuliakan Allah, dari mimbar ini kita bawa pulang beberapa langkah nyata untuk pekan ini. Pertama, jenguklah satu orang sakit di sekitar kita — tetangga, kerabat, atau jamaah masjid — dan doakan kesembuhannya; jangan tunda dengan alasan sibuk. Kedua, rawatlah tubuh titipan ini dengan jujur: cukupkan tidur, jaga gizi keluarga, dan periksakan kesehatan sebelum sakit datang, karena menjaga diri adalah bagian dari syukur. Ketiga, jadilah pendengar bagi anggota keluarga kita — sisihkan waktu tanpa layar untuk benar-benar mendengar anak dan pasangan kita, sebelum mereka mencari pendengar di tempat lain. Keempat, pastikan anak-anak kita berada di tangan pengasuh yang amanah, dan ajarkan mereka dengan lembut bahwa tubuh mereka milik mereka sendiri dan tidak boleh disentuh sembarang orang. Kelima, saat cemas menghimpit, kembalikan hati kepada Allah dengan dzikir dan doa, bukan kepada layar yang justru menambah gelisah. Dan bila memungkinkan, tengoklah keadaan lingkungan kita: adakah tetangga yang sakit tanpa yang merawat, ada lansia yang kesepian, ada keluarga yang kesulitan biaya berobat — lalu gerakkan satu langkah kecil untuk menolong, sekecil apa pun. Lima langkah ini sederhana, jamaah, tetapi bila kita memulainya pekan ini, satu per satu, kita sedang merawat tiga amanah besar sekaligus: tubuh yang dititipkan, anak yang dipercayakan, dan jiwa yang dijaga agar tetap tenang bersama Allah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
Jamaah yang dirahmati Allah, izinkan kita menggali sedikit lebih dalam. Ketika Rasulullah ﷺ menempatkan menjenguk orang sakit sebagai pintu kedekatan kepada Allah, sesungguhnya beliau sedang mengajarkan bahwa iman itu tidak berhenti di sajadah — ia turun ke ranjang orang sakit, ke rumah tetangga yang berduka, ke ruang tunggu rumah sakit. Agama yang hidup adalah agama yang menggerakkan kaki kita menuju yang lemah.
Dan iman yang hidup itu, jamaah, tidak pernah menjadi urusan seorang diri. Ketika satu anggota masyarakat kita jatuh sakit atau tertimpa musibah, sesungguhnya kepedulian kita bersama sedang diuji. Maka menghidupkan kembali kebiasaan menjenguk yang sakit, bertanya kabar yang berduka, dan mengantar makanan bagi yang tertimpa musibah bukanlah amalan kecil yang boleh diremehkan. Justru dari perbuatan-perbuatan sederhana itulah lahir masyarakat yang berhati manusia — masyarakat yang tidak membiarkan seorang pun menanggung sakit dan sedihnya sendirian, di tengah zaman yang mendorong setiap orang sibuk hanya dengan dirinya.
Kita juga perlu merenungkan bahwa musibah dan sakit adalah ujian yang menuntut kesabaran, bukan keputusasaan. Diriwayatkan bahwa ketika salah seorang putri Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa anaknya sedang menghadapi sakaratul maut, beliau mengingatkan bahwa milik Allah-lah apa yang Dia ambil dan milik-Nya apa yang Dia berikan, dan segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang telah ditentukan; maka hendaklah bersabar dan mengharap pahala (Sahih Muslim 923a). Inilah tauhid yang menenangkan: kita berikhtiar sekuat tenaga, tetapi hasil akhirnya kita serahkan kepada Yang Maha Memiliki.
Dan terakhir, jamaah, di tengah dunia yang menawarkan seribu tempat bercerita palsu, marilah kita kembalikan hati kepada satu-satunya Dzat yang benar-benar mendengar. Manusia mungkin lelah mendengar keluh kita, mesin tak punya hati untuk peduli, tetapi Allah tidak pernah bosan mendengar hamba-Nya. Jadikan doa sebagai curahan hati yang pertama, bukan yang terakhir.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْحَمْ مَوْتَانَا وَمَوْتَى الْمُسْلِمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الشَّافِيْ لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَطْفَالَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَأَذًى، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاكْفِنَا شَرَّ مَنْ أَرَادَ بِهِمْ فِتْنَةً أَوْ ظُلْمًا.
اَللّٰهُمَّ اطْمَئِنَّ قُلُوْبَنَا الْقَلِقَةَ، وَدَاوِ نُفُوْسَنَا الْمُتْعَبَةَ، وَاجْعَلْ ذِكْرَكَ سَكَنًا لَهَا، إِنَّكَ أَنْتَ الَّذِيْ بِذِكْرِكَ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلِيًّا وَنَصِيْرًا.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
