Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatKonflik & GeopolitikKamis, 30 Juli 2026

Khutbah Jumat — "Al-Aqsa dalam Sujud Setiap Muslim"

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْمَسَاجِدَ بُيُوْتًا لَهُ فِي الْأَرْضِ، وَجَعَلَ الصَّلَاةَ صِلَةً بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Marilah pada Jumat yang mulia ini kita bersama-sama meneguhkan takwa — takwa yang tidak berhenti di lisan, tetapi turun menjadi sikap, keputusan, dan cara kita memandang dunia yang sedang bergolak. Kita berkumpul di rumah Allah ini dalam keadaan yang jauh lebih ringan daripada saudara-saudara kita di tempat lain: kita bisa masuk masjid tanpa takut, sujud tanpa diusir, dan pulang tanpa cemas rumah kita dibakar. Nikmat sebesar ini sering kita lupakan, sampai kabar dari negeri yang jauh mengingatkan kita betapa rapuhnya rasa aman itu.

Allah Ta'ala berfirman dalam Kitab-Nya, mengingatkan kita akan satu kepastian yang tidak akan pernah meleset — bahwa tidak ada satu pun kezaliman yang lolos dari perhitungan-Nya:

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

"Orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, 'Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.' Yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS. At-Taghabun: 7)

Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini adalah jangkar bagi hati yang menyaksikan ketidakadilan tanpa daya. Ada orang-orang yang berlaku zalim di muka bumi seolah-olah tidak ada hari perhitungan; mereka membakar, merampas, dan membunuh dengan keyakinan bahwa kekuatan senjata adalah kata terakhir. Al-Qur'an membalik keyakinan itu: kematian bukan garis akhir, dan kubur bukan tempat perkara ditutup. Setiap jiwa akan dibangkitkan, dan setiap perbuatan — sekecil apa pun, sebesar apa pun — akan diberitakan kembali kepada pelakunya. Bagi kita yang lemah dan sering merasa tak berdaya menghadapi kabar dunia, ayat ini bukan ajakan untuk pasrah, melainkan sumber ketenangan: kita menempuh jalan yang benar bukan karena ia menang hari ini, tetapi karena ia benar di sisi Allah, dan Allah tidak pernah lupa.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Dari berita yang sampai kepada kita pekan ini, kita mengetahui bahwa di Tepi Barat sejumlah tempat ibadah dibakar setelah seorang warga Palestina dibunuh, dan bahwa ribuan pemukim menerobos halaman Masjid Al-Aqsa. Otoritas keagamaan di negeri kita pun mengeluarkan kecaman keras atas peristiwa itu. Kita tidak sedang berbicara tentang statistik atau angka; kita sedang berbicara tentang rumah-rumah Allah yang dinodai dan tentang saudara-saudara yang kehilangan nyawa dan rasa aman. Dan ketika yang dinodai adalah sebuah masjid, luka itu terasa berbeda — karena masjid bukan sekadar bangunan, melainkan tempat di mana dahi seorang hamba menyentuh tanah di hadapan Rabb-nya.

Di sinilah kita perlu memahami mengapa Al-Aqsa begitu dekat di hati setiap Muslim, meski banyak dari kita belum pernah menginjakkan kaki di sana. Para ulama merangkum peristiwa agung Isra dan Mi'raj dalam bait-bait nazham 'Aqidat al-'Awam yang biasa kita hafalkan sejak kecil:

وَقَبْلَ هِجْرَةِ النَّبِيِّ الْإِسْرَا • مِنْ مَكَّةٍ لَيْلًا لِقُدْسٍ يُدْرَىٰ وَبَعْدَ إِسْرَاءٍ عُرُوجٌ لِلسَّمَا • حَتَّىٰ رَأَى النَّبِيُّ رَبًّا كَلَّمَا مِنْ غَيْرِ كَيْفٍ وَانْحِصَارٍ وَافْتَرَضْ • عَلَيْهِ خَمْسًا بَعْدَ خَمْسِينَ فَرَضْ وَبَلَّغَ الْأُمَّةَ بِالْإِسْرَاءِ • وَفَرْضِ خَمْسَةٍ بِلَا امْتِرَاءِ

Bait-bait ini menuturkan bahwa sebelum hijrah, Nabi ﷺ diperjalankan pada malam hari dari Makkah menuju al-Quds — Baitul Maqdis — kemudian dinaikkan ke langit, sampai beliau menerima perintah shalat lima waktu. Perhatikanlah, ma'asyiral muslimin, betapa dalam ikatan ini. Perintah shalat yang kita tegakkan lima kali sehari itu diturunkan dalam perjalanan yang titik pijaknya di bumi adalah Baitul Maqdis. Artinya, setiap kali kita berdiri untuk shalat, ada benang halus yang menghubungkan sujud kita dengan tanah tempat Nabi ﷺ pernah mengimami para nabi. Al-Aqsa bukan urusan orang Arab atau orang Palestina saja; ia terjalin ke dalam sejarah ibadah kita yang paling pokok. Maka wajar bila hati seorang mukmin bergetar ketika mendengar tempat itu dinodai — karena ia sedang membela sesuatu yang telah menjadi bagian dari keimanannya sendiri.

Namun, hadirin, di sinilah ujian yang sesungguhnya datang. Ketika kita menyaksikan kezaliman sebesar itu sementara tangan kita tak sampai untuk menghentikannya, muncul godaan yang halus namun berbahaya: rasa putus asa yang perlahan menggerus amal. Sebagian orang berkata dalam hati, "Apa arti shalatku, sedekahku, doaku yang kecil ini di hadapan tragedi sebesar itu?" Lalu ia mengendurkan ibadahnya, seakan-akan amal kecil menjadi sia-sia karena tidak bisa mengubah peta dunia. Justru di titik inilah kita perlu kembali kepada nasihat yang jernih dari para ulama tentang timbangan amal.

Imam al-Ghazali rahimahullah menuturkan dalam Bidayatul Hidayah sebuah kaidah yang menenangkan sekaligus meluruskan:

وَأَلْحَقْتُ قِسْمًا ثَالِثًا لِيَصِيرَ هَذَا الْكِتَابُ جَامِعًا مُغْنِيًا، وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ. اعْلَمْ أَنَّ أَوَامِرَ اللهِ تَعَالَىٰ فَرَائِضُ وَنَوَافِلُ؛ فَالْفَرْضُ رَأْسُ الْمَالِ، وَهُوَ أَصْلُ التِّجَارَةِ، وَبِهِ تَحْصُلُ النَّجَاةُ، وَالنَّفْلُ هُوَ الرِّبْحُ وَبِهِ الْفَوْزُ بِالدَّرَجَاتِ.

Beliau menjelaskan bahwa perintah-perintah Allah terbagi menjadi yang wajib dan yang sunnah. Yang wajib itu ibarat modal pokok — dengannya keselamatan diraih; sedangkan yang sunnah adalah laba — dengannya derajat ditinggikan. Dan di awal kalimat itu beliau menutup dengan penuh kepasrahan: "wallāhul-musta'ān" — hanya Allah tempat memohon pertolongan. Perhatikanlah dua pelajaran ini bersama-sama. Pertama, di tengah dunia yang terasa runtuh, jangan sekali-kali kita meremehkan modal pokok kita: shalat lima waktu, kejujuran dalam nafkah, menjaga lisan dan amanah. Itulah yang menyelamatkan, dan itulah yang paling mungkin kita jaga hari ini. Kedua, ketika kekuatan kita terbatas, kita tidak menyandarkan harapan pada kekuatan negara mana pun, pada blok mana pun, pada senjata siapa pun — kita bersandar pada Allah, satu-satunya tempat memohon pertolongan yang tidak pernah mengkhianati.

Inilah, ma'asyiral muslimin, yang membedakan seorang mukmin dari sekadar penonton berita. Penonton berita menyalakan amarahnya, lalu memadamkannya begitu layar berganti. Seorang mukmin mengubah kepeduliannya menjadi amal yang berkelanjutan: doa yang tidak putus, ibadah yang tidak kendur, dan tangan yang tetap terulur kepada yang lemah. Kita mungkin tidak bisa memadamkan api di negeri yang jauh, tetapi kita bisa memastikan pelita di rumah kita sendiri tidak ikut padam.

Sebagian dari kita mungkin merasa kecil dan bertanya dalam hati, "Apa yang bisa diperbuat oleh seorang hamba biasa yang jauh dari medan?" Maka ingatlah, hadirin, bahwa membela sesuatu tidak selalu berarti hadir secara fisik di tempatnya. Kita membela Al-Aqsa ketika kita mengajarkan anak-anak kita mencintainya dan mengenal sejarahnya. Kita membela saudara yang tertindas ketika kita menolak menyebarkan kabar dusta yang justru menambah kekacauan. Kita membela yang lemah ketika kita menegakkan kejujuran dalam nafkah kita sendiri, sehingga rezeki yang kita sisihkan untuk mereka adalah rezeki yang bersih. Dan kita membela agama ini ketika kita menjaga shalat kita tetap tegak justru di saat dunia menggoda kita untuk berputus asa. Setiap amal kecil yang ikhlas adalah sebentuk pembelaan yang dicatat di sisi Allah, meski mata dunia tidak pernah melihatnya.

Dan pekan ini, kabar tentang kerentanan umat tidak datang dari satu arah saja. Kita juga mendengar tentang lebih dari seratus warga negeri kita yang menjadi korban perdagangan orang di negeri seberang, dieksploitasi seolah barang yang sudah dibeli. Ini mengingatkan kita bahwa mustadh'afin — orang-orang yang tertindas dan dilemahkan — bukan hanya mereka yang tinggal di garis depan konflik bersenjata, tetapi juga saudara-saudara kita yang merantau mencari nafkah lalu terjebak dalam jeratan yang kejam. Solidaritas yang benar tidak memilih-milih penderitaan; ia menoleh ke Palestina dan sekaligus menoleh ke pekerja migran kita yang tak berdaya di perantauan.

Dan kerentanan itu, hadirin, tidak berhenti pada tubuh yang disiksa; ia merambat sampai ke meja tempat harga dan rezeki ditentukan. Dari kabar pekan ini kita juga mendengar bagaimana informasi pasar dan harga dapat dimainkan oleh segelintir pihak yang berkuasa, sementara rakyat kecil menghitung dengan getir bahwa memiliki sebuah rumah yang layak huni bisa memakan waktu puluhan tahun kerja keras. Inilah wajah lain dari kezaliman: ia tidak selalu berupa peluru dan bara, tetapi kadang berupa ketidakadilan yang tenang dan rapi, yang menekan orang-orang lemah tanpa suara. Islam mengajarkan kita untuk tidak memandang dunia dengan mata yang silau. Kekayaan yang menumpuk di segelintir tangan sementara banyak orang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok bukanlah tanda keberkahan, melainkan ujian yang menuntut kesadaran. Seorang mukmin yang menyaksikan ketimpangan ini tidak larut dalam dengki, dan tidak pula tunduk pada ambisi dunia yang membutakan; ia menegakkan keadilan di lingkaran yang bisa ia jangkau, dan menjaga hatinya tetap merdeka dari perbudakan harta.

Bagaimana seharusnya sikap batin seorang mukmin di tengah semua ini? Di sini kita belajar dari perkataan yang mendalam. Diriwayatkan dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma sebuah nasihat tentang tujuh sikap yang dipilih oleh orang berakal:

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: حَقٌّ عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَخْتَارَ سَبْعًا عَلَىٰ سَبْعٍ: الْفَقْرَ عَلَى الْغِنَىٰ، وَالذُّلَّ عَلَى الْعِزِّ، وَالتَّوَاضُعَ عَلَى الْكِبْرِ، وَالْجُوعَ عَلَى الشِّبَعِ، وَالْغَمَّ عَلَى السُّرُورِ، وَالدُّونَ عَلَى الْمُرْتَفِعِ، وَالْمَوْتَ عَلَى الْحَيَاةِ.

Diriwayatkan bahwa orang yang berakal memilih tujuh atas tujuh: kefakiran atas kekayaan, kerendahan atas kemuliaan dunia, tawadhu atas kesombongan, lapar atas kenyang, kesedihan atas kegembiraan, posisi rendah atas posisi tinggi, dan kematian atas kehidupan. Sekilas nasihat ini terdengar keras dan pesimistis. Tetapi renungkanlah lebih dalam, hadirin. Yang dimaksud bukanlah kita mengejar kemiskinan atau membenci hidup. Yang dimaksud adalah sikap hati yang tidak mabuk dunia — yang memilih kesedihan yang menyadarkan daripada kegembiraan yang melalaikan, yang memilih rendah hati daripada tinggi hati, yang tidak tertipu oleh kekenyangan sampai lupa ada saudara yang kelaparan. Di tengah pekan yang penuh kabar duka, seorang mukmin yang berakal tidak menghibur dirinya dengan hiburan yang membuatnya lupa; ia memilih untuk tetap sadar, tetap prihatin, dan mengubah keprihatinan itu menjadi kepedulian yang nyata. Inilah lawan dari sikap acuh yang tenggelam dalam kesenangan sendiri.

Kesadaran seperti ini juga menuntun kita memandang dunia dan hartanya dengan proporsi yang benar. Diriwayatkan dalam kitab Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah tentang apa yang ditinggalkan Rasulullah ﷺ ketika wafat:

مَا تَرَكَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا سِلَاحَهُ وَبَغْلَتَهُ وَأَرْضًا جَعَلَهَا صَدَقَةً.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan warisan apa pun kecuali senjatanya, hewan tunggangannya, dan sebidang tanah yang beliau jadikan sedekah. Betapa mengagumkan, hadirin. Pemimpin umat, manusia paling mulia, wafat tanpa menimbun harta — dan tanah yang beliau miliki pun beliau jadikan sedekah, bukan warisan yang diperebutkan. Bandingkanlah dengan dunia hari ini, di mana perebutan atas tanah dan sumber daya menumpahkan darah tak terhitung. Teladan Nabi ﷺ mengajarkan bahwa nilai sebuah tanah bukan pada penguasaannya, melainkan pada keberkahan dan kemanfaatannya bagi umat. Orang yang mengejar tanah dengan menumpahkan darah sedang berjalan di arah yang berlawanan seratus delapan puluh derajat dari teladan Nabi yang menjadikan tanahnya sedekah.

Di tengah semua ini, ma'asyiral muslimin, wajar bila muncul pertanyaan: di manakah letak sikap sebuah negeri berpenduduk Muslim terbesar seperti kita? Dari kabar pekan ini kita mendengar penegasan kepala negara kita bahwa kita tidak berpihak pada blok kekuatan mana pun, namun kemerdekaan Palestina bukanlah sesuatu yang bisa ditawar. Kita mensyukuri kejelasan sikap moral seperti ini. Tetapi sebagai umat, kita juga belajar bahwa pernyataan yang benar baru bernilai penuh bila diikuti langkah yang nyata. Sikap yang lurus di lisan menuntut kejujuran dalam perbuatan — dan itu berlaku bukan hanya bagi para pemimpin di meja perundingan, tetapi juga bagi kita, rakyat biasa, di lingkaran kecil kita masing-masing. Maka doa kita agar para pemimpin diberi keteguhan menegakkan keadilan bukanlah basa-basi; ia bagian dari tanggung jawab kita menopang yang benar dengan doa dan amal, bukan sekadar mengkritik dari kejauhan.

Dan inilah, hadirin, ujian yang paling halus dari pekan-pekan seperti ini. Ketika gelombang berita surut dan amarah mulai mereda, ada dua kemungkinan yang mengintai hati kita: kita menjadi lebih tenang dan bijak, atau justru menjadi lelah dan terbiasa sampai akhirnya lupa. Tugas seorang mukmin bukanlah menjaga agar api amarah terus menyala — sebab amarah yang meledak-ledak cepat padam dan meninggalkan hati yang hampa. Tugas kita adalah mengubah kepedulian yang episodik menjadi kesetiaan yang panjang dan sabar: doa yang istiqamah, ukhuwah yang dirawat, dan tangan yang tetap terulur kepada yang lemah, jauh setelah kabar itu tidak lagi menjadi perbincangan. Kesetiaan yang tenang dan tahan lama seperti inilah yang paling dekat dengan pertolongan Allah — sebab yang bernilai di sisi-Nya bukanlah suara yang paling nyaring sesaat, melainkan amal yang paling tekun dijaga.

Maka, ma'asyiral muslimin, apa yang bisa kita lakukan sebagai jamaah pekan ini? Izinkan saya menyebut beberapa langkah yang konkret. Pertama, hidupkan kembali doa untuk saudara-saudara kita yang tertindas dalam setiap shalat — khususnya lewat qunut nazilah ketika keadaan menuntut — sebab doa adalah senjata mukmin yang tidak pernah kehabisan peluru. Kedua, jagalah ibadah wajib kita sebagai modal pokok; jangan biarkan berita duka justru melemahkan shalat dan kejujuran kita, sebab itulah yang paling ingin dirampas oleh keputusasaan. Ketiga, salurkan solidaritas kita melalui lembaga-lembaga terpercaya yang menyalurkan bantuan kemanusiaan, sekecil apa pun, secara rutin dan bukan sesaat. Keempat, tengoklah kerentanan yang lebih dekat: keluarga-keluarga di lingkungan kita yang anggotanya merantau bekerja ke luar negeri — pastikan mereka berangkat lewat jalur yang sah dan tidak terjebak sindikat. Kelima, jaga lisan dan jempol kita di ruang digital; jangan menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, sebab menambah kekacauan informasi bukanlah bentuk pembelaan. Dan keenam, didiklah anak-anak kita untuk mengenal Al-Aqsa dan mencintainya sejak dini, agar ikatan ini tidak putus di generasi berikutnya.

Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah kita tutup khutbah pertama ini dengan satu keyakinan: bahwa kepedulian yang benar bukanlah amarah yang meledak lalu padam, melainkan kesetiaan yang panjang dan sabar. Dunia boleh melupakan penderitaan dalam hitungan pekan, tetapi seorang mukmin tidak boleh melupakan saudaranya. Kita bersandar pada Allah, kita jaga amal kita, dan kita rawat solidaritas kita sampai pertolongan Allah datang — dan pertolongan Allah itu pasti datang bagi mereka yang bersabar.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, ada tiga penegasan yang ingin kita bawa pulang dari mimbar ini. Pertama, bahwa keterikatan kita pada Al-Aqsa bukanlah sentimen politik yang datang dan pergi mengikuti berita, melainkan bagian dari akar keimanan kita yang tumbuh dari peristiwa Isra dan Mi'raj. Karena itu, membela kesucian tempat itu — sekurang-kurangnya dengan doa dan kepedulian — adalah bagian dari menjaga agama kita sendiri, bukan sekadar membantu pihak lain.

Kedua, bahwa di hadapan kekuatan-kekuatan besar yang tampak tak tertandingi, kita tidak menaruh sandaran kita pada mereka, dan tidak pula gentar oleh mereka. Kita telah mendengar bahwa segala perbuatan akan dibangkitkan dan diperhitungkan; maka tidak ada kezaliman yang benar-benar menang, dan tidak ada kesabaran yang benar-benar sia-sia. Ketenangan kita lahir dari keyakinan ini, bukan dari kabar baik yang belum tentu datang.

Ketiga, bahwa solidaritas sejati diukur dari konsistensinya, bukan dari ledakannya. Mudah bagi kita berteriak sepekan lalu diam sebulan. Yang sulit — dan yang bernilai di sisi Allah — adalah merawat kepedulian dalam bentuk doa harian, sedekah rutin, dan perhatian kepada yang lemah di sekitar kita, termasuk pekerja-pekerja rentan yang merantau jauh dari keluarganya. Marilah kita menjadi umat yang setia, bukan umat yang sekadar ramai.

Marilah kita berdoa, mengangkat tangan kepada Allah yang tidak pernah menutup pintu-Nya bagi hamba yang memohon.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ وَفِيْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ مَسَاجِدَهُمْ وَدِمَاءَهُمْ وَأَعْرَاضَهُمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَ قُلُوْبِهِمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ فُكَّ أَسْرَ الْمَأْسُوْرِيْنَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِيْنِيْنَ، وَنَجِّ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الْعَامِلِيْنَ فِي الْبِلَادِ الْبَعِيْدَةِ مِنَ الظُّلْمِ وَالِاسْتِعْبَادِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ خَيْرُ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ نَاصِرِيْنَ لِلْحَقِّ وَأَهْلِهِ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدِيْنَا، وَارْحَمْ مَنْ رَبَّانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلَا مُضِلِّيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Lihat Briefing Mingguan