Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsLingkungan & BencanaKamis, 30 Juli 2026

Kisah Pendek — "Duduk Bersamanya di Tepi Jalan"

Di pekan yang penuh kabar tentang jalan yang merenggut dan ruang publik yang menakutkan bagi yang lemah, ada satu kisah lama tentang bagaimana orang paling mulia di Madinah justru menjadikan jalan sebagai tempat ia merendahkan hati. Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam kitab Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah, pada bab tentang tawadhu' Rasulullah ﷺ, menghimpun sepotong adegan yang tampak sederhana namun menyimpan gema yang panjang.

Siang itu Madinah terik. Debu tipis mengambang di udara jalanan, terbawa langkah unta dan kaki-kaki telanjang. Di salah satu sudut kota, seorang perempuan berdiri ragu. Ia dari kalangan Anshar, perempuan biasa — bukan istri pembesar, bukan putri pemuka. Sebagian riwayat menyebut ada seorang anak kecil di sisinya. Sebagian catatan menyebut namanya Ummu Zafar. Ia punya sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada Rasulullah ﷺ, tetapi kakinya seolah berat melangkah.

Ketika akhirnya ia sampai di hadapan beliau, kalimatnya keluar apa adanya, tanpa basa-basi panjang.

"Sesungguhnya aku punya keperluan denganmu," katanya.

Orang yang ia hadapi adalah manusia yang namanya kelak diucapkan di setiap penjuru bumi. Pemimpin yang perintahnya ditaati ribuan orang. Wajar bila seorang perempuan kecil merasa keperluannya terlalu remeh untuk mengganggu waktu beliau. Tapi jawaban yang ia terima tidak seperti yang mungkin ia takutkan.

Rasulullah ﷺ tidak menyuruhnya menunggu giliran. Beliau tidak memanggil ajudan. Beliau tidak menunjuk tempat khusus yang tinggi dan berwibawa. Beliau justru berkata:

اجْلِسِي فِي أَيِّ طَرِيقِ الْمَدِينَةِ شِئْتِ أَجْلِسْ إِلَيْكِ

"Duduklah di jalan Madinah mana saja yang kau kehendaki, niscaya aku akan duduk bersamamu."

Perempuan itu boleh memilih. Jalan mana pun. Sudut mana pun yang membuatnya nyaman. Dan beliau, manusia paling mulia itu, akan datang dan duduk di sana — di tanah, di tepi jalan yang berdebu, seperti dua orang biasa yang berbincang tentang urusan biasa.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau memang menepi bersamanya di salah satu jalan, dan tinggal di sana sampai perempuan itu selesai menyampaikan seluruh keperluannya. Beliau tidak memotong. Beliau tidak menoleh ke sana kemari mencari alasan untuk pergi. Ia tuntas didengarkan. Dan ada hikmah halus di balik pilihan menepi itu: agar tidak ada telinga lain yang mendengar keluh kesah perempuan tersebut, agar rahasianya terjaga, agar ia tidak malu.

Adegan itu berhenti di situ. Riwayat tidak menceritakan apa keperluannya. Mungkin memang tidak penting apa isinya. Yang dicatat sejarah bukanlah masalahnya, melainkan bagaimana ia diperlakukan.

Orang-orang yang mengenal Rasulullah ﷺ dari dekat memang tahu betul betapa beliau membenci sikap berlebihan terhadap dirinya. Beliau pernah menegaskan kepada mereka:

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ

"Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba." Maka panggillah aku, kata beliau, hamba Allah dan utusan-Nya.

Dari lisan yang menolak dipuji berlebihan itulah lahir kalimat "duduklah di jalan mana saja, aku akan duduk bersamamu". Keduanya berasal dari mata air yang sama: hati yang tidak pernah merasa terlalu tinggi untuk turun.

Pelajaran

Yang membuat kisah ini menggetarkan bukanlah keajaiban, melainkan justru kesederhanaannya. Seorang pemimpin besar mempersilakan perempuan biasa memilih tempat pertemuan sesukanya, lalu bersedia duduk di tepi jalan berdebu demi mendengarkan keperluannya sampai tuntas. Di zaman ketika jalan dan ruang publik justru sering menjadi tempat yang kuat menakut-nakuti yang lemah, kisah ini membalik seluruh logika itu: bagi Rasulullah ﷺ, jalan adalah tempat ia menunduk, bukan tempat ia menegakkan wibawa. Kemuliaan sejati, ternyata, diukur bukan dari seberapa tinggi seseorang menempatkan dirinya, melainkan dari seberapa rela ia turun demi orang yang paling tidak diperhitungkan. Bila hari ini kita punya sedikit kuasa — atas bawahan, atas anak, atas tetangga yang lebih lemah — kisah tepi jalan Madinah ini menaruh satu pertanyaan lembut di dada: sudahkah kuasa itu membuat kita lebih mudah didekati, atau justru lebih sulit dijangkau oleh mereka yang membutuhkan?

Sumber Asli

Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah — Bab tentang Tawadhu' Rasulullah ﷺ

313- قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تطروني كما أطرت النّصارى ابن مريم إنّما أنا عبد فقولوا: عبد الله ورسوله.

314- عن أنس بن مالك رضي الله عنه: أن امرأة جاءت الى النبيّ صلى الله عليه وسلم فقالت له: إنّ لي اليك حاجة. فقال: اجلسي في أيّ طريق المدينة شئت أجلس إليك. … وفي رواية مسلم: فخلا معها في بعض الطريق حتى فرغت من حاجتها.

315- عن أنس رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعود المريض ويشهد الجنائز ويركب الحمار ويجيب دعوة العبد …

Lihat Briefing Mingguan