Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumKonflik & GeopolitikKamis, 30 Juli 2026

Kultum — "Menjaga Hati Saat Dunia Gaduh"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِيَدِهِ مَقَالِيْدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, malam ini saya ingin memulai dengan satu pengakuan jujur. Belakangan ini, membuka ponsel terasa berat. Baru saja kita membaca kabar tentang tempat ibadah yang dibakar dan tentang Al-Aqsa yang diterobos, lalu di layar yang sama muncul perdebatan yang tak habis-habis tentang sikap negeri kita, dan di sela-selanya, kabar tentang saudara kita yang menderita di perantauan. Ada perasaan yang mungkin kita semua kenali: campuran antara marah, sedih, dan lelah — sampai hati terasa mati rasa. Nah, tema kita malam ini justru tentang hati itu: bagaimana menjaganya tetap hidup dan tenang ketika dunia di sekeliling kita begitu gaduh.

Mari kita mulai dari satu ayat yang biasa dikutip Imam al-Ghazali dalam pembahasan tentang memilih pergaulan dan menjaga hati. Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

"Dan janganlah engkau mengikuti orang yang Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melampaui batas." (QS. Al-Kahfi: 28)

Saudara-saudara sekalian, ayat ini turun tentang pergaulan — tentang siapa yang kita ikuti dan kita jadikan panutan. Tetapi izinkan saya membawanya ke dunia kita hari ini, di mana "yang kita ikuti" bukan lagi sekadar orang di sekeliling kita, melainkan juga suara-suara di layar kita. Setiap hari kita mengikuti puluhan akun, ribuan potongan pikiran, arus komentar yang tak berujung. Dan ayat ini memberi kita satu ukuran yang jernih: perhatikan, apakah yang kita ikuti itu membuat hati kita lebih ingat kepada Allah, atau justru semakin lalai dan sekadar menuruti gejolak nafsu sesaat?

Coba kita ukur diri sendiri. Ketika kita menghabiskan satu jam menelusuri berita konflik lalu berpindah ke perdebatan panas, apa yang tersisa di hati kita? Seringkali bukan kepedulian yang mendalam, melainkan kepenatan yang dangkal. Kita merasa "sudah melakukan sesuatu" karena sudah marah, sudah berkomentar, sudah membagikan. Padahal amarah yang tidak diikuti amal itu seperti asap tanpa api yang menghangatkan — ia hanya membuat mata perih lalu hilang. Inilah bentuk "kelalaian" versi modern: sibuk, ramai, tetapi hati justru menjauh dari mengingat Allah.

Dan di sinilah kita perlu obat yang benar. Obatnya bukan menutup mata dari penderitaan umat — itu bukan ketenangan, itu ketumpulan. Obatnya adalah mengembalikan hati kepada sumber ketenangan yang sesungguhnya. Para ulama merangkum sifat-sifat Allah dalam nazham yang kita hafal sejak kecil, dan malam ini saya ingin kita merenunginya kembali dengan mata yang baru:

فَاللهُ مَوْجُودٌ قَدِيمٌ بَاقِي • مُخَالِفٌ لِلْخَلْقِ بِالْإِطْلَاقِ وَقَائِمٌ غَنِيٌّ وَاحِدٌ وَحَيْ • قَادِرْ مُرِيدٌ عَالِمٌ بِكُلِّ شَيْ

Bait-bait 'Aqidat al-'Awam ini mengajarkan bahwa Allah itu ada, tanpa permulaan, kekal, berbeda dari makhluk secara mutlak, Mahakaya, Maha Esa, Mahahidup, Mahakuasa, Maha Berkehendak, dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Perhatikan dua sifat terakhir itu, saudara-saudaraku: Mahakuasa dan Maha Berkehendak. Ketika kita menyaksikan kekuatan-kekuatan dunia yang tampak begitu perkasa — dengan senjata, uang, dan pengaruh yang seolah tak tertandingi — hati kita perlu diingatkan bahwa di atas semua kekuatan itu ada Kekuatan yang sesungguhnya. Tidak ada satu peristiwa pun yang lepas dari kehendak dan pengetahuan Allah. Ini bukan alasan untuk pasrah berdiam diri, melainkan alasan untuk tidak putus asa. Kita berbuat semampu kita, lalu kita serahkan hasilnya kepada Yang Mahakuasa, bukan kepada kalkulasi kekuatan dunia yang sering menipu.

Maka apa yang bisa kita lakukan setelah pulang dari sini malam ini? Saya ingin menawarkan tiga langkah yang sederhana tapi nyata. Pertama, tata ulang apa yang kita ikuti. Kurangi satu-dua sumber yang hanya memancing amarah dan kebingungan, tambahkan satu sumber yang mengingatkan kita pada Allah dan mengajarkan ilmu. Hati kita adalah tanah; ia menumbuhkan apa yang kita tanam di sana. Kedua, ubah kepedulian menjadi amal yang tetap. Pilih satu bentuk kebaikan yang bisa kita jaga rutin — sisihkan sedikit sedekah untuk kemanusiaan setiap pekan, atau tetapkan satu doa khusus untuk saudara-saudara kita yang tertindas di setiap shalat. Yang kecil tapi rutin jauh lebih bernilai daripada yang besar tapi sesaat. Ketiga, sebelum tidur malam ini, luangkan satu menit untuk merenung: apakah hari ini hati saya lebih dekat atau lebih jauh kepada Allah? Pertanyaan sesederhana itu, kalau kita jujur menjawabnya, akan menjaga arah hidup kita.

Jamaah yang saya hormati, saya tutup dengan ini. Dunia akan terus gaduh, dan kabar duka mungkin belum akan berhenti dalam waktu dekat. Tetapi hati seorang mukmin tidak dirancang untuk dikendalikan oleh arus berita; ia dirancang untuk dikendalikan oleh ingatan kepada Allah. Jagalah hati itu, karena dari hati yang tenang lahir tangan yang benar-benar bisa menolong — bukan dari hati yang panas lalu padam.

اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلٰى دِيْنِكَ، وَاجْعَلْ قُلُوْبَنَا عَامِرَةً بِذِكْرِكَ، وَانْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan