Di pekan yang penuh kabar tentang jalan yang merenggut dan ruang publik yang menakutkan bagi yang lemah, ada satu kisah lama tentang bagaimana orang paling mulia di Madinah justru menjadikan jalan sebagai tempat ia merendahkan hati. Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam kitab Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah, pada bab tentang tawadhu' Rasulullah ﷺ, menghimpun sepotong adegan yang tampak sederhana namun menyimpan gema yang panjang.
Siang itu Madinah terik. Debu tipis mengambang di udara jalanan, terbawa langkah unta dan kaki-kaki telanjang. Di salah satu sudut kota, seorang perempuan berdiri ragu. Ia dari kalangan Anshar, perempuan biasa — bukan istri pembesar, bukan putri pemuka. Sebagian riwayat menyebut ada seorang anak kecil di sisinya. Sebagian catatan menyebut namanya Ummu Zafar. Ia punya sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada Rasulullah ﷺ, tetapi kakinya seolah berat melangkah.
Ketika akhirnya ia sampai di hadapan beliau, kalimatnya keluar apa adanya, tanpa basa-basi panjang.
"Sesungguhnya aku punya keperluan denganmu," katanya.
Orang yang ia hadapi adalah manusia yang namanya kelak diucapkan di setiap penjuru bumi. Pemimpin yang perintahnya ditaati ribuan orang. Wajar bila seorang perempuan kecil merasa keperluannya terlalu remeh untuk mengganggu waktu beliau. Tapi jawaban yang ia terima tidak seperti yang mungkin ia takutkan.
Rasulullah ﷺ tidak menyuruhnya menunggu giliran. Beliau tidak memanggil ajudan. Beliau tidak menunjuk tempat khusus yang tinggi dan berwibawa. Beliau justru berkata:
اجْلِسِي فِي أَيِّ طَرِيقِ الْمَدِينَةِ شِئْتِ أَجْلِسْ إِلَيْكِ
"Duduklah di jalan Madinah mana saja yang kau kehendaki, niscaya aku akan duduk bersamamu."
Perempuan itu boleh memilih. Jalan mana pun. Sudut mana pun yang membuatnya nyaman. Dan beliau, manusia paling mulia itu, akan datang dan duduk di sana — di tanah, di tepi jalan yang berdebu, seperti dua orang biasa yang berbincang tentang urusan biasa.
