Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita buka khutbah pekan ini dengan satu ayat yang menggambarkan bagaimana Allah pernah menurunkan angin sebagai peringatan atas kaum yang lalai. Allah berfirman tentang azab yang menimpa kaum 'Ad:
تَنْزِعُ النَّاسَ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ
"(Angin itu) menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok kurma yang tumbang." (QS. Al-Qamar: 20)
Hadirin yang dimuliakan Allah, bayangkan gambaran yang dilukiskan ayat ini: manusia dewasa yang kokoh, dicabut dan digelimpangkan seolah batang kurma tua yang tumbang berserakan. Al-Qur'an tidak menyampaikan ini untuk menakut-nakuti kita, melainkan untuk mengajarkan satu kebenaran yang mudah kita lupakan di tengah kesibukan: bahwa di hadapan kuasa Allah, kekuatan manusia — betapapun megah bangunannya, secanggih apa pun kendaraannya — sesungguhnya serapuh pelepah kering. Dan pekan ini, kabar-kabar yang sampai kepada kita seakan datang untuk menggarisbawahi kebenaran itu.
Kita mendengar kabar dari negeri tetangga: sebuah majelis pertunangan yang sudah dinanti-nanti, yang tinggal beberapa hari lagi menuju hari bahagia, tiba-tiba berubah menjadi majelis tahlil arwah. Yang direncanakan sebagai pesta menjadi doa untuk yang telah pergi. Kita juga mendengar kabar pilu tentang sebuah kendaraan yang membawa enam orang di ruas jalan lama, dan keenamnya tak sempat kembali kepada keluarga yang menunggu. Ada pula pelajar yang berangkat menuntut ilmu, dirempuh kendaraan yang kehilangan kendali di tengah jalan. Tiga kabar, satu pelajaran: maut tidak pernah membuat janji dengan siapa pun. Ia tidak menunggu kita menyelesaikan rencana, tidak menunggu kita sempat berpamitan, tidak menunggu kita siap.
Namun jalan pekan ini tidak hanya menyimpan kabar kecelakaan. Sampai pula kepada kita kabar tentang seorang perempuan yang tengah menyetir mobil sewaan, tiba-tiba dihentikan paksa oleh sekelompok orang di tengah jalan. Kita juga mendengar tentang seorang petugas keamanan yang, setelah berselisih di jalanan dengan pengemudi sebuah kendaraan mewah, disebut mengalami intimidasi. Kabar-kabar ini menambah satu lapis keprihatinan: jalan yang sama, yang menuntut kewaspadaan kita terhadap kecelakaan, ternyata juga menuntut kewaspadaan terhadap sesama manusia. Ruang yang seharusnya menjadi milik bersama dan aman bagi siapa pun perlahan terasa asing dan mengancam, terutama bagi mereka yang lemah dan berjalan sendirian.
Jamaah Jumat rahimakumullah, di sinilah letak muhasabah kita. Bukan pada pertanyaan "kapan aku mati" — sebab itu rahasia Allah — melainkan pada pertanyaan "dalam keadaan apa aku akan didapati bila maut datang mendadak seperti yang menimpa saudara-saudara kita itu." Apakah kita akan pergi dengan urusan yang bersih, hati yang berdamai, dan kewajiban yang tertunaikan? Ataukah kita pergi dengan pertengkaran yang belum diselesaikan, shalat yang bolong-bolong, dan amanah yang masih tergantung? Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan kita untuk takut pada kematian; beliau mengajarkan kita untuk siap. Dan kesiapan itu dibangun bukan pada saat sakaratul maut, melainkan pada hari-hari biasa seperti hari ini.
Dan izinkan khatib menegaskan, jamaah: kesiapan yang dimaksud Islam bukanlah sikap murung yang membuat kita takut melangkah keluar rumah. Justru sebaliknya. Seorang mukmin yang benar-benar siap menghadapi ajal adalah orang yang paling tenang menjalani hidupnya, paling ringan memikul bebannya, dan paling berani berbuat baik — sebab ia tidak lagi menunda-nunda. Ia menyegerakan maaf, menyegerakan sedekah, menyegerakan perbaikan, karena ia sadar tidak ada jaminan akan ada hari esok. Kabar-kabar duka pekan ini, alih-alih membuat kita cemas berlebihan, seharusnya menyalakan semangat itu di dada kita: bahwa waktu yang kita miliki hari ini adalah modal yang tidak akan pernah kembali sekali ia lewat. Setiap napas adalah kesempatan yang tidak dijamin akan berulang, dan justru karena itulah ia begitu berharga.
Hadirin yang dirahmati Allah, ketika kita berbicara tentang bencana dan musibah, Islam mengajarkan satu adab yang sangat halus, yaitu adab i'tibar — mengambil pelajaran dari reruntuhan umat terdahulu. Diriwayatkan dalam sebuah hadits, ketika Rasulullah ﷺ dan para sahabat melewati al-Hijr, bekas tempat tinggal kaum Tsamud yang telah dibinasakan:
مَرَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ عَلَى الْحِجْرِ
Beliau ﷺ bersabda kepada para sahabat: "Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi diri mereka sendiri, kecuali dalam keadaan menangis — karena khawatir kalian ditimpa azab seperti yang menimpa mereka." Lalu beliau menutupi kepalanya, mempercepat langkah tunggangannya, dan tidak berlama-lama di tempat itu. (Sahih Muslim 2980b)
Perhatikanlah, jamaah, betapa berbeda sikap ini dari kebiasaan kita hari ini. Ketika ada reruntuhan bencana, kita justru berbondong-bondong datang untuk berfoto, membuat konten, menjadikan lokasi musibah sebagai latar belakang tontonan. Rasulullah ﷺ mengajarkan sebaliknya: lewatilah tempat-tempat azab itu dengan hati yang bergetar, bukan dengan mata yang mencari sensasi. Sebab reruntuhan itu bukan objek wisata; ia adalah cermin. Ia berbisik kepada kita: "Kaum yang dahulu tinggal di sini juga merasa aman, juga merasa kuat, juga merasa rencananya pasti terlaksana — sampai datang ketetapan Allah." Maka setiap kali kabar bencana sampai kepada kita, sikap seorang mukmin bukanlah menghakimi korban, melainkan berkaca pada diri sendiri dan memperbaiki hubungannya dengan Allah.
Dan i'tibar itu, jamaah, menuntut kejujuran yang kadang menyakitkan. Ketika banjir bandang menyapu sebuah kampung, terlalu mudah bagi kita untuk berkata "ini murni takdir" lalu berhenti berpikir. Padahal Islam mengajarkan kita membaca dua lapis sekaligus: lapis takdir yang kita terima dengan sabar, dan lapis sebab yang menjadi tanggung jawab kita untuk diperbaiki. Nabi Nuh 'alaihissalam berdakwah dengan sabar sepanjang usia yang panjang, mengajak kaumnya kembali kepada Allah sebelum air bah itu datang; banjir besar itu bukan sekadar peristiwa alam yang tiba-tiba, melainkan puncak dari penolakan yang berkepanjangan terhadap peringatan. Maka ketika kita hari ini menyaksikan bencana yang berulang di tempat yang sama tahun demi tahun, pertanyaan i'tibar-nya bukanlah "mengapa Allah menimpakan ini kepada kami", melainkan "peringatan apa yang selama ini kami abaikan, dan perbaikan apa yang selama ini kami tunda".
Ma'asyiral muslimin, dari muhasabah tentang jiwa, marilah kita naik ke satu lapisan tanggung jawab yang lebih luas, yaitu tanggung jawab kita terhadap bumi yang kita pijak. Banyak di antara musibah yang kita kira "murni alam" sesungguhnya diperparah oleh tangan manusia sendiri. Banjir yang menghanyutkan sering bermula dari saluran air yang tersumbat sampah. Longsor kerap dipicu oleh penggundulan yang serakah. Di sinilah Allah memberikan peringatan yang tegas tentang golongan manusia yang paling merugikan. Allah berfirman menggambarkan mereka:
الَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ
"(yaitu) orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan." (QS. Ash-Shu'araa: 152)
Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini membelah manusia menjadi dua golongan yang jelas: golongan yang merusak lalu berlepas tangan, dan golongan yang memperbaiki. Tidak ada golongan ketiga yang "netral". Sebab dalam pandangan Islam, bumi ini adalah amanah, dan kita adalah khalifah — pengelola, bukan pemilik. Membuang sampah sembarangan, mencemari sungai, menebang tanpa menanam kembali, semua itu bukan sekadar "kurang tertib" dalam kacamata hukum sekuler; dalam timbangan syariat, itu adalah pengkhianatan terhadap titipan. Dan sebaliknya, setiap tindakan perbaikan sekecil apa pun — memilah sampah, menanam satu pohon, membersihkan satu selokan — adalah bentuk nyata dari ishlah yang Allah cintai. Menjaga bumi bukanlah pekerjaan yang kita lakukan karena mengikuti tren dunia; kita melakukannya karena syariat telah memerintahkannya jauh sebelum dunia ramai membicarakannya.
Perhatikanlah betapa terhormatnya kedudukan yang Allah berikan kepada kita di sini, jamaah. Bumi ini tidak dititipkan kepada malaikat yang tidak pernah membangkang, melainkan kepada manusia — makhluk yang lemah, yang bisa salah, yang bisa lupa. Titipan sebesar itu adalah tanda kepercayaan yang luar biasa. Dan seperti setiap amanah, ia pasti akan ditanyakan kembali. Ketika seorang pegawai dititipi kas, ia ditanya ke mana kas itu mengalir. Ketika seorang pemimpin dititipi urusan rakyat, ia ditanya bagaimana rakyat itu ia perlakukan. Maka ketika seluruh umat manusia dititipi bumi seisinya, tidakkah kita akan ditanya bagaimana kita memperlakukan sungai, udara, hutan, dan tanah yang setiap hari kita pijak? Merawat lingkungan, dalam kesadaran ini, bukanlah gaya hidup pilihan bagi yang sempat dan mampu; ia adalah konsekuensi langsung dari iman kita kepada hari perhitungan.
Jamaah Jumat rahimakumullah, dan Islam turun sampai ke urusan yang kita anggap sepele: kebersihan jalan dan tempat berteduh bersama. Rasulullah ﷺ bersabda dengan peringatan yang keras:
اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ
"Takutlah kalian terhadap dua perkara yang mendatangkan laknat." Para sahabat bertanya, "Apakah dua perkara itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Yaitu orang yang membuang hajat di jalan yang dilalui manusia, atau di tempat mereka berteduh." (Sahih Muslim 269)
Renungkanlah, jamaah, betapa detailnya perhatian Nabi ﷺ. Mengotori jalan yang dilewati orang banyak, atau tempat orang berteduh dari terik dan hujan, disebut sebagai perbuatan yang mendatangkan laknat. Mengapa sekeras itu? Karena jalan dan naungan adalah hak bersama — milik semua, dari yang kaya hingga yang paling papa. Mencemarinya berarti mencederai hak orang banyak yang tidak berdaya menolak. Para ulama fiqh bahkan merinci hal ini sampai ke soal bangunan: mereka menjelaskan bahwa siapa pun yang hendak membuat bangunan menjorok ke jalan umum wajib mempertimbangkan ketinggian muatan yang biasa dibawa orang yang lewat, agar tidak mengganggu kafilah dan pejalan. Betapa halus fiqh kita menjaga hak jalan. Maka pertanyaan untuk kita hari ini sederhana: kalau membuang sampah di jalan saja termasuk perkara yang mendatangkan laknat, bagaimana dengan kita yang membiarkan gunungan sampah menyumbat saluran air sehingga tetangga terkena banjir?
Ma'asyiral muslimin, ada satu benang lagi yang tak boleh kita lewatkan. Pekan ini kita juga mendengar kabar tentang ruang publik yang berubah menjadi tempat yang menakutkan bagi yang lemah — seorang perempuan yang dihentikan paksa di jalan oleh sekelompok orang, dan seorang petugas keamanan yang disebut mengalami intimidasi setelah berselisih di jalanan. Islam memandang jalan bukan sebagai wilayah tak bertuan tempat yang kuat boleh menakut-nakuti yang lemah. Sebaliknya, para ulama menempatkan menakut-nakuti orang yang lewat di jalan (menghadang di sabil) sebagai salah satu kejahatan paling berat dalam bab hudud, sederajat dengan pembegalan — sebab ia merampas rasa aman yang menjadi syarat kehidupan bermasyarakat. Maka menjaga agar jalan tetap aman bagi perempuan, anak-anak, dan orang tua yang berjalan sendirian adalah bagian dari amanah kolektif kita — sebuah fardh kifayah yang, bila kita abaikan bersama, akan menjadi dosa bersama pula.
Islam menanamkan rasa tanggung jawab atas ruang bersama yang jauh lebih dalam daripada sekadar kepatuhan administratif, jamaah. Dalam kesadaran seorang mukmin, keselamatan jalan yang dilalui banyak orang adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, bukan sekadar urusan teknis yang boleh dilempar ke pihak lain. Rasa tanggung jawab yang sejati justru mengukur dirinya sampai ke hal-hal yang tampak kecil: satu ruas jalan berlubang yang dibiarkan, satu saluran yang tak dibersihkan, satu penerangan yang mati tanpa ada yang peduli. Bandingkan dengan kecenderungan kita hari ini yang sering menganggap jalan rusak, saluran yang mampet, dan penerangan yang mati sebagai "urusan orang lain" atau "urusan pemerintah saja". Padahal setiap ruas jalan yang kita lewati, setiap saluran air di depan rumah, setiap sudut lingkungan yang kita huni adalah bagian dari amanah yang dititipkan kepada kita bersama. Ketika kita menutup mata darinya, kita bukan sekadar warga yang cuek; kita sedang membiarkan sepotong tanggung jawab yang kelak akan ditanyakan.
Hadirin yang dirahmati Allah, semua ini bermuara pada satu kesadaran: menjaga jiwa (hifz an-nafs), menjaga bumi (hifz al-bi'ah), dan menjaga rasa aman sesama adalah satu pekerjaan iman yang tak terpisahkan. Ini bukan urusan tambahan yang boleh diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah atau petugas. Ini adalah panggilan yang akan dimintai pertanggungjawaban di yaumil hisab. Ketika kita ditanya kelak, "Apa yang kau lakukan atas bumi yang Aku titipkan, atas jalan yang Aku amankan, atas nyawa tetangga yang Aku jadikan hakmu untuk dijaga?" — jawaban kita hari ini sedang kita tulis lewat tindakan-tindakan kecil yang kita pilih.
Maka, jamaah sekalian, izinkan khatib menutup khutbah pertama ini dengan beberapa langkah konkret yang bisa kita bawa pulang. Pertama, jadikan kabar kematian mendadak pekan ini sebagai pemantik muhasabah pribadi: malam ini, selesaikan satu perselisihan yang tertunda dan perbaiki satu ibadah yang selama ini kita abaikan. Kedua, periksa cara kita memperlakukan bumi: mulai pilah sampah rumah tangga, dan pastikan tidak ada sampah kita yang menyumbat saluran air tetangga. Ketiga, bila kita punya kendaraan, jadikan keselamatan di jalan sebagai ibadah — sebab menjaga nyawa diri dan orang lain di jalan adalah bagian dari hifz an-nafs. Keempat, tumbuhkan keberanian untuk hadir membela yang lemah di ruang publik; jangan menjadi penonton ketika seseorang diintimidasi di depan mata. Kelima, lewatilah kabar bencana dengan hati yang berkaca, bukan mata yang mencari tontonan. Semoga Allah menjadikan kita golongan yang memperbaiki, bukan yang merusak lalu berlepas tangan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah Jumat rahimakumullah, di khutbah kedua ini khatib ingin memperdalam satu sisi yang mudah terlewat. Ketika musibah menimpa, ada dua sikap yang keduanya keliru: yang pertama adalah keluh yang berujung pada menyalahkan takdir, dan yang kedua adalah fatalisme yang menjadikan "sudah takdir" sebagai alasan untuk tidak berbenah. Islam menuntun kita ke jalan tengah: menerima ketetapan Allah dengan sabar, sekaligus tetap berikhtiar memperbaiki apa yang berada dalam genggaman kita. Sabar tidak pernah berarti pasif.
Renungkanlah, sifat manusia yang paling sering menjebak kita adalah rasa aman yang palsu — perasaan bahwa apa yang kita miliki hari ini pasti masih ada esok. Kaum-kaum terdahulu binasa bukan karena mereka lemah, melainkan karena mereka merasa terlalu kuat untuk butuh peringatan. Maka setiap kabar duka yang sampai kepada kita pekan ini adalah surat cinta dari Allah yang berbunyi: "Kembalilah sebelum kau dikembalikan."
Dan perhatikanlah, jamaah, bagaimana Islam menyatukan tiga hal yang oleh dunia modern sering dipisah-pisah: menjaga jiwa, menjaga bumi, dan menjaga rasa aman sesama. Bagi seorang mukmin, ketiganya adalah satu tarikan napas iman yang sama. Kita hati-hati di jalan bukan hanya demi diri kita sendiri, tetapi karena nyawa orang lain pun adalah amanah di pundak kita. Kita menjaga kebersihan bukan demi pujian atau agar dipandang rapi, tetapi karena bumi adalah titipan yang akan ditanya. Kita membela yang lemah di ruang publik bukan untuk cari muka, tetapi karena rasa aman saudara kita adalah bagian dari tanggung jawab kita. Iman yang sejati tidak pernah berhenti di atas sajadah; ia mengalir sampai ke selokan di depan rumah, ke jalan raya yang kita lalui, dan ke cara kita memperlakukan orang asing yang kebetulan lewat di hadapan kita.
Dan ingatlah, jamaah, bahwa merawat bumi serta menjaga sesama bukanlah beban, melainkan kehormatan. Allah tidak menitipkan bumi ini kepada malaikat yang tak pernah salah; Ia menitipkannya kepada kita, manusia yang lemah, sebagai tanda kepercayaan. Betapa ruginya bila kepercayaan sebesar itu kita balas dengan pengkhianatan berupa sikap masa bodoh terhadap lingkungan dan sesama.
Akhirnya, marilah kita tundukkan hati dan menengadahkan tangan, memohon kepada Allah Yang Maha Menguasai setiap ketetapan.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيحِ وَخَيْرِ مَا فِيهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيحِ وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَوْتَانَا وَمَوْتَى الْمُسْلِمِينَ، وَارْحَمْ مَنْ فَارَقَ أَهْلَهُ بَغْتَةً فِي الطُّرُقَاتِ وَالْمَصَائِبِ، وَاجْبُرْ قُلُوبَ الْمَنْكُوبِينَ وَالثَّكْلَى، وَاشْفِ جَرْحَانَا وَمَرْضَانَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا وَأَخَوَاتِنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَاحْفَظْ مَنْ ظُلِمَتْ وَأُوذِيَتْ فِي دِيَارِ الْغُرْبَةِ بِسَبَبِ دِينِهَا، وَآمِنْ رَوْعَاتِهِمْ، وَاجْعَلْ طُرُقَنَا وَبِلَادَنَا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
