بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ الْعَافِيَةَ نِعْمَةً لَا تُقَدَّرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الَّذِيْ عَلَّمَنَا أَنَّ الْمُؤْمِنَ الْقَوِيَّ خَيْرٌ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, banyak kabar tentang kesehatan yang sampai ke telinga kita — ada yang berduka, ada yang mengkhawatirkan, ada pula yang mengingatkan. Malam ini saya ingin mengajak kita berhenti sejenak pada satu hal yang mungkin terlalu sering kita anggap kecil: menjenguk orang sakit. Bukan menjenguk yang basa-basi, bukan yang hanya numpang lewat lalu sibuk memotret untuk diunggah. Tetapi menjenguk yang sungguh-sungguh — yang membuat orang sakit merasa ia tidak sendirian, dan membuat kita sendiri pulang dengan hati yang lebih lembut.
Saudara-saudara sekalian, siapa di sini yang pekan ini sempat menengok tetangga atau kerabat yang sedang sakit? Dan siapa yang tahu ada orang sakit di dekatnya, tapi menunda-nunda dengan alasan "nanti saja kalau sempat"? Mari kita jujur pada diri sendiri. Kita sering merasa menjenguk orang sakit itu urusan sepele — sekadar formalitas sosial. Padahal Rasulullah ﷺ menempatkannya di kedudukan yang membuat kita tertegun. Dalam sebuah hadits qudsi, beliau mengabarkan bahwa Allah berfirman: "Wahai anak Adam, Aku sakit tetapi engkau tidak menjenguk-Ku." Hamba itu terkejut, "Bagaimana aku menjenguk-Mu, wahai Rabb semesta alam?" Lalu Allah menjawab bahwa sesungguhnya jika ia menjenguk hamba-Nya yang sakit, ia akan mendapati Allah di sisinya (hadits qudsi, riwayat Sahih Muslim 2569).
Bayangkan, para jamaah. Allah — yang Maha Kaya, yang tidak butuh apa pun — menisbatkan sakitnya seorang hamba kepada diri-Nya sendiri. Seakan Dia berkata: kalau kalian mengabaikan orang sakit yang lemah itu, kalian sedang mengabaikan sesuatu yang sangat dekat dengan-Ku. Betapa mahalnya nilai satu kunjungan yang kita anggap remeh.
Dan menjenguk itu bukan sekadar datang lalu foto untuk status. Menjenguk yang benar adalah hadir dengan hati — mendoakan kesembuhannya, menanyakan kebutuhannya, dan pulang meninggalkan ketenangan, bukan kegaduhan. Ketika Rasulullah ﷺ menjenguk yang sakit, beliau mengusap dengan lembut dan menyandarkan kesembuhan hanya kepada Allah, Sang Maha Penyembuh (Sahih Muslim 2191a). Beliau tidak menggurui orang sakit, tidak menceramahi, tidak menambah bebannya. Beliau hadir. Kadang yang paling dibutuhkan orang yang menderita bukan nasihat panjang, melainkan seseorang yang mau duduk di sampingnya. Duduk, memegang tangannya, mendengar keluhnya sampai selesai tanpa buru-buru memberi solusi. Betapa sering kita keliru, menyangka menolong itu harus dengan kata-kata hebat, padahal pertolongan yang paling tulus kadang hanyalah kehadiran yang diam dan sabar.
Saudara-saudara, ada satu kisah yang selalu membuat saya merinding. Suatu ketika, salah seorang putri Rasulullah ﷺ mengirim kabar bahwa anaknya — cucu beliau — sedang menghadapi sakaratul maut. Nabi ﷺ, seorang manusia dan seorang kakek, mengingatkan bahwa milik Allah-lah apa yang Dia ambil dan milik-Nya apa yang Dia berikan, dan segala sesuatu punya ajal yang sudah ditentukan; maka bersabarlah dan berharaplah pahala (Sahih Muslim 923a). Lihatlah, jamaah — sabar bukan berarti tidak boleh sedih. Itulah kekuatan iman: menampung kesedihan tanpa kehilangan kepercayaan kepada Allah.
Pekan ini, saat begitu banyak orang lelah secara batin sampai memilih curhat kepada mesin daripada kepada manusia, pesan ini terasa mendesak. Kita semua pernah merasa sendirian, pernah merasa tak ada yang mau mendengar. Tetapi ingatlah, ada Dzat yang tidak pernah lelah mendengar keluh kita, yang lebih dekat dari urat leher kita. Dan ada saudara-saudara di sekitar kita yang, jika kita hadir untuk mereka, akan hadir pula untuk kita. Coba kita bayangkan sejenak: berapa banyak orang di sekeliling kita yang sebenarnya sedang berteriak dalam diam, hanya karena tidak ada satu pun yang bertanya, apa kabar hatimu hari ini? Mesin memang selalu menjawab, tapi ia tidak pernah benar-benar peduli. Sedangkan satu telepon di malam hari, satu ajakan minum kopi, satu pelukan yang tulus, bisa menyelamatkan seseorang dari kegelapan yang tidak kita lihat.
Maka, para jamaah, sebelum kita pulang malam ini, mari kita niatkan tiga hal yang bisa kita lakukan dalam 24 jam ke depan. Pertama, tengok atau setidaknya hubungi satu orang sakit yang kita kenal, dan doakan kesembuhannya dengan tulus. Kedua, sisihkan waktu untuk benar-benar mendengar satu anggota keluarga kita tanpa memegang HP. Ketiga, saat gelisah datang malam ini, angkat tangan dan curahkan kepada Allah lebih dulu, sebelum ke mana pun. Tiga hal kecil ini, para jamaah, tidak butuh biaya dan tidak butuh waktu lama. Tetapi kalau kita amalkan dengan tulus, ia bisa mengubah satu rumah, satu keluarga, bahkan satu lingkungan menjadi tempat yang lebih hangat — tempat di mana tidak ada orang sakit yang terlupakan, dan tidak ada hati lelah yang merasa sendirian.
Mari kita tutup dengan doa.
اَللّٰهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ، وَاطْمَئِنَّ قُلُوْبَنَا بِذِكْرِكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَرْحَمُ الضُّعَفَاءَ وَيَزُوْرُ الْمَرْضٰى.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
