بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لَنَا أَمَانَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ada satu kabar yang mungkin sempat membuat kita terdiam sejenak: sebuah majelis pertunangan yang tinggal beberapa hari lagi menuju hari bahagia, tiba-tiba berubah menjadi majelis tahlil. Undangan yang sudah disebar, baju yang mungkin sudah dijahit, rencana yang sudah tersusun rapi — semuanya kalah oleh satu ketetapan yang datang lebih cepat. Malam ini, dari satu kabar itu, ada satu pesan yang ingin saya ajak kita renungkan bersama.
Mari kita mulai dari cara Al-Qur'an menamai Hari Akhir. Allah menamainya dengan satu kata yang menggetarkan:
الْقَارِعَةُ
"Al-Qari'ah — hari yang mengetuk keras (Hari Kiamat)." (QS. Al-Qaari'a: 1)
Para jamaah, kata "al-qari'ah" berasal dari akar kata yang berarti mengetuk dengan keras, memukul, mengejutkan. Allah tidak menamai hari itu dengan kata yang tenang, melainkan dengan kata yang mengandung kejutan dan hentakan. Dan bukankah begitu pula sifat setiap musibah kecil yang menimpa kita di dunia ini — ia datang mengetuk keras, tanpa permisi, sering kali di saat kita paling tidak siap? Kalau ketukan-ketukan kecil di dunia saja mampu meluluhlantakkan rencana kita dalam sekejap, bagaimana dengan ketukan besar yang bernama al-qari'ah itu? Setiap kecelakaan, setiap kabar duka mendadak, seolah menjadi latihan kecil yang mengingatkan kita pada ketukan terbesar yang pasti akan datang.
Saudara-saudara, di sinilah kita perlu jujur pada diri sendiri. Siapa di antara kita yang pekan ini pernah menunda satu hal baik dengan alasan "nanti saja, masih ada waktu"? Menunda meminta maaf kepada orang tua, menunda melunasi utang, menunda memperbaiki shalat, menunda berdamai dengan saudara yang lama tak bertegur sapa. Kita semua pernah. Kita hidup seolah punya persediaan waktu yang tak terbatas. Padahal kabar-kabar pekan ini berkata sebaliknya: pelajar yang berangkat sekolah, penumpang yang berangkat bersama-sama dalam satu kendaraan — mereka juga punya rencana untuk "nanti", dan "nanti" itu tidak pernah datang.
Allah memberi peringatan yang lebih keras lagi bagi mereka yang mendustakan dan mengabaikan setiap peringatan ini. Allah berfirman:
وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ
"Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." (QS. Al-Mursalaat: 19)
Perhatikan, para jamaah, siapa yang diancam dengan "wayl" — kecelakaan besar — di sini. Bukan orang yang lemah imannya lalu berjuang memperbaiki diri, melainkan al-mukadzdzibin, yaitu mereka yang mendustakan, yang menutup telinga rapat-rapat dari setiap peringatan. Setiap kabar duka sebenarnya adalah peringatan yang Allah kirimkan secara gratis kepada kita yang masih hidup. Orang yang celaka bukanlah yang tertimpa musibah; orang yang celaka adalah yang menyaksikan musibah menimpa orang lain, lalu berlalu tanpa tergerak sedikit pun untuk berbenah.
Maka apa yang harus kita lakukan setelah pulang dari sini malam ini? Saya tidak akan mengajak kita berteori panjang. Saya hanya ingin mengajak tiga hal yang bisa kita kerjakan dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, sebelum tidur nanti, kirim satu pesan kepada orang tua atau saudara yang selama ini renggang hubungannya dengan kita — cukup satu kalimat maaf atau kabar. Sebab kalau ajal datang mendadak, kita tidak ingin ia mendapati kita dalam keadaan memutus silaturahmi. Kedua, perbaiki satu shalat yang selama ini kita kerjakan asal-asalan atau sering kita tunda hingga habis waktunya. Ketiga, luangkan lima menit untuk membayangkan: seandainya kabar duka pekan ini adalah kabar tentang diri kita, dalam keadaan apa kita akan meninggalkan dunia? Jawaban jujur atas pertanyaan itu akan menuntun kita pada satu perbaikan yang paling mendesak.
Saudara-saudara yang saya cintai karena Allah, inti dari semua yang kita bicarakan malam ini bukanlah menakut-nakuti kita dengan kematian, melainkan mengajak kita mencintai kesiapan. Orang yang siap tidak akan panik ketika ketukan itu datang. Ia justru hidup lebih tenang, lebih ringan, lebih bersih dari beban yang tak perlu — karena setiap harinya ia perlakukan seolah kesempatan terakhir untuk berbuat baik. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang siap, bukan hamba-hamba yang lalai lalu menyesal.
Marilah kita tutup dengan doa.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
